
Di tempat lain.
Terdengar suara barang pecah karena di banting, sepasang suami istri sedang bertengkar. Siapa lagi kalau bukan Alfi dan Marwan, mereka memutuskan untuk menikah setelah Argani meninggal dan Farwa pun tidak mau dekat dengan Marwan, akan tetapi selama pernikahan nya mereka tidak bahagia.
Alfi yang berasal dari keluarga kaya, ikut tinggal di rumah Marwan yang kehidupan nya sederhana. Hal itu yang membuat Alfi merasa tidak nyaman, ia juga tidak bekerja hanya mengandalkan gaji Marwan yang bekerja di kantor milik Erick.
"Sampai kapan aku harus menjadi pembantu di keluarga mu, setiap hari aku harus bangun pagi menyiapkan sarapan dan mencuci baju. Hanya segini uang yang kamu berikan! " kata Alfi sambil menyambar kan uang ke wajah Marwan.
"Kamu tahu sendiri, itu gaji ku satu bulan bahkan aku nggak mengambilnya sepeserpun. Kamu itu maunya apa? kalau ingin punya banyak uang silakan tinggal bareng orang tuamu, aku nggak perduli" jawab Marwan.
"Kamu ngusir aku? "
"Bukan ngusir hanya memberi pilihan untuk mu, lagian masih sukur aku mau menikahi kamu yang sudah hamil dan entah itu anak siapa" kata Marwan sambil menarik handuk lalu pergi ke kamar mandi, Marwan benar-benar tidak mendapatkan ketenangan di rumah nya sendiri bahkan ia mera malas di kala waktu pulang kantor tiba. Ia malas berhadapan dengan perempuan seperti Alfi, sekarang Alfi di abaikan oleh keluarga nya itu semua karena mereka tahu bahwa anaknya hamil di luar nikah dan nggak tahu laki-laki yang menghamili nya siapa.
Dia hanya ingat pada malam itu pergi ke suatu tempat dan mabuk berat, saat ia sadar sudah berada di sebuah kamar hotel dengan posisi tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Akan tetapi tidak ada orang yang bersama nya pada saat itu, yang dia ingat hanya Marwan.
Selang beberapa bulan, Alfi hamil dan di usir oleh keluarga nya dari rumah dan meminta Marwan untuk menikahi dan memberi tahu orang tua Marwan bahwa ia sedang mengandung anaknya.
Akhirnya orang tua Marwan menikahkan mereka, setelah pernikahan itu Alfi tinggal di rumah sederhana beserta keluarga dari Marwan. Setiap hari mereka berantem apalagi sekarang usia anak mereka belum genap satu tahun, kadang Afi merasa kerepotan harus mengerjakan pekerjaan rumah sediri. Marwan tidak mau membantu nya jika sedang berada di rumah bahkan sering membentak Alfi saat bayinya menangis.
Meskipun orang tua marwan merestui nya akan tetapi mereka tidak memperlakukan Alfi dengan baik.
Bahkan setiap hari ibunya Marwan selalu pergi keluar dan meninggalkan Alfi di rumah dengan banyaknya pekerjaan rumah, terkadang kalau pun berada di rumah sang ibu mertua lebih memilih berada di dalam kamar.
Alfi yang mempunyai latar belakang orang kaya yang semuanya serba di layani, merasakan sangat kewalahan dengan keadaan seperti ini.
Ia belum bisa berdamai dengan keadaan, bahwa saat ini ia sudah tidak memiliki apapun lagi. Ia menyesal telah ceroboh dan hal ini bisa terjadi, ia juga sudah tidak bisa meminta tolong lagi terhadap Starla karena perempuan itu juga sudah bercerai dengan Adnan.
Starla pindah ke luar negeri ikut bersama keluarga nya, sebab setelah meninggal nya Malik. Adnan memutuskan untuk menceraikan Starla, karena Adnan juga tidak mau menjalani rumah tangga dengan perempuan yang gila harta.
Seluruh anggota keluarga nya menjauhi dirinya, hanya ada Erick yang masih berbaik hati pada nya. Kadang selalu menitipkan makanan atau apapun yang membuat Alfi merasa senang ternyata masih ada keluarga yang perduli dengan nya.
Terkadang ia juga ingat dengan dosa masa lalu, yang selalu memandang rendah orang lain. Sekarang ia merasakan nya bahwa tidak punya uang itu rasanya seperti ini, dengan gaji segitu yang di berikan oleh Marwan itu jauh dari kata cukup untuk menghidupi keluarga nya.
Marwan sudah keluar dari kamar mandi dan ia langsung berganti pakaian.
"Siapkan pakaian ku untuk tiga hari ke depan, mau pergi ke luar kota. Ada tinjauan lokasi untuk pembangunan hotel di kota A! " Marwan meminta Alfi untuk menyiapkan nya.
"Kenapa harus aku yang menyiapkan nya, kan kamu juga punya tangan dan kaki yang masih mampu mengerjakan itu semua" jawab Alfi dengan tatapan tajam.
"Nggak salah kamu ngomong? saya hanya bekerja yang menikmati hasilnya itu kamu! kalau ngomong mesti pakai otak" Marwan marah dengan perkataan Alfi.
"Uang bukan saya uang menghabiskan tetapi itu hanya cukup untuk makan sehari-hari, karena ibu mu tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk keperluan dapur bahkan token listrik saja aku yang beli. Kamu bilang aku yang menghabiskan? bahkan hanya untuk membeli pampers saja terkadang nggak kebagian yang nya" Alfi tidak kalah marah, ia tidak suka jika Marwan selalu berkata bahwa ia yang menghabiskan uang.
"Owhh jadi kamu perhitungan sama orang tua ku! "
"Bukan perhitungan tapi menjelaskan bahwa uang gaji yang kamu berikan untuk ku, itu habis untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Bukan untuk berpoya-poya, kamu harus tahu setelah aku menikah dengan mu aku sibuk di rumah dan mengirus bayi. Bahkan sekarang pakaian ku saja daster bolong, seharusnya kamu mengerti aku bukan terus menyalahkan ku"
"Sudah lah, aku capek berdebat terus sama kamu nggak akan ada habisnya juga" jawab Marwan sambil mengambil baju-bajunya untuk di masukan ke dalam koper yang akan di bawanya.
Akhirnya setelah selesai semuanya, Marwan pun pergi meninggalkan Alfi begitu saja. Rumah tangga mereka jauh dari kata harmoni yaitu sama-sama keras dan tidak ada yang mau mengalah dan menerima kenyataan bahwa yang mereka jalani saat ini adalah takdir Tuhan yang harus di terima dengan iklas.
Di saat Marwan sudah pergi, Alfi pun mulai mengerjakan pekerjaan rumah karena ia takut dengan ibu mertua nya yang selalu memaki dirinya. Lebih baik ia cari aman agar sang mertua berhenti mengomel, akan tetapi Alfi selalu melampiaskan amarah nya terhadap Marwan.
...****************...
Di tempat lain di waktu yang berbeda.
Seperti biasanya kehidupan Farwa berjalan sesuai dengan rencana, bahkan ia sang berterima kasih bisa di kelilingi orang-orang baik.
__ADS_1
Meskipun mereka sudah pergi jauh dari tempat asal mereka, akan tetapi Farwa selalu mendapatkan orang yang baik.
Menurut Farwa Radit salah satu orang baik yang di takdirkan Tuhan untuk bertemu dengan nya, meskipun Radit orang yang baru di kenal akan tetapi Farwa merasakan kenyamanan bekerja sama dengan nya.
Hanya saja Radit terlihat culun dengan penampilan nya yang seperti itu, akan tetapi tidak masalah bagi Farwa toh mereka hanya bekerja sama dalam bisnis bukan untuk menjadi pasangan.
"Bu, bagaimana kalau kita mengambil rumah KPR? kata Radit lagi ada promo terus kita pindah rumah dan ini khusus hanya untuk rumah makan biar pengunjung juga merasa nyaman tidak sempit seperti ini" tanya Farwa terhadap sang ibu.
"Apakah kita mampu untuk membayar cicilan nya, terus itu juga harus menggunakan DP lagi pula sekarang kan uang kita belum terkumpul lagi" jawab Zulaikha sambil menatap lembut wajah sang putri.
"Kata dia sih nggak ada DP, nah kalau sekarang kita di Acc untuk mengambil rumah tersebut maka di bulan ke dua itu angsuran tanpa DP. Kata dia ini perumahan yang sangat strategis dan bagus"
"Ibu sih bagaimana dengan kamu saja, toh selama ini kamu yang bekerja keras untuk semuanya. Ibu mendukung apa yang menjadi keputusan mu. Kalau kita selma nya tinggal di sini, kasian Argani nggak bisa leluasa bermain" jawab Zulaikha.
"Iya, bu. Kalau ibu setuju nanti aku sama Ayah akan melihat ke sana di antar oleh Radit. "
"Oh iya, seperti nya Radit itu naksir loh sama kamu. Buktinya sekarang yang selalu mengantarkan sayuran itu dia, terus sangat perhatian juga sama Argani. Nah setiap ke sini pasti ada saja yang di bawa untuk Argani, terkadang ibu tidak enak sama dia. Kita nggak pernah memberi apa-apa untuk nya, bahkan kalau makan di sini saja dia tetap membayar nya"
"Nggak mungkin juga dia naksir bu, lagian dia juga sudah memiliki istri dan ketika dia berbuat baik pada Argani itu hanya karena dia ingat sama anaknya. Dan tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku " jawab Farwa.
"Iya sudah, semoga kerja sama kalian tetap lancar dan membawa keberkahan untuk usaha nya"
"Bu, nanti sore aku akan pergi ke pasar malam bersama Argani. Katanya Radit sekali-sekali bawa Argani ke luar agar sedikit mengenal lingkungan dan tahu caranya bersosialisasi dengan orang sekitar, itu sangat baik untuk perkembangan nya"
"Ibu nggak ikut yah, kalian saja yang pergi. Lagian siapa yang menjaga di sini kalau semuanya pergi ke luar" jawab sang ibu.
"Kan masih ada Yeyen sama Yayan, mereka sekarang sudah bisa ko meskipun kita tinggalin"
"Kalian saja, biar ibu di sini saja"
"Ya sudah kalau begitu"
...****************...
Radit sedang berbicara dengan orang bagian pemasaran, seperti nya Radit sedang merencanakan sesuatu untuk Farwa.
"Jadi nanti kamu bilang sama Farwa, bahwa tidak ada Dp ketika mengambil perumahan di sini. Terus angsuran nya juga ringan" kata Radit terhadap orang tersebut.
"Tapi kan kita tidak sedang promo dan wajib DP juga bagaimana sih bapak ini, mau bikin perusahaan bangkrut ya" jawab orang tersebut.
"Dasar bodoh, ya saya yang akan membayar DP nya dan melunasi setengah harga dari rumah ini, sisanya di cicil sama Farwa jadi jatuhnya cicilan perbulan nya itu murah" kata Radit terhadap orang tersebut.
"Kenapa nggak bilang saja sama orang itu, kalau bapak yang sudah membayar nya"
"Mana dia mau, kalau saya yang membayar nya. Dia itu perempuan yang istimewa nggak akan menerima bantuan dari orang lain tanpa ada kerja kerasnya, jadi kamu sudah faham kan apa yang aku katakan tadi! "
"Faham Pak, jadi perempuan itu kapan akan datang ke sini. Saya akan memberi tahu yang lain, takutnya pas dia datang ke sini saya lagi nggak ada. Kalau nggak begini saha, jika mau datang ke sini telepon saya biar nggak salah jawab nantinya"
"Iya, nanti saya kabarin kalau dia mau, ini mau meyakinkan nya terlebih dahulu agar dia mau mengambil rumah di sini" jawab Radit.
"Ok terimakasih banyak Pak, telah mempercayai kami untuk mendapatkan hunian yang layak di tempat ini"
"Kenapa aku nggak percaya, toh perusahaan ini punya ku. Dasar aneh, sudah aku mau pergi untuk bertemu dengan nya. Do'ain semoga dia mau yah" kata Radit sambil bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja.
Waktu bergulir begitu cepat, Radit akan pergi ke toko sembako terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Farwa. Kebetulan ia juga ada janji dengan Farwa, bahwa mereka akan membawa Argani untuk pergi bermain di luar.
Setelah cukup lama, akhirnya Radit sudah sampai di toko sembako milik nya.
Seperti biasa ia akan memakai kacamata tebak dan rambut gondrong dan gigi palsu yang membuat ia terlihat jelek dan dekil di hadapan karyawan toko sembako.
__ADS_1
Akan tetapi Radit sebenarnya orang yang sangat ganteng dan bersembunyi di balik penyamaran nya. Itu semua ia lakukan hanya untuk melancarkan tujuan nya.
Ia langsung masuk ke dalam toko, dan ada beberapa yang sedang bekerja di sana. Akan tetapi ia tidak melihat rahmat, berada di sini.
"Rahmat ke mana? " tanya Radit terhadap salah satu orang yang sedang bekerja.
"Nganterin belanjaan bu Farwa"
"Bukan nya tadi pagi sudah di antar kenapa di antar lagi! "
"Katanya ada beberapa yang ketinggalan dan itu sangat penting makanya Rahmat mengantarkan nya sekarang, dia kan langganan kita paling banyak belanja di sini. Kita nggak mau mengecewakan nya"
"Kenapa dia menelpon Rahmat bukan aku"
"Ya mana saya tahu, Bos. Coba saja tanya sama bu Farwa kenapa bukan menelpon Bos langsung"
"Sudah lupakan saja, mana kunci mobil pik up. Saya akan pergi ke rumah Farwa menggunakan itu! " Radit menanyakan ya terhadap karyawan yang ada.
"Kenapa nggak bawa mobil yang itu saja bos, kan biar keren kan biasanya cewek-cewek suka nempel kalau ada cowok bawa mobil mewah"
"Saya sudah punya istri dan nggak mau ada perempuan lain yang mendekati ku, nggak suka sama perempuan gatal " jawab Radit sambil menerima kuci mobil dari salah satu karyawan nya.
"Apa bedanya dengan mendekati Bu Farwa" celetuk salah satu dari mereka.
"Dekat sama dia itu hanya urusan bisnis tidak lebih dari itu, sudah lah aku pergi sekarang! " kata Radit sambil berjalan keluar dari toko.
Radit pun pergi dari tokonya dengan mengendarai mobil pik up yang suka di gunakan untuk mengantarkan sayuran.
Jarak dari toko miliknya ke rumah makan Farwa, itu tidak terlalu jauh sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana.
Radit sudah menghentikan kendaraan nya, lalu ia turun dengan tergesa-gesa.
Dan ternyata Argani kecil sedang duduk di kursi sambil memakan buah.
Betapa bahagianya anak kecil itu saat melihat orang yang datang itu yang sedang di tunggu nya.
"Hai jagoan ternyata kamu sudah siap untuk pergi bersama om" kata Radit sambil tersenyum menatap wajah anak kecil yang selalu membuat nya rindu.
"Aku sudah siap, tapi ibu lama sekali" jawab Argani kecil dengan suara khas anak kecil itu.
"Eh nak Radit, silakan duduk! " Zulaikha pun mempersilakan Radit untuk duduk.
"Iya, Bu. Terimakasih banyak"
Akhirnya Farwa pun sudah turun dan menemui mereka, di sini Farwa kadang merasa bingung dengan sikap Radit.
Terkadang ia selalu menceritakan anak dan istri nya, akan tetapi ia juga selalu membuat Argani dan Farwa merasa nyaman saat bersama nya.
Meskipun itu semua hanya pekerjaan, akan tetapi Farwa tidak mau di cap sebagai pelakor dengan status yang di sandang Farwa saat ini yaitu janda.
"Sudah siap untuk pergi ke tempat bermain? " tanya Radit sambil menatap lekat wajah anak laki-laki yang sangat mengemaskan itu.
"Ayok, Om! aku sudah tidak sabar lagi ingin segera bermain di sana" jawab Argani dengan antusias.
Akhirnya mereka bertiga menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat bermain, tiba-tiba berhenti sebuah kendaraan mewah.
Radit dan Farwa menghentikan langkah nya, dan orang yang berada di dalam kendaraan itu keluar.
Betapa terkejut nya Farwa saat mengetahui orang yang berada di dalam kendaraan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa ada dia di sini? " Farwa kaget dengan penampakan orang di hadapan nya saat ini.