Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 112


__ADS_3

Adnan dan Mayang sudah berada di dalam kendaraan, mereka akan datang ke tempat pemakaman umum. Adnan sudah lama tidak mengunjungi kedua orang tuanya, dan sebelum kembali ke kota B. Ia akan mampir terlebih dahulu ke kantor pengacara untuk membicarakan soal hara warisan milik Farwa yang masih di titipkan di pengacara kepercayaan Adnan.


Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan sudah memasuki area pemakaman. Kendaraan berhenti dengan sempurna, Adnan turun terlebih dahulu. Akan tetapi Mayang masih saja di dalam. Ia masih bingung, harus kah ikut atau tetap menunggu di dalam kendaraan. Jika menunggu ia juga pasti merasa jenuh.


Adnan pun mengetuk kaca mobil " Apa mau menunggu di sini? nggak minta restu gitu sama calon mertua! " kata Adnan sambil tersenyum tipis.


Seketika Mayang merasa kesal terhadap Adnan ketika berkata seperti itu, sebab Mayang takut hatinya akan goyah.


Selama ini ia selalu menjaga benteng pertahanan agar tidak pernah jatuh lagi ke lubang yang sama yaitu, jatuh cinta pada orang yang salah.


"Eh u-iya, tunggu sebentar" jawab Mayang dengan gugup.


Mayang sudah keluar dari dalam kendaraan, dan mengikuti langkah Adnan untuk segera masuk ke area pemakaman.


Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di tempat tujuan, Adnan berdiri di hadapan tiga makam yang berada di hadapan nya.


"Ma, Pa... maaf baru datang sekarang, maaf juga telah membuat mu melakukan yang tidak seharusnya di lakukan, andai waktu bisa di ulang kembali. Maka aku lebih memilih membiarkan semua nya berjalan sesuai rencana-Nya tanpa harus aku yang merencanakan semua ini. Sungguh aku yang telah membuat Papa meninggal" batin Adnan, tanpa terasa cairan bening sudah memenuhi pelupuk matanya. Walau bagaimana pun Adnan juga sosok orang yang terkadang berada di titik rapuh, ingin menangis di pelukan sang Mana. Namun kali ini hanya bisa menatap gundukan tanah yang ada di hadapan nya pada saat ini.


"Oh iya, Pa, Ma, ini perempuan yang sangat istimewa semoga aku bisa menjadikan nya istri ku dan menemani hari-hari tua ku. Anak y Argani dan Farwa juga sudah tumbuh menjadi anak yang pintar, pasti kalian bahagia bisa melihat cucu kalian. Semoga Papa, sama Mama tenang. Do'a ku selalu bersama kalian, sekarang aku pamit" Adnan berbicara dalam batin, ia tidak mau curhatan nya di hadapan kedua orang tuanya di dengar oleh Mayang yang setia berdiri di samping nya.


Akhirnya Adnan pun, mengajak Mayang untuk kembali. Ia rasa sudah cukup mengunjungi kedua orang tuanya untuk saat ini, hatinya juga sudah lega bisa mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran nya.


Waktu bergulir begitu cepat, Adnan telah menyelesaikan semua tugasnya. Hari pun sudah gelap, pertanda mereka harus segera kembali ke hotel untuk mengistirahatkan tubuh dan memulai aktivitas esok hari. Sebab mereka juga harus kembali ke kota b di jam tiga pagi, mungkin akan datang tepat waktu.


Adnan dan Mayang sudah berada di kamar hotel masing-masing, Mayang masih memikirkan keadaan sang Mama ia juga takut jika Marwan melakukan sesuatu di luar batas. Mayang takut sang Mama di bunuh oleh Marwan, sebab orang yang gila harta bisa melakukan apapun termasuk juga menghilangkan nyawa seseorang demi tujuan nya tercapai.


Tanpa terasa akhirnya mata Mayang pun mengantuk dan tertidur.


Waktu terlalu singkat untuk di gunakan oleh hal yang tidak penting, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mayang sudah siap untuk berangkat menuju bandara, sebab perjalanan menuju bandara tidak terlalu jauh akan tetapi Mayang orang ya seperti ini. Selalu takut dengan sesuatu yang belum tentu terjadi.


Akhirnya Hadi dan Mayang segera menuju bandara, begitu juga dengan Faklan dan Daisy mereka akan menunggu di sana.


Tanpa membutuhkan waktu yang sangat lama, akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir bandara.


Adnan dan Mayang langsung turun, dan segera melangkah kan kakinya untuk segera masuk sebab Faklan sudah menunggu nya di sana.


Tidak terasa waktu juga berputar begitu cepat, akhirnya mereka semua sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke kota b. Penerbangan mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam, ketika pagi hari mereka sudah sampai di kota b dan ada waktu juga untuk beristirahat sejenak. Sebelum datang ke kantor dan memberi tahu yang sesungguhnya dan menggagalkan rencana yang telah di susun oleh Marwan dan Alfi. Perjalanan kali ini sungguh membuat Mayang terkesan, Adnan selalu memberikan banyak perhatian untuk nya. Walaupun Mayang tidak menunjukkan bahwa suka dengan hal itu, setidaknya ada laki-laki yang perhatian terhadap dirinya.


Keesokan harinya.


Di kediaman keluarga Ratih.


Marwan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, Alfi di sini terlihat seperti menantu idaman. Ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah meskipun Ratih sudah melarangnya, karena ada beberapa orang yang bekerja di rumah ini jadi tidak perlu mengerjakan nya sendiri.

__ADS_1


Akan tetapi Alfi selalu menyiapkan sarapan dan yang lainnya sendiri, ia ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya menantu idaman dan bukan orang yang memanfaatkan keadaan. Padahal itu semua hanya strategi untuk mengelabui Ratih, agar terlihat baik dan polos. Padahal otaknya jahat, siapa sangka Alfi orang yang mampu menghalalkan cara dengan tujuan nya yaitu harta.


Mereka sudah berada di ruang makan, termasuk juga Ratih. Alfi dengan cekatan mengisi piring sang suami dengan menu sarapan pagi, begitu juga dengan Ratih. Alfi merendahkan dirinya di hadapan Ratih.


"Nggak perlu melakukan ini! kamu itu menantu bukan pembantu, jangan melakukan hal seperti ini! Ayok duduk, sarapan bersama kita" kata Ratih sambil menarik tangan Alfi agar duduk di kursi yang ada di samping nya.


"Kalian saja dulu, nanti aku terakhir" jawab Alfi sambil tersenyum manis, memang tidak terlihat bahwa Alfi adalah orang yang licik.


"Jangan pernah melanggar perintah Mama, ayok makan setelah itu kamu bisa berbelanja atau pergi ke mana sesuai kemauan mu. Atau bisa juga ikut ke kantor, agar mereka semua tahu bahwa kamu adalah menantu ku" kata Ratih sambil menatap lekat wajah Alfi.


"Benar, Ma... aku boleh ikut ke kantor? " tanya Alfi dengan antusias.


"Ya tentu saja boleh, kamu itu istrinya Marwan jadi berhak datang ke kantor. Itu juga perusahaan milik kamu" jawab Ratih sambil melirik ke arah Marwan yang sedang menikmati sarapan nya.


"Ya sudah kalau begitu, aku sarapan dan setelah itu bersiap! " kata Alfi langsung menarik piring lalu di isi dengan menu pagi ini.


Akhirnya hening keadaan di meja makan, semua yang ada fokus terhadap makanan masing-masing. Ratih juga tidak memikirkan Mayang, pada saat ini anak perempuan nya ada di mana? Ia hanya fokus terhadap Marwan saja sehingga lupa akan seseorang yang seharusnya ia perhatikan juga.


Setelah cukup lama, akhirnya acara sarapan pun sudah selesai.


Mereka sudah kembali ke ruang tengah, di mana mereka akan menunggu Alfi berganti pakaian. Marwan dan Ratih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil mengontrol ringan, di sini tidak terlihat bahwa Marwan adalah seorang penipu. Yang terlihat di mata Ratih, Marwan adalah anak yang baik dan santun terhadap orang. Bahkan di kantor saja selalu menyapa bawahan jika berpapasan dengan mereka, memang tidak akan pernah menyangka bahwa wajah yang terlihat baik belum tentu juga hatinya baik.


Setelah cukup lama mereka menunggu akhirnya Alfi pun datang dengan mengenakan pakaian yang sederhana, tidak mencerminkan bahwa ia sekarang adalah istri dari pemilik perusahaan meskipun itu semua belum sah di mata hukum.


"Menang nya kenapa dengan pakaiannya? ini sudah yang paling bagus menurut ku, sebab ini di beli saat aku belum menikah dan setelah menikah mana bisa membeli pakaian. Ingin mencukupi kebutuhan rumah tangga saja susah" jawab Alfi sambil menunduk.


"Maafkan Mama, kemarin nggak jadi mengajak mu pergi. Oh iya ini kartu untuk kamu pegang silakan beli apa yang kamu mau nanti password nya di kirim lewat chat" kata Ratih sambil menyerahkan sebuah kartu tanpa batas.


Alfi bersorak bergembira mendapatkan jekpot di pagi hari, sungguh inilah yang di harapkan nya sudah tercapai. Setelah ini Alfi bisa ke salon dan berbelanja sesuai dengan kemauan nya.


Akhirnya mereka pergi ke kantor bersama dengan menggunakan kendaraan dan Marwan yang mengendarai nya. Padahal Ratih sudah memiliki sopir pribadi, akan tetapi Marwan lebih memilih membawa kendaraan itu sendiri.


Sepanjang perjalanan, Alfi banyak sekali bertanya tentang makanan kesukaan Ratih dan apa saja yang tidak di sukai.


Ratih merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya, selama ini ia hanya tinggal bersama Mayang dan memiliki hidup masing-masing. Bahkan Mayang lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain di banding perusahaan sendiri.


Tanpa terasa kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir, Marwan turun terlebih dahulu lalu membuka pintu untuk Ratih dan mempersilakan nya untuk turun. Sungguh perhatian Marwan sudah membuat hati Ratih merasa senang, senyum kebahagiaan terpancar di wajah nya.


Mereka masuk ke dalam gedung perkantoran dengan penuh kebahagiaan, Ratih bahagia karena bisa berkumpul bersama kelurga. Sedangkan Marwan bahagia karena sebentar lagi akan menjadi pemilik perusahaan satu-satunya.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan, tak hentinya Marwan menebar senyum. Banyak karyawan yang berpapasan sepanjang jalan menuju ruangan, Marwan lah yang menundukkan kepala terhadap mereka. Biar di kira orang yang amah dan baik terhadap karyawan, dan ternyata ini hanya sebuah trik untuk mendapatkan kepercayaan mereka bahwa dirinya orang baik.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah ruangan di sana akan mengadakan pertemuan dan orang-orang penting perusahaan termasuk juga pemindahan kepemilikan perusahaan. Ratih mengundang orang-orang yang menanam saham di perusahaan nya agar mengenal pemimpin yang baru.

__ADS_1


Ruangan masih sepi, karena jadwal perempuan masih ada waktu satu jam.


Marwan sedikit gelisah, entah apa yang terjadi.


"Ma.. Mayang juga akan hadir di sini kan? " tanya Marwan terhadap Ratih dengan raut wajah di penuhi kecemasan.


"Pasti lah, dia akan datang. Hanya saja mungkin sedikit terlambat, soalnya masih ada pekerjaan di luar kota. Dia bilang akan di usaha kan datang tepat waktu" jawab Ratih sambil tersenyum tipis menatap seorang lelaki yang masih muda dan terlihat sangat gagah, andaikan penampilan dan hatinya sama mungkin itu akan semakin menambah pancaran aura yang di miliki Marwan.


"Syukur lah kalau begitu, kenapa ini juga belum pada datang padahal waktunya sebentar lagi" Marwan sudah mulai cemas.


"Tunggu sebentar lagi! mungkin mereka terjebak macet" kata Ratih.


Setelah cukup lama mereka menunggu, akhirnya tamu yang di undang satu persatu datang.


Marwan tersenyum penuh kemenangan, ia duduk di samping Ratih di hadapan semua orang.


Tamu undangan sudah memenuhi ruangan, dan Ratih meminta pengacara untuk segera membacakan surat pengalihan perusahaan tersebut dan setelah itu acara penandatanganan surat tersebut. Di saksikan para investor perusahaan, sekaligus memperkenalkan bos perusahaan yang baru.


"Ma--kenapa Mayang belum datang juga? " tanya Marwan.


"Tunggu sebentar lagi, katanya terjebak macet Mungkin sekitar sepuluh menit lagi baru sampai di sini" jawab Ratih sambil berbisik.


Akhirnya Marwan pun menetralkan kembali perasaan khawatir nya, setelah beberapa saat mereka menunggu Mayang pun datang dan duduk di samping sang Mama, dan meminta maaf terhadap semuanya.


"Sebentar lagi aku akan menjadi pemilik perusahaan ini seutuhnya" batin Marwan sambil tersenyum menyeringai.


"Banyaklah sekarang kita lanjutkan ke acara ini, Dengan penuh kesadaran dan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun, menyerahkan perusahaan ini terhadap anak laki-laki saya yang bernama Marwan. Setelah keputusan ini di tanda tangan maka perusahaan ini buka milik saya lagi melainkan miliknya, sedangkan Mayang anak perempuan saya dia memiliki saham dua puluh lima persen di perusahaan ini. Jadi Mayang dan Marwan tetap miliki kekuasan yang sama" Ratih berbicara dengan lantang di hadapan semua orang.


"Sebenar lagi riwayat mu akan tamat, wahai pembohong" batin Mayang sambil mantap lekat wajah Marwan.


"Baiklah, sekarang saat nya penandatanganan surat pengalihan perusahaan, silakan di mulai dari ibu Ratih di lanjut oleh Nona Mayang dan terakhir baru Pak Marwan! " kata pengacara sambil menyodorkan map berisi kertas-kertas penting.


Akhirnya Ratih pun menandatangani surat tersebut dan Mayang juga, lalu Marwan.


Di saat Marwan ingin menandatangani surat tersebut di hentikan oleh seseorang, dan Mayang langsung mengambil kembali surat tersebut sebelum berhasil di tanda tangan oleh Marwan.


"Dasar pembohong! " kata laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Apa-apa ini, datang ke kantor orang membuat keributan! " jawab Marwan, dengan raut wajah yang mulai memucat, sedangkan Alfi juga yang berada di ruangan tersebut merasa tegang.


"Sudah saat nya kamu mengakhiri kebohongan mu, silakan tangkap dia pak polisi, karena dia telah berbohong dan mengaku bahwa dia anak dari ibu Ratih padahal itu semua tidak benar" kata Faklan dengan nada bicara tegas.


Seketika Ratih bengong menatap orang tersebut, ia menatap lekat orang tersebut mengapa mirip sekali dengan almarhum suaminya.

__ADS_1


Kericuhan pun terjadi di dalam ruangan, Marwan tidak terima dengan perlakuan Faklan seperti itu.


__ADS_2