
Keesokan harinya.
Argani sudah bangun lebih pagi dari sebelum nya, anak ini memang.
Semakin hari semakin ada saja tingkahnya, seperti hari ini memaksa sang Ayah untuk main ke taman saat keadaan masih pagi banget.
Padahal Radit masih ingin tidur karena waktu juga masih pagi.
"Ayok ayah, kita pergi ke taman! " Argani kecil mengganggu sang ayah yang masih memejamkan mata.
"Mau ngapain ke sana! Ini masih pagi, nak" jawab Radit tanpa membuka matanya.
"Lari pagi, ayah... Biar sehat nggak baik juga tidur terlalu lama, ini sudah waktunya bangun"
"Iya, Ayah bangun tapi jangan ke taman kita belar berenang saja. Biar jagoan Ayah tumbuh tinggi" kata Radit dengan nada bicara yang khas bangun tidur, sebetulnya ia masih mengantuk.
"Nggak mau, kalau berenang jam segini dingin lagian di dalam rumah nggak melihat apapun, kalau ke taman itu banyak orang, pasti ada anak kecil juga di sana. Seru pastinya" jawab anak kecil dengan lancar nya berbicara, ternyata ia ingin pergi ke taman dengan alasan olahraga. Ia ingin bertemu dengan anak-anak seusia nya, ya mungkin Argani kecil merasa jenuh karena selama ini. Ia hanya bermain dengan orang dewasa, sesekali ia juga ingin bermain dengan anak seusia nya.
"Iya, deh. Tunggu sebentar Ayah cuci muka dulu" jawab Radit, sambil menyibak selimut lalu turun dari atas tempat tidur dan melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk segera mencuci muka.
"Jangan lama! " kata Argani kecil
"Nggak"
Setelah cukup lama, Radit berada di dalam kamar mandi.
Argani kecil sudah teriak, meminta untuk segera keluar hingga akhir Radit pun keluar.
Setelah itu ia berganti pakaian dengan kaos yang tadinya memakai pakaian tidur.
Di saat Radit sedang berganti pakaian, datang lah Farwa ke dalam kamar.
"Mau pada pergi ke mana? ini kan masih pagi" ucap Farwa sambil menatap kedua jagoan yang berada di hadapan nya pada saat ini.
"Shhttt, ibu jangan berisik ini urusan laki-laki" jawab jagoan kecilnya, sedangkan sang suami tidak berbicara apapun.
"Astga, nak. Mengapa bisa seperti itu, padahal aku juga mau ikut dengan kalian" Farwa berkara sambil mwmegerucutkan bibirnya.
"Ibu di rumah saja, biarkan aku yang pergi dengan ayah"
"Baiklah kalau begitu, Hati-hati! " pesan Farwa terhadap jagoan nya
Radit sudah selesai berganti pakaian dan siap untuk jalan pagi seperti yang di minta oleh jagoan kecilnya, lalu ia mengajak Argani kecil untuk segera keluar dari kamar dan menuju tempat yang di inginkan nya.
Farwa pun mengantar keduanya sampai halaman rumah, dan mereka berdua sudah pergi dan tidak terlihat lagi di pandangan Farwa. Lalu perempuan itu kembali ke dalam rumah dengan langkah perlahan, ia ingin segera merapikan tempat tidur dan pakaian kotor yang ada di kamar.
Karena hanya itu rutinitas Farwa setiap harinya, semenjak rumah makan nya libur karena perbaikan gedung ia menyibukkan diri di rumah dengan mengurus kedua jagoan nya.
Memang mereka dua orang beda usia tapi sama dari segi tingkah laku, sehingga Farwa sering di buat repot oleh keduanya.
Apalagi Radit belum sepenuhnya ingat tentang masa lalunya, terkadang juga lupa melakukan sesuatu sehingga Farwa dengan sabar dan penuh cinta selalu mengingatkan apapun untuk kebaikan suaminya dengan harapan Radit akan segera sembuh dan bisa mengingat nya kembali dengan sempurna.
Farwa sudah selesai merapikan kamarnya lalu ke luar sambil membawa pakaian kotor untuk di bawa ke tempat pencucian, di sana ada beberapa pelayan juga yang membantu meringankan urusan pekerjaan Farwa dan ia hanya merapikan yang sudah di setrika saja dan mengumpulkan nya untuk di bawa ke tempat cuci.
Setelah berada di belakang, ia kembali ke taman belakang menghampiri penjaga kebun yang sedang menyiram tanaman dan merapikan bunga yang sudah mulai jelek dan di ganti dengan yang baru itu juga permintaan dari Radit. Untuk urusan taman, Farwa belum berani untuk mengubahnya. Padahal ia ingin mengubah taman bunga menjadi taman sayuran, karena Farwa kurang menyukai bunga. Entah apa alasan nya yang jelas ia kurang suka, menurut nya bunga itu tidak ada, manfaat nya. Beda lagi dengan sayuran lebih bermanfaat, makan nya ia lebih suka akan tanaman sayur yang ada di pekarangan rumah daripada bunga.
...****************...
Di tempat lain
__ADS_1
Radit dan Argani kecil sudah sampai di taman, anak kecil itu langsung menghampiri anak lain yang berada di sana karena memang tujuan nya untuk itu. Ia merasa bosan setiap hari berada di antara orang-orang dewasa makanya ia memaksa sang ayah untuk datang ke taman di pagi hari.
Radit mengikuti langkah kaki putranya.
"Hai, bolehkah aku bergabung bersama kalian? " tanya Argani kecil terhadap dua anak yang sedang bermain bola padahal anak yang satunya adalah perempuan.
"Kamu siapa? " tanya Zian anak perempuan yang imut dan sangat lucu, mereka datang dengan sang ayah ke taman ini karena memang sudah menjadi rutinitas nya di kala sang ayah senggang dari sibuknya pekerjaan di luar sana.
"Nama ku Arga, boleh kah kita berteman! " kata Argani lagi sambil menatap wajah kedua anak kecil yang ada di hadapan nya pada saat ini.
"Ayok gabung saja, mungkin jadi lebih seru bermain nya. Laki-laki nggak seperti perempuan, cemen nggak bisa lari" kata Zain sambil menatap adik perempuan nya, yang pengen ikutan saja bermain bola padahal sang ayah sudah melarang nya.
"Kata siapa perempuan nggak bisa lari, kalau begitu ayok kita lari siapa yang lebih cepat! " Zian mentang Zain untuk lari.
"Sudahlah, ayok kita bermain bersama nggak apa-apa perempuan juga. Bahaya kalau berdebat dengan kaum perempuan dan mereka selalu ingin menang dan mersa benar" kata Argani kecil sambil tertawa kecil.
"Yeyy, memang aku benar" ucap Zian sambil menjulurkan lidah nya terhadap Zain.
"Ayah, aku main dulu bersama mereka! " kata Argani terhadap sang Ayah.
Radit pun mengawasi anaknya yang sedang bermain bola, memang anak kecil itu cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan yang ada di sekitar nya.
Setelah beberapa saat ia melihat lingkungan sekitar dan tidak jauh dari mereka, ada seorang lelaki sedang duduk di bangku sambil mengawasi kedua anaknya.
Akhirnya Radit mendekati orang tersebut lalu berkata " itu anak mu? " tanya Radit terhadap laki-laki yang duduk di bangku taman.
"Iya, mereka putra putri ku. Senang sekali mereka bermain di tempat seperti ini, makanya aku selalu mengajak nya bermain di sini" jawab Riyan sambil menatap si kembar yang asik bermain sambil memperebutkan bola.
"Owhh jadi mereka kembar" ucap Radit.
"Iya"
"Sebentar lagi mereka empat tahun, nanti di bulan Oktober"
"Berarti anak ku lebih muda ya, oh iya mereka sekolah di mana? aku juga sedang mencari sekolah yang pas dan nyaman bagi anak. Tapi belum sempat mencari informasi" kata Radit.
"Anak ku sekolah nya di jalan kubis, di sana juga bagus banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan anak nya di sana" jawab Riya.
"Iya kah, jalan kubis yang bangunan nya tinggi di pinggir jalan itu ya. Kalau nggak salah nama lembaganya, Gayatri school di sana juga terdapat jenjang pendidikan dari PAUD sampai SMA yah" kata Radit, memang tempat itu sangat terkenal dan hanya orang-orang kaya lah bisa sekolah di sana.
"Betul sekali, tahu kan bagaimana sekolah di sana. Dan anak ku juga di sana"
"Terimakasih banyak info nya, sudah sering ya datang ke taman ini? "
"Sama-sama, lumayan sering tapi itu juga kalau lagi senggang. Dan kebetulan sekarang lagi tidak ada pekerjaan makannya bisa nemenin mereka bermain"
"Wah, ternyata bapak pintar juga yang membuat kedua anaknya bahagia, kenapa saya tidak pernah membawa anak bermain di alam terbuka seperti ini. Sebetulnya masih trauma" ucap Radit.
"Mamangnya kenapa? "
"Bebrapa bulan lalu pernah mengalami kecelakaan saat berada di tempat bermain, dan saya juga tidak tahu pasti kejadian nya seperti apa karena pada saat itu bermain bersama ibunya. Dan hal itu yang membuat takut untuk bermain di luar rumah" jawab Radit.
"Makanya kita sebagai orang dewasa harus mengawasi nya di saat anak-anak sedang bermain, jangan sampai lepas dari pengawasan kita karena anak kecil itu belum tahu sebab dan akibat yang di lakukan nya" ucap Riyan, memang betul saat bermain di alam terbuka kita harus benar-benar memperhatikan nya.
"Maka dari itu, masih takut untuk di bawa ke luar meskipun bahaya bisa datang kapan pun termasuk juga di dalam rumah" ucap Radit.
"Betul sekali, kita nya saja yang perlu berhati-hati"
Di saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba Zian datang dan meminta minum.
__ADS_1
"Ayah haus! " kata Zian terhadap sang Ayah.
"Oh iya, ini minumnya" jawab Riyan sambil menyerahkan botol berisi air mineral yang sudah di buka tutupnya.
Waktu bergulir begitu cepat, Anak-anak sudah puas bermain dan Argani kecil pun terlihat sudah lelah.
Dan mereka memutuskan untuk segera pulang, Argani kecil pun mengajak sang ayah untuk pulang.
"Sampai bertemu di lain waktu" kata Zain sambil melambangkan tangan nya terhadap Argani kecil.
"Sampai jumpa" jawab Argani, mereka kebetulan pulang nya beda arah.
"Ayah kenapa tadi tidak ikut main bareng bersama kita, seru loh" kata anak kecil itu dengan antusias ia menceritakan saat bermain bahwa sangat seru.
"Iya kah, lain kali ayah akan ikut gabung bersama kalian dan kita bertanding siapa yang pandai menguasai bola" jawab Radit sambil terus berjalan.
"Pasti nya aku, karena aku calon atlet bola di masa yang akan datang" kata Argani dengan penuh semangat.
"Wah, hebat dong. Kalau begitu Ayah harus rajin latihan dong biar menang melawan atlet hebat seperti mu" jawab Radit.
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama, tidak terasa mereka berjalan sudah semakin jauh dan rumah mereka sudah di depan mata.
Terlihat dengan jelas, kebahagiaan di wajah anak kecil yang sudah bermain di alam terbuka sesuai dengan keinginan nya.
Kedua nya sudah masuk ke dalam rumah, dan Argani kecil pun langsung di bawa oleh Farwa untuk segera di bersihkan tubuhnya karena habis berkeringat di pagi hari.
Setelah cukup lama Farwa mengurus jagoan kecilnya, dan semua nya sudah selesai. Ia kembali ke dalam kamar dan terlihat dengan jelas sang suami hanya mengenakan bokser tanpa kaos yang melekat di tubuhnya.
"Mau mandi? " tanya Farwa terhadap sang suami.
"Iya, tapi mau di mandiin seperti jagoan kita" ucap Radit sambil menarik tangan sang istri dan Farwa jatuh di pelukan sang suami.
"Astaga, mas... kaya anak kecil saja minta di mandiin" jawab Farwa sambil menatap lekat wajah suami, yang jaraknya hanya beberapa centi saja sehingga mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
"Ini kan salah satu terapi yang harus terus di jalani agar cepat sembuh, dan aku sangat tersiksa dengan hal ini" jawab Radit, dan ia menempelkan bibir nya terhadap bibir ranum milik sang istri.
Mungkin bagi Radit olahraga yang pas di pagi hari adalah bersama sang istri, ia ******* bibir sang istri dengan rakus berharap dengan terus melakukan ini akan segera bisa ereksi junior nya, ia pun terus berpindah tempat untuk memancing hal itu di bantu oleh Farwa.
Akan tetapi semua usaha nya tetap belum berhasil, dan hanya bisa bermain di antara bukit kembar Radit belum bisa masuk ke gua yang ada di bawah hutan Amazone.
"Jangan sedih seperti itu, pasti akan sembuh jika kita terus melakukan apa yang di anjurkan oleh dokter! " kata Farwa, ia terus memberi semangat terhadap sang suami.
"Tapi sampai kapan seperti ini, aku suami yang tidak berguna" jawab Radit.
"Siapa bilang tidak berguna, kamu itu suami yang hebat. Bukti nya sudah memberikan aku pangeran kecil" ucap Farwa sambil tersenyum tipis menatap lekat wajah suaminya.
"Kalau junior ku tetap tidak bisa berdiri bagaimana, apakah itu juga tidak masalah buat mu? " tanya Radit terhadap sang istri, jujur ia merasa sangat bersalah dengan keadaan seperti ini.
"Apapun yang terjadi dengan mu aku akan selalu bersama mu, karena Tuhan sudah baik padaku memberikan kesempatan untuk tetap bersama mu. Lantas apakah aku harus menyia-nyiakan itu, sudah cukup aku menderita hidup tanpa mu jadi apapun yang terjadi dengan mu dan dalam keadaan apapun aku akan tetap, bersama mu. Kita bersama untuk saling melengkapi" ucap Farwa, lalu ia bersandar di dada suaminya, karena bagi Farwa bisa memeluk dan melihat wajah Radit pun itu sudah lebih dari cukup.
Tidak mempermasalahkan untuk hal itu, akan tetapi ia akan terus membantu untuk kesembuhan Sang suami.
"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik, rasanya aku tidak pantas mendapatkan bidadari seperti mu" kata Radit sambil mengelus rambut sang istri dan hal yang di lakukan oleh Radit sudah menciptakan kedamaian bagi Farwa.
"Kita akan tetap seperti ini, sekarang dan selamanya" ucap Farwa sambil mengeratkan tangan nya yang melingkar di pinggang kekar milik suaminya.
"Bersama untuk selamanya"
"Hanya maut yang akan memisahkan kita, tapi jika boleh memilih maka aku ingin tetap bersama mu dan menghembuskan nafas terakhir pun bersama. karena aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu untuk yang kedua kalinya" ucap Farwa.
__ADS_1