
Di rumah sederhana
Kedua perempuan sedang berbicara dari hati ke hati, siapa lagi kalau bukan Ambar dan Zulaikha.
Perempuan itu tetap pergi ke rumah Zulaikha, meskipun tanpa mendapatkan ijin dari suaminya.
Sejenak saling diam tidak ada yang berani memulainya, apalagi Zulaikha. Ia merasa Argani lah yang sudah merenggut anak mereka, sehingga sekarang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Aku meminta Maaf, atas nama putra ku... tolong maafkan lah , sekarang dia sedang berjuang melawan maut. Mungkin jika kalian memaafkan nya, akan ada keajaiban untuknya" ucap Ambar dengan nada bicara penuh permohonan.
"Apa permintaan maaf kalian dapat mengembalikan putri ku? nggak kan! lebih baik pergi dan saya tidak mau berurusan lagi, cukup saya kehilangan Farwa tidak mau kehilangan yang lain gara-gara kalian. Mungkin bagi kalian nyawa orang seperti kami tidak ada harga, akan tetapi sebagai seorang ibu harusnya faham bagaimana rasanya sakit ketika sang putri yang di lahirkan di besarkan dengan penuh kasih sayang. Hidupnya di renggut dengan cara paksa, apa yang akan lakukan jika ini terjadi pada anak kalian? Buktinya sekarang Marwan di penjara, itu semua karena kalian tidak terima ada orang yang akan merenggut nyawa Argani dengan cara paksa. Apa kabar dengan keluarga kami yang setiap hari mendapatkan ancam dari anak mu, begitu ketakutan nya Farwa saat anak mu mencondongkan senjata di kepala ayahnya. Jika kalian ingin mendapatkan maaf dari ku, tolong lepaskan Marwan. Anggap saja itu sebagai imbalan atas kepergian Farwa" kata Zulaikha dengan nada bicara penuh penekan.
Sekarang ia sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan air mata, sungguh terlalu banyak kesedihan yang terjadi pada hidup mereka. Bahkan hanya untuk menangis saja mereka sudah tidak mampu.
"Sungguh aku minta maaf, mungkin semua yang terjadi dengan Argani sebagai balasan dari Tuhan. Mohon maafkan lah, agar ia bisa hidup normal kembali tanpa alat-alat media yang menempel di tubuhnya" Ambar menangis, ia ingin mendapatkan pengampunan dari keluarga Farwa atas apa yang terjadi selama ini.
"Cukup! jangan pernah memohon seperti ini, di maafkan atau tidak keadaan nya akan tetap sama. Kami hanya ingin hidup tenang jauh dari bayang-bayang keluarga kalian"
" Jika Argani sudah sembuh aku akan berkata padanya untuk meninggalkan negara ini, itu janjiku padamu " kata Ambar.
__ADS_1
" Tidak perlu berjanji, lakukan saja baru setelah itu akan percaya. Sekarang pergilah sebelum masalah baru datang untuk keluarga ku, dan saya do'akan untuk kesembuhan putra mu" jawab Zulaikha sambil tersenyum menutupi kesedihan nya selama ini.
Padahal Zulaikha juga hatinya sedang terluka, mereka berdua sama-sama merasa sakit atas apa yang terjadi dengan putra putri mereka. Akan tetapi Zulaikha mampu menutupi kesedihan nya di hadapan Ambar.
"Terimakasih atas doa nya, semoga kalian semua berada dalam lindungan-Nya. Saya permisi" kata Ambar sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera keluar dari rumah sederhana.
Setelah kepergian Ambar, Zulaikha pun menyandarkan tubuh nya. Ia belum ikhlas atas kepergian Farwa, dan selalu berharap bahwa yang terhadap pada hidup nya adalah sebuah mimpi buruk yang akan berakhir setelah terbangun dari tidurnya.
Waktu bergulir begitu cepat, Ambar sudah ada di rumah sakit tempat Argani di rawat. Ia sudah satu bulan berada di sini tanpa ada perubahan sedikit pun tentang kesehatan nya, Argani sudah menjadi mayat hidup. Ia tergantung dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya, hanya menunggu keajaiban dari sang penguasa alam semesta. Ambar selalu berharap bahwa keajaiban itu nyata adanya.
Ia sudah duduk di salah satu tempat sambil menatap lekat wajah putranya.
"Apa kamu bisa lakukan sesuatu untuk kesembuhan nya? selama ini aku tidak pernah meminta apapun dari mu. Tolong aku kali ini saja, selamat kan putra ku" kata Ambar, ia memohon terhadap suaminya.
Ambar terus menatap lekat wajah sang anak, ia terus memperhatikan nya.
"Bangun lah nak... Mama merindukan mu, apa kamu sudah tidak sayang lagi dengan ku" kata Ambar sambil memegang tangan.
Tanpa mereka sadari, Argani menggerakkan jari tangan nya. Lalu ia membuka matanya dengan perlahan, berusaha mencerna apa yang terjadi di sekeliling nya. Ia merasakan tangan nya basah, dan ternyata itu air mata sang Mama.
__ADS_1
"F-Farwa, kau di mana... jangan tinggal kan aku lagi" Argani berkata dengan terbata-bata.
Seketika Ambar merasakan hal yang sangat luar biasa, mendengar suara anaknya setelah satu bulan tanpa mendengar nya. Meskipun itu tidak terlalu jelas, akan tetapi sudah mampu membuat nya lupa akan kesedihan yang ada hanyalah bahagia. Setelah satu bulan penantian akhirnya tiba juga saat ia melihat anak nya membuka mata kembali n
"Sayang, ini Mama ada bersama mu" kata Ambar sambil bangkit dari duduknya lalu mengelus pipi sang anak.
Akan tetapi Argani menutup matanya kembali.
Ambar pun kaget melihat itu, lalu berteriak memanggil dokter dan perawat.
Setelah beberapa saat, mereka semua datang. Ambar menceritakan semua kejadian tadi, bahwa Argani sempat membuka mata dan berbicara akan tetapi mengapa ini terjadi lagi.
"Dokter kena ini terjadi lagi, padahal tadi sudah membuka mata sambil berbicara? " tanya Ambar terhadap dokter.
Dokter itu tidak menjawab pertanyaan dari Ambar, ia hanya tersenyum sambil menatap seorang wanita yang sudah tidak lagi muda itu.
"Selamat ya Bu, akhirnya setelah penantian dan doa dari orang yang sangat menyanyi nya. Ia sudah bisa kembali seperti semula, ini biasa terjadi pada pasien koma dalam waktu yang sangat lama. Mungkin beberapa saat lagi ia akan bangun dan sadarkan diri, dia laki-laki yang kuat sudah berhasil melewati masa sulit nya" kata dokter lalu pergi meninggalkan Ambar yang masih memegang tangan Argani, ia tidak mau melepaskan nya walaupun itu hanya sekejap.
Setelah kepergian dokter, Ambar terus menatap wajah Argani yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Aku tahu, keluarga kamu Farwa adalah orang yang sangat baik. Sehingga keajaiban itu datang setelah kalian meminta nya kembali untuk hidup Argani, aku sangat berterima kasih pada ibu mu" ucap Ambar dalam batin.
Andaikan ia melakukan hal ini sejak awal, mungkin Argani tidak akan menderita yang cukup lama. Doa seorang ibu yang kehilangan sosok putri tercintanya, begitu kuat sehingga membuat Argani melewati masa sulit nya.