
Di rumah Farwa, mereka semua sedang berkumpul bersama. Termasuk juga Radit, ia datang ke toko hanya sebentar, itu juga hanya untuk memastikan saja bahwa para pekerja di sana dalam keadaan baik dan tidak ada masalah.
Argani kecil selalu nempel padanya, bahkan hanya untuk ke kamar mandi pun anak kecil itu mesti ngintil.
Meskipun seperti itu, akan tetapi hal ini yang membuat Radit semakin sayang terhadap Anak kecil itu.
Mereka akan makan siang bersama, karena tidak memiliki tempat yang cukup. Akhirnya mereka akan pergi ke lantai bawah di mana akan makan bersama di sana.
Meskipun Radit menolak nya, karena ini waktunya para pelanggan datang ke tempat mereka. Masa ia di ganggu oleh mereka yang tidak melayani tamunya, malah sibuk makan bersama keluarga nya. Zulaikha memberi pengertian terhadap Radit, kapan lagi kita bisa makan bersama seperti ini. Sedangkan bertemu anggota keluarga pun tidak setiap hari seperti ini, akhirnya Radit pun mau mengikuti apa yang di katakan ibu mertua nya.
Mereka sudah bersama berada di lantai bawah, dan ngumpul bersama.
Kebetulan juga tempat nya sangat luas, jadi pelanggan tidak terganggu dengan mereka. Akan tetapi hati Radit merasa tidak enak, ketika di liatin para pelanggan yang datang ke tempat ini.
Makan sudah siap di hidangkan, Zulaikha orang nya sangat cekatan sekali. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, akan tetapi masih bisa beraktivitas dengan baik sebagaimana mestinya. Meskipun ia mempunyai riwayat yang buruk soal kesehatan nya, akan tetapi sekarang sudah sehat kembali seperti semula.
Akhirnya mereka menikmati makan siang bersama, dan untuk pertama kali nya setelah terpisah selama dua tahun dan inilah momen yang mereka sangat rindukan, bisa ngumpul bersama di meja makan. Meskipun Radit tidak bisa mengenal Farwa, baginya tidak terlalu jadi masalah yang terpenting masih bisa melihat laki-laki itu dalam keadaan bernafas. Farwa tidak akan menghilangkan kesempatan ini, untuk membuat Radit mengingat kembali apa yang pernah mereka lalui bersama. Dengan perlahan Farwa akan membuat Radit ingat siapa dirinya, dulu Radit yang berjuang mendapatkan cinta Farwa. Sekarang Farwa yang harus berjuang lebih keras untuk membuat, Radit mengingat nya dan bisa mencintai Farwa kembali seperti waktu dulu.
Farwa selalu menyisakan kebutuhan Radit, terkadang Radit menolak mendapat perlakuan Farwa seperti itu. Ia selalu berkata bahwa dirinya lebih suka melakukan apapun sendiri jika ia masih mampu melakukan nya, bagi Farwa ini cara agar Radit mampu mengingat dirinya. Meskipun tidak ingat dirinya, Farwa berharap bahwa akan ada cinta dari Radit untuk dirinya.
Di meja makan mereka terlihat sangat bahagia bisa berkumpul bersama, meskipun kebersamaan mereka hanya sementara karena Faklan bersama Daisy akan kembali ke kota di mana mereka tinggal.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, makanan sudah habis dan mereka sangat menikmati nya. Laki-laki yang ada mereka hanya mengontrol santai termasuk juga Faklan, Radit, dan Mertua nya. Sedangkan para perempuan merapikan peralatan yang telah mereka gunakan, ini di lakukan agar ngobrol nya lebih nyaman tanpa ada peralatan kotor di dekat mereka. Setelah semuanya selesai, Farwa pun duduk kembali di dekat Radit yang dari tadi Argani kecil duduk di pangkuan nya akan tetapi laki-laki itu tetap santai seperti tidak menjadi beban.
"Sayang, tidur siang yuk bersama ibu. Ayah nya lagi ngobrol sebentar sama Om dan kakek. Ibu yang temenin" kata Farwa sambil mengulur kan tangan nya untuk menggendong putranya.
Akan tetapi anak kecil itu menolak nya untuk tidur siang bersama sang ibu.
"Aku mau sama Ayah tidur nya, nggak mau sama ibu! " jawab Argani kecil sambil cemberut. Sekarang anak kecil ini lebih dekat dengan Radit di bandingkan dengan Farwa entah kareer Radit itu laki-laki sehingga bisa memahami apa yang di inginkan anak kecil itu.
"Ayah kan lagi bersama mereka, jadi sama ibu saja yah... nggak baik loh jadi anak nggak nurut sama ibu, nanti jadi malin kundang" kata Farwa.
"Sama ibu dulu ya, Sayang nanti Ayah nyusul nggak enak sama om dan kakek, masa di tinggal" Radit berkata dengan lembut sambil menatap wajah anak kecil yang belum tahu apapun selain main.
Setelah Farwa pergi meninggalkan mereka bertiga, karena para perempuan yang lain kembali di sibukkan dengan aktifitas nya di dapur.
"Dit, elu nggak ingat apapun tentang masa lalu? " tanya Faklan sambil menatap lekat wajah Radit, karena terlihat jelas dari wajah Radit seperti orang bingung ketika berada di hadapan mereka berdua. Meskipun bersama Mahad untuk yang pertama kalinya, akan tetapi kali ini ia seperti akan di sidang oleh mertua dan ipar.
"Apa yang harus ku ingat? bagi ku nggak penting masa lalu, yang terpenting masa kini dan masa depan. Karena kita tidak hidup di masa lalu. Untuk apa juga memaksakan untuk mengingat hal itu mungkin Tuhan tidak mau aku mengingat hal itu, bisa saja pada saat itu aku manusia yang jahat atau penuh dengan dosa. Makanya Tuhan menghilangkan semua ingatan ku agar bisa hidup lebih baik ke depannya" jawab Radit dengan nada bicara lembut, Faklan pun yang mendengar nya sungguh belum bisa percaya bahwa ini adalah sahabatnya yang bersifat arogan dan selalu membuat orang ketakutan dengan semua kelakuan nya.
"Ya setidaknya elu ingat Farwa lah, dia itu istri yang sangat di cintai, bahkan elu juga rela ninggalin semuanya demi hidup bersamanya" kata Faklan.
"Jika memang Tuhan mengijinkan untuk kami saling mencintai dan hidup bersama layaknya keluarga yang lain, maka. Semesta akan selalu mempunyai cara untuk membuat kami tetap bersatu. Aku sangat yakin bahwa rencana Tuhan itu lebih indah, aku tidak akan berusaha untuk mengingat apapun yang telah terjadi akan tetapi aku akan belajar untuk membuat Farwa dan Argani tidak kekurangan kasih sayang dan mendapatkan kehidupan yang seharusnya mereka terima"
__ADS_1
Mahad yang mendengar pernyataan dari Radit, sungguh ia sangat menyukai Radit yang sekarang di banding yang dulu.
Sebab Radit yang sekarang berbeda jauh dengan yang dulu, mungkin ini juga bagian dari rencana Tuhan untuk kebaikan keluarga mereka.
"Ya sudah nggak perlu kita membicarakan apa yang telah berlalu, sekarang kita adalah keluarga sudah seharusnya tinggal bersama dan menyayangi satu sama lain. Apa kamu juga tidak ada niat untuk pindah ke kota ini, sekarang Ayah dan ibu juga semakin tua. Ingin sekali terus seperti ini, kumpul bersama anak dan cucu" kata Mahad sambil menatap lekat wajah Faklan.
"Sebetulnya aku juga sudah ada rencana untuk pindah ke kota ini, akan tetapi untuk sekarang masih bingung. Di sini akan memulai bisnis dari mana dulu, sedangkan peluangnya sangat kurang" jawab Faklan.
"Iya juga sih, tapi Ayah sangat berharap bisa kumpul bareng bersama kalian di sisa usia ini" kata Mahad dengan penuh permohonan.
"Do'a nya saja Ayah, semoga ada jalan unituk bisa menetap di kota ini dekat dengan kalian semua" jawab Faklan.
Mereka bertiga akhirnya ngobrol bersama dan bertukar cerita dan pengalaman, dan Faklan ada ide saat Radit menceritakan bisnis nya. Di daerah sini banyak penati dan masih belum tersedia toko-toko pupuk dan bibit tanam untuk para petani yang ada di daerah sini. Akhirnya Faklan pun kepikiran untuk membuka bisnis seperti ini, dan niatnya pun di setujui oleh Mahad, dan memang ini juga rencana yang bagus.
"Ide bagus itu, nggak apa-apa untuk sekarang hanya sebagai penjual pupuk. Siapa tahu nanti bisa mempunyai pabrik pupuk, kan kita nggak tahu ke depan nya seperti apa" kata Radit, ia memberikan semangat terhadap Faklan. Bagi Radit itu memang peluang yang sangat bagus.
"Aku akan mencoba nya, semoga bisa" jawab Faklan.
Di saat mereka sedang asik mengobrol dan membicarakan soal apa yang akan mereka kerjakan nantinya, ada seorang perempuan yang memanggil Faklan.
Seketika ketiga laki-laki itu mengalihkan pandangan nya ke arah sumber suara.
__ADS_1