Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 50


__ADS_3

Farwa masih diam dan mematung, ia tidak percaya dengan orang yang sekarang berdiri di hadapan nya.


"Apa kamu tidak membiarkan saya untuk masuk! " kata Ambar sambil menatap wajah Farwa.


"Eh, Iya Nyonya, Maaf. Silakan Masuk! " Farwa mempersilakan Ibu mertua nya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Setelah beberapa saat, mereka berdua sudah berada di ruang tengah duduk saling berhadapan.


"Apa kabar kalian? " tanya Ambar terhadap sang menantu.


"Kami baik"


"Aku mohon tolong kembalikan Argani terhadap ku, tolong bujuk dia agar mau pulang ke rumah" kata Ambar dengan nada bicara penuh penekanan.


"Saya tidak mengambil nya dari mu, dia lah yang memaksa ku untuk pergi " jawab Farwa.


"Mungkin saat ini kamu tidak merasakan apa yang ku rasakan pada saat ini, jauh dari anaknya" kata Ambar dengan raut wajah sedihnya.


"Ibu ku sudah merasakan nya, putrinya di ambil secara paksa oleh anak mu. Pada saat itu Keluarga ku menangis memohon terhadap anak mu agar tidak melakukan itu, bahkan jika mereka menentang anak mu akan membunuh seluruh anggota keluarga ku. Apa yang di rasakan anda pada saat ini belum seberapa di banding dengan penderitaan keluarga ku, dan harus Nyonya ingat dengan baik, saya tidak merebut apapun dari mu" ucap Farwa dengan nada bicara yang lembut tapi penuh penekanan.


Seketika Ambar tidak bisa berkata apapun, sebab memang betul apa yang di katakan Farwa.


Penderitaan keluarga Farwa lebih dari apa yang di rasakan Ambar pada saat ini.


"Kamu pernah bilang pada ku, tidak akan pernah mencintai Argani. Mana bisa aku membiarkan anak ku bersama orang yang membencinya" kata Ambar.


"Meskipun saya membenci Argani tapi tidak akan mungkin membunuh nya, saya sudah memohon padanya agar pulang ke rumah tapi nyatanya dia tidak mau"


"Bujuk dia agar mau kembali pada ku! " mohon Ambar terhadap Farwa.


Tanpa mereka sadari ternyata Argani sudah berdiri di belakang sang Mama.


"Mama bicara apa, aku tidak meninggalkan pun" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang Mama yang sudah di penuhi kerinduan.


"Ayolah pulang? "

__ADS_1


"Kami akan pulang jika Papa mau mengakui kesalahannya dan siap di penjara" kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.


"Apa katamu! dia Papamu. Mengapa ingin menjebloskan nya ke penjara, ingat kamu di besarkan dengan kasih sayangnya. Mengapa tidak ada sedikit pun hormat kamu terhadap orang tua hanya karena perempuan seperti dia" Ambar berkata dengan penuh amar sambil menunjuk wajah Farwa.


"Tenyata perempuan yang selama ini ku anggap malaikat pelindung, sekarang terlihat sudah bahwa dia memiliki hati seperti iblis" kata Argani, ia tidak percaya dengan apa yang terlontar dari bibir sang Mama.


Seketika Farwa terlonjak kaget saat mendegar Argani berkata seperti itu, ia selama ini sangat menghormati sang Mama. Akan tetapi mengapa Argani bisa melontarkan kata seperti itu, padahal tidak seharusnya berkata seperti itu.


Ambar pun kaget dengan perkataan yang baru saja di dengar nya, seperti petir di siang hari yang sudah menyambar tubuh nya. Rasanya kaku seluruh tubuh nya, ia tidak menyangka bahwa anak kesayangan nya bisa berkata seperti itu.


"Jaga bicara mu! " bentak Ambar sambil menampar Argani.


"Aku tidak merasa sakit karena di tampar oleh mu, tapi rasa sakit yang ku rasa di saat sosok malaikat membela yang salah" kata Argani sambil mengeluh pipi yang di tampar oleh sang Mama.


"Kamu akan menyesal nanti telah melakukan ini terhadap kedua orang tua mu, dan kamu juga akan merasakan apa yang ku rasakan pada saat ini. Kehilangan orang yang sangat di cintai, maka saat itu tiba kamu akan menyadari apa yang aku lakukan pada saat ini" kata Ambar dengan nada bicara penuh penekanan.


"Dan mesti Mama ingat, aku tidak akan pernah melakukan hal yang sama dengan kalian memperlakukan istri dari anak mu seperti tadi"


Ambar sudah kehilangan kata-kata, sungguh hatinya sangat hancur untuk saat ini.


Saat ini hatinya hancur dengan perkataan Argani yang sudah berani menyebutnya iblis.


"Ingat kata-kata ku, suatu saat kalian akan merasakan apa yang ku rasa! " kata Ambar sambil mengusap air matanya dengan tangan, sebab cairan bening itu sudah tidak mampu lagi untuk di tahan.


Farwa yang menyaksikan hanya diam saja, ia juga bingung harus melakukan apa.


Setelah berkata seperti itu, Ambar berjalan perlahan untuk ke luar dari rumah dengan langkah tertatih. Sungguh hatinya sangat hancur, tubuhnya terasa lemas. Bahkan kakinya sudah tidak mampu lagi untuk menopang bobot tubuh nya.


Hingga beberapa saat ia sudah berada di luar gerbang, tanpa terasa Ambar langsung ambruk dan duduk di tanah.


Rasa sesak di dada mulai menguasai nya, Adnan yang melihat itu langsung keluar dari kendaraan dan menghampiri sang Mama.


"Apa yang terjadi, Ma...? " tanya Adnan.


"Sekarang aku sudah kehilangan nya, anak ku sudah mati" jawab Ambar dengan tatapan mata kosong dengan air mata terus mengalir.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, jangan datang ke tempat ini. Sekarang Mama seperti ini, aku tidak mau melihat Mama seperti ini. Untuk saat ini lebih baik kita biarkan saja dulu, nanti juga kalau amarah nya sudah reda pasti Argani pulang. Dia sangat sayang sama Mama, nggak mungkin tega membiarkan Mama sedih" kata Adnan dengan nada bicara yang lembut.


"Tidak! Argani sekarang sudah berubah, dia tidak sayang lagi sama Mama, dia lebih memilih perempuan itu di banding ibunya sendiri"


"Iya, Ma... ayok bangun, jangan seperti ini! " Adnan mengajak sang Mama untuk bangun, akan tetapi Ambar belum punya kekuatan untuk berdiri.


Setelah beberapa saat Adnan membantu sang Mama untuk berdiri dan di bawa masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan nya pulang.


"Ayolah, Ma... berhenti menangis, nanti kalau Papa curiga bagaimana. Pasti nanti dia sangat Marah sama Mama dan kita akan mendapatkan masalah, sudah terlalu banyak masalah yang kita hadapi. Aku yakin Mama wanita yang sangat kuat" kata Adnan sambil memeluk sang Mama lalu di usahlah air mata sang Mama.


Ia tidak rela melihat sang Mama menderita seperti ini, akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun.


Akhirnya setelah cukup lama, Ambar pun sudah lebih tenang.


Dan ia sudah tidak menangis lagi.


"Bisa kita pulang sekarang? " tanya Adnan terhadap sang Mama.


Ambar tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala. Pertanda ia setuju apa yang di katakan oleh sang anak


Akhirnya Adnan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang.


Di dalam rumah.


Farwa tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Argani.


"Mengapa kamu berkata seperti itu, terhadap Mamamu. Kamu tahu nggak? itu pasti sangat melukai perasaan mu" ucap Farwa sambil menatap heran suaminya.


"Aku melakukan itu demi kamu, dan tidak akan pernah membiarkan siapa pun untuk menghina mu" jawab Argani dengan nada bicara penuh penekanan .


"Jangan pernah melakukan apapun demi aku, dan aku sudah terbiasa di hina dan di rendahkan. Jangan sampai anda juga merendahkan orang lain karena saya, saya tidak butuh pembelaan dari siapa pun! " ucap Farwa sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja meningkatkan Argani yang masih berada di ruang tengah.


Ia tidak setuju dengan tindakan yang di lakukan oleh suaminya.


Setelah Farwa pergi, Argani menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu ia menarik nafas panjang di buang dengan perlahan. Ia berusaha untuk menetralkan semua perasaan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2