Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 71


__ADS_3

Baskoro cokro dimata, Ayah dari Erick ia baru datang ke kantor lagi setelah cukup lama berada di luar kota menyelesaikan proyek yang ada di sana.


Ia sudah tahu bahwa Farwa itu sekretaris sang Putera, sebab Erick memberi tahu sang Ayah.


Bahkan photonya saja sudah Erick kirim terhadap sang Ayah, makanya Baskoro sudah tidak asing lagi terhadap Farwa.


Akan tetapi ia belum tahu soal Marwan, padahal menurut info yang terakhir di dapat. Perusahaan ini tidak membutuhkan karyawan baru, mengapa ada orang asing di kantor ini.


"Kamu siapa? " tanya Baskoro sambil menatap Marwan.


"Saya karyawan baru di perusahaan ini! " jawab Marwan dengan raut wajah yang terlihat biasa saja.


"Lalu apa hubungan nya antara kamu dan perempuan itu? "


"Dia calon istri saya, Pak" jawab Marwan tanpa rasa malu.


"Sembarangan kamu bicara! maaf Tuan dia berkata tidak jujur, saya sudah menikah" Farwa langsung menjawab ia tidak suka saat Marwan berkata seperti itu.


"Stop jangan berdebat lagi, ini kantor. Sekarang kalian pergi ke tempat bekerja, kalau sampai saya melihat kalian membawa urusan pribadi ke kantor maka, tidak ada tempat di perusahaan ini untuk kalian berdua! " kata Baskoro dengan nada bicara penuh penekanan.


Farwa semakin ketakutan mendengar perkataan orang tersebut, meskipun ia belum mengetahui siapa orang yang berada di hadapan nya pada saat ini. Akan tetapi ia sudah bisa menyimpulkan bahwa laki-laki yang sudah terlihat tua tapi masih ganteng, pasti pemilik perusahaan ini.


Akhirnya Baskoro pun pergi meninggalkan mereka berdua, Farwa juga dengan langkah cepat untuk segera sampai di meja kerja nya.


Waktu bergulir begitu cepat, pagi telah berganti dengan siang begitu juga dengan siang telah berganti dengan sore.


Seluruh karyawan sudah mulai menghentikan pekerjaan nya, begitu juga dengan Farwa.


Ia berjalan dengan perlahan untuk segera keluar dari gedung tersebut, ia juga sudah menghubungi suami nya.


Bahwa dirinya sudah pulang kantor dan menunggu di tempat biasa.


Setelah cukup lama Farwa menunggu, akhirnya orang yang ia tunggu pun sudah sampai.


Dengan penuh senyuman Argani menjemput sang istri.


"Ayok kita pulang, tapi sebelum itu boleh kah kita pergi ke rumah orang tua mu. Sekarang yang aku punya hanya kalian" kata Argani sambil tersenyum menatap lekat wajah sang istri.


"Aku ngikut saja apa yang menjadi keinginan mu, apa kamu nggak capek jika harus mampir dulu ke rumah ibu. Lain kali saja yah, ini juga sudah terlalu sore" kata Farwa, bukan ia tidak mau berkunjung ke rumah orang tua nya. Akan tetapi tubuh nya sudah terasa lelah sekali, seharian ia bekerja dan di hadapkan dengan orang seperti Marwan. Rasanya sesuatu banget.


"Apa ada masalah di dalam pekerjaan mu? " tanya Argani.


"T-tidak, hanya saja aku ngerasa lelah" jawab Farwa.


"Ya sudah, kalau begitu kita langsung pulang"


Akhirnya mereka berdua pulang ke rumah mereka, sebab Farwa tidak ingin pergi ke manapun selain ke rumah mereka.


Meskipun mereka masih ngontrak, akan tetapi sudah berhasil, membuat Farwa nyaman berada di rumah sewa. Meskipun itu tidak terlalu luas, bagi Farwa itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tinggal mereka.


Dengan langkah gontai Farwa langsung masuk ke dalam rumah, Argani juga mengikuti dari belakang.


Setelah sampai di dalam Farwa akan pergi ke dapur setelah menyimpan tasnya, akan tetapi Argani melarang nya untuk melakukan nya.


"Untuk hari ini nggak perlu masak, biar aku beli di luar saja. Kamu bersihkan dulu tubuh mu, nanti sebentar lagi Faklan akan datang" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang istri.


"Tapi kalau beli di luar lebih boros, hari ini kita sudah banyak pengeluaran karena kesian. Nanti uang kita nggak cukup untuk beberapa hari ke depan" jawab Fatwa.


"Nggak perlu khawatir, pasti ada rizki untuk kita. Ayok bersih-bersih dulu! " perintah Argani terhadap sang istri.


Farwa sekarang menjadi penurut, serelah mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya.


Setelah beberapa saat Farwa sudah selesai kebersihan tubuhnya, lalu Argani lagi yang masuk ke dalam kamar mandi.


Farwa menyiapkan pakaian yang akan di gunakan oleh suaminya, setelah itu ia naik ke atas tempat tidur lalu menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal sekali.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Argani sudah keluar dari kamar mandi. Ia langsung mengganti pakai dengan yang sudah di siapkan oleh sang istri, setelah semuanya selesai Argani mendekati istri yang sedang duduk dengan kaki selonjoran.


"Apa kamu terasa pegal? " tanya Argani sambil menyentuh kaki sang istri.


"Iya, pegal sekali"


Di saat mereka masih berada di kamar, awalnya Argani ingin memijat kaki Farwa terlebih dahulu. Akan tetapi terdengar suara bel berbunyi.


"Itu pasti Faklan yang datang, aku buka pintu dulu ya" kata Argani sambil bangkit dari duduknya.


Setelah beberapa saat, Argani sudah membuka pintu dan memang benar itu adalah Faklan.


Akhirnya Faklan pun masuk ke dalam rumah, lalu Argani mempersilakan nya untuk duduk.


Faklan menyerahkan paper bag yang di bawa nya.


"Ini makanan yang tadi di pesan, oh iya Kakak ipar mana? " tanya Faklan terhadap Argani..


"Oh iya, dia masih di kamar. Tunggu sebentar yah aku akan panggil dulu! " kata Argani, setelah berbicara seperti itu ia langsung pergi ke kamar untuk menemui sang istri dan memberi tahunya bahwa makan yang di pesan sudah datang.


Setelah beberapa saat Farwa dan Argani sudah kembali ke ruang tengah, di mana Faklan sudah menunggu keduanya.


Faklan datang mengunjungi mereka karena ada tujuan lain.


Akhirnya Farwa menyiapkan makanan yang di bawa oleh Faklan, kebetulan juga ia belum makan jadilah makan bertiga.


Setelah cukup lama dan selesai menghabiskan makan yang di bawa oleh Faklan.


Peralatan setelah di gunakan pun telah di rapikan, kini mereka tinggal ngobrol santai setelah kenyang menyantap makan yang sangat enak.


"Apa yang ingin kamu katakan terhadap kami? " tanya Argani terhadap Faklan.

__ADS_1


"Sebetulnya ini masalah nya dengan Daisy" jawab Argani ragu.


"Memangnya kenapa dengan dia, apa sudah melakukan kesalahan? " tanya Farwa ia kaget nama adiknya di bawa-bawa.


"T-ti-tidak, maksudku... aku ingin memperistrinya, tapi aku tidak punya keberanian untuk berbicara kepada Paman dan Bibi. Aku bukan juga termasuk kriteria yang di inginkan oleh Daisy, jujur aku mencintai nya" jawab Faklan dengan nada bicara ragu.


Betapa terkejutnya Farwa saat mendengar perkataan dari Faklan.


"Bagaimana bisa kamu mencintai adik ku secepat itu" kata Farwa.


"Aku suka sama dia sudah sejak lama, akan tetapi belum berani untuk mengutarakan perasaan ini. Aku sadar bukan orang yang baik"


"Jika memang kamu cinta sama dia, buktikan bahwa cinta yang kamu miliki itu memang benar. Perjuangkan cinta mu, tapi jangan tiru aku" kata Argani sambil menatap lekat wajah Faklan.


"Kakak ipar, boleh kah aku meminta bantuan mu. Untuk memberi tahu Paman dan Bibi bahwa aku ingin melamar Daisy dalam waktu dekat, lagi pula aku sudah tidak lagi muda bukan saatnya untuk pacaran" jawab Faklan.


"Ya, kalau kamu memang cinta sama dia usaha sendiri lah" jawab Farwa.


"Iya, Ayah mertua itu baik. Pasti akan menerima lamaran mu, kamu tahu sendiri kan berapa jahatnya aku. Akan tetapi Ayah dan ibu mertua dengan mudah memaafkan aku, padahal kamu tahu sendiri berapa jahatnya aku" kata Argani.


Ia mengingat kembali perlakuan jahatnya terhadap keluarga Farwa.


"Tapi aku takut" jawab Faklan.


"Ayah ku bukan singa jadi tidak akan mengigit" kata Farwa.


"Ya bukan seperti itu juga Kakak ipar"


Setelah berkata seperti itu, Farwa bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan suami dan sahabatnya itu.


Tinggal lah mereka berdua di ruang tengah, setelah beberapa saat mereka saling diam.


Akhirnya Argani memberikan solusi untuk sahabat nya itu.


"Lebih baik kamu persiapan untuk lamaran nya, kalau bisa dalam waktu dekat. Jika di tunda takut ada orang yang mendahului nya! " kata Argani.


"Aku juga maunya secepat mungkin, tapi bagaimana bisa aku menyiapkan itu semua sendiri" jawab Faklan.


"Hai, apa kamu sudah lupa? bukanlah yang mengatur pernikahan ku itu kamu, sekang siapkan untuk dirimu sendiri" kata Argani.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang sekarang. Terimakasih atas waktunya" kata Faklan sambil bangkit dari duduknya.


Faklan pun berpamitan untuk pulang, sebab hari juga sudah semakin larut.


Sudah waktunya untuk mengistirahatkan tubuh dari lelahnya setelah seharian di pakai untuk bekerja.


Setelah kepergian Faklan, Argani pun kembali ke kamar.


Argani menatap wajah sang istri yang sudah memejamkan mata. Ia pun mendekat kan wajahnya ke wajah istrinya, lalu mencium kening sang istri di selimuti lah tubuh sang istri.

__ADS_1


Lalu Argani pun ikut berbaring di sisi Farwa, lalu di peluklah tubuh sang istri.


__ADS_2