Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 58


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah sampai di rumah orang tuanya.


Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi, di ruang keluarga terlihat sang ibu sedang duduk menikmati acara televisi kedukaan nya.


Padahal ini sudah malam, biasanya Ambar sudah tertidur.


Entah mengapa setelah Argani pergi dari rumah ia tidak bisa tertidur, selalu kepikiran dengan sang anak.


Ambar seketika menghangat saat mendengar suara sang anak.


"Akhirnya kamu pulang juga sayang" Ambar menyambut kedatangan sang putra.


Akan tetapi Argani dengan raut wajah yang sudah menegang, langsung bertanya di mana keberadaan sang Papa.


"Di mana Papa sekarang? " tanya Argani terhadap sang Mama.


"Dia ada di ruang kerja, ada apa kamu sampai mencari nya di waktu malam seperti ini. Apa kamu nggak kangen sama Mama" kata Ambar, sambil menatap lekat wajah sang putra.


Ia sangat rindu pelukan sang anak, akan tetapi sekarang ada jarak di antara ibu dan anak.


Setelah mendengar jawaban dari sang Mama, Argani langsung pergi begitu saja meninggalkan sang Mama yang masih berdiri di ruang tengah.


Ambar menatap heran terhadap Argani, mengapa sekarang dia jadi seperti itu.


Hati Ambar merasa sakit saat di abaikan oleh Argani.


Setelah beberapa saat Argani sudah berada di ruang kerja sang Papa.


"Akhirnya kamu dadang juga ke rumah ini" ucap Malik sambil mentap layar yang ada di hadapan nya, ternyata ia mengawasi Argani lewat kamera pengawas.

__ADS_1


"Aku datang ke tempat ini hanya untuk memperingatkan mu, jangan pernah berani mengusik Farwa. Harus berapa kali aku bilang jangan pernah mengusik hidupnya Farwa, jika masih melakukan itu. Jangan pernah menyesal jika Papa kehilangan ku untuk selamanya" kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.


"Owh jadi karena perempuan itu, kamu datang ke rumah ini. Anak macam apa kamu, lebih memilih orang lain di bandingkan orang tuanya sendiri" jawab Malik.


"Aku tidak membela Farwa, akan tetapi aku berada di pihak yang benar. Malwar datang ke rumah ku dan mengatakan semua nya, bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan Farwa. Bahkan kecelakaan itu sudah di rencanakan oleh mu, salah Farwa apa sehingga Papa tega melakukan itu" Argani berkata dengan nada bicara yang di penuhi amarah.


"Hai, pelankan suara mu jika sedang berbicara dengan orang tua. Karena perempuan rendah itu kamu sudah berani menentang orang tuamu, yang sudah memberi mu kasih sayang selama ini" jawab Malik dengan tatapan mata tajam.


"Aku seperti ini karena sikap anda yang keterlaluan, dan akan mengibarkan bendera perang terhadap siapa pun yang berani mengusik Farwa jangankan sampai menyentuhnya, bahkan hanya menatap nya saja makwa. Akan ku congkel mata orang itu"


" Jangan berlebihan seperti itu, kamu akan menyesal nantinya sudah melakukan ini terhadap ku" kata Malik.


"Aku tidak akan pernah menyesal melawan mu, karena saat ini Papa berada di jalan yang salah" kata Argani.


"Justru kamu yang berada di jalan yang salah, ku ingatkan sekali lagi... jangan pernah mendekati Farwa apalagi menyakiti nya! jika tidak ingin menyesal seumur hidup. Mungkin setelah orang-orang di sekelilingmu pergi karena keegoisan mu, di situ baru menyadari bahwa keluarga itu sangat penting. Akan tetapi semua itu sudah terlambat, dan tidak akan menemukan orang itu lagi. Aku akan pergi dan tidak pernah kembali, anggap sudah meninggal. Toh sudah di corek dari kartu keluarga, jadi tidak ada hubungan di antara kita" kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.


"Dan penyesalan itu tidak akan pernah terjadi, justru kamu yang akan menyesal" Malik berkata dengan penuh penekanan, ia tidak terima di tentang oleh anaknya sendiri.


Setelah berbicara seperti itu, Argani langsung melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan tersebut.


Sungguh ia tidak sudi berada di dekat orang yang sombong seperti Malik, meskipun itu orang tuanya sendiri.


Malik pun ikut keluar dari ruangan kerja nya, setelah Argani keluar.


Argani tanpa menghiraukan sang Mama yang memanggilnya.


Malik sudah berada di ruang tengah dan menghentikan sang istri yang akan mengejar Argani.


"Ada apa sih ini? mengapa dia bisa marah seperti itu, apa yang telah kamu lakukan? " tanya Ambar terhadap sang suami.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, hanya saja dia tidak mau menerima kenyataan" jawab Malik santai.


"Apa kamu tidak bisa mengenyampingkan egomu, ayolah Malik. Minta maaf saama Argani agar dia pulang kembali ke rumah ini, kamu sendiri sayang kan sama dia? bahkan kamu tidak akan membiarkan Argani kesakitan sedikit pun. Kita harus mengalah demi kebahagiaan nya" kata Ambar dengan nada bicara penuh permohonan.


"Apa kamu bilang? minta maaf sama mereka, itu sangat lucu. Selama ini aku tidak pernah menundukkan kepala terhadap siapa pun, apalagi harus menunduk terhadap mereka yang sudah menghancurkan harga diri keluarga kita" jawab Malik.


"Ayolah kita mulai semuanya dari awal, terimalah Farwa di keluarga ini sebagai menantu mu" kata Ambar dengan nada bicara penuh permohonan.


"Tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun" jawab Malik dengan nada bicara penuh penekanan.


Setelah mendengar jawaban dari sang suami, Ambar langsung diam.


Ia langsung pergi untuk segera menuju kamarnya, ia tidak suka dengan jawaban suaminya yang seperti itu.


Pikir Ambar sudah tidak ada harapan lagi Argani pulang ke rumah ini lagi.


Ambar sudah berada di dalam kamar, lalu ia naik ke atas tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Sungguh ia kecewa dengan apa yang di lakukan suaminya, ternyata Malik tidak menyayangi nya. Ia lebih mementingkan ego nya di banding perasaan sang istri.


Cairan bening sudah mengalir dari ujung matanya.


Setelah beberapa saat akhirnya Malik masuk ke dalam kamar lalu ia duduk di pinggir tempat tidur.


"Apa kamu marah padaku? " tanya Malik terhadap Ambar.


Ambar tidak mengeluarkan suara sedikit pun, air matanya semakin deras mengalir. Ia pikir Malik sangat mencintai nya dan ternyata Malik lebih mencintai kedudukan dan popularitas, di bandingkan perasaan sang istri.


Ambar sangat kecewa terhadap suaminya yang bersikap seperti ini.

__ADS_1


Akhirnya Malik pun ikut naik ke atas tempat tidur, dan memeluk sang istri dari belakang. Ia sangat sayang dengan Ambar akan tetapi ia juga tidak mau jika harus membawa Farwa ke rumah ini dan meminta maaf pada Argani dan Farwa. Ia juga sebetulnya tersiksa dengan keadaan seperti ini, selama ini Malik sangat dekat dengan Argani.


Akan tetapi saat ini ia sudah tidak bisa lagi memeluk anak laki-laki nya yang sangat ia cintai.


__ADS_2