
Argani dengan sabarnya menerima semua perlakuan Marwan, ia tidak sedikit pun terpancing dengan apa yang di katakan oleh Marwa.
Setelah kepergian Marwan, Argani melanjutkan kembali pekerjaan nya.
Setelah beberapa saat ,tiba-tiba ia di panggil sang bos di ajak ke ruangan nya, hal itu membuat Argani sedikit takut.
Banyak pertanyaan juga di dalam hatinya, mengapa ia di ajak ke ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat ia sudah berada di ruangan dan Argani sudah di persilakan untuk duduk di kursi yang ada di hadapan bos nya itu.
"Apakah saya melakukan kesalahan? " tanya Argani terhadap bos nya.
"Mengapa kamu begitu sabar menghadapi orang tadi, apakah kamu mengenalnya? dan kamu ini siapa? sejak pertama aku melihat mu, dari cara berpakaian dan bicara pun tidak seperti orang biasa. Jujur pada ku dari mana kamu berasal" tanya Basri terhadap Argani.
Basri adalah seorang pria tua pemilik swalayan di mana Argani bekerja, karena hanya perusahaan kecil yang bisa menerima Argani.
Sebab jika ia melamar ke perusahaan ternama dan menggunakan ijazah itu sudah pasti mereka akan mengetahui dan langsung menolak nya.
Akan tetapi Basri tidak mengetahui later belakang Argani, makanya ia menerima nya sebagai karyawan nya.
"Apa Bos pernah jatuh cinta?" Argani balik bertanya.
"Aku tidak pernah jatuh cinta, mana bisa umur ku yang sudah tua ini jatuh cinta" jawab Basri sambil tertawa kecil.
"Bukan itu maksud ku, waktu muda apakah pernah merasakan hal itu? "
"Kalau waktu muda ya pernah, itu buktikan aku memiliki sepuluh anak hasil dari pernikahan yang di dasari oleh cinta"
"Dan cinta juga yang sudah membawa ku ke tempat ini, cinta juga yang menjadikan ku seorang penyabar dan cinta juga yang mengubah hidupku" jawab Argani sambil tersenyum menatap sang Bos.
"Tapi aku tidak suka melihat karyawan ku di hina seperti tadi, lain kali berikan dia pelajaran agar tidak melakukan itu lagi! "
"Orang jahat tidak perlu di balas dengan kejahatan, dan istriku tidak suka dengan kekerasan. Maka dari itu aku meruntuh hidup demi cinta ku untuk nya" jawab Argani.
"Pasti sangat beruntung sekali perempuan yang menjadi istri mu"
"Bukan dia yang beruntung, tapi aku yang sangat beruntung bisa menikah dengan perempuan berhati malaikat seperti nya" jawab Argani.
"Baiklah, sebentar lagi kita akan pulang. Silakan kembali ke tempat kamu bekerja"
Basri mempersilakan Argani untuk kembali ke tempat nya bekerja, ia juga tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya.
Argani malah mengajak nya berbicara ke arah lain, Basri pun paham. Tidak semua juga yang ia inginkan harus di dapatkan begitu juga dengan masalalu Argani ia tidak ingin bertanya lagi. Mungkin itu privasi, jadi Basri membiarkan Argani untuk menutup rapat itu semua.
Setelah beberapa saat Argani sudah kembali ke depan, para pengunjung pun sudah mulai berkurang sebab sebentar lagi toko akan tutup.
"Ada apa bos memanggilmu? " tanya salah satu rekan kerja nya.
__ADS_1
"Tidak, dia hanya ingin aku bekerja lebih fokus saja" jawab Argani.
"Owh, bagus lah jika itu bukan lah masalah yang serius"
Waktu bergulir begitu cepat, waktu yang mereka tunggu telah tiba.
Akhirnya mereka semua pulang, Argani sudah berada di parkiran akan segera pulang.
Akan tetapi sebelum pulang ia menghubungi sang Mama terlebih dahulu.
Ia mengambil ponsel nya lalu mengusap layar untuk menghubungi sang Mama.
Satu kali panggilan tidak ada jawaban dan terus ia melakukan panggilan ulang.
Setelah panggilan yang ke tiga barulah ada jawaban.
"Hallo, Ma... apa kabar? " tanya Argani
"Ini aku" jawab seseorang di sebrang sana.
Betapa terkejutnya saat mendengar suara yang menjawab panggilan telepon nya.
"Kenapa ponsel Mama ada di tangan mu, dia ke mana? apakah baik-baik saja? " tanya Argani ia sudah mulai takut, perasaan nya tidak karuan.
"Ma-mama... " Starla tidak kuasa untuk mengatakan ini terhadap Argani.
Akhirnya Starla menyerahkan ponsel tersebut kepada Adnan yang berada di samping nya pada saat ini.
"Mama sudah pergi untuk selama nya meninggalkan kita" kata Adnan dengan suara berat menahan tangis.
Seketika ponsel yang di pegang Argani terjatuh dan tubuh nya Ambruk di tanah.
"Ma-mama.... " teriak Argani sambil menangis.
Setelah beberapa saat ia mengambil kembali ponsel nya, lalu ia naik ke atas motor nya dan menyalakan lalu menarik gas dengan kencang.
Argani ingin segera sampai di rumah orang tuanya untuk melihat wajah sang Mama untuk yang terakhir kali nya.
waktu bergulir begitu cepat, sepanjang perjalanan ia terus mengeluarkan air mata.
Argani sudah mengantikan kendaraan nya di depan rumah, lalu ia berlari untuk segera masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi di hadang oleh beberapa pengawal, ia tidak di perbolehkan untuk memasuki rumah tersebut.
Argani memohon terhadap pengawal tersebut dan tetap tidak mendapatkan ijin untuk masuk.
Hingga akhirnya ia melakukan kekerasan dengan menghajar para penjaga tersebut sehingga jatuh terkapar dan ia bisa masuk ke dalam rumah akan tetapi ia tidak bisa mendekat ke arah tubuh yang sudah terbujur kaku yang sudah di tutup kain putih.
__ADS_1
"Tolong jangan halangi saya untuk bertemu dengan Mama" kata Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Tapi bos kami tidak mengijinkan anda untuk mendekati istrinya" jawab pengawal itu.
"Saya anak nya berhak untuk mendekati nya dan menatap wajahnya untuk terakhir kalinya " jawab Argani dengan raut wajah yang sedih.
Argani sudah di pegang oleh beberapa penjaga yang ada di depan pintu, akan tetapi mampu melihat ke arah dalam.
Di mana sudah banyak orang yang berada di ruangan itu untuk mengucapkan bela sungkawa terhadap keluarga Malik atas meninggalnya Ambar.
Malik dan Adnan sedang berada di dalam kamar sambil menatap gambar Ambar yang terpampang di dinding.
Datang lah seorang yang memberitahu bahwa Argani datang dan membuat keributan.
Akhirnya Malik dan Adnan keluar dari kamar setelah mendapatkan kabar tersebut.
Setelah beberapa saat Adnan dan Malik sudah berada di pintu masuk di mana Argani sedang di pegang oleh beberapa orang, dan Malik memberikan isyarat untuk melepaskannya.
Setelah di lepaskan Argani berhambur memeluk sang Papa karena Malik mengulurkan tangan menyabut kedatangan Argani.
Akhirnya Papa dan anak itu saling berpelukan sambil menangis.
Argani pikir sang Papa menerima kehadiran dirinya di rumah ini akan tetapi pikiran nya salah.
"Berani sekali kamu datang ketempat ini dan membuat keributan! " kata Malik sambil berbisik di telinga Argani.
"Pa... biarkan aku bertemu Mama untuk yang terakhir kali" mohon Argani terhadap sang Papa.
"Jangan harap aku akan mengijinkan nya, semua ini terjadi karena kesalahan mu. Pergi jauh-jauh dari sini, dan jangan membuat keributan. Aku tidak ingin ada keributan di hari terakhir istri ku ada di rumah ini" kata Malik dengan nada bicara penuh penekanan.
"Tapi, Pa... "
"Pergi sekarang juga! "
Malik melepaskan pelukan nya, lalu memberi isyarat terhadap Adnan agar mengurus Argani.
Akhirnya Adnan membawa Argani untuk ke luar, sebelum Argani bertemu dengan sang Mama.
"Kak jangan lakukan ini, dia itu Mama ku... kenapa kalian tega " kata Argani sambil menangis dan terus melihat ke arah dalam, meskipun sudah di geret ke luar.
"Kamu tahu sendiri Papa itu seperti apa? tolong pergi dari sini demi Mama, biarkan dia tentang dan jangan ada keributan di tempat ini" jawab Adnan.
"Aku datang ke tempat ini bukan mencari keributan , hanya ingin bertemu dengan Mana" Argani memohon.
Semua usaha yang di lakukan Argani sia-sia, hingga pada akhirnya ia harus pergi tanpa melihat wajah sang Mama untuk yang terakhir kalinya.
Dengan langkah yang gontai, kaki rasanya sudah tidak berpijak di bumi.
__ADS_1
Akan tetapi Argani berusaha untuk tetap berjalan dan bisa pulang.