Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 70


__ADS_3

Zulaikha terkejut melihat orang yang berdiri di depan pintu, memang ini bukan yang pertama kalinya datang ke rumah ini.


Akan tetapi mengapa Faklan datang sepagi ini.


"Maaf mencari siapa? " tanya Zulaikha terhadap Faklan yang merasa canggung di hadapan calon ibu mertua nya.


"Mau menjemput Daisy" jawab Faklan sambil menundukkan pandangan nya.


"Daisy masih sarapan, ayok silakan masuk! " Zulaikha mempersilakan Faklan untuk masuk.


"Nggak perlu Bi, aku tunggu di sini saja" jawab Faklan sambil menunjuk kursi yang ada di teras.


"Baiklah, saya panggil Daisy dulu" kata Zulaikha sambil pergi berlalu meninggal kan Faklan yang ada di teras.


Setelah calon ibu mertua pergi, Faklan pun duduk di kursi yang ada di sana.


Zulaikha sudah sampai di ruang makan.


"Siapa Bu...? " tanya Mahad terhadap sang istri.


"Temannya Daisy"


"Kenapa nggak di ajak masuk" ucap Mahad.


"Udah di ajak tapi nggak mau, cepetan sarapan nya dia nunggu di depan. Sejak kapan kamu dekat dengan dia? " tanya Sang ibu sambil menatap lekat wajah putri bungsu nya.


"Sudah lama, Bu... sebelum kak Farwa nikah aku sudah mengenal nya sejak dulu. Dia orang yang suka membeli lukisan ku" jawab Daisy santai, ya memang betul di antara Daisy dan Faklan tidak ada hubungan apapun selain pertemanan.


Mungkin Faklan punya rasa akan tetapi belum berani untuk mengungkapkan perasaan nya, Daisy ia seorang perempuan gengsi jika harus mengutarakan perasaan nya terlebih dahulu.


"Apa hanya sebatas teman? " tanya Mahad terhadap Daisy.


"Iya, sudah lah Ayah, Ibu... aku berangkat dulu! " jawab Daisy.


Setelah berbicara seperti itu, ia langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan untuk segera pergi.


Daisy sudah berada di depan rumah, ia berjalan perlahan untuk menghampiri Faklan.


Setelah beberapa saat ia sudah berada di hadapan Faklan" Hai, selamat pagi" Daisy menyapa Faklan yang terfokus ke handphone, tanpa di sadari bahwa ada Daisy di hadapan nya.


Seketika Faklan merasa gugup" E-eh iya, sudah siap untuk berangkat? " tanya Faklan dengan rasa gugup.


"Sudah, aku pikir akan terlambat untuk menjemput" kata Daisy.


"Mana bisa aku menundanya saat ada kesempatan untuk menjemput perempuan yang sangat sepesial" jawab Faklan sambil menatap lekat wajah perempuan yang sedang berdiri di hadapan nya pada saat ini.


Seketika wajah Daisy bersemu merah, mendengar perkataan Faklan.


"Ayok kita berangkat sekarang takut terlambat, soal nya tempat yang akan kita tuju lumayan jauh" kata Daisy.


"Baiklah"


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan Daisy ke tempat pameran.

__ADS_1


Kebetulan acaranya di luar kota, dan sekarang Faklan dengan suka rela menjadi sopir pribadi nya Daisy.


Bagi Faklan tidak masalah jika setiap hari harus mengantar jemput Daisy, di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia ingin sekali untuk mengutarakan isi hatinya dan menjadikan Daisy istri dan calon ibu dari anak-anak nya.


Entah mengapa keberanian itu belum muncul, sepertinya ia harus meminta bantuan Argani untuk berbicara kepada kedua orang tua Daisy.


Yang di liat Faklan, sekarang orang tua Farwa sudah mulai menyukai Argani, ngakak ada salahnya ia meminta bantuan sahabatnya itu.


Lagian Faklan juga sudah tidak lagi muda, bukan saat nya ia berpacaran.


Faklan ingin menuju hubungan yang serius yaitu ke jenjang pernikahan.


Seketika Daisy dan Faklan saling diam, bingung harus memulai nya dari mana.


Setelah cukup lama, akhirnya Faklan memberanikan diri untuk mengajak Daisy untuk mengontrol.


"Des, jika ada seorang lelaki yang datang melamar mu, bagaimana tanggapan mu? " tanya Faklan terhadap perempuan yang duduk di sampingnya.


"Ya aku harus tahu dulu, laki-laki itu siapa. Apakah orang itu baik atau tidak, lagian siapa juga yang mau melamar perempuan dari keluarga miskin seperti aku" jawab Daisy dengan nada bicara yang lembut.


"Kalau orang itu berasal dari keluarga tidak baik, atau laki-laki itu seorang begajulan. Apakah kamu tidak akan menerima nya? " tanya Faklan lagi, ia merasa minder ketika Daisy berkata bahwa kriteria nya harus laki-laki baik.


Sedangkan dirinya jauh dari kata itu, apalagi saat masih bersama Argani dulu banyak sekali orang yang menangis karena ulahnya.


"Kenapa bengong, fukus lah nyetir nya" kata Daisy sambil melirik ke arah Faklan.


"Iya"


Akhirnya mereka pun saling diam kembali, Daisy menatap ke arah luar jendela. Sedangkan Faklan fokus kejalan yang akan mereka tempuh.


Di tempat lain.


Argani dan Farwa sudah berganti pakaian, mereka melakukan semua itu dengan gerakan cepat.


Bahkan tidak ada sarapan untuk pagi ini, Argani sudah siap untuk melajukan kendaraan nya.


"Kamu pegangan yang kuat, aku akan ngebut agar kita tidak terlambat untuk datang ke tempat kerja! " kata Argani yang sudah naik di atas motor.


"Tapi aku takut jika nyebut, sebelum nya belum pernah naik motor ngebut" jawab Farwa dengan rasa takut.


"Makanya pegangan biar nggak takut"


"Baiklah" jawab Farwa dengan ragu melingkar kan tangan nya di pinggang sang suami.


"Seperti ini! " kata Argani sambil mengeratkan tangan Farwa di pinggangnya.


Akhirnya Argani pun menarik gas dengan kencang, Farwa sangat was-was naik kendaraan seperti ini.


Argani yang sudah terbiasa tidak takut sedikit pun, bahkan ia sangat menikmati nya ketika ia bisa menguasai jalanan.


"Mas... bisa pelankan sedikit nggak, motor nya rambut ku acak-acakan" teriak Farwa, sebab Argani mengendarai motor seperti pembalap.


Ia menyalip semua kendaraan yang ada di jalan.

__ADS_1


"Jangan takut, aku sudah bisa bawa motor seperti ini. Tapi itu dulu, sebelum kecelakaan, kamu pegangan yang kuat"


Akhirnya Farwa semakin erat berpegangan terhadap sang suami, ternyata tidak menakutkan seperti yang ia bayangkan saat memegang erat seorang lelaki yang mengendarai motor tersebut.


Argani sudah berhasil membuat Farwa merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya.


Waktu bergulir begitu cepat.


Kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhasil berhenti dengan sempurna di hadapan gedung perkantoran yang menjulang tinggi di hadapan nya.


Farwa turun lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan, Argani yang melihat itu langsung membantu sang istri.


"Lain kali pakai helm nya biar nggak berantakan ini rambut! " kata Argani sambil merapikan rambut sang istri.


"Tadi pagi kita kesiangan sehingga aku lupa membawa nya" jawab Farwa.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan unteraksi kedua nya.


Dan orang itu adalah Marwa, ia tidak bisa membiarkan Farwa bersama Argani.


Dengan langkah cepat Marwan langsung mendekati Farwa.


"Untuk apa kamu masih bertahan dengan laki-laki tidak berguna seperti dia, bahkan hanya untuk mencukupi kebutuhan kamu saja dia tidak sanggup. Kamu pergi ke kantor saja di antar menggunakan motor butut seperti itu"


"Terus apa masalah nya dengan kamu, apakah hal ini membuat mu rugi? orang baik tidak akan pernah berkata pada siapa pun bahwa dirinya itu baik, karena penilaian itu datang dari orang lain bukan diri sendiri. Bagiku kamu tidak lebih baik darinya, bahkan aku menyesal bisa jatuh cinta kepada mu. Untung saja Tuhan baik dan menunjukkan pada ku sifat asli kamu yang sesungguhnya" kata Farwa sambil menatap tajam wajah Marwan.


Argani masih diam tanpa berkata apapun, ia hanya menyaksikan.


"Kamu tahu kan, bahwa kita saling mencintai. Jadi lebih baik kamu tinggal kan laki-laki tidak berguna itu, dan kita hidup bahagia bersama" kata Marwan.


"Sekarang tidak ada lagi yang tersisa rasa itu, hanya meninggalkan penyesalan bahwa aku pernah mengenal orang seperti kamu. Jangan pernah menganggap bahwa orang lain itu hina atau buruk, sebab yang berhak menilai itu hanya Tuhan" kata Farwa dengan nada bicara penuh penekanan.


"Sudahlah jangan di ladenin, aku pamit yah... kalau sudah waktunya pulang jangan lupa hubungi aku, jaga dirimu baik-baik dari kadal yang berusaha merubah dirinya jadi buaya" kata Argani sambil melirik ke arah Marwan.


Argani sengaja berbicara seperti itu, untuk memancing kemarahan Marwan.


Dan Marwan hanya mampu mengepalkan tangan nya, andaikan dia bukan lagi masa pencitraan di kantor ini. Sudah pasti ia akan menghajar Argani, akan tetapi kali ini ia berusaha untuk menahannya.


"Iya, Mas... hati-hati" kata Farwa sambil melambaikan tangan nya.


Setelah suaminya pergi dan tidak terlihat lagi, ia langsung pergi begitu saja meninggal Marwan yang masih berdiri di area parkir.


Setelah menyadari bahwa Farwa sudah masuk ke dalam kantor, ia langsung melangkah kan kakinya untuk mengejar Farwa.


Di tengah perjalanan Marwan terus memanggi Farwa hingga akhirnya Marwan bisa mengejar Farwa.


"Aku tidak suka melihat kamu memperlakukan dia seperti tadi! " kata Marwan terhadap Farwa.


"Astaga, apakah perkataan ku kurang jelas. Dia itu suamiku jadi tidak ada salahnya aku memperlakukan dia dengan baik, dan apa hubungannya dengan kamu. Orang tua bukan sahabat juga bukan, berani nya mengatur hidup ku" jawab Farwa dengan nada bicara penuh penekanan.


Tiba-tiba ada suara yang menghentikan pertengkaran mereka.


"Bukan nya bersiap untuk bekerja, malah berantem di sini. Ini kantor tidak ada satu orang pun karyawan di tempat ini yang boleh membawa urusan pribadinya ke kantor, dan kamu kenapa baru melihat mu di kantor ini. Apakah karyawan baru atau suaminya dia" kata Orang tersebut sambil menunjuk Marwan lalu melihat ke arah Farwa.

__ADS_1


Farwa merasakan ketakutan saat mendengar perkataan orang tersebut, ini semua gara-gara Marwan yang tidak tahu malu.


__ADS_2