Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 124


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat.


Satu minggu telah berlalu, Radit dan Farwa sudah pindah ke rumah yang di tempati oleh Adnan. Begitu juga dengan Mahad dan Zulaikha ikut bersama mereka, padahal kedua orang tua Farwa menolak untuk ikut bersama mereka. Lebih memilih tinggal di ruko yang sekarang di tempati begitu juga dengan Farwa ia setuju dengan keputusan orang tuanya, akan tetapi Radit tidak terima itu semua. Ia tidak mau meninggalkan mertuanya begitu saja, walaupun di sana tempat nyaman walaupun sempit. Akan tetapi ia mau berkumpul bersama keluarganya, lagian sudah kewajiban seorang anak membuat orang tuanya tinggal di tempat lebih nyaman dan aman. Atas paksaan dari Radit, akhirnya mereka mau ikut bersama nya.


Adnan pun sangat senang dengan kedatangan mereka ke rumah itu.


Kegiatan di pagi hari, seperti biasa Farwa di disibukan dengan aktifitas seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga yang lain, padahal ada banyak pelayan di rumah ini akan tetapi Farwa tetap mengerjakan nya sendiri. Padahal mereka merasa tidak enak jika majikan mereka yang melakukan semua ini.


"Nyonya, biar kami saja yang melakukan nya! nanti Tuan marah kalau harus mengerjakan ini, sedangkan kami di bayar untuk bekerja" kata salah satu dari mereka, perempuan yang sudah tidak lagi muda namun masih semangat untuk bekerja.


"Nggak perlu takut, aku melakukan ini tidak ada paksaan dari siapa pun. Kebetulan juga aku suka memasak dan suami ku juga suka dengan apa yang aku masak" jawab Farwa sambil tersenyum menatap perempuan yang kebingungan berada di hadapan nya.


"Tapi, Nyonya... kami di sini ngapain? "


"Kan masih ada pekerjaan yang lain, mbak bisa melakukan pekerjaan yang lain. Dan membantu saya seperti memotong sayuran dan yang lainnya, kalau bekerja sama jadi terasa ringan pekerjaan kita" Farwa berkata sambil tersenyum.


Akhirnya mereka pun melanjutkan, masak bersama dan pelayan yang bekerja di rumah itu merasa bangga punya majikan seperti Farwa, yang melakukan pekerjaan dapur sendiri padahal tidak seharusnya melakukan itu karena mereka di bayar juga untuk bekerja. Tapi Farwa punya prinsip lain, yaitu suami wajib dia yang mengurus termasuk juga menyiapkan makanan.


Satu jam telah berlalu, kegiatan masak di dapur pun sudah selesai.


Semua menu sarapan sudah tersaji di meja makan, Farwa kembali ke kamar untuk menyiapkan kebutuhan suaminya. Mungkin hari ini ia akan pergi ke toko milik nya, sebab sudah beberapa hari ia tidak pergi ke sana.


Setelah beberapa saat ia sudah berada di dalam kamar, dan Radit pun baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang.


"Mau pergi ke toko nggak? " tanya Farwa sambil mendekat ke arah suaminya yang sedang berdiri di depan kemari pakaian.


"Mengantar mu ke rumah makan, setelah itu mau pergi ke kantor nya kakak. Ada yang akan di bicarakan di sana, ada beberapa hal untuk penyelesaian hotel dia butuh pendapat ku" jawab Radit.


"Owh seperti itu, biar aku saja yang mengambil baju gantinya! " kata Farwa sambil membuka lemari pakaian.


Dan Radit pun membiarkan Farwa melakukan itu, karena memang itu kebiasaan sehari-hari Farwa selalu memenuhi kebutuhan dirinya jadi sudah tidak asing lagi.


Satu bulan mereka bersama sudah mampu Radit memahami Farwa, dan kebiasaan apa saja yang sering di lakukan perempuan itu.


Dan Radit juga sudah Mengetahui apa saja yang di takuti dan di sukai perempuan yang berstatus sebagai istri nya.


Farwa sangat takut akan kegelapan dan hujan apalagi di sertai listrik padam, sudah pasti perempuan ini akan sangat ketakutan.


"Semoga suka dengan yang ku pilih" kata Farwa sambil menyerahkan kemeja berlengan pendek dan celana panjang, karena memang Farwa sangat suka ketika Radit mengenakan pakaian seperti itu terlihat menambah ketampanan nya.


"Aku selalu suka apapun yang kamu pilih" jawab Radit sambil mengulurkan tangan nya mengambil baju tersebut.

__ADS_1


Radit pun berganti pakaian di hadapan Farwa, sekarang sudah tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Sudah terlihat bahwa Radit sudah mulai nyaman bersama Farwa, bahkan sekarang tidur pun sudah di kasur yang sama. Karena Argani kecil pun sudah mempunyai kamar yang berbeda, jadi mereka hanya tidur berdua.


Sekarang sudah tidak ada jarak yang menghalangi mereka lagi, untuk ingatan Radit. Farwa juga tidak perlu mempermasalahkan itu semua, sebab untuk saat ini mereka sudah nyaman dengan posisi saat ini.


Setelah semuanya selesai, mereka berdua keluar dari kamar dan segera menuju ruang makan. Di mana seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di sana, akan melakukan sarapan bersama.


Seluruh anggota keluarga, sudah siap menikmati sarapan bersama. Dengan telaten Farwa mengisi piring suaminya dengan menu sarapan pagi ini, kehangatan pun tercipta di ruang makan.


Kegiatan rutin setiap pagi selalu terjalin, karena saat makan lah mereka bisa merasakan kedekatan antara anggota keluarga satu dengan lainnya. Di sinilah bisa di rasakan mempunyai keluarga yang seutuhnya itu, ketika di meja makan bisa makan bersama.


Yang sebelum Adnan hanya sendiri duduk sambil menatap makan di meja, kali ini suasana nya berbeda. Ternyata selama ini Adnan sangat merindukan hal seperti ini, tidak terasa mereka sudah menghabiskan sarapan nya.


Dan sekarang sudah beranjak dari meja makan, sedangkan Adnan juga sudah siap untuk berangkat ke kantor.


"Kak, aku datang nya agak siang nggak apa-apa kan! " kata Radit.


"Terserah kamu saja, kapan ada waktunya. Lagian hari ini di kantor tidak terlalu sibuk juga, jadi aman" jawab Adnan.


"Baiklah kalau begitu, jadi nggak terburu-buru juga datang ke sana nya. Aku juga akan bertemu dengan orang yang akan menjadi kontraktor pengerjaan gedung baru untuk rumah makan Farwa" kata Radit.


"Memang kamu mau pake jasanya siapa, kontraktor yang mengerjakan pembangunan hotel itu lebih bagus sudah teruji juga kwalitas dan dan hasil kerja nya" kata Adnan.


"Mereka hanya nerima partai besar, nggak mungkin mau nerima hanya pembangunan gedung dua lantai itu tidak menguntungkan bagi mereka" jawab Radit, ya memang betul. Perusahaan itu sudah besar dan hanya menerima proyek besar dengan untung yang lumayan banyak.


"Nanti tanya Farwa dulu, ini kan dia yang punya. Aku tidak punya hak sepenuhnya atas semua itu, hanya membantunya mencari solusi untuk hasil yang terbaik, dan untuk arsitektur nya kita udah sepakat mau pake jasa nya Mayang" jawab Radit.


"Baiklah kalau begitu, aku berangkat sekarang! "


"Iya, hati-hati di jalan" pesan Radit.


Setelah Adnan pergi, ternyata ia melupakan sesuatu. Dan merasa ada yang kurang, ternyata pagi ini ia belum bermain bersama jagoan kecilnya. Tadi di meja makan juga, Argani kecil tidak ikut makan bersama karena ia sudah di kasih sarapan oleh sang Nenek sebelum mereka yang makan.


Radit pun berjalan perlahan untuk segera menuju kamar jagoan kecil nya, akan tetapi sebelum sampai di kamar dan ternyata anak itu baru saja keluar dari kamar sambil berlari.


"Ada apa sampai lari-lari seperti ini? " tanya Radit sambil menghentikan putranya, dan di pegang lah ia masih takut jiga Argani kecil terjatuh lagi bagaimana.


"Ibu nggak mau mengajak ku, makanya aku lari mau masuk lebih dulu ke mobil. Kalian berdua pergi dan aku di tinggalkan" kata Argani kecil dengan nada bicara khas anak.


Setelah beberapa saat Farwa pun muncul dari arah kamar, dan Radit pun menatap perempuan yang sedang berjalan mendekat ke arah nya.


"Sayang... di rumah kan ada Kakek sama Nenek, terus banyak mainan juga. Kalau di rumah banyak temen, lah ikut ke sana jadi nanti jenuh nggak ada siapa-siapa. Ayah juga ada pekerjaan, jadi untuk hari ini di rumah saja dulu. Ayah janji akan pergi mengajak mu ke tempat bermain, oh iya nanti hari minggu kita pergi ke tempat yang bagus apa mau? " Radit pun berkata dengan nada bicara yang lembut agar bisa di terima oleh anak kecil itu.

__ADS_1


"Nggak bohong kan? atau Ayah sama Ibu mau membuang ku, sekarang saja aku tidur sendiri di kamar yang berbeda dan ibu sama Ayah tidur berdua. Padahal Ayah sudah besar nggak harus di temenin ibu" kata Argani kecil sambil cemberut.


Perkataan konyol dari anak kecil, sungguh membuat Radit semakin gemesh.


Farwa dan Radit hanya saling melempar tatapan, dengan perkataan anak nya itu. Sungguh tidak menyangka bahwa anak sekecil Argani bisa berkata seperti itu.


"Mana mungkin Ayah membuang mu, kamu itu jagoan Ayah yang paling di sayang. Paling juga nambah biar nggak kesepian lagi" jawab Radit sambil menangkup kedua pipi sang jagoan.


"Bener ayah nggak akan membuang ku? "


"Astaga, sayang pikiran apa itu. Mana bisa seperti itu, nggak akan pernah orang tua membuang anaknya" Farwa ikut menimpali sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang sedang merajuk.


"Baiklah kalau begitu, aku nggak akan ikut tapi nanti malam Ayah nggak boleh tidur sama Ibu" jawab Argani kecil sambil menyilang kan tangan nya di atas dada.


"Mana bisa seperti itu, bagaimana mau punya adik kalau tidur saja nggak boleh bersama ibu" kata Radit sambil menarik nafas panjang.


"Kalau begitu, kita tidur bertiga! " anak kecil itu berbicara sambil cemberut.


"Ok kalau begitu, sekarang di rumah dulu ya sama Nenek. Ayah dan ibu pergi dulu, ingat jangan suka manjat-manjat! " pesan Radit terhadap jagoan kecilnya.


"Iya, Ayah" jawab Argani kecil dengan nada bicara yang malas.


Akhirnya Zulaikha pun datang menghampiri mereka, lalu mengajak anak kecil itu ke taman belakang untuk meliat kelinci karena Mahad baru saja membelinya. Siapa tahu Argani suka dengan binatang itu, setelah Argani pergi ke belakang. Radit sama Farwa pun berjalan perlahan untuk segera menuju keluar rumah dan melakukan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan hari ini.


Kedua nya sudah berada di dalam kendaraan dan sudah siap untuk berangkat, seperti biasa Radit melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang.


Pagi yang sangat cerah, kendaraan pun sudah mulai memadati jalanan, sehingga menambah keindahan jalanan di pagi hari. Mentari pun begitu cerah menyinari bumi yang indah ini, sehingga orang-orang yang ada di muka bumi ini. Selalu menanti kehadiran mentari pagi, tanpa terasa kendaraan yang membawa mereka juga sudah berhasil berhenti di depan rumah makan.


"Apa nggak mau turun dulu? " tanya Farwa terhadap sang suami.


"Nanti saja, sekarang lagi buru-buru" jawab Radit, sekarang ia memang sedang terburu-buru jadi nggak ada waktu banyak untuk mampir terlebih dahulu.


"Ya sudah, hati-hati di jalan! tapi jangan pindah ke lain hati" kata Farwa sambil tersenyum tipis.


"Pindah ke hati siapa? "


"Siapa tahu nanti di jalan bertemu dengan janda pirang" kata, Farwa sambil menatap lekat wajah sang suami.


"Aku bukan orang seperti itu, jangan khawatir" jawab Radit sambil mengelus rambut sang istri dengan lembut.


"Aku turun"

__ADS_1


Akhirnya Farwa pun turun dari kendaraan tersebut, lalu Radit pun melajukan kembali kendaraan nya dan meninggal kan istri nya di rumah makan.


__ADS_2