Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 96


__ADS_3

Seperti biasa Farwa akan sibuk ketika di pagi hari, ia sudah bertempur dengan alat masak di dapur bersama para karyawan nya, hari ini mereka akan mengadakan jumat berkah.


Di hari jumat Farwa tidak jualan, melainkan makanan yang ia masak untuk di bagikan di panti asuhan yang kemarin ia kunjungi.


Hari ini mereka masak banyak untuk di bawa ke panti, Farwa sudah meyakinkan hatinya bahwa di hari jumat hanya ada berbagi nggak berjualan.


Ia juga berfikir bahwa tidak akan habis di gunakan untuk berbagai, ia ingin anak yang tinggal di panti merasakan rizki yang di dapatkan oleh nya.


Meskipun libur jualan, akan tetapi mereka yang bekerja di tempat ini tidak libur. Karena akan membantu nya masak banyak, Daisy juga ikut membantu di dapur.


Waktu bergulir begitu cepat, semua masakan sudah siap di kemas.


Setelah cukup lama, makanan pun sudah di kemas. Mereka pergi ke sana dengan menggunakan angkutan umum.


"Ayok cepat bawa masuk itu semua, Yen! " perintah Farwa terhadap Yeyen.


"Nggih bu" jawab Yeyen sambil membawa makanan yang sudah siap untuk di bawa berangkat ke sana.


"Kak, apa nggak sebaiknya beli kendaraan. Kalau seperti ini terus kita kerepotan, apalagi ada anak kecil pasti rewel kalau di bawa desak-desakan di dalam kendaraan umum" ucap Faklan sambil menatap wajah kakak iparnya, yang tidak pernah merasa lelah.


"Itu mah urusan nanti, nggak tiap hari juga pergi ke luar. Lagian ini kendaraan udah kita carter jadi hanya kita yang ada di dalam nya, yang lebih penting untuk saat ini rumah. Jika sudah ada rizki lebih dan bisa membeli rumah, di sini khusus untuk jualan saja" jawab Farwa.


"Kalau kakak mau, aku yang beli rumah terus nyicil tiap bulan. Kalau soal itu bagaimana kakak saja" kata Faklan.


"Beberapa bulan lalu juga, Radit nawarin untuk ambil KPR DP nol persen. Tapi aku mikir lagi, bagaimana kalau jualan seperti dan tidak ada penghasilan. Bagaimana membayarnya nanti" jawab Farwa.


"Aku ini adik mu juga kak, mana bisa membiarkan kalian dalam kesusahan" kata Faklan sambil menatap wajah Farwa dengan lekat.


Memang Farwa perempuan yang luar biasa, ia akan terus seperti itu. Susah sekali untuk di ubah pendirian nya, mungkin ia belajar dari masa lalu. Ia tidak mau keberhasilan nya ada campur tangan orang lain, ia takut suatu saat akan di ungkit.


"Nggak apa-apa, kalau kalian punya uang lebih. Lebih baik di tabung, nanti juga tahu kebutuhan setelah punya anak. Biaya pendidikan, persiapkan dari sekarang. Nggak perlu mikirin aku, nanti juga aku akan membelinya tapi setelah punya rumah yang layak" jawab Farwa sambil tersenyum tipis.


"Iya deh, bagaimana kakak ipar saja. Asal kakak tahu, aku nggak mau kalian kesusahan seperti ini" kata Faklan.


"Aku menikmati nya dengan cara seperti ini, ketika kita menggunakan jasa angkutan umum di situ kita juga membantu ekonomi mereka"


"Iya juga sih"


Memang Farwa perempuan yang luar biasa, ia selalu mikir lebih luas. Kalau saja Farwa perempuan yang gila harta, dan ingin banyak uang tanpa harus bekerja keras. Sudah pasti ia akan menerima warisan dari Tuan Malik Wijaya, agar tidak capek bekerja seperti sekarang. Tidak banyak di dunia ini perempuan seperti Farwa, sangat sulit di temukan. Pantas saja, banyak kaum lelaki yang terpesona dengan kecantikan nya, ternyata bukan hanya wajah tapi hatinya juga seperti malaikat.


Akhirnya semuanya sudah selesai, mereka sudah siap untuk berangkat.


Faklan dan juga Daisy ikut bersama Farwa, hanya Argani kecil dan kedua orang tuanya yang tinggal di rumah. Karena masih ada beberapa orang pekerja yang akan merapikan rumah, nggak bisa di tinggal.

__ADS_1


Mereka sangat menikmati perjalanan, memang di kota ini tidak terlalu ramai seperti kota B. Akan tetapi tidak kalah menarik nya jika berkeliling kota. Di daerah ini tedapat banyak tempat wisata dan hotel-hotel mewah. Kota ini juga di sebut kota wisata, banyak orang yang datang hanya untuk berwisata atau hanya untuk berlibur. Bagi orang yang berbisnis di bidang perhotelan atau kuliner, mereka akan cepat naiknya. Karena salah satu unggulan di kota ini yah bisnis seperti itu.


Tanpa terasa kendaraan yang membawa mereka sudah sampai di tempat tujuan, mereka semua turun dari kendaraan.


Lalu Farwa masuk terlebih dahulu menemui bu Fatimah terlebih dahulu, sedangkan Faklan dan Daisy masih berada di halaman sambil membongkar barang bawaan mereka.


Sebab Faklan juga menambah makan untuk di bagikan bersama mereka, orang yang kurang beruntung di saat usia masih kecil.


Mungkin jika sudah dewasa anak-anak itu akan bisa mengubah hidupnya dan menjadi orang yang sukes di bidang apapun.


Faklan juga masa kecilnya kurang beruntung, dan akhirnya berkat dari kerja keras ia bisa seperti sekarang.


Faklan berdiri sambil mengamati lingkungan sekitar, ia merasa bahwa tempat ini sudah tidak asing lagi baginya. Ia berusaha untuk mengingat nya, kapan ia datang ke tempat ini. Semakin ia berusaha akan tetapi kepalanya semakin pusing.


Mereka di panggil oleh salah satu anak yang tinggal di sana dan di perbolehkan untuk masuk, Faklan berjalan dengan perlahan untuk segera masuk sambil mengingat-ingat sesuatu tentang tempat ini.


Setelah sampai di sebuah ruangan, di mana anak-anak sudah menyambut kedatangan mereka dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Hati Faklan seketika menghangat dengan suasana di dalam, ia juga seperti tidak asing lagi berada di tempat ini. Akan tetapi entah kapan ia terus mengingat nya, namun tidak ada yang di ingatnya sama sekali.


Farwa mengajak mereka bermain terlebih dahulu, sebelum masuk ke acara inti.


Ia juga sangat senang dengan anak-anak, jadi hal seperti ini sangat membuat Farwa bahagia.


"Ternyata bermain bersama anak-anak itu sangat menyenangkan yah" kata Faklan sambil tersenyum menatap wajah sang istri.


"Maaf yah, aku belum bisa memberi mu keturunan" jawab Daisy dengan raut wajah sedih.


"Hai, kenapa bicara seperti itu. Sejak kapan aku mempermasalahkan nya, di kasih atau tidak itu urusan yang maha kuasa. Kita hanya berusaha saja, kalau belum di kasih kepercayaan ya nggak jadi masalah. Toh itu semua tidak akan pernah mengubah rasa cinta ku untuk mu" jawab Faklan sambil merangkul pinggang sang istri.


"Terimakasih banyak sudah mencintai ku"


"Kenapa harus terimakasih kita ini sepasang suami-istri sudah seharusnya saling melengkapi" kata Faklan sambil tersenyum.


Daisy sangat beruntung mempunyai suami seperti Faklan, memang tidak di ragukan lagi kalau soal cinta dan kasih sayang.


Laki-laki itu mencintai Daisy tanpa karena, sungguh luar biasa dengan cinta yang di milik Faklan untuk sang istri.


"Ngapain kalian di situ, ayok cepat bagikan sama mereka. Seperti nya sudah tidak sabar untuk segera menikmati ini, secara mereka sudah capek di ajak main dari tadi" kata Farwa terhadap dua orang yang berada tidak jauh dari nya.


Akhirnya sang adik dan suaminya mendekat ke arah Farwa dan membantu, membagikan nya.


Setelah semuanya selesai dan makan pun sudah di nikmati oleh semua anak.

__ADS_1


Farwa dan Faklan, termasuk juga Daisy.


Mereka sedang duduk tak jauh dari anak-anak yang sedang menikmati makan itu.


"Sudah berapa tahun ibu mengelola tempat ini? " tanya Faklan sambil terus meneliti setiap sudut ruangan.


"Sudah sejak lama, kalau dulu tempat ini di urus oleh orang tua saya. Setelah mereka tiada, jadi di pegang saya sendiri. Termasuk donatur tetap juga itu sudah dari jaman orang tua saya" jawab Fatimah.


"Owh jadi turun temurun ya, bu"


"Iya, seperti itu. Saya hanya melanjutkan saja, dan donatur juga dari kebiasaan orang tuanya di lanjutkan juga anaknya. Seperti kebiasaan keluarga Wijaya, pas ibu mereka masih hidup itu suatu kewajiban berbagai berkah setiap satu bulan sekali di sini dan mereka juga donatur tetap, dan sekarang anaknya yang sering datang ke sini karena orang tua mereka sudah tiada"


"Saya seperti tidak asing dengan tempat ini, akan tetapi lupa kapan datang ke tempat ini. Itu termasuk ruangan ini, seperti pernah berada di sini" kata Faklan.


"Mungkin hanya mirip dengan tempat lain, apa mungkin sebelum nya pernah datang ke tempat ini cuma lupa saja" jawab Fatimah.


"Seperti nya begitu, hanya saja merasa pernah berada di tempat ini"


Raut wajah Faklan berubah menjadi murung, entah mengapa dia merasa pernah di posisi anak yang ada di dalam tanpa orang tua.


Daisy yang melihat wajah suaminya seperti itu, mungkin sangat suami sedang merindukan kedua orang tuanya.


"Sayang, kenapa wajah mu seperti sedih. Kangen sama Ayah-ibu? " tanya Daisy terhadap sang suami.


"Nggak apa-apa" jawab Faklan.


"Oh, iya. Ini ada sedikit rizki dari saya. Mungkin tidak seberapa semoga bermanfaat! " ucap Faklan sambil menyerah kan amplop yang berisi uang tunai.


"Kami tidak melihat dari besar kecil yang di berikan, akan tetapi dari keikhlasan dari orang tersebut. Semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan, serta mendapatkan rizki yang melimpah, Aamiin"


"Aamiin" jawab mereka secara bersamaan.


Akhirnya percakapan di antara mereka sudah lumayan lama, dan mereka juga berpamitan terhadap anak yang di sana.


Farwa berjanji setiap jumat akan datang ke tempat ini berbagi bersama mereka.


Mereka sudah berpamitan dan sekarang siap untuk pulang, akan tetapi sebelum pulang.


Daisy ingin pergi ke tempat yang terkenal di kota ini, meskipun awalnya Farwa menolak akan tetapi setelah di bujuk akhirnya setuju.


Dari tempat yang sekarang mungkin membutuhkan waktu yang lumayan lama, syukur nya perjalanan tidak macet jadi bisa leluasa melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.


Daisy sangat suka jika di jalan ngebut seperti ini, sebab ia jenuh dengan kendaraan yang ada di kota.

__ADS_1


Sangat lambat untuk melaju, karena padatnya kendaraan di jalan sehingga tidak bisa leluasa.


__ADS_2