Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 133


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, hari berlalu begitu saja.


Dua minggu telah berlalu.


Hasil tes DNA sudah keluar dan menunjukkan bahwa Faklan memang benar anaknya bu Ratih, rasa haru dan bahagia menyelimuti keduanya. Baru kali ini Faklan mau di peluk oleh sang ibu setelah hasil tes yang menyatakan bahwa hasil nya positif.


Sekarang lengkap sudah keluarga bu Ratih, pencarian selama puluhan tahun akhirnya terbayar sudah.


Keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia, bahkan Bu Ratih menangis sambil memeluk seorang anak lelaki yang selama ini ia rindukan. Airmata bahagia, begitu juga dengan Mayang ia berhambur memeluk Ibu dan kakak nya.


Daysi yang menyaksikan itu hanya tersenyum dan memperhatikan mereka yang sedang berpelukan, ternyata ia mempunyai mertua.


Kebahagiaan pun tidak bisa di gambar kan, dan setelah cukup lama mereka berpelukan akhirnya Bu Ratih pun melepaskan lalu menatap kedua anaknya secara bergantian.


"Kalian berdua adalah kakak, dan adik besar harapan ku terhadap kalian untuk selalu rukun" kata Ratih sambil menatap keduanya dengan penuh cinta.


"Iya, Bu... aku akan belajar untuk berdamai dengan keadaan bahwa kalian adalah keluarga ku" jawab Faklan dengan nada bicara yang lembut, sekarang ia sudah berubah dan bicara nya pun santun karena Tes DNA yang telah mengubah sikapnya, ia juga tidak mau durhaka terhadap orang tua.


Mereka sudah berada di rumah Faklan, kebetulan hasil tes DNA mereka buka di rumah tidak di rumah sakit tempat mereka melakukan tes.


Mereka duduk di ruang keluarga yang tidak terlalu luas akan tetapi tidak mengurangi rasa bahagia yang mereka rasakan pada saat ini.


"Setelah semuanya jelas, apakah kamu akan mengabulkan permintaan ibu? " tanya Ratih sambil menatap lekat wajah sang putra yang sangat ia rindukan, selama puluhan tahun mereka terpisah.


"Permintaan apa yang harus aku kabulkan untuk mu, ma? " tanya Faklan balik.


"Sekarang keadaan Mama sudah tidak lagi muda, sedangkan Mayang juga tidak mau memimpin perusahaan keluarga karena bukan bidang yang di sukainya"

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan? "


"Kamu mau kan untuk mengelola perusahaan yang Mama dan itu juga punya kamu, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan keluarga kalau bukan kamu. Besar harapan Mama untuk mu" kata Ratih dengan nada bicara penuh permohonan.


"Tapi, aku juga punya perusahaan di sini meskipun tidak sebesar yang Mama punya"


"Mama sangat berharap terhadap kamu, dan kita bisa tinggal bersama lagian usia Mama sudah tidak lagi muda. Sudah seharusnya melepaskan semuanya dan di serahkan terhadap mu"


"Iya, kak. Lebih baik kita tinggal bersama, Keluarga nya kakak ipar juga ada di kota B jadi kita bisa ngumpul di sana, terus perusahaan kakak yang ada di sini bisa di jual atau di percayakan terhadap orang yang bisa di percaya menurut kakak" Mayang menimpali ucapan sang Mama.


Faklan diam sejenak lalu menatap sang istri yang duduk di samping nya, sekarang ia sudah memiliki istri jadi semua keputusan yang di ambil harus mendapatkan persetujuan dari sang istri.


Daisy yang mengerti akan tatapan suami nya, ia langsung berkata " lebih baik kamu ikuti apa yang menjadi keinginan Mama. Sudah sepantasnya sebuah keluarga itu tinggal bersama, lagian selama ini kita tidak tinggal bersama mungkin sekarang saatnya untuk lebih dekat dengan anggota keluarga yang lain" kata Daisy sambil tersenyum tipis.


"Yakin kamu nggak apa-apa kalau kita tinggal di rumah Mama, takut kamu nggak nyaman" kata Faklan.


"Baiklah kalau begitu kita akan pindah dan tinggal di rumah Mama, tapi tunggu semua yang ada di sini selesai. Mungkin butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikan semuanya, tapi aku akan sering datang ke rumah Mama jika ada waktu senggang" kata Faklan sambil menatap wajah sang Mama yang terlihat bahagia.


"Terimakasih banyak, kalian berdua sudah mau mengabulkan permintaan Mama" Ratih berkata dengan senyuman mengembang di bibir nya.


Akhirnya kesepakatan sudah mereka dapatkan, dan rencana kembali ke kota B sore hari. Sekarang semuanya sudah jelas bahwa Faklan adalah anaknya Ratih yang dulu di titipkan di sebuah panti asuhan, saat dirinya mendapatkan masalah besar dan itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan sang putra.


*****


Di tempat lain.


"Mau pergi ke mana? " tanya Farwa terhadap sang suami, ia merasa curiga bahwa ada yang di sembunyikan oleh sang suami.

__ADS_1


Dan beberapa hari yang lalu, Radit berpamitan ingin pergi ke toko sembako dan ternyata Radit tidak datang ke tempat itu setelah Farwa menanyakan terhadap Rahmat yang bekerja di sana.


"Ke toko, mau pergi ke mana lagi kan aku tidak ada pekerjaan lain selain pergi ke sana. Mungkin Pulangnya juga sedikit telat" jawab Radit.


"Mas, bukan kah toko sudah ada yang mengurus dan untuk apa juga kamu setiap hari datang ke sana" kata Farwa sambil menatap lekat wajah suaminya.


"Iya, memang ada Rahmat tapi sebagai pemilik sudah sewajarnya datang setiap hari"


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan. Oh iya aku juga akan ke luar untuk membeli keperluan, sekalian mau nengok pembangunan rumah makan sudah sampai mana progres nya" Farwa meminta izin terhadap suami untuk pergi ke luar.


"Apa mau ku antara sekalian? " tanya Radit terhadap sang istri.


"Nggak perlu, aku pergi sama sopir saja. Lagian mas juga sibuk "


"Ya sudah kalau begitu, berangkat sekarang ya! " Radit pun berpamitan terhadap sang istri.


Setelah itu, ia melangkahkan kakinya untuk keluar kamar. Sebelum berangkat ia tidak lupa untuk berpamitan terhadap jagoan kecilnya, setelah berpamitan Radit pun langsung keluar rumah dan siap untuk segera berangkat ke tempat tujuan.


Setelah beberapa saat, Radit sudah berada di dalam kendaraan dan sudah siap untuk segera melajukan kendaraan nya.


Hingga akhirnya kendaraan pun melaju dengan perlahan untuk segera keluar dari pekarangan rumah.


Setelah kepergian sang suami, Farwa pun sudah siap untuk segera pergi. Karena di kota ini, Farwa tidak memiliki sahabat. Setiap hari ia hanya berteman dengan sang ibu akan tetapi ia teringat dengan karyawan nya yang bernama Yeyen. Farwa juga merasakan kesepian jika harus pergi sendiri nggak ada yang di ajak untuk ngobrol dan melalui Yeyen juga ia bisa bertanya lebih jauh tentang Radit yang di kenal oleh Yeyen.


Akhirnya Farwa pun menghubungi Yeyen, tanpa menunggu lama akhirnya panggilan Farwa di jawab oleh Yeyen dan mereka janjian di tempat yang sudah di sepakati oleh mereka berdua.


Farwa pun segera pergi menuju tempat yang ingin di kunjungi dan mengajak Yeyen untuk berkeliling kota.

__ADS_1


__ADS_2