
Argani dan Farwa sudah berada di rumah yang akan mereka tempati, tidak terlalu besar namun terdapat dua kamar tidur dapur serta ruang tamu.
Di lengkapi dengan dapur dan setiap kamar memiliki kamar mandi, hanya saja satu kamar tidak di lengkapi dengan pendingin ruangan.
Rumah nya masih bersih sebab baru beberapa hari saja rumah ini kosong, Argani suka dengan rumah nya. Ia berharap rumah ini akan menjadi awal mereka untuk menjadi keluarga yang bahagia dan saling melengkapi.
Farwa juga langsung menyukai tempat ini, selain rapi rumah ini juga di lengkapi dengan pintu gerbang yang sangat tertutup jadi tidak bisa di lihat dari luar.
"Peralatan nya juga sudah lengkap, hanya saja di bagian kamar belakang tidak ada pendinginan nya.Semoga kakak ipar suka dengan tempat ini" kata Faklan terhadap sahabatnya itu.
"Aku suka, ko lagipula sudah terbiasa di tempat yang seperti ini" kata Farwa.
" Tidak masalah, yang terpenting untuk saat ini kami ada tempat tinggal saja sudah bersyukur " Argani menimpali ucapan sahabat nya itu.
" Kalau begitu aku permisi terlebih dahulu, ingin merapikan ini semua! " kata Farwa sambil membawa kopernya ke dalam kamar. Ia juga berniat untuk bersih-bersih, walaupun baru di tinggal penghuni nya beberapa hari tetap saja debu bertebaran.
Setelah Farwa pergi meninggalkan kedua laki yang memiliki tubuh tinggi, akan tetapi Faklan sedikit kurus tidak berisi seperti Argani.
Argani sangat gagah, hidung mancung ada di lengkapi bulu halus di bagian rahang. Sehingga menambah pesona laki-laki itu.
Mereka duduk di ruang tamu, kebetulan ada sofa di ruangan tersebut.
"Menurutku, coba kamu pikirkan lagi. Apa kamu bisa hidup seperti ini? " tanya Faklan sambil menatap lekat wajah sahabatnya.
"Aku sudah yakin dengan apa yang menjadi keputusan ku pada saat ini, ingin menjalankan hidup normal tanpa marga di belakang nama ku"
"Tapi itu tidak mudah" jawab Faklan.
"Memang itu tidak mudah, akan tetapi ada orang yang sangat aku cintai bersama ku pada saat ini pasti aku bisa melewati semua ini. Saat ini aku hanya ingin Farwa bersama ku, dan aku yakin bisa melewati nya" ucap Argani, ia sangat yakin dengan apa yang sudah di pilihnya pada saat ini.
"Semoga pernikahan kalian langgeng dan membawa keberkahan" ucap Faklan.
"Terimakasih sudah mau membantu ku" jawab Argani.
"Kamu juga sering membantu ku, anggap saja ini imbalan nya, oh iya. Aku ada pekerjaan, tinggal dulu yah? kalau ada sesuatu yang di butuhkan tinggal hubungi saja aku" kata Faklan, sambil bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki nya dengan perlahan untuk ke luar dari rumah.
Akhirnya Faklan pergi meninggalkan Argani di rumah ini.
Setelah kepergian Faklan Argani mencari keberadaan sang istri, sebab semenjak datang ke rumah ini ia belum melihat istrinya di mana.
Argani berjalan ke arah dapur ia berusaha mencari nya, tanpa di sengaja ia lirik ke salah satu kamar yang pintunya terbuka.
Ia mendekat ke arah sana, dan ternyata Farwa sedang merapikan pakaian milik nya.
"Itu koper punya ku, biar aku saja yang merapikan nya. Dan aku akan tinggal di kamar belakang" kata Argani yang melihat Farwa akan memasukkan pakain miliknya ke lemari.
"Kenapa begitu? " tanya Farwa terhadap suaminya, meskipun dalam keadaan terpaksa Farwa menikah dengan Argani. Pikir Farwa setelah pindah rumah juga akan tinggal satu kamar, meskipun dalam hati kecilnya Farwa senang, saat Argani berkata akan tinggal di kamar lain.
"Bukankah kamu takut saat dekat dengan ku, jadi aku membiarkan mu tinggal sendiri di kamar ini" ucap Argani sambil membawa koper milik nya untuk di rapikan di kamar yang akan di tempatnya.
"Tapi" kata Farwa, akan tetapi laki-laki itu tanpa memperdulikan nya, ia terus berjalan menjauh dari pandangan Farwa.
Setelah Argani sudah tidak terlihat lagi, Farwa langsung duduk di atas tempat tidur. Dengan pikiran yang tidak karuan, ia tidak pernah berpikir sebelum nya akan mendapatkan kehidupan yang rumit seperti sekarang. Di saat ia sedang memikirkan hidupnya, tiba-tiba terbayang wajah sang ibu.
"Bagaimana kabar ibu untuk saat ini, dari semalam aku tidak tahu kabarnya. Ibu mertua juga tadi malam pingsan sekarang bagaimana keadaan nya" kata Farwa dalam batin, ia memikirkan dia wanita yang keadaan nya sedang tidak baik-baik saja.
Argani telah selesai dengan kegiatan nya, ia berencana untuk pergi ke sebuah tempat.
Tinggal di rumah ini dengan kehidupan baru bukan lah yang mudah, ia juga perlu memikirkan untuk biaya hidup.
Sedangkan ia tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli kebutuhan rumah tangga, meminta pinjaman terhadap Faklan juga bukan lah solusi. Sebab tempat tinggal mereka saat ini saja Faklan yang memberikan, alangkah tidak baik jika makan juga harus merepotkan nya.
__ADS_1
Argani juga tidak memiliki apapun selain ponsel yang di pegang nya pada saat ini.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Argani bangkit dari duduknya lalu mencari istrinya.
Setelah beberapa saat Argani sudah bersama Farwa.
"Aku pergi ke luar sebentar, kunci pintu! " kata Argani terhadap Farwa.
"Memangnya mau pergi ke mana? bagaimana kalau orang-orang Papamu datang ke tempat ini" kata Farwa dengan penuh kekhawatiran.
"Aku hanya sebentar ko, kalau ada apa-apa telepon saja" ucap Argani.
"Baiklah, hati-hati! " pesan Farwa terhadap sang suami.
Akhirnya Argani pergi meninggalkan sang istri di rumah sendirian.
Setelah sang suami pergi, Farwa langsung mengunci semua pintu, ia sangat takut dengan orang-orang dari Malik. Bisa saja mereka membunuh Farwa saat Argani tidak di rumah, sebab orang seperti Malik bisa melakukan cara apa saja agar semua keinginan nya tercapai.
Farwa mondar-mandir di dalam rumah sendiri, ia merasakan tidak aman meskipun di dalam rumah.
Akhirnya ia mengerjakan sesuatu yang membuat nya, melupakan sejenak rasa takutnya.
Waktu bergulir begitu cepat.
Argani sudah turun dari sebuah ojek yang mengantarkan nya, akan tetapi ia tidak memiliki uang.
"Pak, saya tidak memiliki uang untuk membayar ongkos nya, kalau bisa tunggu sebentar. Saya akan cepat kembali" ucap Argani, dengan harapan orang tersebut mau menunggu nya sebentar.
"Kamu mau melakukan apa? jangan bilang mau mencuri nanti aku ikut terseret lagi dengan masalah mu, kalau nggak punya uang kenapa naik ojeg!" kata orang tersebut, sambil menatap tajam wajah Argani.
"Janji Pak, hanya sebentar saja. Aku akan cepat kembali" jawab Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Baiklah, aku tunggu di sini tapi jangan lama-lama!"
Setelah berbicara seperti itu Argani langsung melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya.
Waktu bergulir begitu cepat, ia sudah berada di sebuah toko yang menerima jual beli ponsel bekas, lalu Argani mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celana nya.
"Pak, saya ingin menjual ponsel ini. Kira-kira laku berapa yah? " tanya Argani terhadap sang pemilik konter.
"Coba saya liat dulu" kata orang tersebut.
Lalu Argani menyerahkan ponsel tersebut kepada sang penjaga konter.
Setelah beberapa saat orang tersebut memperhatikan ponsel yang di bawa Argani.
"Ini charger sama kotak nya mana? " tanya orang tersebut.
"Nggak ada"
"Wah kalau begitu sayang sekali, kami hanya bisa membayarnya dengan harga lima juta rupiah"
"Kenapa murah sekali, saya belinya hapir Lima puluh juta. Ini ponsel keluaran terbaru loh, Pak" ucap Argani, ia ingin harga lebih dari itu.
"Kalau saja lengkap dengan Charger dan kotak ya, mungkin kami bisa memberikan harga yang lebih tinggi tapi ini tidak ada"
Argani berfikir sejenak, jika tidak menjualnya ia tidak memiliki uang untuk bayar ojeg tersebut.
"Ya sudah tidak masalah" jawab Argani, meskipun sayang di jual dengan harga segitu tapi mau bagaimana lagi.
Akhirnya ponsel sudah terjual dengan harga lima juta saja, meskipun berat di jual dengan harga murah. Akan tetapi mau bagaimana lagi mungkin ini jalan terbaik untuk hidup mereka ke depan nya.
__ADS_1
Setelah selesai pembayaran, Argani langsung melangkahkan kaki nya untuk segera masuk. Sebab ia juga tidak mau terlalu lama di tunggu oleh orang tersebut.
Argani sudah di luar bersama tukang ojek itu lalu ia bertanya berapa uang yang harus di keluarkan nya, sebab selama ini Argani tidak pernah naik angkutan umum jenis apapun.
"Berapa uang yang harus saya bayar? " tanya Argani.
"Cukup seratus ribu saja"
"Mengapa mahal sekali, kan nggak terlalu jauh" jawab Argani.
"Bahan bakar minyak sekarang mahal, ya otomatis tarif juga naik "
"Baiklah" ucap Argani sambil memberikan uang seratus ribu sebagai ongkosnya.
"Terimakasih, kalau kamu butuh ojek lagi saya biasa nongkrong di tempat tadi" ucap kang Ojek itu.
"Oh Iya, apa anda tahu tempat penjualan sembako? " tanya Argani, sebab selama ini ia tidak pernah tahu tempat semacam ini.
"Anda ingin pergi ke sana? aku ada teman, dia punya toko yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga" jawab orang tersebut.
"Nah, itu yang aku cari. Bisakah kamu mengantarkan saya ke tempat itu! " Argani mengajak orang tersebut untuk mengantarkan nya.
"Dengan senang hati Tuan"
Akhirnya Argani bersama kang ojek akan pergi ke tempat di mana menjual semua keperluan yang di butuh kan oleh mereka berdua.
Waktu bergulir begitu cepat, kang ojek tersebut sudah menghentikan kendaraan nya di sebuah toko yang menjual perlengkapan tersebut.
Argani turun dari kendaraan itu lalu berjalan dengan cepat untuk segera masuk ke dalam toko tersebut.
Setelah berada di dalam Argani meminta semua keperluan rumah tangga.
"Tolong berikan aku semua kebutuhan rumah tangga! " kata Argani terhadap pelayan toko.
"Maksudnya apa pai? " tanya orang tersebut.
"Pokoknya apa saja, yang suka di beli ibu rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti minyak sayur, gula, dan sebagai nya. Soal nya aku tidak terlalu faham soal itu, mungkin anda lebih faham soal kebutuhan rumah tangga" kata Argani terhadap orang tersebut.
" Baiklah tunggu sebentar, saya akan menyiapkan nya"
Argani menunggu sambil melihat ke sekeliling toko tersebut, sekarang ia baru merasakan membeli sembako untuk keperluan nya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya semua belanjaan sudah di masukan ke dalam kantong.
"Silakan bayar terlebih dahulu! " kata orang tersebut.
" Baiklah " jawab Argani.
Lalu Argani membayar nya, dan ternyata kebutuhan rumah tangga itu sangat banyak dan mahal.
Setelah membayarnya, Argani langsung keluar dari tempat tersebut. Ia langsung menghampiri tukang ojek yang sedang menunggu nya.
"Mau kemana lagi setelah ini? "
"Langsung pulang saja, istri saya sudah menunggu di rumah" jawab Argani.
"Anda termasuk orang yang sayang istri ternyata, mengingat istri yang sudah menunggu"
"Ayok, jalan pak! "
Akhirnya kendaraan tersebut berjalan dengan perlahan, dan setelah beberapa saat mereka melewati jalanan yang sangat sepi. Tiba-tiba kendaraan mereka di hentikan oleh segerombolan orang, akan tetapi kang ojek tidak menghentikan kendaraan nya.
__ADS_1
Hingga membuat segerombolan orang sangat murka dan menarik paksa, barang bawaan milik Argani. Hingga mengakibatkan motor oleng dan terjatuh.