
"Non, sudah di tunggu di depan! " kata seorang pelayan terhadap Mayang.
"Siapa, Bi? " tanya Mayang sambil meletakkan gelas air minum nya.
"Itu, Non" jawab Bi Nay ragu.
"Itu siapa? perasaan aku nggak janji sama siapa pun deh" ucap Mayang heran, karena memang ia tidak memiliki janji dengan siapa pun untuk bertemu sepagi ini.
Lagian tidak biasanya juga ada tamu datang ketika masih pagi.
"Coba kamu lihat saja dulu, nggak mungkin juga kan orang yang nagih utang" kata Ratih sambil menatap lekat wajah sang putri.
"Mungkin itu pacar kamu, mau nganterin ke kantor" kata Faklan, terhadap sang adik.
"Ahh, aku nggak punya pacar" jawab Mayang dengan jujur, dan memang itu kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki pacar.
"Masa iya, gadis cantik seperti mu tidak punya pacar atau nggak mau pacaran maunya langsung nikah" ledek Faklan terhadap sang adik.
"Kakak, mana ada yang mau sama aku. Yang nggak cantik ini" jawab Mayang sambil cemberut.
"Nggak baik, bicara seperti itu. Bersyukur kita memiliki anggota tubuh yang lengkap" Daisy menimpali ucapan Mayang.
"Tuh dengar perkataan kakak ipar mu, bersyukur dengan apa yang kita miliki pada saat ini" ucap Ratih sambil menatap Mayang.
"Iya, Ma... aku ke depan dulu, siapa yang datang se pagi ini" kata Mayang, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah kan kakinya untuk segera melihat siapa yang datang.
Setelah kepergian Mayang, tinggal lah mereka bertiga di ruang makan.
"Mas... boleh kah aku pergi mengunjungi ibu hari ini? " Daisy meminta ijin terhadap sang suami untuk pergi mengunjungi sang ibu, sebab sudah sangat rindu sekali untuk segera bertemu dengan nya.
__ADS_1
"Mau pergi ke sana, sama Mama saja. Lagian Mama juga belum terlalu banyak mengenal anggota keluarga mu" Ratih menimpali ucapan menantunya yang meminta ijin terhadap sang suami.
"Untuk apa pergi ke sana, nanti malam aku sudah mengundang mereka untuk makan malam di sini. Tunggu saja di sini, nanti juga akan datang " ucap Faklan.
"Lah, kenapa nggak bilang kalau mengundang besan ke rumah ini. Kan Mama bisa mempersiapkan semuanya untuk mereka, lagian ini acara untuk petama kalinya kita ngumpul bersama keluarga Daisy, jadi harus spesial dong. Kalau begitu, kita mesti belanja untuk menjamu mereka" jawab Ratih dengan antusias.
"Kamu undang mereka datang ke sini? "
"Iya, oh iya. Ma... nggak perlu repot-repot mama menyiapkan semua nya, karena aku sudah meminta Bi Nay untuk mengurus nya, Mama sama Daisy cukup duduk manis dan menyaksikan mereka bekerja, aku nggak mau kedua bidadari ku kecapean" kata Faklan, lalu mengelap bibirnya dengan tissue.
"Astaga, Masa iya hanya menyiapkan seperti itu jadi capek. Kan sudah terbiasa juga melakukan hal seperti itu. Meskipun di bantu bi Nay. Itu mah lebay namanya" jawab Daisy, ia merasa nggak nyaman jika tidak boleh melakukan pekerjaan dapur, padahal ia ingin belajar menjadi istri yang baik yang bisa memasak dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Selama ini ia hanya bisa membuat telor ceplok sama rebus air. Terkadang telor ceplok nya juga gosong, karena Daisy beda lagi dengan Farwa anak ini memang tidak pandai jika mengoperasikan alat dapur, ia hanya pandai mengoles tinta dengan kuas-kuas yang dia miliki sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang bagus.
"Itu namanya Faklan sayang sama kamu, dia nggak mau kamu capek hanya untuk mengerjakan pekerjaan dapur. Betul juga kata dia, sudah banyak yang mengerjakan jadi kita hanya mengawasi saja" jawab Ratih sambil tersenyum tipis menatap wajah menantunya.
Akhirnya mereka Melanjutkan percakapan ringan, karena pada saat sarapan lah waktu mereka ngobrol bersama.
Sementara di luar rumah.
Mayang sudah sampai di teras, lalu ia melihat dari atas hingga ke bawah seorang lelaki yang sedang berdiri membelakangi nya.
Dari postur tubuh ia hafal, akan tetapi nggak yakin bahwa itu adalah Adnan.
"Pak, Adnan! " kata Mayang dengan nada bicara ragu-ragu, soalnya ini pertama kalinya Adnan datang se pagi ini ke rumah Mayang.
Laki-laki itu pun berbalik badan, lalu tersenyum sambil menatap lekat wajah perempuan yang berdiri di hadapan nya pada saat ini.
"Selamat pagi dunia ku! " ucap Adnan dengan senyum mengembang di bibirnya.
Mayang mengerutkan alisnya, mengapa bos nya tiba-tiba seperti ini. Apakah pagi ini salah minum obat atau apa.
__ADS_1
"I-iya, ada apa yah, pagi-pagi datang ke rumah saya, apakah ada pekerjaan yang darurat sehingga memaksa bapak untuk datang ke sini?"
"Berhenti memanggilku bapak, Karena saya bukan bapak mu" kata Adnan.
"Lah, memang lebih pantas jadi Bapak nya Mayang... jangan suka lupa sama usia bahwa sekarang sudah tidak lagi muda. Tuh liat uban juga sudah banyak" kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di belakang Mayang.
Siapa lagi kalau bukan sang kakak yang super iseng, sehingga membuat Adnan jadi salah tingkah ketika Faklan berdiri di belakang Mayang.
"Ya, usia boleh tua tapi jiwa tetap harus semangat muda, iya kan! Mayang" jawab Adnan sambil tersenyum tipis, lalu menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Siapa? Mas... " Daisy datang sambil membawakan tas kerja milik suaminya, setelah berada di depan ia baru mengetahui bahwa yang datang adalah Adnan.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu. Jaga diri baik-baik ya sayang. Oh iya untuk mu adik ku satu-satunya, jangan pernah terjebak oleh perangkap buaya rawa! " Faklan berpesan terhadap sang istri lalu menatap adik perempuan nya.
Faklan pun berpamitan untuk segera pergi ke kantor dan meninggalkan mereka semua, begitu juga dengan Daisy. Ia sudah kembali ke dalam rumah, ketika kendaraan yang di tumpangi oleh sang suami sudah tidak terlihat lagi oleh matanya.
"Untuk apa datang ke mari?" tanya Mayang lagi terhadap Adnan.
"Untuk apa lagi kalau bukan menjemput mu" jawab Adnan.
"Sejak kapan jadi sopir pribadi ku, lagian sudah biasa juga pergi ke kantor sendirian. Nggak perlu di jemput, jadi nggak enak. Masa iya atasan jemput karyawan kan nggak asik"
"Di sini saya bukan bos mu, dan kamu juga bukan karyawan saya jadi untuk apa kamu merasa nggak enak, mulai sekarang dan seterusnya saya akan melakukan ini untuk mu, dan tidak akan pernah membiarkan mu pergi sendirian" ucap Adnan sambil menatap lekat wajah Mayang dengan penuh cinta.
"Tapi, kan! "
"Pokoknya, tidak ada penolakan. Ayok kita Berangkat! ini sudah hampir siang, belum juga di jalan macet, pasti telat sampai di kantor" ajak Adnan terhadap Mayang.
Mayang pun mengangguk, pertanda ia setuju dengan ajakan dari Adnan. Akhirnya mereka berdua pergi ke kantor bersama.
__ADS_1