Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 9


__ADS_3

Setelah cukup lama, sore hari pun telah tiba.


Terdengar suara kendaraan berhenti di halaman rumah, akhirnya setelah penantian yang panjang dan menjenuhkan.


Argani tersenyum menyeringai, bahwa sebentar lagi semua masalah nya akan berakhir.


Marwan pun datang bersama laki-laki yang sudah tidak lagi muda itu, terlihat wajah mereka sangat lelah, setelah seharian berada di luar rumah dan melakukan aktivitas.


Betapa terkejutnya Marwan saat membuka pintu rumahnya,byang pertama dilihatnya adalah wajah Argani yang menatapnya begitu tajam.


"Untuk apa kamu ada di rumahku, jangan bilang kau sudah menyakiti Ibuku? " tanya Marwan sambil mendekat ke arah Argani.


" Hei Pelankan suaramu aku, pendengaran kok masih berfungsi dengan baik. Apakah kamu masih ingat terakhir kali bertemu denganku, dan Apakah kamu masih mengenal benda ini" kata Argani sambil memainkan senjata api di tangannya.


Ia berusaha untuk menakuti keluarga ini, sang Ibu pun yang melihat itu semua gemetaran wajahnya sangat pucat ia takut Marwan ditembak oleh Argani.


Seketika Marwan pun mundur satu langkah, lalu wajahnya memucat. Ia juga tidak mempunyai keberanian untuk melawan Argani pada saat ini, walau bagaimana pun Argani bukan lah tandingan nya.


Sang ayah pun yang ada di samping Marwan hanya diam tanpa kata.


"Apa tujuanmu datang ke rumahku? "tanya Marwan terhadap Argani.


"Aku datang ke rumahmu hanya ingin bertanya satu hal, Jawab dengan jujur atau nyawa kamu dan kedua orang tuamu melayang sekarang juga? "kata Argani sambil menodongkan senjata api ke arah kepala perempuan yang ada di samping nya.


"Memangnya kamu mau bertanya apa? turunkan dulu senjatamu baru sku menjawab pertanyaanmu" Marwan meminta Argani untung meletakkan senjatanya terlebih dahulu, terlalu ngeri ia melihat hal seperti itu di depan mata.


Apalagi itu adalah sang ibu yang sangat ia cintai dan hormatinya.

__ADS_1


"Katakan di mana Farwa dan keluarganya untuk saat ini?" tanya Arga dengan nada bicara penuh penekanan dan senjata api pun belum diturunkan masih mengarah ke kepala ibu dari Marwan itu.


"Aku tidak tahu soal itu, kita juga sedang mencari tahu keberadaan nya" jawab Marwan dengan gugup.


"Katakan yang benar, rupanya kau sudah tidak sayang dengan nyawa mereka! Baiklah, selamat tinggal untuk kalian sampah di dunia! " ucap Argani.


Seketika Ayah dari Marwan merasa ketakutan, ia takut istrinya di bunuh sia-sia hanya karena menyembunyikan Farwa.


"Baiklah, aku akan katakan di mana Farwa untuk saat ini" kata Ayah Marwan.


"Ayah... " kata Marwan, ia tidak suka sang Ayah akan memberi tahu keberadaan calon istrinya.


Seketika Argani tersenyum, menatap laki-laki yang sudah tidak lagi muda.


"Bagus... rupanya kau sangat menyayangi istri mu, katakan pak Tua jangan berbohong sebak kau sudah bau tanah tak pantas untuk berkata tidak jujur" ucap Argani sambil tertawa.


Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Argani bersama Faklan langsung pergi dari rumah Marwan.


Argani dan Faklan sudah pergi, tinggal lah mereka bertiga tertunduk lemas. Marwan tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Farwa setelah bertemu denganmu Argani nantinya.


"Bagaimana bisa Ayah mengkhianati paman Mahad, dengan mengatakan keberadaan mereka. Kita di percaya untuk menjaga rahasia itu, kenapa Ayah tidak amanah! " Marwan merasa kecewa dengan sang Ayah.


"Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, apalagi dia akan menghabisi nyawa kita semua"


"Apa artinya aku hidup jika perempuan yang aku cintai dalam keadaan menderita" kata Marwan dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Apakah nyawa ibu mu tidak berharga di mata mu? bagaimana bisa mengorbankan perempuan yang sudah melahirkan kamu hanya untuk perempuan yang belum jelas! " kata sang Ayah, ia sangat kecewa dengan sang anak.

__ADS_1


"Bukan aku tidak menyayangi ibu, setidaknya Ayah jangan langsung memberi tahu. Kita mencari alasan yang tetap untuk bisa lolos dari monster itu"


"Sudah jangan bahas ini lagi, lebih baik kita tidak usah berurusan dengan orang-orang seperti Argani jika ingin hidup kita aman. Kamu tahu sendiri kan pengaruh tuan Malik di negara ini, jika dia sudah bertindak sudah pasti kita menjadi gelandangan dalam sekejap" kata sang Ayah, ia tidak mau kekuasaan Argani menghancurkan nya hanya karena menyembunyikan keberadaan Farwa.


Akhirnya Marwan pergi meninggalkan kedua orang tuanya, ia sangat kecewa dengan keputusan sang Ayah untuk saat ini.


Setelah beberapa saat Marwan sudah berada di dalam kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Farwa nantinya jika Argani berhasil menemukan keberadaan nya, andai kan ia memiliki banyak uang dan kekuasaan seperti Argani sudah pasti akan melindungi Farwa. Akan tetapi untuk saat ini ia juga sedang dalam bahaya, terlalu bersesiko untuk menentang Argani.


"Semoga Tuhan selalu melindungi mu dalam keadaan apapun, maaf aku belum bisa menjaga mu. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika terjadi sesuatu dengan mu" batin Marwan sambil menatap gambar Farwa yang di tampilkan di layar ponsel nya.


...****************...


Di tempat lain


Farwa dan keluarga nya sedang berkumpul, berbincang dengan anggota keluarga yang lainnya.


Zulaikha sudah mempunyai firasat tidak enak, etah mengapa dari tadi malam ia merasa ketakutan akan sesuatu yang belum tentu terjadi.


Ia terus menatap wajah Farwa, yang sedang berbicara dengan sang Bibi. Mereka sedang bercerita ketika masih tinggal bersama, saat ini Farwa sedikit melupakan masalah nya. Akan tetapi sang ibu gelisah terus.


"Kakak kenapa? ko seperti tidak tenang seperti itu, jangan khawatir kita aman di sini! " kata sang adik yang menenangkan sang kakak yang terlihat gelisah.


"Aku tidak yakin kita baik-baik saja, pasti mereka sedang mencari keberadaan kita. Tahu sendiri kan pengaruh mereka di negara ini, sedangkan kita hanyalah semut kecil yang tidak bisa apa-apa" kata Zulaikha dengan raut wajah yang tegang.


"Ibu, jangan seperti itu... kita serahkan semuanya pada Tuhan, semoga ada jalan keluar dari semua ini. Lagian kita sudah menutup akses untuk tidak bisa di lacak. Ponsel kita semua tidak ada yang aktif, pasti mereka kesulitan untuk mencari nya" jawab Farwa untuk mengenang kan sang Ibu, dalam hati kecilnya ia juga sangat takut. Tapi sebisa mungkin untuk tidak terlihat di mata keluarga yang lain.


"Kenapa kalian membahas itu, yakin lah kita semua di sini dalam keadaan baik dan aman dari jangkauan orang-orang jahat seperti mereka. Toh di sini juga ada Ayah sama paman mu jangan khawatir" kata Mahad berusaha untuk membuat mereka lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2