
"Eh kenapa kalian berpelukan, jadi iri aku melihat nya" ucap seseorang yang berdiri di depan pintu.
"Ah, menggangu saja" jawab Mayang sambil melepaskan pelukan nya.
Ternyata Adnan juga datang untuk menjenguk Daisy, sekalian mengantarkan Mayang untuk pulang karena mulai hari ini, sampai hari pernikahan, Mayang sudah tidak diperbolehkan lagi untuk berangkat ke kantor. Jadi hari ini Adnan mengantar pulang Mayang sebelum waktunya tiba padahal perempuan itu masih ingin masuk kantor akan tetapi Adnan melarangnya.
Adnan dipersilakan untuk masuk ke dalam kamar lalu dipersilakan duduk duduk di sofa, yang berhadapan dengan faklan dan Daisy. Faklan dan Daisy terlihat sangat serasi, bahwa mereka adalah satu keluarga yang bahagia. Kalau di lihat sekarang, akan tetapi sebetulnya kelurga ini banyak huru-hara ya.
"Kenapa kalian datang ke sini ? bukan kah harusnya di kantor" tanya Daisy .
"Aku sih hanya mengantarkan Mayang, tapi suami mu kamu bilang di grup chat bahwa kamu sedang tidak enak badan, makanya aku menyempatkan diri untuk mampir terlebih dahulu." jawab Adnan
" Emng dia mah bisa nya bikin heboh, aku tidak apa-apa " ucap Daisy sambil menatap suaminya.
"Bukan heboh tapi peduli sama kamu khawatir, itu sih intinya. Nanti, aku juga akan melakukan hal yang sama, kalau istriku nanti sakit, tapi jangan sampai nanti kamu sakit, ya."vucap Adnan, sambil melirik ke arah Mayang yang sedang duduk di samping sang Nama.
"Siapa juga yang mau, sakit, aku juga nggak mau, hanya saja, penyakit itu datang menghampiriku secara tiba-tiba" ucap Daisy.
"lebih baik kita ngobrolnya di luar yuk! di kamar nggak enak. Sekalian nunggu kak Farwa juga di bawah" ucap Mayang, mengajak yang lainnya untuk turun, karena ia merasa tidak enak. Ketika mengobrol di dalam kamar sang kakak ipar, meskipun kakak iparnya sedang dalam keadaan tidak sehat.
"Iya lebih baik di luar "Adnan menimpali ucapan calon istrinya.
Akhirnya mereka semua menyetujui permintaan Mayang untuk keluar dari kamar, hanya saja Daisy dipersilakan untuk istirahat terlebih dahulu. Karena perempuan itu masih dalam keadaan tidak sehat, Jadi faklan tidak mengizinkan sang istri untuk ikut turun bersama yang lainnya.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang sangat lama, mereka sudah berada di ruang keluarga bu Ratih meminta pelayan untuk membawakan makanan dan juga minuman yang akan dihidangkan.
Pelayan sudah membawa beberapa makanan, dan minuman Adnan pun dipersilahkan untuk menikmati jamuan yang sudah disediakan.
Mereka mengobrol ringan, ada saja yang mereka bicarakan, entah itu tentang bisnis, dan lain sebagainya, sesekali mereka tertawa. Terkadang Adnan bisa juga mencairkan suasana agar tidak kaku dan membosankan.
"Katanya Kak Farwa mau ke sini tapi kenapa belum sampai juga ? " Mayang merasa heran, mengapa Farwa belum sampai juga di sini, padahal bilangnya sudah berangkat dari rumah.
" Paling juga dia ribet, karena bayi besarnya itu banyak permintaan. Tahu sendiri kan, Si Radit itu rewelnya kayak apa, semua harus dilayani sama istri, padahal istrinya sedang mengandung" ucap Adnan ,karena ia tahu betul sang adik seperti apa. Farwa juga selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik, yang melayani keluarganya dengan tangan sendiri, jadilah Radit. Ketergantungan dengan sang istri
"Bukannya Kak Radit itu baik, Beberapa hari lalu, aku lihat dia sangat telaten mengurusi Kak Farwa" menimpali perkataan Adnan
"Iya aku tahu Radit itu baik akan tetapi dia lebih manja, Kalau ngelihat Farwa itu sehat, apa-apa dilayani. Nggak mandiri sama sekali sebagai suami " Adnan yang merasa tidak pernah dilayani seperti itu oleh istrinya terdahulu. Merasa heran melihat Radit yang selalu diperlakukan oleh Farwa dengan baik.
"Ya, memang sudah kewajiban seorang istri, melayani dan mengayomi suaminya, itu tandanya, Kak Farwa sangat menyayangi suaminya" jawab Mayang
"Berarti, kalau aku sudah menjadi suami kamu, aku juga akan diperlakukan seperti Radit, oleh Farwa? "ucap Adnan, sambil menatap lekat wajah Mayang.
" Ya, pastinya aku akan memperlakukan kamu, seperti kak Farwa memperlakukan suaminya, karena memang seharusnya" jawab Mayang Tanpa Rasa ragu karena ia sudah meyakinkan dan memantapkan hatinya, jika ia menikah dan menjadi seorang istri, maka yang akan mengurus keperluan suaminya adalah dirinya sendiri. Ia tidak akan mempercayakan semuanya kepada asisten rumah tangga atau pelayan. Karena sejatinya seorang istri itu adalah yang bisa mengurus dan memperlakukan suaminya dengan baik, itu menurut Mayang.
__ADS_1
Ia juga banyak belajar dari orang-orang terdekatnya, yang selalu memperlakukan suami dengan baik. Seperti Daisy juga, walaupun seperti itu, Daisy selalu mengutamakan suaminya. Jadi tidaklah alasan bagi Mayang untuk tidak utamakan suami, karena orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah istri-istri yang sangat baik terhadap suaminya. Bagi Mayang sudah cukup pelajaran yang ia dapatkan dari lingkungan sekitar.
"Tidak, selamanya juga, istri harus melayani suami, dan mengerjakan semua keperluan suami itu sendiri. Karena di dalam rumah tangga itu, saling membantu, saling melengkapi, dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Terciptanya keluarga yang harmonis rukun dan bahagia " ucap bu Ratih menyela pembicaraan antara Adnan dan juga Mayang.
" Tuh kan, Mama bilang juga apa, tidak, selamanya juga istri harus mengayomi suami, Jadi intinya kita saling melengkapi" Kalau ngelihat Radit aku suka gedek sendiri, apa-apa istri ini, ini itu istri? " ucap Adnan
" Ya tidak apa-apa, jika istrinya tidak mempermasalahkan itu. Radit merasa Ketergantungan dengan Farwa, sehingga tidak bisa melakukan apapun tanpa istrinya. " ucap Faklan
Tidak terasa mereka bercakap dan ngobrol sudah menghabiskan waktu yang sangat lama, sehingga tidak merasa bahwa sedang menunggu seseorang, hingga pada akhirnya datanglah seorang anak kecil berlari sambil berteriak Memanggil nama Mayang. Siapa lagi kalau bukan Argani kecil.
Tadinya Farwa mau berangkat menemui Daisy secara sendiri, tidak mengajak Argani, sedangkan suaminya akan menyusul. Ia sebelumnya berencana akan pergi bersama sopir akan tetapi ketika Farwa ingin berangkat, Radit menelponnya agar tidak pergi sendiri ia ingin ikut bersama sang istri dan juga Sang putra, akan tetapi mereka berangkatnya setelah Argani kecil pulang dari sekolah.
Argani kecil berlari berhamburan langsung menuju Mayang, lalu anak kecil itu memeluk Mayang Memang mereka itu terlihat sangat dekat sekali.
"Tante, Mengapa sekarang nggak ke rumah lagi, aku kangen tahu. ? "ucap Argani kecil sambil memeluk Mayang.
" Apakah kamu merindukanku? nanti juga aku bakal tinggal di sana nanti bosan lagi, kalau setiap hari bertemu" jawab Mayang sambil tersenyum manis sambil menatap kedua orang tua dari anak kecil yang sekarang berdiri di hadapannya.
" Oh iya tante, hari ini aku mau pergi sama ibu membeli alat lukis, kalau boleh, tante ikut aku ya? kita main di sana! Ibu sama Ayah, ngakak seru? apa-apa nggak boleh itu nggak boleh, kalau sama tante kan enak ada yang nemenin aku "ucap Argani kecil.
"Memangnya pergi ke mana ? " tanya Mayang terhadap anak kecil yang berada di hadapan nya pada saat ini.
"Pergi ke pusat perbelanjaan" jawab anak kecil itu sambil menatap wajah Mayang
"Eh iya aku lupa ternyata ada nenek juga di sini" ucap Argani kecil pun bersalaman terhadap semua orang yang ada di sana.
Radit dan Farwa di persilakan untuk duduk, mereka mengobrol dan ternyata waktu bergulir begitu cepat, Farwa meminta ijin untuk menemui sang aduk, setelah itu ia melangkahkan kakinya untuk segera menemui sang adik yang berada di dalam kamar, karena Faklan tidak mengizinkan istrinya untuk keluar dari kamar.
Hingga beberapa saat Farwa sudah berada di depan pintu kamar sang adik, ia menggerakkan tangannya lalu memutar gagang pintu dengan perlahan. Terlihat dengan jelas sang adik yang berada di atas tempat tidur akan tetapi posisinya duduk, walaupun Faklan menyuruh dari si tidur akan tetapi ia juga bukan anak kecil yang bisa dipaksa untuk tertidur.
Sebetulnya ada isi merasa jenuh berada di dalam kamar, sudah mah keadaan tubuhnya tidak sehat harus sendirian lagi itu juga menambah rasa lemas yang ada di dalam dirinya.
"Kakak, mana Argani nggak ikut ?" tanya Daisy sambil menatap sang Kakak yang melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Ikut, dia di bawah lagi main sama Mayang. Mereka terlihat sangat dekat sekali padahal belum lama Argani mengenal Mayang " jawab Farwa lalu ia duduk Sisi tempat tidur, yang berdekatan dengan sang adik.
"Kamu itu kenapa sih? sehingga Faklan memaksaku untuk datang ke sini, padahal Ayah juga sedang sakit, aku nggak tega ninggalin Ibu dan Ayah di rumah " ucap Farwa sambil menatap lekat wajah sang adik yang terlihat sangat pucat.
"Memangnya Faklan bicara apa sama Kakak ?" Daisy ingin tahu, apa yang dikatakan suaminya terhadap sang Kakak.
"Dia tidak bicara apa-apa, hanya bilang, kamu itu sakit ingin bertemu denganku. Kamu merindukanku bukankah kita kalau dekatan aja sering berantem " ucap Farwa
"Dih apaan, siapa juga yang ingin bertemu sama Kakak, dia aja mengada-ngada, aku orang baik-baik saja enggak sakit, tadi pagi hanya pusing, sama lemes, badan juga panas"ucap Daisy.
__ADS_1
" Aku tahu, kamu itu ada masalah sama Faklan, makanya Faklan memintaku datang ke tempat ini, nggak mungkin kalau hanya sakit, dia itu seheboh tadi " ucap Farwa ia tahu betul, adik iparnya itu seperti apa, kalau hanya dari si sakit, nggak mungkin juga memanggil dirinya untuk datang ke tempat ini.
"Tidak apa-apa hanya saja, aku kesal sama dia, telah menyembunyikan kebenaran. Apa aku salah marah sama dia ?" tanya Daisy terhadap sang Kakak
"Nggak salah sih kalau memang alasannya kuat, akan tetapi kita juga, mesti melihat dari sudut pandang Faklan. Jangan langsung main ngambek, sekarang kamu itu sudah bukan anak kecil ngambek-ngambek terus baik kalau dibujuk dibeliin mainan. Sekarang sudah tua berpikirlah secara dewasa, kalau lihat dari sudut pandang Faklan, kasihan dia menghadapi istri seperti anak kecil. Dikit-dikit ngambek, malu sama Mertu" ucap Farwa sambil menatap wajah sang adik.
"Aku tahu, aku itu egois tapi mau gimana lagi, itu udah jadi, sifatku. Nggak bisa dirubah." jawab sang adik.
"Semua itu butuh proses, mulai sekarang belajar lah lebih bijak menghadapi masalah. Apalagi jika Ayah mendengar nya, dia kepikiran. Sekarang kita bukan hanya memikirkan diri sendiri, tapi ada orang tua juga. Pasti Ayah dan ibu akan sedih jika melihat anaknya seperti itu" kata Farwa dengan nada bicara pelan, akan tetapi mampu di mengerti oleh sang adik.
"Iya, aku minta maaf" ucap Daisy sambil menundukkan pandangan nya.
"Iya, jangan di ulangi hal seperti itu. Kita boleh marah dan kecewa akan tetapi tidak seharusnya di ketahui oleh orang lain, apalagi kita tinggal sama orang tua. Harus hati-hati banget, nanti di kira kamu serakah sama orang tua. Makanya usaha kan sebisa mungkin, jadilah istri yang bisa menutupi semua kesedihan di hadapan orang banyak" Farwa menginginkan sang adik agar lebih bijak.
"Iya, Kak. Tapi itu sangat sulit" ucap Daisy.
"Belajar, semua juga butuh proses. Nggak ada lagi, ngambek pergi dari rumah. Apalagi bikin heboh semua orang" ucap Farwa.
"Iya, ayah sakit apa? "
"Bilang nya cuma pusing, di ajak ke dokter juga nggak mau. Semoga saja hanya pusing"
"Jadi mau ke sana! " ucap Daisy dengan raut wajah yang sedih, ia tidak seberuntung sang kakak yang bisa setiap saat melihat keadaan orang tua. Akan tetapi Farwa juga tidak seberuntung Daisy yang memiliki mertua sangat menyayangi nya.
"Sehat dulu, besok atau lusa bisa datang berkunjung. Tunjukkan kebahagiaan mu di depan mereka, karena saat ini harapan mereka cuma melihat anak-anak nya bahagia" ucap Farwa sambil tersenyum menatap lekat wajah sang adik.
"Oh iya, kak. Sekarang sudah nggak mual lagi? kakak perempuan hebat bisa hamil, sedang kan-" Daisy tidak melanjutkan perkataan nya.
"Hamil atau tidak, kamu itu tetap perempuan hebat di mata Kakak. Jangan pernah berfikir bahwa kamu tidak sempurna ya memang manusia banyak kekurangan, karena kesempurnaan itu hanya milik-Nya" Farwa berkata sambil memegang erat tangan sang adik, karena hanya dengan cara seperti inilah ia menguatkan sang adik.
Akhirnya kakak adik berpelukan, sang kakak si bijak dan adiknya yang barbar. Menang mereka seperti bukan kakak dan adik karena tidak memiliki kesamaan, malah beda jauh seperti tidak ada hubungan darah.
"Kalau begitu aku permisi, Argani butuh alat lukis dan beberapa perlengkapan sekolah. Setelah ini pergi belanja dulu, Nggak bisa ninggalin Ayah sama Ibu terlalu lama" ucap Farwa.
"Iya, maafkan aku sudah merepotkan mu"
"Nggak apa-apa, tapi jangan di ulangi lagi" jawab sang Kakak.
Akhirnya Farwa pun berpamitan terhadap Daisy, dan sang adik pun ikut turun karena ingin bertemu dengan keponakan nya. Sudah lama juga mereka tidak bertemu, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Mereka sudah sampai di ruang keluarga, di mana mereka sedang asik mengobrol. Kedatangan Daisy pun mengalihkan perhatian Argani kecil, sehingga anak kecil itu bangun lalu mendekat ke arah sang Tante.
Farwa mengajak sang suami untuk segera pergi ke tempat tujuan yang lain, Argani kecil memaksa Mayang untuk ikut. Akan tetapi Farwa bisa memberi pengertian bahwa tidak semua yang di inginkan nya itu harus di penuhi.
Mereka berpamitan dan pergi meninggalkan tempat tinggal sang adik.
__ADS_1