
Hadi dan Radit sudah tiba di rumah, sebelum pulang Radit periksa terlebih dahulu ke dokter. Memang benar Radit terlalu capek jadinya sakit seperti sekarang, mengingat Radit pernah terbaring koma di rumah sakit dalam waktu yang sangat lama, hal itu membuat Hadi selalu was-was kalau Radit mengalami pusing atau demam sebab waktu dulu luka di bagian kepalanya.
"Apaan sih kak, lebay banget. Aku juga bisa jalan sendiri" Radit menolak sang kakak yang ingin menggandeng nya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Kamu itu, nggak bisa di sayang yah. Udah jelas badan kamu saja panas seperti ini, wajah nya juga sudah terlihat pucat masih saja nggak mau di bantu. Apa perlu aku panggil kan ibu muda itu biar mengurus kamu" Hadi berkata sambil menatap tajam wajah Radit.
"Nggak aku biasa saja, kakak aja yang berlebihan" jawab Radit sambil berjalan mendahului Hadi.
"Dasar adik durjana nggak mau di baikin sama kakak nya" gerutu Hadi sambil melangkah kan kaki mengikuti Radit.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam rumah, Radit langsung menuju kamarnya untuk segera beristirahat sebab dokter juga menyadarkan untuk lebih banyak istirahat dan tidak terlalu banyak berfikir juga agar tetap sehat.
Hadi meminta pelayan di rumah ini untuk membawakan makanan untuk Radit, sudah pasti anak itu nggak akan makan kalau nggak di paksa sambil di liatin seperti anak kecil.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pelayan datang membawa makanan.
"Ini di simpan di mana, Tuan? " tanya pelayan tersebut.
"Simpan di kamar Radit, nanti saya bersih-bersih dulu " jawab Hadi, setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu.
Ia tidak terbiasa jika setelah keluar rumah tidak membersihkan nya, rasanya tidak nyaman meskipun nggak ngapa-ngapain.
Di kamar Radit, ia langsung menjatuhkan tubuh nya di atas kasur lalu merebahkan tubuh nya.
Merasakan kepala yang pusing badan panas, lemes juga rasanya seperti tidak ada tenaga meskipun itu hanya untuk berdiri.
__ADS_1
Ia berusaha untuk memejamkan mata, ingin rasanya tertidur namun tidak bisa.
Waktu terlalu cepat berlalu sehingga tidak terasa sudah satu jam berlalu, Radit masih belum mampu memejamkan matanya.
Datanglah Hadi masuk ke kamar Radit, lalu membawa nampan yang sudah berisikan makan tersebut, ia duduk di atas tempat tidur lalu menggoyangkan tubuh Radit yang terlentang.
Setelah beberapa saat, Radit pun tidak merespon sang kakak.
"Bangun, makan terlebih dahulu lalu setelah itu minum obat barulah kamu istirahat. Jadi anak jangan ngeyel, atau aku tinggalin biar tahu rasa gimana hidup sendiri! " ancam Hadi terhadap sang adik.
"Apa sih, kak! jangan berisik aku mau tidur" jawab Radit dengan suara lemahnya, ia tak kuasa hanya untuk membuka mata pun.
"Iya buka dulu mulutnya setelah itu minum obat jangan membantah atau mau aku bawa lagi ke rumah sakit biar para perawat cantik yang menjaga mu di sana! " Hadi kesal terhadap sang adik, ia kewalahan jika menghadapi Radit sakit.
Hadi menyuapkan makanan ke mulut nya dengan perlahan, Radit pun menerima nya walaupun tanpa membuka mata.
"Sudah Kak, ini makanan nggak enak banget. Pait... " kata Radit sambil menjatuhkan kembali tubuh nya.
"Minum dulu obatnya, setelah baru istirahat! "
Akhirnya Radit pun meminum obatnya dengan paksaan dari Hadi, setelah ia menutup tubuh Radit dengan selimut.
Setelah terlihat Radit aman, akhirnya Hadi pun keluar dari kamar Radit. Ia menuju ke luar kamar, hingga beberapa saat ia langsung masuk ke dalam sebuah ruangan di mana menyelesaikan banyak pekerjaan di sana.
Hadi langsung duduk di kursi kebesaran nya, ia mengambil ponsel nya lalu menghubungi seseorang untuk menyelidiki latar belakang Marwan. Ia melakukan ini semua demi Mayang sang pujaan hatinya, meskipun usia mereka terpaut jauh akan tetapi Hadi sangat berharap bahwa mereka itu jodoh. Sebab jodoh tidak mengenal usia tahta dan jabatan. Jika semesta sudah merestui maka akan terjadi, semoga juga Hadi dan Mayang berjodoh.
__ADS_1
Ia meminta terhadap seseorang yang ia telepon untuk segera memberi kabar, sebab ia juga tidak punya banyak waktu untuk mengukur nya.
Menurut keterangan Mayang, orang tuanya sudah menyiapkan surat wasit yaitu sebagian harta akan jatuh ke tangan Marwan sebagai anak laki-laki nya, akan tetapi Mayang tidak terima akan hal itu. Bukan karena Marwan lebih besar atau Mayang sedikit, akan tetapi Mayang belum yakin bahwa Marwan itu kakak yang dulu tinggal di panti asuhan.
Akhirnya percakapan Hadi dengan seseorang pun telah selesai, orang tersebut akan segera memberikan nya kabar yang akurat soal Marwan hal itu membuat Hadi merasa lega yaitu satu masalah nya teratasi.
...****************...
Di tempat lain.
Marwan sedang mempersiapkan semuanya, sebab Ratih memintanya untuk segera datang ke kota di mana Ratih tinggal. Marwan sudah mengundurkan diri dari tempat ia bekerja, padahal sedang menangani proyek besar yang bekerja sama dengan perusahaan Hadi. Akan tetapi saat ini Marya bukan lagi bagian dari perusahaan itu, ia lebih memilih perusahaan yang di tawarkan ibu Ratih. Marwan yang licik dan selalu ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah, ia langsung setuju saat Ratih meminta nya untuk segera datang dan memipin perasaan yang di miliki oleh Ratih.
Marwan dengan senang hati menerima itu semu, bahwa terlihat dengan jelas dari wajahnya Marwan berapa bahagia nya saat mendapatkan kabar bahwa bu Ratih memintanya untuk segera ke kota a.
Wajahnya Alfi semakin bersinar, bahwa setelah ini ia tidak akan menjadi orang susah lagi. Alfi sudah jengah dengan keadaan seperti ini.
"Mas... kalau kamu sudah memimpin perusahaan itu jangan lupa belikan aku mobil dan kartu tanpa limit, ingat satu hal ini semua berkat aku. Kalau bukan kerja keras ku kamu tidak akan mendapatkan hal ini" kata Alfi sambil memasukkan pakaian nya ke dalam koper.
"Iya, aku juga ingat... tapi sebisa mungkin kamu jadi menantu yang baik, agar mereka semua semakin yakin bahwa kamu itu menantu idaman yang di harapkan oleh keluarga Ibu Ratih" kata Marwan memperingati sang istri.
"Aku ngerti ko dan sudah tahu caranya, agar ibu Ratih selalu tunduk dan patuh terhadap apa yang kita mau. Sekarang saja dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di kota a, ia akan memainkan drama di sana" kata Alfi sambil tersenyum menyeringai.
"Baguslah kalau kamu Faham, bertingkah lah layak nya menantu idaman setelah semua ada di genggaman kita terserah kamu mau apa. Tapi sebelum itu kamu harus hati-hati" kata Marwan.
Percakapan suami istri pun sudah selesai, akhirnya mereka mempersiapkan untuk keberangkatan besok ke kota a dengan mengistirahatkan tubuhnya agar esok hari lebih fit.
__ADS_1