Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 48


__ADS_3

Keesokan harinya.


Argani sudah bangun begitu juga dengan Farwa, meskipun Argani tidak terbiasa bangun pagi akan tetapi kali ini ia harus bangun lebih cepat. Sebab akan mencari pkerjaan, sekarang Argani sudah duduk di ruang tengah dengan koran di tangan nya. Ia membacanya satu demi satu iklan yang ada di sana, dengan harapan ada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan nya.


Setelah cukup lama Argani berada di ruang tengah, datang lah Farwa dengan membawa secangkir teh.


"Ini teh nya, tapi nggak manis soalnya nggak ada gula" ucap Farwa terhadap sang suami.


"Andaikan kamu tahu apa yang terjadi kemarin, bahwa semua belanjaan di bawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab" batin Argani.


Laki-laki itu hanya diam sambil berbicara dalam batin dan menatap perempuan yang sekarang duduk di hadapan nya.


"Nanti sore aku akan membelinya, jaga diri baik-baik mungkin aku pulang agak sore" kata Argani terhadap sang istri.


"Bawalah ponsel ku, jika kamu akan pergi. Semoga lancar dalam segala urusan di hari ini" ucap Farwa.


"Baiklah aku pergi sekarang yah" jawab Argani sambil bangkit dari duduk nya, baru Argani akan melangkahkan kaki pergi ke luar rumah. Terdengar suara bel.


"Siapa yang datang? " tanya Farwa, ia sedikit takut jika ada orang yang datang ke rumah ini.


"Tunggu sebentar aku akan membuka nya terlebih dahulu" kata Argani sambil melangkah kan kaki lalu mengambil kunci gerbang di atas nakas.


Setelah beberapa saat Argani sudah kembali dan ternyata orang tersebut adalah Faklan.


"Ini aku bawa sarapan untuk kakak ipar, dan kamu juga. Tapi aku nggak suka makanan kesukaan nya jadi aku samakan dengan punya mu" kata Argani sambil meletakkan bungkusan makanan yang sudah di belinya.


"Nggak perlu repot-repot, lagian aku juga pasti masak" jawab Farwa.


"Nggak repot ini baru pertama kali aku membelikan sarapan untuk kalian berdua" kata Faklan, lalu ia duduk di samping Argani.


"Terimakasih banyak, lain kali nggak perlu" ucap Farwa.


"Owh iya hari ini aku mau pergi, mencari pekerjaan dan sudah ada beberapa tinggal datang memasukkan lamaran ke tempat itu" kata Argani.


"Apa mau ku antar"


"Nggak perlu, naik angkutan umum saja" jawab Argani.


"Kalau mau ada sepeda motor tapi itu sudah jelek, masih bisa di pake ko. Biar nggak perlu naik angkutan umum, lebih cepat dan hemat juga " kata Argani terhadap sahabatnya itu.


"Terimakasih banyak, aku selalu merepotkan mu" jawab Argani.


"Nggak perlu lah ngomong seperti itu terus, lagian itu sudah lama tidak di pakai. Sekarang aku ada mobil jadi nggak butuh motor lagi"


"Astaga sekarang sudah bisa sombong yah" jawab Argani.


"Nggak apa-apa sombong sedikit"


"Baiklah kalau begitu ayok kita pergi sekarang takut keburu siang! " ajak Argani terhadap Faklan.


Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan Farwa yang masih berada di rumah, memang Farwa merasa takut ketika di tinggal kan sendirian di rumah.


Akan tetapi mau bagaimana lagi ini harus di lakukan agar mereka bisa bertahan hidup. Ia juga berusaha untuk menguatkan diri agar jangan menjadi perempuan lemah seperti ini, selama diam di rumah Farwa mencari cara untuk membantu Argani agar bisa mengurangi beban hidup mereka.


Ia juga membaca koran dan mencari lowongan pekerjaan. Akan tetapi tidak ada yang cocok menurut nya, padahal sebelum nya ia sudah bekerja sebagai dosen di salah satu kampus di kota ini.


Setelah menikah dengan Argani ia tidak mau kembali lagi ke sana, Farwa ingin mencari suasana baru bersama orang-orang baru juga.


Argani dan Faklan sudah sampai di rumah Faklan, ia akan mengambil motor sahabat nya itu.


Akan tetapi ia di kagetkan dengan orang yang berdiri di teras rumah Faklan.

__ADS_1


"Kakak" gumam Argani, ia enggan bertemu dengan sang kakak. Akan tetapi Faklan memaksanya untuk bertemunya, mungkin ada hal yang penting sehingga membawa Adnan datang ke rumah Faklan.


"Tumben, Abang datang ke gubuk ku. Ada yang perlu di bantu? " tanya Faklan terhadap Adnan.


"Aku dari kemarin menelpon Argani tapi tidak ada jawaban makanya aku datang ke rumah mu untuk mencari keberadaan nya" jawab Adnan sambil menatap sang adik yang berdiri di samping Faklan.


"Ini dia, baru saja kami datang " jawab Faklan.


"Untuk apa mencari ku, bukankah sudah tidak ada hubungan lagi di antara kita" jawab Argani dengan nada bicara yang datar.


Sungguh ia sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga nya, yang menurut Argani sudah tidak memiliki hati nurani.


Rela kehilangan anak demi harga diri yang di junjung tinggi.


"Jangan seperti itu! Mama sakit nanyain kamu terus. Ayolah jangan seperti ini, pulang yah kasian Mama " kata Adnan dengan nada bicara yang lembut ia berusaha agar sang adik mau merubah keputusan nya.


"Jangan meminta ke padaku, tapi mintalah kepada Tuan Malik yang terhormat itu, kalau saja bukan karena dia ingin membunuh istri ku. Maka semua ini tidak akan terjadi dan Mama tidak akan sakit" jawab Argani dengan nada bicara penuh penekanan.


"Hentikan! walau bagaimana pun dia tetap Papa kita, dan selama ini aku tahu Papa dia tidak pernah berniat jahat bahkan sampai membunuh orang lain" jawab Adnan, ia masih belum menerima jika Argani mempercayai omongan bahwa dalang dari kecelakaan yang menimpa Farwa adalah ulah dari Malik.


Mungkin di sini Adnan tidak mengetahui kejahatan sang Papa, akan tetapi Starla sangat tahu betul apa yang terjadi sesungguhnya.


Maka dari itu Adnan tetap yakin bahwa ada orang yang berniat jahat yang ingin memisahkan anak dari ayahnya.


"Iya aku tahu itu, tapi dia sudah melakukan kesalahan. Apa aku tidak boleh protes jika dia salah, apa yang Kakak lakukan jika Papa yang selama ini kamu bangga kan, bahkan selalu di anggap malaikat telah berencana ingin membunuh istri mu? ayo katakan!" kata Argani dengan nada bicara sedikit meninggi.


Adnan diam sejenak, ia berusaha untuk memenangkan hati dan pikiran nya. Ia mencari cara agar Argani mau ikut pulang dengan nya.


"Aku akan bicara sama ayah semoga kalian bisa pulang lagi ke rumah, kamu mau kan! " kata Adnan dengan nada bicara yang lembut, ia berusaha sebisa mungkin agar adik nya luluh dan mau kembali ke rumah.


"Kalau kami tidak ingin kembali ke rumah itu bagaimana, jadi mulai sekarang nggak usah mencari ku dan membujuk ku untuk kembali ke rumah. Karena itu semua tidak akan mengubah kenyataan, bahwa kami tidak akan pernah menginjak lagi rumah itu" kata Argani dengan tegas.


"Bilang sama, Mama aku baik-baik saja! " kata Argani sambil pergi berlalu.


Dan setelah itu ia mengambil motor milik sahabatnya, dan pergi begitu saja meninggalkan Adanan yang masih berdiri di halaman rumah Faklan.


Setelah kepergian Argani, Adnan menghampiri Faklan yang berdiri tidak jauh dari nya.


Lalu ia duduk di kursi yang ada di teras sambil menatap lekat wajah Faklan.


"Aku minta tolong terhadap mu, berikan apapun yang menjadi kebutuhan mereka berdua nanti aku akan menggantinya" kata Adnan terhadap Faklan.


"Argani tidak mau menerima apapun dari ku, rumah saja dia sewa. Dan sekarang dia tidak mempunyai ponsel, kemari sudah di jual dan barang belanjaan nya di ranpas oleh segerombolan orang" Faklan menjelaskan apa yang terjadi dengan Argani.


"Terus sekarang dia tidak pegang ponsel? "


"Tidak" jawab Faklan.


"Ya sudah kamu kasih apa yang menjadi keperluan nya, tapi jangan sampai dia curiga bahwa itu semua dari ku" kata Adnan.


"Tapi, Bang"


"Pokoknya, lakukan apa yang saya perintah kan! "


"Baiklah"


"Kalau begitu aku permisi" ucap Adnan.


Setelah berbicara seperti itu, Adanan langsung pergi meninggalkan Faklan yang masih duduk di kursi yang ada di teras.


"Hadehhh, masalah baru lagi ini" kata Faklan dalam batin.

__ADS_1


Sungguh ini sangat sulit bagi Faklan, Argani juga tidak semudah itu untuk di bujuk dan menerima bantuan dari orang lain.


...****************...


Waktu bergulir begitu cepat


Argani sudah masuk ke beberapa perusahaan akan tetapi belum ada yang mau menerimanya, apalagi mereka tahu bahwa Argani anak dari Malik.


Baru tahu namanya saja, mereka sudah takut duluan.


Argani merasa capek dan hays, ia menepikan kendaraan nya terlebih dahulu.


Lalu ia membeli air mineral untuk mendinginkan tenggorokan nya.


Tanpa di sengaja ia melihat toko sembako dan tertera papan iklan di depan toko itu.


Dengan penuh semangat Argani mendorong kendaraan nya, sebab layaknya tidak jauh dari tempat ia membeli minum.


Setelah beberapa saat Argani sudah sampai di tempat itu, lalu ia berjalan dengan perlahan dan mencari pemilik toko.


"Apa di sini membutuhkan karyawan? " tanya Argani terhadap pemilik toko.


"Kebetulan sekali kami sangat membutuhkan nya"


"Kalau begitu bolehlah kah saya bekerja di tempat ini? " tanya Argani terhadap pemilik toko.


"Justru kami sangat berterimakasih kepada anda sebab datang di waktu yang tepat" jawab Pemilik toko.


"Mulai kapan saya bisa bekerja? " tanya Argani.


"Mulai hari ini juga bisa"


"Baiklah, saya mulai bekerja hari ini ya" jawab Argani.


"Jadi apa yang harus saya kerjakan? " tanya Argani terhadap pemilik toko.


"Ikut dengan mereka, kebetulan sebentar lagi akan datang barang. Jadi kamu bongkar barang tersebut dan simpan di gudang"


"Baiklah"


Setelah cukup lama Argani menunggu, dan mobil yang membawa barang sudah tiba.


Argani beserta beberapa rekan kerjanya, sudah mulai membongkar barang tersebut.


Bagi Argani ini pertama kalinya melakukan hal ini, meskipun terasa berat akan tetapi ia ingin mendapatkan pekerjaan.


Walaupun seperti apa pekerjaan nya yang penting bagi Argani menghasilkan uang dan itu halal. Untuk menafkahi istrinya, bukan dari harta orang tuanya.


Waktu bergulir begitu cepat, malam telah tiba.


Argani sudah selesai dengan pekerjaan nya, dan ia sangat bahagia ketika menerima upah hasil dari kerja kerasnya.


" Ini upah kamu untuk hari ini" kata pemilik toko sambil menyarankan uang seratus ribu satu lembar.


Argani tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk mengambil uang tersebut.


"Terimakasih banyak" ucap Argani.


Setelah menerima uang tersebut, Argani langsung pergi dengan hati yang bahagia.


Mungkin uang nya tidak banyak tapi menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi Argani.

__ADS_1


__ADS_2