
Di sebuah gedung perkantoran, terlihat seorang perempuan sedang menunggu kedatangan bosnya.
Ia sudah meminta ijin beberapa hari yang lalu, akan tetapi belum juga mendapatkan persetujuan.
Hari ini, ia di minta langsung menghadap CEO nya. Ia sangat takut bertemu langsung dengan orang yang sangat ia segan i, apalagi menurut kabar orangnya cuek dan galak itu menurut info yang beredar.
Setelah cukup lama ia menunggu, akhirnya di persilahkan untuk masuk ke salah satu ruangan.
Sampai lah di dalam, lalu ia di persilakan untuk duduk di kursi yang ada di hadapan CEO tersebut.
"Maaf, Pak. Saya sudah mengganggu waktunya" kata Mayang dengan nada bicara sedikit gemetaran.
"Alasan kamu apa meminta izin sampai satu minggu? "
"Saya akan mengantar ibu ke kota B untuk mencari anaknya yang sudah dua puluh tujuh tahun terpisah, menurut kabar yang di dapat sekarang kakak saya sudah menikah. Ibu ingin bertemu dengan nya, saya juga tidak mungkin membiarkannya pergi sendiri" jawab Mayang dengan nada bicara pelan.
"Memangnya tidak mempunyai anak yang lain, atau pengawal pribadi. Secara keluarga kalian itu kan sangat kaya, dan saya juga heran dengan kamu. Kenapa tidak bekerja dengan orang tuamu saja? daripada di sini hanya sebagai arsitek" taunya Hadi terhadap Mayang.
"Maaf, Pak. Saya bekerja di mana pekerjaan itu saya sukai, kebetulan pekerjaan yang saya kerjakan di sini itu sesuai dengan keinginan. Lagipula perusahaan orang tua saya tidak sesuai dengan keahlian yang saya miliki, hanya karena saya anak dari pemilik perusahaan itu jadi saya harus bekerja di situ. Nggak juga Pak, jadi saya bekerja sesuai dengan skill yang di miliki" jawab Mayang.
"Bukan ingin memata-matai perusahaan ini kan? "
"Kenapa Bapak bisa berkata seperti itu, saya bekerja di sini sudah lama. Seharusnya tahu sifat dari para karyawan nya"
"Mana saya tahu, kan baru satu tahun saya memegang perusahaan ini. Belum terlalu Faham orang-orang di sini, termasuk juga kamu"
"Pak, saya sudah mengajukan izin bagaimana ini? apakah di setujui atau tidak? "
"Saya kasih izin tapi hanya tiga hari!"
"Kalau cuma tiga hari, itu terlalu sempit. Nggak ada waktu untuk istirahat, ayolah Pak ini cuma lima hari. Lagian selama ini saya tidak pernah cuti, atau izin ke mana pun. Hari-hari saya selalu di habiskan di kantor ini, masa bapak tidak bisa melihat kerja keras saya selama ini, boleh yah Pak lima hari! " kata Mayang dengan nada bicara penuh permohonan.
"Ya sudah kalau nggak mau, pilihan ada di tangan mu. Jika sudah tidak ada yang di bicarakan, bisa pergi dari ruangan ini. Saya sedang sibuk." kata Hadi.
Wajah malas dan kecewa sudah terlihat di dengan jelas, justru di mata Hadi wajah Mayang seperti itu terlihat tambah cantik.
"Baiklah, saya terima meskipun itu cuma tiga hari" jawab Mayang dengan raut wajah kurang ceria.
"Nah begitu dong"
"Permisi, kalau begitu. Saya izin mulai hari ini! "
Setelah berkata seperti itu, Mayang langsung pergi keluar ruangan.
Setelah beberapa saat ia, sudah berada di ruangan nya. Di sana ada, beberapa rekan kerjanya.
"Kenapa wajah mu seperti kurang gula? " tanya salah satu di antara mereka.
"Si bos kenapa pelit yah, masa minta izin lima hari cuma di setujui tiga. Kan capek kalau hanya tiga hari, pasti sangat lelah nantinya" jawab Mayang sambil cemberut.
__ADS_1
"Eh tunggu dulu! seperti nya bos itu naksir deh sama kamu. Dia suka memperhatikan mu dari kejauhan, kamu ingat nggak pas kita meeting membahas pembangunan hotel dan kamu persentase gambar kamu. Terlihat dengan jelas dia itu naksir, nah alasan dia ngasih izin tiga hari karena nggak mau terlalu lama memendam rindu" kata salah satu rekan kerjanya.
Dan akhirnya semua yang ada di ruangan itu tertawa.
"Kalian sudah tidak waras yah, mana mungkin seorang Hadi Wijaya naksir sama aku yang burik ini. Sudah lah aku pergi selama tiga hari, awas kalian kalau kangen aku! "
"Kamu itu cantik May, anak pemilik perusahaan lagi siapa coba yang nggak tertarik dengan mu" teriak salah satu dari mereka. Sebab Mayang sudah keluar meninggal kan mereka.
Mayang terus berjalan cepat untuk segera keluar dari gedung perkantoran, sebab ia sudah di tunggu sang ibu untuk segera pergi ke kota B.
Meskipun belum yakin, apakah benar itu sang kakak atau bukan. Akan tetapi tidak mengurangi rasa bahagia Mayang untuk segera bisa bertemu dengan sang kakak.
Setelah beberapa saat ia, sudah berada di dalam kendaraan. Seperti biasa, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sebab Mayang bukan orang yang lelet, di dalam berkendara pun ia tidak suka lambat. Baginya itu termasuk membuang waktu, berkat keahlian nya berkendara dengan kecepatan tinggi. Akhirnya ia sudah sampai di rumah, lalu ia keluar dari kendaraan tersebut dan berjalan dengan cepat untuk segera masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam, ternyata sang Mama sudah menunggu kedatangan nya.
"Ma, sudah siap yah? " tanya Mayang terhadap sang Mama.
"Kamu lama sekali, nanti kita bisa ketinggalan pesawat"
"Nggak lah, Ma. Masih ada waktu dua jam"
"Ayok cepetan ganti bajunya, Mama sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kakak mu! "
"Tunggu, Mak. Tarik nafas dulu ini, gara-gara bos rese jadi seperti ini. Mau ngasih izin saja lama bener, banyak basa-basi" jawab Mayang dengan raut wajah yang malas.
"Ya sudah kalau begitu tunggu, sebentar aku ganti baju. Tapi jangan bilang soal berhenti bekerja di perusahaan orang lain" jawab Mayang, sambil bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan sang Mama yang sudah siap untuk berangkat.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya, Mayang pun sudah siap untuk berangkat bersama sang Mama. Dengan harapan segera bertemu dengan kakak kandungnya, selama ini Mayang tidak pernah tahu bahwa ia mempunyai kakak.
Mayang dan sang Mama di antar oleh sopir untuk menuju bandara.
...****************...
Di kediaman Farwa.
Ia sangat kaget dengan kehadiran orang yang sangat ia rindukan, dan ternyata Daisy dan Faklan berada di hadapan nya pada saat ini.
"Kakak" ucap Daisy sambil berhambur langsung memeluk sang Kakak yang sangat ia rindukan.
"Astaga, kalian berdua. Kenapa datang ke sini nggak ngabarin terlebih dahulu, bikin kaget saja pagi-pagi sudah di sini" kata Farwa sambil menatap lekat wajah sang adik, yang ia rindukan.
"Dia nggak berhenti nangis, Kak. Makanya jam tiga pagi kita berangkat, biar dia nggak rewel lagi" jawab Faklan sambil tersenyum tipis.
Radit memperhatikan interaksi tiga orang yang berada di hadapan nya, ia sebetulnya iri dengan orang-orang yang memiliki anggota keluarga lengkap seperti yang di saksikan nya pada saat ini.
Setelah cukup lama, ia memperhatikan nya "andaikan aku juga punya keluarga seperti mereka pasti merasakan hal yang sama seperti kalian, hanya saja untuk saat ini--" batin Radit.
Ia pun menyalakan mesin kendaraan nya" Bu saya pamit pulang! " kata Radit sambil tersenyum menatap Farwa.
__ADS_1
Farwa yang baru menyadari ternyata Radit belum pulang, melirik ke atah suara.
"Iya, Hati-hati" pesan Farwa.
Akhirnya Radit pun pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih saling melepaskan rasa rindu.
"Kak, itu yang tadi siapa? seperti nggak asing suaranya tapi di mana? " kata Daisy sambil berpikir.
"Owh, dia itu Radit yang punya toko sembako"
"Terus ngapain dia datang ke sini?" tanya Daisy, ia ingin mengetahui lebih jauh lagi.
" Itu baru saja mengantarkan pesanan, jadi setiap hari dia datang kesini "
"Owh"
"Ayok, masuk dulu pasti kalian sangat capek setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama"
Mereka bertiga masuk ke dalam, di mana ada sang Ibu dan Ayah.
Betapa terkejutnya kedua orang tua nya, saat ada anak mereka di hadapan nya pada saat ini.
Kebahagiaan mereka terlihat dengan jelas, ternyata bahagia itu sederhana. Hanya kumpul dengan orang-orang yang sangat kita cintai itu sudah membuat hati kita bahagia, meskipun hidup dalam kesederhanaan.
"Ternyata dalam waktu singkat, Kak bisa juga berkembang" Faklan memuji sang Kakak ipar dengan keberhasilan nya.
"Ini juga berkat dukungan dari kalian semua, kalau bukan kalian yang terus menyemangati. Rasanya sulit sekali untuk berada di titik ini, untung saja kalian selalu sabar dan mendampingi ku di saat hilang arah " ucap Farwa dengan mata yang sudah di penuhi cairan bening.
Jika ingat dulu, saat ia berusaha untuk melawan kerasnya dunia dan ingin memperbaiki semuanya dan saat keadaan nya hampir membaik. Ia kembali terjatuh dengan kehilangan orang yang sangat ia cintai, bahkan ia hampir menyerah.
Kalau saja bukan kerena mereka, sudah pasti Farwa tidak akan menjadi seperti ini.
"Apaan, sih kak. Cengeng banget, saat aku di sini jangan ada sedih-sedih. Sudah cukup kita menangis nya saat dulu, sekarang tinggal bahagia nya" kata Daisy sambil mengusap cairan bening yang sudah mulai turun dari mata Farwa.
"Hai kalian ini kenapa sih, apakah kamu mau minum kopi? " tanya Zulaikha sambil menatap menantunya yang sangat baik, dan menerima Daisy yang susah bangun pagi dan ceroboh. Untung saha suaminya Faklan, ia bisa mengayomi Daisy dengan baik. Zulaikha sangat menyanyi Faklan, ia juga terkadang sedih ketika mengingat Argani. Saat hatinya mulai menerima kehadiran menantu pertama nya, ia harus menerima kenyataan bahwa harus kehilangan nya untuk selama nya.
"Nggak usah, Bu. Nanti juga nyari sendiri, toh bukan tamu juga" jawab Faklan.
"Ya sudah kalau begitu, kalian istirahat saja dulu. Pasti lelah setelah perjalanan jauh, ibu sama Kakak mu mau lanjut masak. Mumpung Argani kecil lagi tidur! " kata Zulaikha.
"Iya, Bu... nanti juga aku ke kamar tapi masih ingin di sini" jawab Daisy.
"Ibu tinggal yah! "
Akhirnya Farwa dan sang ibu, pergi ke dapur untuk melanjutkan aktivitas nya.
Tinggal lah Daisy dan Faklan dan juga Ayah mereka yang masih asik ngobrol di sana.
Farwa juga bukan tak rindu dengan mereka, akan tetapi ia juga harus menyelesaikan kewajiban nya. Bagaimana nanti kalau ada pelanggan yang datang dan menu masakan nya belum selesai, bisa kecewa nanti.
__ADS_1