
"Kenapa ada dia di sini? " Farwa kaget dengan penampakan orang di hadapan nya saat ini.
"Lagi ngapain kamu ada di sini? " tanya Marwan terhadap Farwa.
"Ya, aku kan pindah ke kota ini! " jawab Farwa.
"Ternyata dunia ini sempit, mungkin juga semesta ingin mempersatukan kita kembali. Makanya Tuhan selalu punya cara untuk aku bisa bertemu" kata Marwan sambil menatap wajah Farwa yang terlihat semakin cantik.
Jujur dalam hatinya yang paling dalam, ia belum bisa melupakan cintanya terhadap Farwa.
"Apa-apaan ini, siapa dan jodoh siapa. Sembarangan" Radit menyela ucapan Marwan.
Seketika Farwa kaget mendengar perkataan Radit, mengapa laki-laki itu bisa berkata seperti itu. Radit seperti cemburu mendengar perkataan Marwan seperti itu.
"Dia siapa, penampilan nya saja dekil seperti orang miskin. Pasti pengangguran yah" Marwan bicara dengan raut wajah menghina.
"Jaga bicara mu, sembarangan menilai orang. Dia itu pengusaha di kota ini" jawab Farwa tidak rela jika Radit di hina seperti tadi.
"Nggak apa-apa bu, memang saya orang miskin. Daripada sok kaya tapi sebetulnya miskin. Ayok sayang kita pergi!" ajak Radit terhadap Argani kecil.
Farwa kesal sekali, mengapa ia harus bertemu lagi dengan Marwan orang yang ia tidak sukai.
"Ngomong apa kamu? " Marwan kesal dengan perkataan Radit, ia merasa tersinggung.
"Kamu juga ngapain datang ke tempat ini? " tanya Farwa dengan tatapan tajam.
"Mau makan"
"Nggak ada makanan di sini, sudah habis. Silakan cari tempat lain" kata Farwa dengan nada bicara judes nya.
"Kenapa begitu, aku belum juga melihat nya. Menang nya siapa kamu melarang ku makan di tempat ini, kan tempat umum. Seharusnya kamu itu senang bertemu dengan laki-laki yang pernah kamu cintai, bukan jutek seperti itu"
Radit sudah berada di dalam kendaraan pik up yang akan mengantarkan mereka ke tempat bermain, ia rasanya ingin sekali memukul wajah laki-laki yang sok kaya itu. Akan tetapi ia berusaha untuk menahan nya, tetap membiarkan orang tersebut menghina nya.
"Justru aku selalu berdo'a agar tidak di pertemukan dengan orang-orang seperti kamu, aku pindah dari kota b juga untuk menjauh dari kalian. Sudah pergi sana, nggak usah makan di sini! " Farwa mengusir Marwan.
Zulaikha keluar mendengar suara anaknya sampai terdengar, biasanya Farwa selalu bertutur kata santun terhadap pelanggan yang datang. Ia penasaran dengan apa yang terjadi, makanya ia keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa sih, Nak? kenapa ribut-ribut seperti ini. Memang nya siapa? " tanya Zulaikha terhadap sang putri.
Betapa terkejutnya Zulaikha saat melihat Marwan berada di hadapan nya pada saat ini.
__ADS_1
"Kau... untuk apa datang ke sini? " tanya Zulaikha sambil menatap tajam Marwan.
"Aku hanya mampir di rumah makan karena lapar tapi Farwa mengusir ku. Dia itu nggak sopan terhadap pelanggan yang datang ke tempat ini" jawab Marwan.
"Ya sudah, silakan kamu pergi saja itu Radit sudah menunggu nya! Jangan terlalu sore nanti anak mu kedinginan nggak baik cuaca malam" kata Zulaikha mempersilakan sang putri untuk segera pergi, sebab tidak akan ada ujung nya jika terus berdebat dengan Marwan. Lagipula takut ada pelanggan lain dan mengganggu kenyamanan di tempat ini, makanya ia menyuruh sang putri untuk segera pergi.
Akhirnya Farwa pun pergi meninggalkan mereka berdua, Radit yang berada di dalam kendaraan bersama anak laki-laki yang masih kecil sudah mampu mengalihkan dunia nya.
"Jika kamu mau makan silakan duduk! " Zulaikha mempersilakan Marwan untuk duduk, baginya pantang mengusir orang yang niatnya ingin membeli dagangan mereka. Meskipun itu sangat menjengkelkan ia berusaha untuk tetap tenang.
"Bu, apakah tempat ini milik kalian? " tanya Marwan sambil melihat ke sekeliling.
"Ia kami sekarang tinggal di sini, dan sekarang kami merintis usaha daripada harus bekerja sama orang lain. Farwa juga tidak ingin meninggal kan anaknya, makanya ia memutuskan untuk membuka rumah makan" jawab Zulaikha.
"Kenapa nggak di kota saja, di sini penduduk nya nggak terlalu ramai seperti di sana. Mungkin di sana lebih laris "
"Farwa yang menginginkan pergi ke tempat ini, ini juga rekomendasi dari Faklan bisa ke tempat ini. Dan ruko ini juga dia yang mencari nya" jawab Zulaikha.
"Owhh jadi ini rencana nya dia? " tanya Marwan.
"Tidak! Farwa yang ingin pindah ke kota ini, akan tetapi Faklan yang merekomendasikan tempat di sini yang dekat dengan daerah pantai dan banyak proyek pembangunan jadi akan lebih mudah untuk membuka usaha" jawab Zulaikha.
"Saya juga, akan meninjau lokasi di daerah sini untuk di bangun hotel dan ternyata bisa bertemu dengan kalian semua. Aku nggak nyangka bisa bertemu dengan cara seperti ini"
"Iya"
Setelah beberapa saat Marwan memilih, akhirnya sudah mendapatkan yang ia cari. Dan memberi tahu pelayan untuk menyiapkan makan untuk Marwan.
"Bagaimana kabar ibu mu?"
"Nggak baik, Nu... setiap hari rumah nggak tenang. Alfi sama Ibu berantem terus, mereka nggak mau ada yang mengalah sama-sama kera" jawab Marwan, ia sebenarnya sangat pusing dengan keadaan rumah nya.
"Kamu juga sebagai suami harus bisa menjadi penengah dan membuat istri mu nyaman saat di dekat kamu, ajak bicara dari hati ke hati" nasehat Zulaikha untuk Marwan.
"Susah Bu... " jawab Marwan.
Andaikan Marwan juga ada orang yang bisa mengerti dan memahaminya, bisa saja ia berubah seperti Argani. Akan tetapi tekanan dari lingkungan sekitar juga semakin membuat Marwan stress, dan melampiaskan nya dengan berprilaku seperti sekarang. Itu semua hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang sekitar, akan tetapi tidak ada satu orang pun yang memahami dirinya pada saat ini.
Bahkan sang istri tidak pernah bersyukur dengan apa yang mereka miliki pada saat ini, sungguh Marwan merasa iri dengan orang-orang yang bahagia bersama pasangan nya.
Ia juga selalu berfikir, andaikan ia menikah dengan Farwa mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini yaitu saling menyakiti meski hidup bersama.
__ADS_1
Alfi dan Marwan sama-sama keras tidak ada yang mau mengalah, akhirnya terjadi lah pertengkaran setiap hari.
Alfi yang tidak menerima kenyataan bahwa saat ini keadaan nya tidak seperti dulu, seharusnya Alfi juga lebih menghargai Marwan sebagai suami begitu juga dengan Marwan.
"Nggak ada yang susuah selama kamu ada kemauan untuk memperbaiki diri, jujur saya sangat sedih melihat kamu dengan sikap yang sekarang. Dulu saya sangat berharap bahwa kamu akan menjadi menantu saya dan mendampingi Farwa selama nya, karena saya yakin bahwa kamu orang yang baik. Akan tetapi dengan sikap mu yang seperti sekarang saya takut sama kamu, saya sangat kecewa dengan sikap kamu yang berubah seperti ini" kata Zulaikha sambil menatap lekat wajah Marwan, ia sangat kasian dengan dengan Marwan.
Akhirnya Marwan pun hanya diam mendengar kan nasehat dari Zulaikha.
Setelah beberapa saat, makanan pun sudah tersaji di hadapan Marwan.
Zulaikha pun meninggalkan Marwan yang sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Ia sudah kembali ke belakang, di mana dua orang yang membantu mereka sedang merapikan dapur. Sebab hari juga semakin sore, sebentar lagi warung akan tutup sebab buka sampai jam enam sore saja.
"Kalian berdua kalau sudah beres pulang saja, rumah kontrakan kalian jauh yah dari sini? " tanya Zulaikha terhadap kedua orang yang ada di hadapan nya.
"Nggak ko bu kontrakan kami deket baru saja di kasih tempat baru yang dekat dari sini sama bos Radit" kata Yeyen tanpa merasa bersalah dengan perkataan nya, padahal Radit sudah wanti-wanti untuk tidak berkata pada siapa pun.
Yayan kesal terhadap mulut lemes saudari kembarnya, lalu ia menginjak kakinya untuk berhenti bicara.
"Awww, sakit! kenapa kamu malah menginjak ku? " tanya Yeyen.
"Maksudnya apa, itu rumah kontrakan dari Radit bagaimana? " tanya Zulaikha.
"Nggak ko, Bu... saya yang minta tolong sama dia untuk di carikan rumah kontrakan yang dekat dari sini, soalnya kalau jauh kami tidak punya kendaraan untuk pulang pergi dari tempat ini. Kalau dekat jadi lebih mudah" kata Yayan, ia berusaha untuk membuat Zulaikha percaya dengan apa yang di bicarakan nya.
"Owhh begitu, ya sudah lanjutkan saya akan ke atas dulu. Setelah orang itu pulang, kalian langsung tutup yah! " perintah Zulaikha terhadap dua karyawan nya.
Akhirnya tinggal lah mereka berdua, Yayan merasa kesal dengan Yeyen.
Zulaikha pun menemui Marwan terlebih dahulu sebelum naik ke atas, ia tidak enak hati. Walau bagaimana pun mereka pernah menjalani silaturahmi dengan baik, ia juga tidak mau menjadi orang yang memutus tali silaturahmi.
"Hampir saja, kamu membuka rahasia Bos Radit di hadapan Bu Zulaikha, lain kali itu mulut di jaga! mikir dulu kalau mau bicara dan kamu juga harus bisa menjaga rahasia" kata Yayan dengan tatapan mata tajam, ia tidak suka dengan saudari kembar nya yang sedikit bocor.
"Iya, aku janji nggak akan bicara apa-apa lagi" jawab Yeyen sambil memegang kedua telinga nya, dan menutup bibir nya rapat.
"Awas nanti lupa lagi, kalau sampai kamu keceplosan dan memberi tahu Bu Farwa dan orang tuanya tentang apa yang terjadi. Maka seluruh gaji kamu yang di gunakan untuk membayar kontrakan rumah! " ancam Yayan.
"Iya, bawel. Kan aku sudah berjani" jawab Yeyen.
Marwan pun sudah selesai makannya, lalu melakukan pembayaran terhadap mereka yang sedang berada di bagian pembayaran yaitu Yayan. Sebab Yeyen orang nya sedikit lemot dan bocor tidak seperti Yayan yang bekerja nya telaten dan pantang menyerah.
__ADS_1
Setelah melakukan pembayaran, akhirnya Marwan pun pergi meninggalkan tempat ini. Dan segera melanjutkan perjalanan nya, untuk segera sampai di lokasi yang mereka tuju. Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu nya, akan tetapi karena ia merasa lapar makanya mampir di rumah makan ini. Dan ternyata ini milik orang yang sangat ia cintai nyam