
Zulaikha sedang duduk di pinggir tempat tidur, sambil menatap sang suami yang sedang melamun.
Ia memberanikan diri untuk berbicara terhadap sang suami.
"Mas...lebih baik pulang ke rumah kita, tidak ada gunanya juga bersembunyi. Toh laki-laki itu akan tetap menemukan kita kemanapun pergi" kata Zulaikha sambil menatap lekat wajah sang suami yang terlihat kusut, pria yang sudah tidak lagi muda itu memang sangat pusing dengan keadaan seperti ini. Di sisi lain ia sangat menyayangi putrinya dan tidak mungkin juga memberikan restu untuk menikah dengan orang asing Seperti Argani.
Apalagi Arogan seperti itu, ia tidak mau mengambil resiko anaknya diserahkan kepada seorang pria yang mempunyai sifat seperti Argani.
"Sepertinya apa yang kamu katakan itu benar sekali, tidak ada tempat bagi kita untuk bersembunyi dari orang seperti mereka " jawab Mahad dengan nada bicara yang sangat sedih, ia sebagai suami dan juga Ayah merasa tidak berguna. Tidak bisa melindungi istri dan anaknya dari orang-orang jahat seperti Argani itu yang ada di pikiran Mahad, makanya ia terlihat sangat sedih.
"Kalau begitu besok kita akan pulang, apapun yang terjadi nantinya kita hadapi bersama walaupun kita harus mengorbankan nyawa kita untuk keselamatan Farwa aku ikhlas menerima semua itu " ucap Zulaikha sambil menggenggam tangan suaminya, ia yang memberi kekuatan untuknya.
Jadi mereka harus menghadapi semuanya bersama walaupun itu sulit.
"Jangan besok itu terlalu lama, kita sekarang bersiap untuk segera pulang kasih tahu Farwa dan juga Daisy untuk berkemas. Tidak ada gunanya juga kita menunggu sampai esok ataupun lusa kita tetap akan seperti ini dihantui rasa takut" kata Mahad kepada sang istri.
Tanpa mereka ketahui ternyata Farwa berada di depan pintu, ia mendengar semua percakapan antara sang ibu dengan ayahnya tersebut. Ia merasa bersalah jika harus egois tidak menerima Argani sebagai calon suaminya, tidak apa-apa ia harus mengorbankan dirinya asal keluarganya selamat dan aman.
Walaupun ia tidak menikah dengan Argani pastinya keluarganya tidak akan pernah merasa tenang, yang ada selalu berada di dalam ketakutan.
Farwa berjalan perlahan mendekat kepada kedua orang tuanya lalu ia duduk di samping sang ibu.
"Aku menerima untuk menikah dengan Argani " kata Farwa dengan nada bicara yang lembut dengan tatapan mata kosong ke depan.
__ADS_1
" Tidak..! ibu tidak akan pernah merestuinya kamu menikah dengan laki-laki itu" jawab Zulaikah sambil menatap putrinya dengan penuh rasa sedih.
"Ayah juga tidak akan pernah membiarkanmu bersama laki-laki jahat, kamu itu Putri Ayah yang paling tua ayah juga mempunyai harapan besar terhadap hidup kamu. Rencana-rencana kita yang dulu pernah tersusun untuk kehidupan kamu, tidak akan pernah membiarkanmu begitu saja dengan orang seperti Argani " kata Mahad.
"Aku juga tidak akan pernah membiarkan kalian semua berada di dalam kesedihan dan rasa takut hanya karena aku, meskipun dia bisa menikah denganku tapi tidak akan pernah dia mendapatkan cintaku. Disaat aku menikah dengannya saat itu juga jiwaku telah mati karena dia hanya memiliki ragaku tetapi tidak dengan jiwaku " kata Farwa dengan mata yang mulai berair, ia sungguh tidak bisa membayangkan hidupnya ke depan Seperti apa. Berada di dalam penjara cinta tuan kejam seperti Argani.
"Atau kamu menikah saja dulu dengan Marwan, kalau itu semua sudah terjadi kamu tidak akan pernah bisa menikah dengan Argani mungkin itu jalan terbaik untuk menghindarinya " kata Zulaikha memberikan usul agar Farwa menikah dengan Marwan.
"Itu bukan solusi Bu...yang pasti dia akan membunuh keluarga Marwan juga, jika mengetahui kita merencanakan itu semua. Sudahlah ini adalah masalahku jangan melibatkan orang lain ke dalam semua masalah ini, jika aku menerima dia sebagai istrinya. Maka semua masalah ini akan selesai Kalian juga akan hidup tenang dan damai " kata Farwa sebab ini adalah jalan satu-satunya untuk menghindar dari kejahatan Argani.
Yang Argani inginkan hanyalah menikah dengannya bukan yang lain, semakin ditentang orang seperti arganik itu akan semakin menjadi.
Tidak ada salahnya Farwa menerima lamaran Argani, walaupun tidak ada rasa cinta sedikitpun bahkan ia sangat takut akan laki-laki itu. Akan tetapi kalau sudah menikah sudah pasti tidak akan mungkin membunuh dirinya, secara Argani sangat mencintai dirinya. Itu yang ada di pikiran Farwa untuk saat ini.
"Ini demi kebaikan kita semua Bu...ikhlaskan aku menikah dengannya doakan saja semoga aku dalam keadaan baik-baik saja dan kalian semua juga baik " ucap Farwa meyakinkan sang Ibu agar memberikan restunya untuk menikah.
"Pikirkanlah dulu jangan mengambil keputusan seperti ini " kata Mahad sambil menatap lekat wajah sang putri, Iya juga tidak tega putrinya seperti ini.
Sudah pasti Farwa merasakan ketakutan yang sangat luar biasa.
"Aku sudah memikirkannya dengan matang, cukup doakan saja agar semuanya baik-baik saja" kata Farwa berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
"Baiklah jika ini sudah menjadi keputusanmu, Ibu dan Ayah mendoakan. Semoga semuanya baik-baik saja dan kita semua selamat dari kejahatan orang seperti Argani" kata Zulaika sambil menggenggam tangan Sang Putri.
__ADS_1
Di saat mereka sedang berbicara bertiga di dalam kamar, tanpa mereka ketahui juga Daisy masuk secara tiba-tiba ke kamar itu dan mendengar percakapan antara kedua orang tua dan juga kakaknya.
"Tidak! Kak...aku tidak akan pernah menyetujui kamu menikah dengan laki-laki jahat seperti dia, Yang ada kamu bunuh diri Kak. Lebih baik kita mencari cara lain agar terhindar dari orang seperti dia " Daisy berkata sambil menatap lekat sang Kak, ia tidak kuasa menahan kesedihan saat melihat wajah Farwa.
"Jangan khawatir aku akan baik-baik saja, sayangku kepada kalian itu lebih besar dari rasa takutku kepadanya" jawab Farwa sambil tersenyum menatap lekat wajah sang adik yang terlihat sangat sedih dengan keadaan seperti ini, ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan nya.
"Aku tidak mau mengorbankan hidupmu demi demi nyawa kami" ucap Daisy sambil menangis, ia tidak rela jika kakaknya harus mengorbankan seluruh hidupnya untuk menukar dengan nyawa keluarganya agar tetap hidup dan terbebas dari kejaran orang seperti Argani.
"Semua akan baik-baik saja mungkin setelah ini masalah kita akan berakhir" jawab Farwa sambil memeluk sang adik yang menangis tersedu, akan tetapi Farwa sudah tidak mampu mengeluarkan air mata hanya untuk menangis meratapi keadaan saat ini mungkin saja jiwanya saat ini sudah mati. Bahkan hanya untuk menangis saja ia sudah tidak mampu
" Sudahlah mungkin ini adalah sudah menjadi takdir kita harus seperti ini, yakinlah pada Tuhan bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kalian harus percaya bahwa setelah ini kita akan mendapatkan kebahagiaan " kata sang Ayah berusaha menenangkan Putri bungsunya itu, walaupun dalam hatinya Ia juga tidak yakin akan ada kebahagiaan Setelah semua penderitaan ini.
Setelah semua pembicaraan selesai dan Farwa kembali ke kamarnya.
...****************...
Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk dan menatap layar yang sangat besar menempel di dinding kamarnya, siapa lagi kalau bukan Argani sedang menatap gambar Farwa. Setiap hari ia habiskan hanya untuk menatap gambar itu. Tanpa Argani ketahui ternyata sang Mama sudah duduk di samping nya.
"Sampai kapan akan menatap gambar itu dan melupakan semua pekerjaan, bahkan hanya untuk makan saja kamu tidak mau" kata sang Mama yang ikut menatap gambar itu juga.
"Aku akan berhenti menatap gambar itu, jika dia sudah menjadi istriku dan aku bisa melihat nya setiap waktu di saat Aku membuka mata" jawab Argani tanpa menoleh sedikit pun terhadap sang Mama, ia terus menatap nya.
"Kamu juga harus tahu, tidak semua yang di inginkan akan menjadi milik kita. Ada sebagian juga yang tidak bisa di miliki, contoh nya seperti kita me menyukai bulan tapi kita tidak bisa untuk memiliki hanya bisa menatap dari kejauhan dan mengagumi nya, karena bulan tidak di takdirkan untuk bersama matahari. Begitu juga dengan kamu dan Farwa" kata sang Mama dengan nada bicara sangat lembut, ia berusaha untuk membuat anaknya mengerti.
__ADS_1
Di saat Argani diam dengan tatapan lurus ke arah gambar Farwa, ia di kagetkan dengan dering ponsel nya. Berapa terkejutnya saat melihat layar ponsel nya, wajahnya seketika berubah ekspresi nya.