
Setelah beberapa saat, akhirnya Ambar sudah berada di dapur.
Ia memerintahkan para pelayannya untuk segera menyiapkan makan malam.
Sebab sudah waktunya mereka makan malam bersama, Aambar duduk di salah satu kursi yang ada di dapur sambil menyaksikan para pelayannya mempersiapkan itu semua. Selama di dapur pun ia terus kepikiran dengan kata-kata suaminya yang menyuruhnya untuk membujuk Argani agar mengusir farwa dari rumah ini.
Akan tetapi ia juga tidak mau kehilangan anaknya, apakah ia harus sekejam itu memisahkan istri dan suami. Ataukah ia harus kehilangan anak laki-lakinya yang sangat disayanginya, sebab ia sangat tahu betul betapa keras kepalanya Malik jika ia tidak suka dengan satu hal. Maka akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan itu semua, begitu juga dengan Argani ia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan yang ia inginkan termasuk juga meninggalkan dirinya.
Mungkin Argani tidak akan berpikir dua kali untuk meninggalkannya, ia belum siap kehilangan anaknya.
Ambar terus berpikir untuk menemukan cara agar Malik bisa menerima kehadiran farwa di rumah ini, akan tetapi bagaimana caranya.
Pandangannya lurus ke depan pikirannya melayang kemana-mana ia sudah membayangkan betapa kesepiannya Ia nanti jika Argani pergi dari rumah ini.
"Nyonya besar....makanannya sudah siap apakah Saya memanggil Tuan sekarang?" tanya Nani salah satu pelayan yang bekerja di rumah ini, sehingga menyadarkan lamunan Ambar pada saat ini.
Dengan kagetnya ia langsung melihat ke arah sumber suara.
"Silakan panggil seluruh anggota keluarga, bahwa makan malam sudah siap, jangan lupa panggil Argani juga" perintah Ambar terhadap pelayan tersebut untuk memanggil anggota keluarga dan makan malam bersama.
"Baiklah Nyonya Saya akan panggil sekarang" kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan Ambar yang masih duduk melamun di dapur.
Setelah beberapa saat seluruh anggota keluarga pun sudah hadir di ruang makan, mereka akan makan malam bersama sebab ini adalah kebiasaan di rumah ini seluruh anggota keluarga harus makan dalam waktu yang bersamaan, jika salah satu tidak ada maka mereka akan menunggu anggota keluarga yang lainnya.
Ini adalah tradisi yang di pakai di rumah Malik Argani sudah hadir di meja makan, akan tetapi Farwa tidak ikut bersamanya. Karena Farwa menolak untuk ikut bersama makan malam bersama anggota keluarga yang lain, walaupun Farwa mengikutinya. Sudah pasti anggota keluarga yang lain menolak kehadiran perempuan itu ada di antara mereka semua.
"Silakan kalian nikmati makan malamnya, "kata Ambar mempersilahkan mereka semua untuk makan.
__ADS_1
"Ayolah kakak ipar, Ayah, ini makanan enak loh Masa kalian lihatin saja....ayo makan, kamu juga Kakak, ayo lah kita makan" kata Argani dengan raut wajah yang sangat bahagia, Iya mengisi piringnya dengan menu makan malam kali ini.
Akan tetapi raut wajah yang lain terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat untuk menikmati makan malam kali ini.
"Aku tidak akan makan kalau masih ada perempuan itu di rumah ini!, Pa...lakukan sesuatu agar perempuan itu pergi dari rumah ini" kata Starla sambil menatap wajah Argani.
"Hei kamu itu bicara apa? dia itu istriku, sudah sepantasnya dia tinggal di rumah ini. Jika dia pergi maka kau juga pergi dari rumah ink" jawab Argani sambil menatap tajam wajah Starla.
"Bisakah kalian diam kita sedang menghadap kepada makanan, tidak sepantasnya kalian berdebat seperti itu ketika sedang makan" kata Ambar sambil menatap argani dan Starla dengan cara bergantian.
Malik diam saja tidak berbicara sepatah kata pun, akan tetapi di kepalanya sudah banyak rencana tersusun.
Setelah mendengar perkataan Ibu mertuanya seperti itu Starla langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa memakan sedikitpun menu kali ini.
Begitu juga dengan kakak tertua dari Argani, mereka langsung pergi meninggalkan ruang makan tersebut.
Ia tidak menghiraukan mereka semua, ia terus menikmati makanan kali ini, akan tetapi Ambar dan Malik tidak menyentuhnya sama sekali.
"Apakah kalian berdua juga tidak akan makan selama masih ada istriku di rumah ini, baiklah aku akan pergi bersamanya dari rumah ini jika kalian tidak menginginkannya" kata Argani sambil bangkit dari duduknya dan meletakkan sendok dengan keras sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring.
"T-tidak! jangan pergi dari rumah ini, kamu adalah Anakku sudah sepantasnya tinggal di rumah ini" kata Ambar mencegah Argani untuk pergi meninggalkannya.
"Biarkan dia pergi dari rumah ini jika memang keinginannya, jangan mencegah" kata Malik dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Dia anakku harus tinggal di rumah ini bersamaku, kamu tidak bisa berkata seperti itu" kata Ambar.
"Paling juga bertahan satu hari, mana bisa hidup tanpa kemewahan" kata Malik sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Ambar pun pergi dari meja makan itu mengejar Argani, ia takut anak laki-lakinya benar-benar pergi dari rumah ini.
Ambar meninggalkan Malik yang masih berada di ruang makan, ia tidak menghiraukan suaminya, yang terpenting anaknya tidak pergi dari rumah ini.
"Tolonglah jangan pergi dari rumah ini, apakah kamu sudah tidak menyayangi Mama lagi?" tanya Ambar terhadap sang anak sambil menatap lekat wajah Argani dengan penuh cinta.
"Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini, jika kalian menerima kehadiran istriku" jawab Argani.
"Ia Mama akan berusaha meyakinkan Papamu agar bisa menerima kehadiran Farwa di rumah ini, asalkan jangan pernah pergi dari rumah ini Mama mohon....Mama tidak akan pernah bisa jauh dari kamu" kata Ambar dengan nada bicara penuh permohonan.
"Demi Mama aku tidak akan pernah pergi dari rumah untuk saat ini, akan tetapi jika seterusnya anggota keluarga di rumah ini tidak menerima kehadiran farwa maka aku akan pergi dengan terpaksa dan membawa istriku keluar dari rumah ini. Karena aku tidak akan pernah membiarkan istriku tidak dianggap oleh orang lain apalagi dengan keluarga suaminya sendiri, sudah pasti itu sangat menyakitkan baginya" jawab Argani dengan nada bicara penuh penekanan.
"Ia Mama akan berusaha menerima Farwa, tunggu beberapa saat lagi agar Papa juga menerima kehadirannya di rumah ini, tapi tolong jangan pernah tinggalkan rumah ini " kata Ambar dengan nada bicara sedikit bergetar, ya sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihan jika memang benar Argani meninggalkannya.
Sebab ketika Argani keluar dari rumah ini, sudah pasti Malik tidak akan pernah mengizinkan Argani untuk kembali ke rumah ini.
Bagi Malik Siapa saja yang sudah melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, sudah pasti itu akan dikeluarkan dari kartu keluarganya.
Malik selalu menegaskan kepada anggota keluarga nya, jika orang itu adalah sudah tidak pantas lagi berada di dalam keluarga mereka.
Ambar tidak mau itu terjadi kepada Argani.
Melihat sang Mama seperti itu, ia langsung merangkul sang nya lalu di dekap.
"Jangan menangis, Aku tidak akan pergi" kata Argani sambil memeluk sang Mama.
Akhirnya Ambar pun menangis di dalam pelukan sang anak.
__ADS_1