
Di sekolah Argani.
Setelah selesai jam pelajaran, seluruh peseta didik keluar dari kelas.
Dari setiap anak sudah di tunggu oleh orang tua mereka, ada juga yang di tunggu pengasuh seperti Argani kecil.
Argani keluar dari kelas bersama anak-anak yang lain terburuburu, Argani kecil berlari keluar mendahului anak yang lain. Karena ia ingin segera bisa bertemu dengan Zian dan juga Zain.
Ia akan meminta Bibi pengasuhnya untuk tidak pulang terlebih dahulu, agar mereka bisa bermain sebentar saja sebelum pulang ke rumah mereka masingmasing.
Setelah beberapa saat Argani kecil sudah berada di hadapan Bibi pengasuh lalu ia memberitahukan keinginannya bahwa akan menunggu Zian dan Zain terlebih dahulu, karena kedua anak kembar itu belum keluar dari kelasnya.
"Bi, jangan pulang dulu ya! mau bertemu sama si kembar terlebih dahulu, ada yang mau aku bicarakan sama dia " kata Argani kecil, sambil menatap lekat wajah Bibi pengasuh.
"Bagaimana bisa kita pulangnya nanti, sedangkan Ayah sudah dalam perjalanan menjemput kita" jawab bibi terhadap Argani kecil sambil menatap lekat wajah anak itu. Ia heran anak kecil mau membicarakan apa, aneh saja anak jaman sekarang.
Mendengar jawaban dari Bibi pengasuh, Argani kecil pun tertunduk.
Oasti sang Ayah melarangnya untuk menunda pulang, karena Argani harus pulang cepat ketika sudah waktunya pulang.
Lagi pula, Zian dan Zain juga harus pulang ke rumah mereka.
"Memangnya Bibi sudah bilang sama ayah, bahwa sudah pulang? Bibi jangan beritahu Ayah terlebih dahulu untuk menjemput kita! kan aku bisa main sebentar sebelum Ayah datang " ucap Argani kecil, ia kesal dengan Bibi pengasuh yang sudah memberitahu. Agar menjemput mereka secepatnya.
"Bibi tidak memberitahu ayahmu, hanya saja Ayah kan sudah tahu, jam pulang sekolah. Jika sudah waktu pulang sekolah, Ayah mu sudah siap untuk menjemput jagoan kecilnya, tanpa harus diingatkan oleh siapapun, karena itu sudah menjadi kewajiban ayah. Adapun, kalau Argani mau bermain dengan Zian, ataupun Zain. Kan kalian bisa membuat janji, ketika hari libur. Bisa bermain bersama di taman, atau di tempat hiburan lainnya. Sekarang kita saatnya pulang " kata Sang Bibi pengasuh, memberi penjelasan terhadap jagoan kecil.
"Bibi itu, persis sama, Ibu, dan Ayah, selalu melarang ku untuk bermain berlebihan, padahal anak kecil itu kan, suka bermain bukan dikurung di dalam rumah " jawab Argani kecil, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukan melarang untuk bermain, akan tetapi, alangkah baiknya ketika pulang sekolah itu, ke rumah terlebih dahulu berganti pakaian, makan siang, nanti setelah itu, bisa merencanakan untuk main kembali ketika sore hari, ataupun malam hari" sang pengasuh pun terus memberi penjelasan terhadap anak kecil yang ada di hadapannya, agar paham, bahwa tidak semua waktu harus dihabiskan untuk bermain, ada saatnya juga istirahat, dan lain sebagainya.
Bukan berarti anak kecil itu harus bermain sepanjang hari, semuanya juga pasti ada aturan yang harus dilakukan oleh anak kecil, apalagi anak seusia Argani masih harus tidur siang.
"Baiklah kalau begitu, tapi tunggu Zian dan Zain dulu ya, aku mau bicara sama mereka " ucap Argani kecil, sambil menarik tangan sang Bibi pengasuh untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Ia mengajak Bibi pengasuh untuk menunggu Zian dan Zain. Mungkin itu akan lebih baik, karena tidak diizinkan untuk bermain sebelum pulang. Argani kecil akan membuat janji dengan sahabat kembar nya.
Keduanya sudah duduk di kursi yang ada di sana tiba-tiba sang Bibi pun merasa kebelet pipis dan ia meminta izin terhadap Argani kecil untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.
"Jagoan kecil, Tunggu Bibi di sini ya! mau ke toilet sebentar. Jangan pergi kemanapun! sebentar saja. Tuh, toiletnya juga kelihatan dari sini. Jangan pergi kemanapun, ingat! " sang Bibi, memperingatkan Argani, agar tidak pergi kemanapun, selama ia berada di dalam toilet.
"Iya Bi, aku akan tunggu di sini! " jawab argani
__ADS_1
Setelah meminta izin terhadap Argani kecil, sang Bibi pengasuh pun melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam toilet. Tanpa ia sadari ternyata ada yang mengawasi gerak-gerik mereka.
sehingga orang itu mendekati Argani kecil, lalu duduk di sampingnya dan memperkenalkan diri sebagai sahabat dari kedua orang tuanya.
Arganik kecil tidak merasa curiga sedikitpun, dengan orang yang berada di sisinya pada saat ini. Bahkan anak kecil itu sangat antusias ketika diajak berbicara, dan menceritakan sesuatu yang ia suka. Karena perempuan itu mengaku sahabat baik dari kedua orang tuanya, hanya saja ia belum sempat datang ke rumah mereka. Dikarenakan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga belum ada waktu untuk mampir ke rumah Argani kecil. Dengan mudah nya anak kecil itu percaya, dengan apa yang di katakan oleh perempuan itu.
"Tante dengar, ibumu sedang hamil ya? Oh, kalau begitu kamu akan menjadi kakak dong" tanya perempuan itu, sambil tersenyum tipis, menatap ke arah Argani kecil yang sedang duduk manis, menunggu sang Bibi yang berada di dalam toilet.
"Iya, sebentar lagi aku punya adik, pasti di rumah bakal seru, aku ada temennya. Jadi Nggak sendirian lagi di rumah" jawab anak kecil itu dengan sangat riang dan gembira, karena ia sudah berkhayal, bahwa akan ramai di rumah, bisa bermain bersama. Main bola bersama, dan melakukan aktivitas anak kecil bersama-sama, ketika ia sudah memiliki adik.
"Yakin, kamu bakal bahagia ketika punya Adik? bukankah kalau sudah memiliki adik, sang kakak, itu diabaikan oleh ibunya? mereka nanti akan Fokus sama adik kecilnya, lalu kamu tidak punya teman. Ibumu dan anggota keluarga yang lainnya juga lebih fokus ke si bayi" perempuan itu memprovokasi Argani, agar ia tidak mau memiliki adik.
"Benarkah seperti? kata Ayah, Meskipun aku sudah mempunyai adik tapi kasih sayang mereka itu masih sama terhadapku. Jadi nggak mungkin nggak menyayangiku karena mereka Kedua orang tuaku" jawab Argani kecil dengan raut wajah yang sudah mulai masam, karena mendengar pernyataan dari perempuan itu. Yang mengatakan bahwa nanti ia tidak disayangi lagi oleh kedua orang tuanya, karena sudah memiliki adik dan mereka sibuk mengurusnya sehingga melupakan dirinya sebagai seorang kakak.
"Tante sudah dewasa jadi tahu apa yang akan terjadi nantinya, soalnya tante juga dulu pernah ada di posisi sepertimu. Anak pertama lalu Ayah dan ibu punya bayi lagi setelah melahirkan bayinya ,tante itu tidak dianggap. Bahkan harus mandi sendiri, ganti baju sendiri, terus ke sekolah hanya diantar sama Bibi. Seharusnya yang mengantar ke sekolah Ayah atau Ibu, bukan pengasuh" perempuan itu terus memprovokasi Argani agar hati dan pikirannya bimbang .
" Apa benar apa yang dikatakan Tante itu kalau bayinya sudah lahir, aku nggak dianggap lagi dong, sama mereka?" Argani kecil terus bertanya.
"Sudah pasti, mereka itu mengasingkan kamu terus berbahagia dengan bayi kecilnya, sehingga kamu itu tidak dianggap lagi oleh mereka. Jadi lebih baik kamu itu jangan mau punya adik, bilang sama ibu dan Ayahmu, kalau tidak suka memiliki adik! kamu, buat saja Ibumu jatuh, agar bayi yang ada di dalam kandungannya itu keguguran, terus kamu tidak mempunyai saingan lagi deh, di rumah, jadi lebih bebas mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan ibumu, Tante juga dulu melakukan hal itu, Jadi sekarang Tante jadi anak satu satunya yang disayang oleh orang tua tante." perempuan itu terus mencuci otak Argani kecil.
"Terus, bagaimana caranya? kalau aku akan membuat Ibu jatuh, dan... Nggak jadi hamil Apakah tante punya cara? " tanya anak terhadap perempuan itu.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan mengikuti saran dari tante. Terima kasih Tante sudah mengingatkanku, dan aku tidak mau mempunyai saingan siapapun, termasuk juga bayi yang ada di kandungan Ibu, dia tidak boleh keluar, dan tidak akan pernah bisa menggantikan posisiku di antara ayah dan ibu." ucap Argani kecil sambil mengepalkan tangannya.
"Bagus, anak pintar, lanjutkan apa yang Tante dikatakan tadi, Semoga sukses! Baiklah anak kecil yang ganteng dan pemberani, Sudah saatnya Tante pergi dari sini, bye-bye sayang, sampai jumpa di lain waktu. " ucap perempuan itu sambil bangkit dari duduknya, lalu setelah itu, melangkahkan kakinya dengan perlahan, untuk segera pergi dari tempat ini.
Dengan langkah terburu-buru perempuan itu langsung menuju pintu keluar, dengan kacamata hitam masker dan topi agar tidak ada yang mengenali.
Setelah berada di pintu gerbang, ia berbicara dengan petugas keamanan yang ditugaskan untuk membuka pintu gerbang tersebut.
" Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk masuk ke dalam, baiklah, ini imbalan untukmu, karena kebaikanmu" ucap Alfi sambil menyerahkan amplop coklat yang berisikan uang di dalamnya.
Berkat bantuan dari petugas keamanan itu, dan ia menjanjikan akan memberikan imbalan dengan apa yang orang-itu berikan terhadap dirinya, yaitu, memberikan akses untuk masuk ke dalam area sekolah Argani kecil.
Senyuman mengembang di bibir laki-laki itu ia menerima Amplop yang berisikan uang sambil berkata.
"Terima kasih Nyonya, lain kali hubungi aku jika membutuhkan lagi" ucap laki-laki itu sambil tersenyum penuh kegembiraan karena uang di tangannya saat ini.
"Jaga rahasia kita! "
"Aman soal itu" jawab penjaga gerbang.
__ADS_1
Di saat Alfi menjauh dari pintu gerbang, datanglah sebuah kendaraan mewah keluaran terbaru, siapa lagi kalau bukan Radit yang akan menjemput sang jagoan kecil.
Kendaraan pun langsung mencari celah di antara kendaraan lain yang terparkir dengan rapi, setelah terparkir dengan sempurna. Radit langsung menghubungi Bibi pengasuh yang menjaga Argani kecil, bahwa ia sudah menunggu di tempat parkir.
Setelah beberapa saat Radit menunggu sang jagoan kecil, akhirnya mereka datang juga. Akan tetapi ada yang aneh dengan kelakuan Sang anak, yang biasanya riang gembira menyambut kedatangan orang tuanya di kala menjemput sekolah. Tetapi kali ini Argani kecil terdiam sambil menunduk tidak, mau menatap wajah sang Ayah.
Radit pun heran dengan kelakuan anaknya seperti ini, ia langsung bertanya kepada Bibi pengasuhnya, Ada apa dengan organik kecil, sehingga seperti ini.
"Bi, apa ada masalah dengan dia saat berada di sekolah?"
"Tidak ada masalah apapun Tuan, hanya saja, tadi Argani nggak mau pulang, ingin bermain terlebih dahulu bersama Zian dan Zain, tapi saya bilang harus pulang, nggak boleh main!" jawab Bibi pengasuh
Lalu Radit pun mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra, lalu bertanya kepada jagoan kecilnya. Ada apakah sehingga membuat Murung anak kecil itu, akan tetapi Argani kecil tidak menjawabnya. Malah masuk terlebih dahulu ke dalam kendaraan, tanpa mengatakan apapun kepada sang Ayah.
Akhirnya Radit pun kembali dan masuk ke dalam kendaraan, lalu menyalakan kembali mesin.
Mereka akan segera pulang ke rumah, Radit pun tidak mau bertanya lebih lanjut, ada apa dengan Argani kecil, sebab meskipun dipaksa, anak kecil itu tidak akan pernah mengatakannya untuk saat ini. Jadi Radit memberikan waktu untuk berpikir bagi anak kecil itu, Sehingga nantinya mampu mengungkapkan dan mengutarakan apa yang ada di hatinya, seperti waktu itu ketika Argani kecil marah, mendengar kabar kehamilan.
Radit pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang lalu lalang kendaraan di jalan pun sangat ramai sehingga jalanan dipenuhi dengan kendaraan, suasana jalan padat merayap.
Sepanjang perjalanan pun Argani kecil tidak berbicara sepatah kata pun, padahal biasanya anak kecil ini selalu ada saja yang dibicarakan Selama perjalanan.
Bahkan apa yang dilihatnya selalu ditanyakan kepada sang Ayah atau pun Bibi pengasuh, akan tetapi anak kecil ini hanya diam dan melamun entah apa yang ada di pikirannya.
Sang Bibi pun merasa heran, padahal tadi keadaan Argani dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi setelah ia kembali dari toilet Argani berubah murung, seperti ada yang mengganjal di dalam pikirannya.
Meskipun sang Bibi pengasuh sudah membujuk Argani untuk berbicara kepadanya, akan tetapi anak kecil itu lebih memilih diam.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah memasuki area perumahan mewah hingga.
Hingga pada akhirnya, Radit pun menghentikan kendaraannya, di salah satu rumah yang sangat mewah di komplek.
Lalu Radit pun membuka pintu dan mempersilakan sang jagoan kecilnya untuk segera turun, tanpa ia duga anak kecil itu langsung keluar dan lari masuk ke dalam rumah .
"Bi, apa yang terjadi dengan Argani sehingga dia berprilaku seperti itu, seperti ada yang aneh dengannya. Yakin! tidak ada masalah di sekolahnya?" tanya Radit terhadap pengasuh Argani kecil, yang menjaganya selama di sekolah.
"Yakin, Tuan...Aku selalu mendampingi jagoan kecil, tidak tahu apa yang terjadi dengannya. soalnya tadi baik-baik saja. Bahkan dia meminta untuk menunggu Zian dan Zain terlebih dahulu. akan tetapi, setelah Aku keluar dari toilet, Argani kecil mengajak langsung pulang. " Bibi pengasuh menjelaskan apa yang terjadi selama dengan nya.
"Baiklah, kalau kamu tidak tahu, saya masuk terlebih dahulu" kata Radit, sambil melangkahkan kakinya dengan cepat, ia akan menyusul sang jagoan kecilnya, lalu bertanya Ada apakah yang terjadi.
Setelah Radit masuk, Bibi pengasuh pun melangkah kan kakinya dengan perlahan untuk segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1