
"Sejak kapan kamu berada di sini, jangan bilang sedang merencanakan sesuatu? " tanya perempuan itu terhadap Farwa.
"Baru hari ini saya bekerja di tempat ini" jawab Farwa sambil menunduk.
Ia tidak mengerti Alfi dan perusahaan ini ada hubungan apa, semakin takut saja Farwa..
Alfi pergi begitu saja meninggalkan Farwa, setelah Alfi pergi Farwa mengelus dada lalu ia duduk kembali.
Di dalam ruangan Erick sedang fokus menatap monitor yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Tiba-tiba ada suara perempuan yang sangat mengganggu telinga nya.
"Sejak kapan kamu mempekerjakan perempuan sampah itu? " tanya Alfi, sambil menatap tajam wajahnya Erick.
"Apa sih datang bikin kuping gua sakit saja dengan sura eluh" jawab Erick sambil menghentikan aktifitas nya lalu menatap Alfi heran.
"Gua tidak suka ada perempuan itu di perusahaan ini! " kata Alfi dengan nada bicara penuh penekanan.
"Dia siapa? " Erick belum menyadari bahwa perempuan yang Alfi maksud adalah Farwa.
"Siapa lagi kalau bukan Farwa, dia sudah merebut Argani dari ku. Bisa-bisanya kamu menerima nya di perusahaan ini" Alfi kesal dengan sepupu nya itu.
"Lantas apa hubungan nya dengan elu? ini perusahaan keluarga gua, terus apakah dengan menerima nya di sini membuat elu rugi? Nggak kan! jadi jangan ikut campur dengan apa yang terjadi di dini, mau nerima siapa pun jadi karyawan di perusahaan ini itu semua hak gua. Elu jangan ikut campur, soal urusan elu dengan Argani itu bukan urusan gua. Bagi gua yang terpenting adalah perusahaan berkembang dengan baik, ketika mempekerjakan orang-orang baik" jawab Erick dengan nada bicara penuh penekanan.
"Hai, sepupu macam apa nggak membela sepupu nya sendiri malah membela orang lain, sungguh sangat mengecewakan gua. Jauh-jauh datang ke kantor elu bukan di sambut dengan baik, malah mendapatkan perlakuan seperti ini" kata Alfi sambil memasang wajah melasnya.
"Gua akan membela elu jika tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan karyawan yang bekerja di tempat ini" jawab Erick.
"Elu datang ke tempat ini mau ngapain? jangan ganggu gua! ini masih jam kerja"
"Argani pergi dari rumah orang tuanya, dan lebih memilih perempuan sampah yang ada di depan itu. Daripada keluarga nya sendiri, terus dia juga sudah di coret dari ahli waris keluarga Malik" Alfi menjelaskan semuanya terhadap sepupu nya itu.
"Lantas apa hubungan nya dengan gua, bahkan mengenal Argani saja nggak. Elu maunya apa? " tanya Erick sambil bangkit dari duduknya lalu menghampiri sesungguhnya itu yang sedang duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari meja kerja Erick.
"Memang ini tidak ada hubungannya nya dengan elu, tapi gua ingin curhat. Ternyata sesakit ini yah, mencintai orang dan orang itu sama sekali tidak mencintai gua" jawab Alfi dengan raut wajah yang sedih.
"Eh jelek tahu jangan tunjukkan wajah sedih elu di hadapan gua, gini aja. Kan di dunia ini masih banyak laki-laki jadi untuk apa elu bersedih karena laki orang. Ih nggak asik banget sih, elu itu gadis kenapa doyan sama laki orang" ledek Erick terhadap Alfi.
__ADS_1
Seketika Alfi mersa kesal dengan apa yang di katakan Ercik.
"Eh duduk, gua suka sama Argani itu sebelum menikah dan perempuan itu yang sudah menghancurkan semua nya. Bisa kah elu pecat dia demi kebahagiaan gua! " ucap Alfi dengan nada bicara penuh permohonan.
"Kalau untuk memecat nya Maaf gua nggak bisa. Lagian kita sudah tanda tangan kontrak untuk satu tahun ke depan, jika memecat nya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Maka perusahaan yang akan mengalami kerugian, biarkan itu menjadi masalah elu dan dia jangan libatkan gua dan perusahaan" jawab Erick.
"Emang dari dulu elu nggak pernah sayang sama gua, atau jangan-jangan elu suka sama dia? hayo ngaku" tanya Alfi terhadap Ercik.
"Suka darimana, ketemu saja baru dua kali. Dan gua nerima dia bekerja di sini atas rekomendasi dari karyawan teladan di sini terus setelah gua liat SV nya ternyata dia mempunyai potensi yang lumayan bagus, bisa di andalan " jawab Ercik.
"Kenapa elu malah memujinya, dasar jahat" kata Alfi sambil melemparkan batal sofa ke wajah Ercik.
"Itu bukan memuji tapi kenyataan" jawab Erick santai.
"Kalau begitu, elu harus ganti rugi" kata Alfi sambil menatap tajam wajah Erick.
"Astaga saudara macam apa sih elu ini, dasar matre"
"Sekarang kita harus pergi berbelanja dan makan di tempat favorit ku! " ucap Alfi.
"Serah elu dah, tapi tunggu sebentar gua kasih ini dulu ke Farwa. Biar dia selesaikan dan mengatur ulang jadwal gua satu minggu ke depan" kata Ercik sambil membawa map berwarna biru.
Ercik pun keluar dari ruangan untuk segera menemui Farwa.
Setelah beberapa saat Erick sudah berhadapan dengan Farwa, dan menyerahkan map itu. Lalu ia memberi tahu nya apa yang harus di kerjakan nya selama Erick tidak di kantor.
"Kamu kerjakan ini, saya akan ke luar mungkin nggak kembali ke kantor lagi. Jika sudah waktunya pulang maka jangan tunggu aku, kamu atur ulang jadwal saya satu minggu ke depan! " perintah Erick terhadap Farwa.
"Baiklah, Pak. Saya akan kerjakan ini" jawab Farwa dengan penuh semangat.
Setelah berbicara seperti itu, Erick kembali ke ruangan nya.
Tidak berselang lama, Erick sudah keluar dari ruangan nya bersama dengan Alfi.
Farwa berpikir ada hubungan apa antara Alfi dan Erick, ia juga berfikir apa yang mereka rencana kan. Apakah ini akan membahayakan Farwa atau tidak.
Setelah Erick dan Alfi tidak terlihat, Farwa menjatuhkan tubuh nya di atas kursi. Hari pertama bekerja sudah berhasil di uji mentalnya, karena mental Farwa terlalu kuat untuk di runtuh kan.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, Waktu istirahat telah tiba.
Farwa tidak lupa untuk menghubungi suami nya agar tidak lupa untuk makan siang.
Akan tetapi panggilan nya tidak di jawab, sehingga banyak pertanyaan di dalam pikiran Farwa.
"Sesibuk itu kah di hari pertama kerja, sehingga tidak ada waktu untuk menjawab panggilan telepon" gerutu Farwa.
Akhirnya Setelah tidak ada jawaban dari Argani, ia pun mengeluarkan bekal makan siang nya.
Di saat ingin menyuap kan makan itu tiba-tiba Alina memanggilnya.
"Apa kamu mau ikut makan siang di kantin? " ajak Alina terhadap Farwa.
"Ia, Bu terimakasih banyak. Lain kali saja, hari ini aku bawa bekal dari rumah. Ini baru saja akan makan" jawab Farwa dengan nada bicara lembut nya.
"Baiklah, aku tinggal yah" ucap Alina.
Setelah berbicara seperti itu, ia pergi meninggalkan Farwa.
Waktu terlalu singkat ketika di gunakan untuk hal yang tidak penting.
Waktu pulang kerja telah tiba, Farwa keluar dari gedung tersebut dan segera menunggu suaminya di depan.
Ia sudah menghubungi Argani bahwa sudah waktunya pulang dan Farwa menunggu di depan kantor.
Hingga satu jam lamanya Argani tidak kunjung datang juga, akhirnya Farwa berniat akan menggunakan angkutan umum. Sebab hari juga sudah semakin sore, ia takut jika kemalaman di jalan.
Jarak tempuh dari kantor ke rumah juga sangat jauh.
Di saat Farwa akan naik, datangkanlah Argani.
"Maaf aku telat" kata Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Tidak masalah, Ayok kita pulang" jawab Farwa meskipun dalam hati sangat kesal.
"Aku tahu pasti kamu marah pada ku" batin Argani.
__ADS_1
"Untuk apa juga aku marah, toh tidak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu" kata Farwa dalam batin.
Akhirnya mereka berdua pulang dengan menggunakan kendaraan roda dua, yang setia menemani Argani dalam keadaan seperti ini.