
"Mau pergi ke mana lagi kalian?" tanya Amabar terhadap mereka berdua.
"Nganterin Farwa ke rumah sakit, ibunya hari ini mau di operasi" jawab Argani sambil menatap lekat wajah sang Mama.
"Paling juga itu akal-akalan mereka semua untuk menarik perhatian kamu" kata Starla yang muncul entah darimana main langsung nyambar saja seperti bensin bertemu dengan api.
"Jaga bicara mu! " kata Argani sambil menatap tajam wajah Starla, ia tidak suka mendengar orang lain berkata seperti itu terhadap keluarga istrinya.
"Sudahlah, cepat kalian pergi. Semoga ibu mu cepat sembuh" kata Ambar mempersilakan Argani untuk segera pergi, sebab ia tidak suka akan keributan. Sudah pasti Starla akan memancing kemarahan Argani, dan Ambar tidak suka melihat hal itu.
"Terimakasih, Tante" jawab Farwa.
"Eh, kenapa Tante dia itu ibu ku ibu mertua mua, seharusnya panggil Mama seperti aku " kata Argani sambil menatap lekat wajah Farwa.
"Nah, orang miskin tidak tahu tatakrama seperti ini" Starla menimpali.
"Sudah, biarkan saja dia memanggilnya seperti apa jangan di paksakan. Nggak baik sesuatu yang di paksa itu" kata Ambar.
"Ma-maaf" kata Farwa sambil menundukkan pandangan nya.
Akhirnya Argani dan Farwa pergi meninggalkan sang Mama dan juga Starla.
Setelah kepergian Argani, tinggal lah ibu dan menantu.
"Ma... kenapa sih membela dia terus, aku nggak suka. Gara-gara perempuan itu rumah ini tidak ada ketenangan" kata Starla.
"Aku tidak suka keributan, semoga kamu faham apa maksudku! " jawab Ambar sambil meninggal Starla yang masih berdiri.
Starla pun mengepalkan tangan nya saat Ambar pergi meninggalkan nya begitu saja, kali ini ia harus membuat rencana untuk menyingkirkan Farwa dari kehidupan Argani. Starla merasa tidak suka jika perempuan sederhana seperti Farwa menjadi bagian dari keluarga Malik.
Ia kembali ke kamarnya untuk segera bertemu dengan sang suami dan mengeluarkan apa yang ada di pikiran nya.
Setelah beberapa saat, Starla sudah berada di dalam kamar.
"Aku tidak suka dengan sikap, Mama yang membela perempuan itu terus" kata Starla, ia bercerita terhadap suaminya apa yang terjadi pagi ini.
"Memang nya Mama kenapa? sehingga membuat kamu seperti ini? " tanya Adnan terhadap sang istri dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Pokoknya aku tidak suka! " jawab Starla sambil cemberut.
"Terus aku harus bagaimana, selama ini juga kamu dan Mama tidak pernah dekat. Apa bedanya sekarang jika Mama bersikap seperti itu" kata Adnan.
__ADS_1
"Aku tidak suka, Mama membela perempuan sampah itu. Semakin besar kepala dia nantinya jika di perlakuan seperti itu, seharusnya langsung di usir saja dari sini" kata Starla dengan nada bicara penuh dengan amarah.
"Nggak bisa seperti itu, walau bagaimana pun dia itu istri dari Argani yaitu bagian dari keluarga ini juga" jawab Adnan, ia juga tidak setuju dengan sang Papa dan istrinya yang ingin sekali menyingkirkan Farwa dari hidup Argani.
"Kamu juga seperti Mama, bela terus dia meskipun salah. Memang seharusnya aku pergi saja dari rumah ini, untuk apa juga tinggal di rumah ini kalau tidak pernah di hargai dan di anggap" Starla kesal.
"Bukan seperti itu, daripada kita sibuk ngurusin Argani dan istrinya lebih baik kita fokus sama rumah tangga kita saja. Sudah lama kita menikah tapi kamu belum hamil juga, lebih baik kita program hamil dan kamu nggak usah stres seperti ini. Memikirkan hal yang tidak penting" kata Adnan dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Apa katamu! nggak penting, dasar bodoh" ucap Starla dengan nada bicara penuh penekanan.
Setelah berbicara seperti itu, Starla langsung pergi meninggalkan sang suami yang masih berada di dalam kamar.
Di tempat lain.
Argani dan Farwa sudah berada di rumah sakit, mereka berdua langsung turun dari kendaraan.
Lalu berjalan perlahan untuk segera masuk ke dalam, Farwa sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarga nya.
Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di ruang rawat, di mana Zulaikha berada.
Kedatangan Farwa di sambut hangat oleh semuanya, sang bibi juga sudah ada di tempat ini.
"Bi, apa kabar? kapan sampai? " tanya Farwa terhadap sang Bibi.
"Syukur lah kalau baik, paman juga ikut kan? "
"Paman mu lagi ke luar sebentar" jawab sang Bibi.
Setelah beberapa saat ada perawat yang memanggil salah satu anggota keluarga dari pasien yang sedang di rawat.
"Biar aku saja, Bi... " kata Farwa.
"Ngakak usah, kamu tunggu ibu mu... sebentar lagi akan di bawa ke ruang operasi" jawab sang Bibi.
"Baiklah kalau begitu" Farwa mengikuti apa yang di katakan oleh sang Bibi.
Akhirnya Bu Dewi pun pergi ke luar dari ruangan untuk segera pergi ke bagian administrasi, sebab sebentar lagi Zulaikha akan segera di operasi.
"Aku ada urusan sebentar, jika sudah mau pulang hubungi saja aku! " kata Argani terhadap Farwa.
Dan perempuan itu tidak menjawab apapun, setelah berbicara seperti itu.
__ADS_1
Argani pun pergi ke luar dari ruangan.
Argani berjalan dengan cepat untuk segera keluar dari rumah sakit, sebab ia ada pekerjaan yang harus di selesaikan terlebih dahulu. Tanpa di sengaja mendengar percakapan antara petugas Administrasi dengan sang Bibi.
Argani pun mendekati sang Bibi lalu bertanya.
"Apa ada masalah? " tanya Argani.
"Ini pasien harus segera di operasi sedangkan syarat untuk Melakukan itu harus masuk DP pembayaran sebesar tujuh puluh lima persen dari total keseluruhan" kata salah satu petugas yang sedang berjaga.
"Tapi kami belum ada jika harus sebanyak itu, kalau lima puluh persen mungkin kami punya" jawab Bi Dewi.
" Ini kartu milik saya, tolong lakukan pembayaran dari sini" kata Argani sambil menyerahkan kartu tanpa batas miliknya.
Dan petugas itu langsung mengambil nya dan melakukan pembayaran biaya pengobatan Zulaikha menggunakan uang Argani.
Setelah selesai perawat itu ingin mengembalikan kartu nya.
"Tuan ini kartunya" kata orang tersebut.
"Pegang saja, siapa tahu biayanya kurang" jawab Argani.
" Sudah cukup, Tuan"
"Baiklah kalau begitu, tolong kasih tahu saya jika masih kurang" kata Argani sambil mengambil kartu miliknya.
"Terimakasih, Tuan. Operasi nya akan segera di lakukan, silakan tunggu di tempat yang sudah kami sediakan" orang tersebut berkata sambil memberikan bukti pembayaran, bahwa biaya pengobatan Zulaikha sudah lunas. Tinggal menunggu kabar baik untuk segera sembuh dari penyakit yang di derita nya pada saat ini.
Akhirnya Bi Dewi dan Argani pun pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi sebelum pergi Argani berkata.
"Apa ini bagian dari rencana kalian, seperti tentang kematian Farwa pada saat itu" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang Bibi, ia mencari kebenaran lewat sorot matanya.
Bi Dewi tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Argani.
"Kami tidak punya cukup uang untuk menghamburkan nya, untuk biaya rumah sakit ini. Jadi hentikan omong kosong mu" jawab Dewi dengan nada bicara penuh penekanan.
" Siapa tahu kalian kerjasama untuk membohongi ku, agar Farwa bisa dekat dengan kalian " kata Argani.
"Kami tidak serendah itu" Dewi mulai terpancing emosi.
"Nggak usah marah, jika semua itu tidak benar. Tolong jaga istriku dengan baik, aku ada pekerjaan sebentar. Aku permisi, dah Bibi" kata Argani sambil melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari tempat ini.
__ADS_1
Setelah kepergian Argani, Bi Dewi pun segera menuju tempat di mana Zulaikha di rawat.