Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 74


__ADS_3

Anggota keluarga merasa kaget dengan keadaan Farwa yang tiba-tiba pingsan seperti itu, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama dan Farwa sudah sadar kembali.


Acara pertunangan pun berjalan dengan lancar, Faklan dan Daisy sudah resmi bertunangan.


Pernikahan mereka akan di laksanakan tiga bulan lagi, mungkin itu cukup untuk persiapan mereka.


Karena orang tua Daisy tidak ingin pernikahan putri bungsu nya di adakan seperti Farwa, akhirnya Faklan pun setuju dengan permintaan calon mertua nya.


Baginya menunggu tiga bulan itu tidak terlalu lama, apalagi di gunakan untuk sesuatu yang penting.


Faklan tidak memiliki orang tua, ia hanya tinggal sendiri.


Dari usianya menginjak remaja di pertemukan dengan Argani, sekarang mereka seperti adik dan kakak.


Farwa sudah terlihat biasa saja, anggota keluarga yang lainnya juga sedang mengontrol bersama.


Argani mendekat ke arah sang istri lalu ia duduk di samping nya.


"Sayang, apa kamu yakin nggak mau pergi ke dokter? " tanya Argani terhadap sang istri dengan suara yang lembut.


Ia sangat khawatir dengan kesehatan nya.


"Nggak perlu, Mas... aku baik-baik saja ko. Mungkin ini hanya masuk angin saja" jawab Farwa sambil tersenyum menatap lekat wajah sang suami.


"Kalian pasangan yang serasi, semoga bahagia terus ya... Argani sangat menyayangi mu. Jangan sia-siakan itu, sekarang sangat sulit mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintai perempuan seperti dia rela kehilangan semua nya demi mendapatkan cinta nya" ucap sang Bibi yang berada di samping Farwa.


Farwa tidak menjawab apapun ia hanya tersenyum menatap sang Bibi yang berbicara seperti itu.


"Terimakasih ya, Bi... " jawab Argani.


Ia sekarang sudah merasa bahagia sebab Farwa sudah menunjukkan rasa cintanya meskipun itu hanya pada saat mereka bersama di dalam rumah, bahkan saat tidur saja perempuan itu selalu nempel.


Awalnya hanya takut karena tidur sendiri, dan akhirnya menjadi candu tidur bersama Argani.


"Sama-sama, Bibi sangat berharap kalian menjadi keluarga yang sakinah" kata sang Bibi.


"Iya Bi... " jawab Argani sambil melirik ke arah Farwa.


"Ya sudah, Bibi tinggal dulu yah... Mau ketemu Daisy dulu"


"Iya, Bi"


Akhirnya sang Bibi pergi meninggalkan sepasang suami-istri yang sedang duduk berdampingan.

__ADS_1


"Acara sudah selesai, kita pulang yuk? " ajak Farwa terhadap sang suami.


"Kenapa ngajak pulang? bukan kah suka kalau ada di sini! " jawab Argani, aneh dengan sikap sang istri yang tiba-tiba ngajak pulang.


"Aku ngantuk pengen tidur, di sini banyak orang bagaimana bisa tidur dengan tenang. Lagian acaranya juga sudah selesai" kata Farwa.


"Ya sudah kalau memang itu mau mu, kita pamit dulu sama Ayah dan Ibu" jawab sang suami dengan nada bicara yang lembut.


Akhirnya Farwa dan Argani mendekat ke arah sang Ayah dan Ibu, di sana juga ada Faklan dan kerabat dekat mereka yang ikut menyaksikan acara pertunangan Daisy.


"Ayah, Ibu, kita pamit pulang dulu ya" kata Argani dengan nada bicara yang ragu, sebetulnya ia belum mau pulang ke rumah.


Sebab Argani ingin mendekat kan diri terhadap kerabat nya Farwa, ia juga merasa nyaman bersama mereka. Mereka berbicara bukan soal bisnis dan kekayaan jadi menurutnya itu pembahasan yang menarik.


Beda lagi dengan anggota keluarga nya jika sedang berkumpul pasti yang di bahas itu soal aset yang mereka miliki, jadi menurut nya itu sangat membosankan beda dengan keluarga Farwa.


"Kenapa pulang cepat sekali, kan masih ada paman sama Bibi juga. Apakah kalian baik-baik saja? " tanya sang Ayah sambil menatap lekat wajah sang putri yang terlihat pucat.


"Nggak apa-apa Ayah, aku hanya ingin cepat pulang. Ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan, besok udah hari senin jadi harus siap semuanya" dusta Farwa terhadap sang Ayah.


"Yakin hanya itu? nggak ada yang di tutupi kan sama kamu? " tanya sang Ayah sambil menatap lekat wajah sang putri.


"Nggak ko, Ayah" jawab Farwa sambil tersenyum.


"Terus aku bagaimana, harus ikut pulang bersama kalian atau menginap di sini? " tanya Faklan dengan wajah bingung nya.


Seketika seluruh anggota keluarga tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Faklan.


"Eh kamu itu baru tunangan, belum menikah ya pulang lah...kalau menginap nanti di gebukin warga! " kata Argani sambil menatap heran wajah Faklan.


Ternyata sabarnya itu terlalu polos sehingga tidak faham akan hal itu.


"Tapi aku belum mau pulang! " jawab Faklan dengan raut wajah yang kecewa.


"Pokoknya kamu harus pulang sekarang jangan temuin Daisy lagi sampai tiga bulan ke depan, nanti kalian bertemu di hari pernikahan" kata Argani sambil menatap lekat wajah Faklan yang terlihat semakin bingung.


"Kenapa lama sekali"


"Ya memang lama, makannya aku langsung nikah saja agar tiap hari bertemu" jawab Argani.


"Yah.... " jawab Faklan dengan raut wajah yang kurang bersemangat.


"Kalau mau pulang ya sudah, kan besok atau lusa bisa kembali lagi ke sini" jawab Zulaikha ia melirik ke arah calon menantunya yang sudah di tekuk wajahnya.

__ADS_1


"Yakin Bu, boleh datang lagi ke rumah ini? "tanya Faklan dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi ceria dalam sekejap.


Seketika ruangan menjadi riuh, akibat kelakuan Faklan yang membuat mereka tertawa.


" Ya boleh kenapa tidak! " jawab Zulaikha.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak ibu mertua " kata Faklan dengan wajah berseri-seri.


"Ibu, Ayah, semuanya kita pulang sekarang! " kata Argani.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari rumah meninggalkan anggota keluarga yang masih berkumpul bersama.


Setelah kepergian Argani dan Farwa, tinggal lah mereka yang masih asik ngobrol bersama anggota keluarga yang lain.


"Aku sangat berharap pernikahan Farwa di selimuti kebahagiaan, jarang sekali ada laki-laki seperti Argani" kata Bi Dewi sambil menatap lekat wajah Zulaikha.


"Sekarang kita juga sudah mulai menerima kehadiran Argani dan sangat berharap bahwa mereka akan hidup bahagia, akan tetapi kami mempunyai rasa takut yang sangat tinggi tentang keselamatan Farwa. Mungkin Argani sangat menyayangi Farwa, dan dia juga sudah menunjukkan perubahan nya bahwa sekarang dia sudah berubah menjadi lebih baik" jawab Zulaikha dengan raut wajah yang sedih.


Di balik kebahagiaan nya melihat hubungan Argani dengan Farwa, ada rasa takut yang sulit di gambarkan atau di ucapkan dengan kata-kata.


"Maksudnya apa Kakak bicara seperti itu? " tanya Dewi.


"Coba kamu pikir, ngakak mungkin juga Malik membiarkan hidup Farwa merasa tenang. Pasti ia akan melakukan berbagai cara untuk mencelakai anak ku"


"Kak, coba berfikir positif dan kamu juga harus yakin bahwa Argani bisa melindungi Farwa" jawab Dewi.


"Tapi ketakutan ku dan abang mu juga sama, jadi semakin terlihat bahagia antara Argani dan Farwa pasti Malik semakin mencari cara untuk melakukan hal yang membuat mereka sengsara, aku sekarang masih beruntung Farwa masih selamat dalam kecelakaan itu dan bisa berkumpul lagi bersama kita. Aku tidak akan bisa untuk kehilangan nya untuk yang kedua kalinya"


"Iya aku tahu, tapi jangan terlalu di pikiran sebab bisa jadi apa yang kita pikirkan dan bayangkan dan tertanam di otak setiap saat bahwa itu bentuk dari doa kita. Lebih baik kita berfikir bahwa keadaan Farwa dan Argani akan baik-baik saja, ingat ada Tuhan yang tidak pernah tidur" nasehat Dewi terhadap sang Kakak.


"Iya, tapi untuk berfikir positif itu sangat sulit setelah semua kejadian yang kita lewati"


"Aku tahu, kita pasrah terhadap sang kuasa bahwa Farwa akan baik-baik saja" jawab Dewi sambil memegang erat tangan sang Kakak.


Walaupun Dewi berkata seperti itu terhadap sang Kakak, akan tetapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia juga mempunyai ketakutan seperti Zulaikha.


Akhirnya kedua perempuan itu berpelukan sedangkan anggota keluarga yang lain juga ikut merasakan apa yang di rasakan Zulaikha, sebab keluarga akan merasakan apa yang di rasakan anggota keluarga yang lain.


Di saat semuanya diam dan mengkhawatirkan keadaan Farwa, terdengar lah suara seseorang yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka.


Orang tersebut datang tanpa di undang, dengan gaya sombongnya orang tersebut langsung duduk di tempat yang sudah tersedia di sana.


Semua orang yang ada di sana merasakan heran, mengapa ada orang seperti dia di muka bumi itu.

__ADS_1


__ADS_2