Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 104


__ADS_3

Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, selama di perjalanan Yeyen memeluk tubuh anak kecil yang sudah di penuhi oleh darah.


"Bertahan lah sayang... kamu kuat pasti bisa melewati nya, sebentar lagi kita akan segera sampai " Yeyen berkata sambil menatap lekat wajah anak kecil yang sudah terlihat kesakitan akan tetapi anak itu sama sekali tidak menangis hanya merintih memanggil sang ibu, tanpa terasa air mata Yeyen meleleh begitu saja. Mengapa hal ini bisa terjadi, andaikan ia tidak meninggalkan Argani bersama Farwa mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.


Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa Argani sudah sampai di depan unit gawat darurat.


Dengan gerakan cepat Yeyen langsung turun dari kendaraan tersebut dan segera membawa masuk Argani.


Tanpa menunggu lama akhirnya Argani langsung di tangani oleh petugas kesehatan, setelah melihat luka yang ada di bagian kepala terlalu serius.


Dokter pun mengajak Yeyen untuk berbicara, sebab ini harus di operasi dan harus melakukan scan untuk memastikan bahwa tidak ada luka yang terlalu parah di bagian kepada.


"Bu bagaimana, seperti yang saya bilang tadi? " dokter kembali bertanya di akhir percakapan nya.


Yeyen barulah sadar bahwa dirinya bukan lah orang tua dari Argani, ia akan menghubungi keluarga nya terlebih dahulu untuk segera datang ke klinik.


"Saya tidak bisa memberi keputusan karena bukan orang tuanya" jawab Yeyen.


"Ini harus segera di lakukan karena luka di bagian kepala nya cukup serius, takut terjadi sesuatu malah lebih bahaya lagi"


"Saya hubungi keluarga nya terlebih dahulu ya, dok! " kata Yeyen.


"Baiklah, silakan"


Akhirnya Yeyen pun pergi ke luar dan segera menghubungi keluarga nya, pertama yang ia hubungi adalah Farwa akan tetapi perempuan itu sama sekali mengabaikan panggilan darinya.


Lalu ia mencoba menghubungi Zulaikha, akan tetapi sama saja tidak ada jawaban. Lalu ia menghubungi saudari kembarnya namun sama saja tidak ada yang bisa di hubungi nya.


Lalu Yeyen teringat akan Radit, ia langsung menghubungi nya.


Tanpa menunggu lama, panggilan sudah terjawab dan betapa terkejut nya Radit saat mendengar kabar dari Yeyen bahwa Argani mengalami kecelakaan dan sekarang kondisi nya sangat parah.


Di tempat lain.


Radit langsung mengambil kunci kendaraan nya, ketika mendengar bahwa Argani kecil kecelakaan.


Entah mengapa hatinya begitu tidak tenang dan ingin segera sampai di klinik, kebetulan rumah yang di tempati sekarang tidak jauh dari klinik di mana Argani di rawat.


Ia juga tidak lupa memerintahkan orang yang bekerja di toko untuk segera memberi kabar Zulaikha bahwa Argani kecelakaan, sebab tidak ada satu orang pun yang bisa di hubungi.


Radit mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk segera sampai, setelah sampai ia langsung memasuki ruang Unit gawat darurat dan langsung menyetujui bahwa Argani akan segera di bawa ke ruang operasi untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.


Entah apa yang ada di pikiran Radit yang terpenting, Argani kecil terselamatkan.


Ia langsung mendekati ke arah anak kecil yang sedang menahan sakit, akan tetapi anak itu begitu kuat sehingga tidak menangis. Radit yang melihat nya, dadanya serasa sesak dan tidak rela Argani dalam kesakitan.

__ADS_1


"Hai jagoan, kenapa sampai seperti ini. Apakah tidak hati-hati? " tanya Radit dengan suara pelan, sambil mengusap wajah anak kecil itu. Sungguh ia tidak bisa mengendalikan perasaan yang ada di hatinya, cairan bening sudah tak terbendung lagi.


"Aku terpeleset om, kenapa om menangis aku saja nggak. Kan om pernah bilang bahwa jadi laki-laki itu harus kuat agar bisa menjaga ibu, kenapa sekarang om yang menangis" kata Argani dengan suara lemah, namun masih mampu terdengar jelas.


Setelah ruang operasi siap, dan segala sesuatu sudah di persiapkan. Akhirnya Argani di pindah ke ruang operasi karena luka nya terlalu parah sehingga harus melakukan ini.


Radit mengikuti anak kecil itu sampai di bawa masuk ke ruangan, ia berdiri di depan pintu dengan segala rasa yang tidak bisa di artikan.


Sedangkan keluarga Argani belum juga sampai, Radit akhirnya duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil menatap pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.


Yeyen duduk tak jauh dari sana, ia terus memperhatikan Radit yang terlihat sangat khawatir.


Di saat dua orang yang sedang khawatir menanti kabar baik, datang lah Zulaikha dan juga Mahad.


Kedua nya langsung mendekat ke arah Yeyen dan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi, sedangkan Yeyen juga tidak tahu sehingga Argani kecelakaan seperti ini.


Zulaikha sangat marah terhadap Farwa, benar-benar anak itu sudah kehilangan akal sehatnya sehingga Argani lah yang menjadi korban keegoisan nya.


Akhirnya Zulaikha pun sadar bahwa ada Radit juga di sana.


"Kenapa dia juga ada di sini? " tanya Zulaikha terhadap Yeyen.


"Di saat semua orang tidak ada yang bisa di hubungi dan jalan Satu-satunya yaitu menelepon nya dan untung saja dia datang tepat waktu, sehingga Argani bisa di tangani dengan cepat. Maafkan saya bu tidak bisa menjaga Argani dengan baik. " jawab Yeyen.


Ia sungguh tidak habis fikir dengan yang di lakukan Farwa.


Radit masih tetap diam sambil menunduk, ia sangat khawatir dengan keadaan anak kecil yang sedang berjuang melawan maut.


Keadaan kembali hening, semua orang yang ada di tempat ini sedang menantikan kabar baik tentang kesehatan Argani kecil.


Tiba-tiba datang lah seorang perempuan sambil gemeteran ketakutan, ia menghampiri sang ibu.


"Bu... bagaimana keadaan Argani? " tanya Farwa sambil gemeteran.


Zulaikha bukan nya menjawab Malah menampar Farwa dengan keras, ia melampiaskan amarah nya.


"Apa yang kamu lakukan sehingga membahayakan nyawanya? selama ini aku tidak percaya bahwa kamu mampu menjaga nya! " kata Zulaikha dengan nada bicara di penuhi dengan amarah.


"Tadi aku melihat Argani menggandeng perempuan lain, dia masih hidup aku melihat nya di sana! Bu... " jawab Farwa sambil menangis.


"Hentikan omong kosong mu, mau sampai kapan kamu sadar bahwa dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selama. Sekarang tugas mu jaga anaknya dengan baik, bagaimana perasaan dia saat mengetahui bahwa ibunya tidak mampu menjaga anaknya. Sekarang saat nya kamu bangun, dan mesti ingat ada seorang anak kecil yang sangat membutuhkan perhatian mu. Tolong lah aku, sadarlah dari mimpi mu yang terus berfikir bahwa Argani masih hidup" jawab Zulaikha sambil menangkup kedua tangannya memohon terhadap Farwa untuk tidak berada di alam bawah sadarnya.


"Aku tidak sedang bermimpi, bu... dia memang ada. Maafkan aku, Bu...telah membuat nya kecelakaan" Farwa berkata sambil menangis dan bersujud di kaki sang ibu. Sungguh ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi, ia fikir tadi masih ada Yeyen yang menjaga anaknya.


"Tidak ada gunanya juga kamu menangis darah, ini semua tidak akan pernah merubah kenyataan. Jika sesuatu terjadi padanya maka aku tidak akan pernah memaafkan mu! " kata Zulaikha sambil menarik kakinya agar menjauh dari Farwa, ia tidak nyaman dengan perlakuan Farwa yang melakukan itu di hadapan orang banyak.

__ADS_1


Zulaikha berdiri lalu melangkah kan kalinya, terus berdiri di depan pintu ruangan operasi. Sudah cukup lama Argani kecil berada di dalam akan tetapi belum juga ada kabar baik.


Farwa juga terus mondar-mandir ia tidak tenang dan merasa bersalah.


Kelakuan Farwa membuat Radit tidak nyaman, akhirnya laki-laki itu berbicara.


"Bisa tenang tidak! " kata Argani sambil menatap tajam Farwa, seolah tatapan itu bentuk dari rasa kecewa Radit terhadap Farwa.


"Bagaimana aku bisa tenang saat putra ku melawan maut" jawab Farwa dengan emosi yang meluap.


"Kamu pikir aku tidak khawatir, dia juga anak ku. Di mana kamu? saat dia membutuhkan mu, apa yang kamu lakukan sehingga dia bisa seperti itu. Ibu macam apa kamu? bahkan tidak pantas kau di panggil ini, jika terjadi sesuatu pada putra ku maka tidak akan pernah ada maaf untuk mu" kata Radit dengan tatapan tajam.


Seketika Farwa nembeku saat Radit berkata bahwa ia adalah Ayah dari Argani.


"Apa kamu bilang, Ayah? " kata Farwa sambil tersenyum getir.


"Ya, dia anak ku"


"Tidak! ini tidak mungkin, coba kamu jelaskan bagaimana bisa kamu menjadi Ayah dari anak ku? " kata Farwa dengan nada bicara penuh permohonan.


"Aku juga tidak tahu, tapi di saat dekat dengan kalian aku merasa bahwa kalian berdua adalah seseorang yang sangat penting di dalam hidup ku. Dan aku juga sangat yakin bahwa Argani itu anak ku, aku sudah berusaha untuk mengingat nya tapi aku lupa. Semakin aku berusaha semakin sakit kepala ini" jawab Radit sambil memegang kepala nya yang terasa sakit.


"Pasti kamu bohong kan!"


" Aku juga tidak tahu" jawab Radit dengan nada bicara yang lirih.


Semua orang yang berada di sana, hanya terdiam. Mereka belum tahu apakah ini benar atau tidak, mungkin saja Radit hanya berhalusinasi atau sedang dalam keadaan tidak sadar.


Zulaikha termasuk Ma'had hanya saling tatap, tidak ada seorang pun yang berani berkata-kata.


Farwa tertunduk lemah, ia rasanya tidak mampu hanya untuk berdiri. Kakinya tidak sanggup untuk menopang bobot tubuh nya.


Di saat semua nya terdiam datang lah seorang laki-laki yang terburu-buru.


Hadi datang ke klinik saat mendengar kabar bahwa Radit ada di rumah sakit, ia pikir Radit lah yang mengalami kecelakaan makan nya ia meninggalkan meeting yang sedang berlangsung. Dan ternyata ia salah menduga, setelah mencari tahu di klinik yang di beritahu Radit ia tidak menemukan pasien yang bernama Radit.


Dari kejauhan ia melihat sang adik sedang tertunduk, lalu ia menghampiri nya dengan sangat buru-buru.


"Apa yang terjadi? " tanya Hadi terhadap sang adik.


"Dia ada di sana! " jawab Radit sambil menujuk ke pintu ruangan yang tertutup rapat.


Farwa sangat terkejut dengan orang yang di hadapan nya pada saat ini.


"Kakak! " pangil Farwa dengan air mata yang sudah tidak mampu lagi ia tahan.

__ADS_1


__ADS_2