
Waktu bergulir begitu cepat, Farwa dan Radit sudah berada tempat yang di tuju.
Farwa sangat takjub dengan gedung sekolah yang ada hadapan nya pada saat ini.
Bangun yang mewah dan semua fasilitas yang ada di sini, sungguh ia langsung tertarik dengan tempat pendidikan seperti ini bahkan ia langsung jatuh cinta.
Padahal ia belum tahu sistem pembelajaran di tempat ini seperti apa, akan tetapi ia sudah yakin bahwa tempat ini pas untuk menyekolahkan sang jagoan kecil.
"Eh malah bengong, ayok masuk! " Radit mengajak sang istri untuk segera masuk ke dalam gedung yang menjelang tinggi dan megah.
"Mas... tempat nya bagus sekali, pasti bayaran nya juga sangat mahal" Farwa masih terus menatap takjub.
"Sudah pasti mahal, karena ini tempat pendidikan nomor satu paling bagus di kota ini. Yang lulus dari sini pasti hebat" kata Radit.
"Woww, apa kita mampu bayar biayanya? " Farwa berkata seperti itu, karena ia tidak sadar bahwa saat ini ia sudah menjadi Sultan.
"Kamu itu bicara apa? jangan bahkan satu aset yang kamu miliki sudah cukup untuk biayain sekolah Argani sampai ke Perguruan tinggi" jawab Radit.
"Aset apa, kita itu nggak punya apa-apa loh"
"Astaga sayang, apa kamu lupa bahwa kamu itu sekarang seorang istri yang kaya raya yang mempunyai banyak perusahaan bahkan pabrik" Radit menjelaskan soal sumber uang mereka, sesungguhnya Farwa belum sadar bahwa sekarang bukan lah Radit dan Farwa yang dulu. Susah untuk mencari uang walaupun itu hanya untuk makan.
"Itu punya Ayah mu, bukan aku. Seharusnya kita punya uang sendiri kan Argani anak kita"
"Tadi dia juga cucu nya, sudah lah jangan memikirkan itu. Lebih baik segera masuk dan bertemu dengan pengelola dan menanyakan apapun di sana yang ingin kita ketahui"
Akhirnya mereka berdua langsung masuk, sesuai dengan arahan dari petugas keamanan. Mereka segera menuju salah satu ruangan di mana ada salah satu petugas yang akan membantu mereka memberikan informasi yang diminta inginkan Farwa dan Radit.
Kedua nya sudah sampai di depsn ruangan yang di tuju, pintu tidak tertutup dengan sempurna.
Farwa mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu ada jawaban dari dalam ruangan dan di persilakan untuk segera masuk.
Pintu sudah terbuka, terlihat dengan jelas seorang perempuan sedang berada di ruang itu sambil menghadap monitor.
Lalu perempuan itu bangun dan mempersilakan mereka untuk duduk lalu ia juga duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
"Ada yang bisa di bantu? " tanya perempuan yang berada di sana, penampilan nya sangat rapi dan menggunakan kaca mata tebak dengan rambutnya yang di kepang.
"Saya mau menyekolahkan anak saya di sini! apakah pendaftaran nya sudah di buka? " tanya Farwa terhadap perempuan yang duduk di hadapan nya pada saat ini.
"Untuk pendaftaran kita bukan mulai dari tanggal 2 dan itu di lakukan lewat link, jika ibu berminat bisa mendaftarkan nya lewat sana dan setelah itu nanti ada pemberitahuan lewat emailnya" jawab nya.
"Seperti itu ya, apakah ada tes khusus untuk masuk nya? dan apa saja persyaratan yang harus di siapkan?" Farwa bertanya lebih detail lagi.
"Kalau tes khusus itu tidak ada, hanya saja ada beberapa dokumen yang harus di siapkan, seperti akta lahir, kartu Tanda penduduk dari walinya dan juga kartu keluarga itu dokumen wajib nya"
"Terimakasih atas info nya"
"Oh iya, kami juga menyediakan paket untuk peserta didik baru. Ibu dan bapak tinggal liat saja di katalog ini, kami juga menyediakan asrama bagi orang tua yang ingin menitipkan nya pada kami"
"Anak kami masih kecil baru mau sekolah PAUD, apa iya di titip di asrama" Radit menimpali perkataan dari orang yang ada di hadapan nya pada saat ini, menurut tampil nya aneh.
"Banyak pak, orang tua yang menitipkan anak nya sejak dini. Karena orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada waktu untuk bersama keluarga, mungkin alasan mereka takut anak-anak nya tidak terurus jadi jalan pintas nya di titip di asrama"
"Kebetulan kami bukan orang tua yang sibuk jadi, untuk menitipkan di asrama itu nanti saja. Hanya sekolah saja dari rumah tiap hari" jawab Farwa.
"Oh iya, kalau paket itu apa yah seperti yang ibu bilang? " Radit bertanya lebih jauh lagi agar tidak ada kesalahan nantinya.
__ADS_1
"Jadi di sini terdapat beberapa paket di antara nya, A, B, C, D dan untuk paket A itu datang ke sekolah sendiri atau di antara anggota keluarga nya, sedangkan paket B itu di antar jemput oleh pihak sekolah, sedangkan paket C di antar jemput plus makan siang di sediakan oleh sekolah karena di sini pulang nya sore, meskipun itu pendidikan anak usia dini" jawab Bu Melati.
"Terus kalau paket D itu apa? " tanya Farwa.
"Kalau paket D itu , gabungan dari paket B dan C, untuk informasi lebih detail nya lagi. Ibu dan bapak bisa baca lagi di brosur itu"
"Baiklah bu, saya mengerti. Boleh kah kita melihat suasana kelasnya untuk memastikan saja dan ke asrama nya juga! " kata Farwa.
"Bisa bu, mari saya antar! " Melati menyetujui permintaan sepasang suami-istri yang ingin melakukan terbaik untuk pendidikan sang Putera.
Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut dan Bu Melati jadi pemandu nya.
Berjalan mengikuti Bu Melati, sepanjang berjalan ia menjelaskan tentang apa saja yang ada di sekolah ini dan terdapat berapa kelas dan tenaga pendidik juga untuk anak usia dini.
"Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, jadi di sekolah ini satu tenaga pendidik hanya boleh memegang lima anak. Dan itu juga harus ada pendamping nya juga, di Asrama juga seperti itu kami selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan peserta didik" ucap Bu Melati sambil terus berjalan.
"Owh begitu ya"
"Nah kita sudah sampai di asrama dan sekarang saatnya anak-anak yang tinggal di sini untuk tidur siang, setelah melaksanakan makan siang maka mereka akan tidur. Satu ruangan ini ada lima anak, dan bisa ibu lihat sendiri pasilitas nya"
"Ini sih, kamar hotel. Pasilitas seperti ini, pastinya mereka tidak merasa seperti di asrama. Keren sudah pasti nyaman anak-anak nya" Farwa kagum dengan semua fasilitas yang ada.
"Kalau untuk asrama yang ada di atas, itu khusus untuk anak yang sudah berada di tingkat smp, sma bahkan Perguruan tinggi"
"Baiklah, bu. Saya rasa sudah cukup, terimakasih banyak atas semua informasi nya" kata Farwa, menurut nya semua informasi yang di dapat sudah lebih dari cukup.
Sudah saatnya juga mereka untuk segera pulang ke rumah, Farwa dan Radit pun berpamitan untuk segera pulang dan keduanya sudah cocok sekali akan menyekolahkan jagoan kecil mereka di tempat ini.
...****************...
Di tempat lain.
"Tanteu sudah tua nggak pantes manja-manja seperti itu, biar aku saja " jawab Argani kecil sambil cemberut.
"Dasar nya saja sirik" ucap Daisy lalu mereka saling ledek, terjadilah mereka bercanda dan tertawa bersama.
Ternyata Argani kecil merasa sepi, ia ingin di ajak bermain oleh tantenya.
Akhirnya mereka bermain bersama, untuk sesaat Daisy, melupakan apa yang menjadi permasalahan nya.
Hingga pada akhirnya mereka bermain sudah terlalu lama, waktu pun bergulir dengan cepat.
Argani kecil tidur siang ketika sudah di kasih susu, sedangkan Daisy akan pergi ke kamarnya. Ia juga sudah merasa jenuh berada di tempat ini, dan ia masih ingat ternyata masih ada alat lukis yang tersimpan di rumah ini.
Sudah lama juga ia tidak bermain dengan cat dan kuas, setelah menikah dengan Faklan ia menghentikan semua aktifitas yang berhubungan dengan melukis nya.
Kali ini ia rindu bermain dengan warna di atas kanvas.
Daisy segera mengeluarkan alat lukis yang tersimpan di tempat ini, lalu ia membawa nya ke paviliun.
Mungkin di sana ia akan mendapatkan ketenangan sambil melukis dan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Daisy berjalan melangkahkan kaki nya dengan perlahan melewati sepetak demi sepetak lantai marmer yang terpasang di lantai rumah ini.
Hingga pada akhirnya ia sudah sampai di tempat yang di tuju, lalu ia mempersiapkan semua nya. Daisy suka sekali melukis alam sekitar, karena indah nya alam tidak terkalahkan oleh apapun. Ia mulai menggoreskan kuas yang sudah di beri cat, lalu ia mulai menggerakkan tangan nya dengan penuh perasaan dengan cara seperti itulah hasilnya akan sempurna.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Daisy berada di paviliun, karena saat ia ke belakang tidak ada yang melihat nya. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak mengetahui, mereka tahu nya Daisy ada di kamar mereka.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa Daisy sudah menghabiskan waktu cukup lama dan sudah menyelesaikan lukisan nya dengan hasil yang sangat sempurna.
"Ahh, kenapa pinggang ku terasa saki. Padahal baru sebentar, dulu aku kuat duduk seharian sambil melukis mengapa sekarang rasanya seperti ini padahal nggak terlalu lama" Daisy berkata sendiri, lalu ia berdiri meluruskan pinggang nya.
Setelah itu ia menghadapi salah satu kursi panjang yang ada di sana, ia pikir itu cukup untuk merebahkan tubuh nya di sana dan meredakan pegal-pegal yang di rasakan pada saat ini.
Ia pun terus berbicara sendiri dan memang rebahan itu hal yang paling enak menurut Daisy.
Daisy merasa nyaman berada di tempat itu hingga tidak terasa ia memejamkan matanya, karena pada dasarnya ia sangat mudah untuk tertidur dan bisa tidur di manapun dan keadaan apapun.
Akhirnya ia pun tidur dengan pulas di kursi panjang yang ada di paviliun, karena memang tempat nya bersih dan nyaman.
Tempat ini juga sering di gunakan Radit dan Farwa untuk bersantai saat mereka ada di rumah.
Di rumah utama.
Farwa dan Radit baru saja sampai di rumah, mereka keluar dari kendaraan dengan membawa semua belanjaan yang sudah mereka beli.
Hari ini mereka habiskan dengan berkeliling dan mencari sesuatu yang mereka ingin kan, meskipun ada tujuan lain.
"Bu, Argani di Mama? " tanya Radit terhadap sang mertua yang menyambut kedatangan mereka.
"Dia tidur, mungkin lelah habis main sama Daisy" jawab Zulaikha sambil tersenyum menatap anak dan menantu nya secara bergantian.
"Daisy ada di sini, di mana sekarang? " tanya Farwa.
"Tadi bilang nya mau ke kamar" jawab sang ibu.
"Owh begitu ya, ya sudah kalau begitu aku ke kamar dulu. Oh iya, tadi aku liat baju seperti nya ini cocok untuk ibu" ucap Farwa sambil menyerahkan paper bag yang di bawanya.
"Kenapa kalian membeli barang se banyak ini? kurangi membeli sesuatu yang tidak penting. Lebih baik di gunakan untuk sedekah dan membantu mereka yang sedang kesusahan" Zulaikha menasehati putri nya.
"Iya, bu. Aku hanya membeli yang di butuhkan saja itu menantu ibu yang tidak bisa di bilangin, sudah banyak juga mainan. Tetap saja dia beli" jawab Farwa.
"Cuma satu, bu... "
"Ya sudah, aku ke kamar dulu bu! " Farwa berpamitan terhadap sang ibu, lalu melangkah kan kakinya untuk segera pergi.
Radit, pergi ke kamar jagoan kecil terlebih dahulu untuk menyimpan mainan yang baru saja di beli.
Setelah beberapa saat, Radit sudah sampai di kamar lalu ia menatap wajah jagoan yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum menatap wajah anak kecil tanpa dosa, akan tetapi sifat Argani sangat keras. Mungkin hal itu menurun dari sang ayah, Radit tidak puas-puasnya menatap wajah anak kecil itu. Karena bagi nya sangat menenangkan jiwa.
Radit pun kembali melangkah kan kakinya untuk segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar pribadi miliknya.
Farwa sudah berada di tempat yang sangat di sukain, yaitu kamar. Ia merapikan belanjaannya lalu menata ke tempat yang seharusnya. Farwa perempuan yang rapi, jadi segala sesuatu harus di tata dengan rapi dan sesuai dengan bentuk dan ukuran.
Di saat ia sedang fokus menata semuanya, pintu kamar terbuka. Farwa pun mengalahkan pandangan nya ke arah sang suami yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Radit langsung menjatuhkan tubuh nya di atas sofa, ia merasa lelah setelah seharian berada di luar ruangan.
"Kalau habis dari luar, usaha kan bersih-bersih dulu baru istirahat. Kita nggak tahu kan virus apa saja yang di bawa dari luar dan satu hal yang perlu di ingat, jangan langsung menemui Argani. Mandi terlebih dahulu baru menemuinya! " kata Farwa, ia memberi tahu suami agar jangan melakukan hal itu lagi, karena itu sebuah kebiasaan buruk yang tidak seharusnya di lakukan.
"Iya, aku mandi" jawab Radit, sambil bangun.
Meskipun malas dan ingin memejamkan mata sebentar, akan tetapi ia harus membersihkan tubuh nya terlebih dahulu.
Sebelum istri nya Ceramah lebih panjang lagi, lebih baik ia mengalah demi kebaikan bersama.
__ADS_1
Dengan langkah malas, ia berjalan perlahan untuk segera menuju kamar mandi dengan handuk di kalung kan ke leher. Itu salah satu kebiasaan Radit kalau mau mandi.