
Semua orang yang berada di dalam rumah merasa terkejut, dengan kehadiran Argani di tempat ini.
Ternyata tidak begitu sulit baginya untuk menemukan keberadaan mereka, padahal mereka sudah menjauh dari kota sebelumnya.
Dan hari ini telah dibuktikan Argani sudah berada di depan mata mereka dengan banyaknya pengawal yang ikut bersamanya.
Argani masih menodong kepala sang Bibi dengan senjata api.
" Bisakah Kau turunkan senjatamu, duduklah kita bicara dengan tenang. Lagian kamu telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, lebih minum teh terlebih dahulu baru kita bicara baik-baik" kata Mahad dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Aku akan tenang jika kalian menyebutku dengan cara yang baik, lagi pula mengapa kalian sangat ketakutan sekali. Saya ini bukan monster yang akan memakan kalian, cukup kalian ikuti apa yang saya mau jangan pernah berontak dan melawanku" jawab Argani sambil menurunkan senjata apinya lalu duduk di salah satu sofa yang menghadap ke arah Mahad.
Setelah Argani duduk, lalu Mahad meminta Farwa untuk menyajikan teh untuk laki-laki yang masih terlihat sangat marah itu. Mungkin setelah minum teh amarahnya akan sedikit reda.
"Memangnya mau kamu itu kita itu harus berbuat apa?" tanya Mahad terhadap Argani.
"Kalian ini masih belum mengerti apa yang aku mau? harus berapa kali saya bilang dengan kalian. Bahwa saya ingin menikahi Putri kalian!" kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.
"Untuk menikah tidak semudah itu, lagi pula Farwa juga tidak ingin menikah denganmu. Sebab menikah itu harus mendapat persetujuan antara laki-laki dan perempuan, dan kami juga tidak ingin menikahkan Farwa dengan cara tiba-tiba seperti ini" kata Zulaikha sambil menatap lekat wajah Argani, yang masih terlihat sangat marah kepada mereka. Ia juga berbicara dengan nada yang sangat lembut, tujuannya untuk meluluhkan hati Argani sedikit saja, agar ia bisa mengerti apa yang diucapkan olehnya.
"Dan Kalian juga harus tahu, aku tidak mau mendapatkan penolakan. Jika kalian masih melakukan pada ku, maka akan ku menghabisi nyawa kalian. Daripada aku aku harus melihatmu nanti bersama laki-laki lain, Lebih baik aku melihatmu mati karena dibunuh oleh tanganku sendiri! " kata Argani sambil berdiri lalu mendekat ke arah Farwa yang baru saja kembali dari dapur dengan meletakkan cangkir kopi di atas meja. Lalu Argani mendekatkan senjata api tersebut ke pelipis Farwa.
Seketika wajah Farwa pucat, lalu tubuhnya pun ikut gemetar.
__ADS_1
Sang Ibu pun tidak bisa menerima itu semua, Putri diperlakukan dengan seperti itu oleh Argani.
"Jika kamu ingin menikahi farwa, maka jangan pernah lakukan ini lagi. Bagaimana dia mau menerima kamu sebagai calon suaminya, lihat saja wajah dia sangat ketakutan ketika melihat dirimu. Bagaimana nanti dia bisa hidup denganmu setiap hari melihat wajahmu saja dia sudah merasa ketakutan seperti itu" ucap Zulaikha sambil memegang tangan anaknya yang gemeteran diakibatkan takut karena Argani.
Meskipun tubuhnya terasa gemetaran dan ketakutan Farwa masih mampu untuk berbicara
" Jika kamu ingin membunuhku maka lakukanlah, ran satu hal yang perlu kamu ketahui aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Lebih baik aku mati !" kata Farwa dengan nada bicara gemetaran.
"tidak jangan pernah lakukan ini sama kamu itu putri kami Jangan pernah mengorbankan nyawamu hanya untuk laki-laki seperti dia "kata mahar juga yang ikut berdiri, Iya juga merasa takut sebetulnya dengan Argani dan sifat kasarnya itu.
"Baiklah jika kamu tidak sayang dengan nyawamu, aku tidak akan pernah membunuhmu. akan tetapi aku akan membunuh kedua orang tuamu beserta adik dan Bibi termasuk juga pamanmu, Apa mungkin kamu juga tidak menyayangi keluargamu! "ancam Argani.
Farwa juga tidak bisa berkata apapun, ia sangat menyayangi keluarganya apakah ia harus merelakan keluarganya demi dia tidak mau dengan Argani.
Setelah cukup lama Argani mengancam keluarga farwa, dan mereka semua belum bisa menerima laki-laki itu sebagai calon menantu di keluarga ini.
Begitu juga dengan Farwa, ia masih bersikeras dengan pendiriannya yaitu tidak mau menikah dengan laki-laki seperti Argani.
"Baiklah aku akan memberikan waktu satu minggu untuk kalian berfikir, dan saya akan kembali satu minggu lagi ke rumah ini. Untuk memastikan apakah kalian mau menerimaku sebagai calon menantumu dan calon suami mu. Dan keputusannya adalah ada di hari itu, kalian selamat atau mati berjamaah" kata Argani sambil bangkit dari duduknya, Ia memutuskan untuk segera pulang.
Dan memberikan waktu selama satu minggu kepada keluarga Farwa, untuk memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi nantinya.
Juka masih saja menolak keberadaan dirinya, maka mereka semua akan menerima akibatnya.
__ADS_1
Mereka tidak menjawab perkataan Argani melainkan hanya diam dan saling menatap.
"Calon istri ku yang baik hati, jaga kesehatan jangan lupa makan dan persiapkan untuk hal yang akan terjadi satu minggu lagi" kata Argani sambil bangkit dari duduknya sambil tersenyum menatap Farwa, akan tetapi perempuan itu membuang muka. Ia tidak mau menatap Argani.
Akhirnya Argani dan para pengawalnya pergi meninggalkan tempat ini, berharap setelah satu minggu ada kabar baik untuknya. Bahwa Farwa akan menerimanya sebagai calon suami. Sebab Ia sudah tidak mau menunggu terlalu lama lagi untuk mendapatkan gadis yang sangat dicintainya.
Setelah kepergian Argani Mereka pergi ke kamar masing-masing, begitu juga dengan sang Bibi dan suaminya.
Nereka sangat ketakutan dan terganggu dengan kehadiran Argani di rumah ini, apalagi dengan banyaknya pengawal dan senjata api yang melengkapi mereka.
Sehingga membuat para tetangga merasa ketakutan, dan berpikir bahwa keluarga ini telah melakukan kejahatan sehingga diperlakukan seperti ini.
Di dalam sebuah kamar yang tidak terlalu luas itu terdengar dengan jelas sepasang suami istri yang sedang bertengkar karena kehadiran keluarga Farwa di rumah ini, awalnya sang Paman menerima dengan tangan terbuka dan sangat tenang akan kehadiran keluarga dari istrinya itu.
Akan tetapi ia merasa takut dan risih setelah kehadiran Argani di rumah ini.
" Aku bukan tidak menyayangi keluargamu, akan tetapi ini sangat berisiko jika mereka terus tinggal di tempat ini " kata seorang laki-laki kepada sang istri.
"Mau bagaimana lagi jita adalah keluarganya seharusnya menjadi garda terdepan untuk melindungi mereka, dia itu Kakakku Siapa lagi yang akan menolongnya jika bukan kita" kata sang istri.
"Ia aku tahu itu keluargamu, tapi aku juga tidak mau mengorbankan keluarga kita demi keluarganya. terlalu berbahaya jika harus menentang laki-laki tadi, bisa saja nyawa kita melayang hanya karena melindungi kakakmu. Apa kamu tidak menyayangi nyawamu sendiri sehingga dengan ikhlas memberikannya kepada orang lain" kata Sang suami.
Tanpa mereka sadari ternyata di depan pintu sang kakak mendengar pertengkaran antara adik dan suaminya tersebut. Zulaikha yang tadinya ingin meminta maaf kepada sang adik karena keributan yang terjadi di rumah ini diakibatkan oleh keluarganya. Ia harus mendengar perkataan yang tidak baik untuk di dengar, ia merasa sangat bersalah dengan kehadirannya di rumah ini, lalu ia segera meninggalkan tempat itu dan untuk segera menemui suaminya.
__ADS_1