
Erick berbalik badan, ia melihat ke arah seseorang yang menepuk bahu nya.
Ia sangat terkejut dengan kehadiran Alfi di hadapan nya, padahal yang ia tahu bahwa saudara sepupu nya itu berada di luar Negeri tapi mengapa sekarang berada di kota ini.
"Membuat ku kaget, saja. Bukanlah kamu di luar Negeri? "
"Hanya sebentar, dan sekarang aku tinggal di kota ini" jawab Alfi.
"Bukanlah waktu itu kamu bilang akan menetap di sana, lantas mengapa sekarang ada di sini? "
"Sudah lama aku ada di kota ini, oh iya sedang apa di tempat ini? " tanya Alfi terhadap saudara sepupunya itu.
"Ada janji sama, Farwa dan suaminya Soal pekerjaan"
"Lantas apa yang kamu kerjakan di sini? "
"Hai tentu saja aku di sini, ini kafe punya ku" Alfi tersenyum menatap wajah sepupu nya itu yang terlihat sangat kaget, karena Erick tidak tahu kalau Alfi mempunyai bisnis di bidang kuliner. Erick tidak memungkiri bahwa Alfi punya keahlian dalam bidang meracik kopi, hanya saja selama ini ia tidak mau mengembangkan bakat nya lewat usaha. Selama ini, Alfi hanya mengandalkan uang dari orang tuanya.
"Serius ini punya mu, kenapa bisa" Erick kaget.
"Tentu saja bisa, ini berkat bantuan dari kedua orang tua dan Starla juga"
"Jangan bilang, ada di kota ini untuk menjadikan Radit dan keluarga nya dalam masalah! " ucap Erick.
"Kamu itu bilang apa sih, memangnya kenapa dengan keluarga mereka?"
"Sudah lah, lupakan apapun yang terjadi di masa lalu. Radit sudah cukup menderita, itu juga tidak lepas dari campur tangan mu juga, Kan! andaikan kamu tidak terus menerus menghasut Pak Malik untuk membenci Farwa, mungkin saat ini. Orang tua Radit masih hidup" Erick tidak ingin Alfi melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, karena itu akan membahayakan dirinya sendiri di kemudian hari.
"Kamu itu bicara apa, sih? aku saudari mu, kenapa tidak pernah berada di pihak ku. Aku tahu kamu juga suka sama Farwa, mengapa nggak berjuang untuk mendapatkan nya" ucap Alfi sambil menatap lekat wajah Erick.
__ADS_1
"Aku suka sama Farwa, tapi aku tidak gila dan berambisi untuk mendapatkan sesuatu yang memang itu bukan hak ku. Karena jika kita menyukai sesuatu bukan berarti harus mendapatkan nya. Justru kamu yang harus merubah pola pikir mu, agar tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan yang tidak seharusnya di dapatkan. Satu hal yang perlu di ingat, bahwa karma itu ada" jawab Erick dengan nada bicara penuh penekanan.
"Justru aku sedang berjuang untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik ku, dan pantang bagiku untuk mengalah untuk siapa pun. Lihat saja nanti, apa yang akan terjadi, aku punya kejutan di hari pernikahan Adnan, mungkin itu juga kado terindah untuk keluarga Malik" ucap Alfi, sambil tersenyum sinis.
"Jangan gila, kamu! ingat kamu juga sudah memiliki keluarga, seharusnya urus dengan baik keluarga mu. Dan terimalah takdir mu, mungkin kamu sama Radit tidak berjodoh. Karena Tuhan selalu punya rencana yang terbaik" Erick berusaha untuk menasehati sepupu nya itu.
"Justru aku sudah gila, dan ini semua karena perempuan pelakor itu. Sampai kapanpun tidak akan pernah membuat kehidupan mereka damai! "
"Jika kamu terus mengganggu kehidupan mereka, maka. Jangan pernah menyebut ku sebagai saudara mu lagi, andaikan aku tahu sejak awal bahwa kafe ini milik mu. Tidak akan pernah mampir di sini! " Erick berkata dengan nada yang sedikit meninggi.
"Santai saja, boss. Kalau tidak mau mampir dan mengakui ku itu tidak masalah, sekarang bisa pergi dari tempat ini! " jawab Alfi.
Tanpa berbicara lagi, Erick langsung meninggalkan Alfi lalu ia kembali ke meja yang sudah di pesannya. Ia merasa sangat menyesal mengajak Farwa bertemu dengan nya di kafe ini, andaikan tahu pasti tidak akan pernah mau datang ke tempat ini. Meskipun ada hubungan darah, tapi Erick dan Alfi sangat jauh berbeda jauh.
Erick pun memesan kopi terlebih dahulu, sambil menunggu sepasang suami-istri yang berjanji dengan nya.
Lalu ia meminum kopi tersebut dengan perlahan, tidak di pungkiri bahwa rasanya memang nikmat. Andaikan Alfi menjadi orang baik dan menjalankan bisnis ini, tanpa memiliki hati yang kotor dan ingin menghancurkan hidup orang lain. Mungkin akan lebih baik untuk kehidupan dan keluarga kecil nya, daripada ia sibuk mencari cara untuk menghancurkan hidup orang lain.
Setelah cukup lama Erick menunggu kedatangan sepasang suami-istri, akhirnya yang di tunggu datang juga.
Sepasang suami-istri duduk di kursi yang berhadapan dengan Erick, mereka meminta maaf karena datang terlambat. Dan Erick pun tidak mempermasalahkan itu semua, mereka mulai membicarakan apa yang mereka rencana kan. Karena pertemuan nya di tempat ini untuk membahas rehab gedung yang akan di jadikan rumah makan. Gedung tersebut akan segera selesai, Erick meminta Farwa untuk mengevaluasinya agar di perbaiki, bagian mana yang kurang cocok. Sebelum selesai maka bisa di perbaiki, dan Farwa juga sudah meninjau nya. Dan Farwa tidak ada masalah dengan semua itu, bahkan ia sudah tidak sabar untuk segera selesai.
"Jadi tidak ada masalah? " tanya Erick sambil menatap sepasang suami-istri secara bergantian.
"Beberapa hari lalu, aku dan mas Radit sudah meninjau nya dan tidak ada yang kurang. Mungkin kalau sudah selesai akan terlihat sempurna" jawab Farwa.
"Syukur lah, kalau memang sesuai dengan keinginan kalian berdua. Mungkin sekitar satu bulan lagi tempat itu sudah selesai, atau setelah acara pernikahan kak Adnan sudah bisa di tempati" ucap Erick.
"Semoga dalam satu bulan semua nya lancar, tidak halangan apapun. Terimakasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk menemui kami"
__ADS_1
"Kebetulan hari ini sedang tidak ada pekerjaan, sebelum pulang ke kota A nanti sore"
"Sore sudah pulang lagi, kenapa nggak nyari pendamping yang ada di kota ini agar bisa stay di sini! " Radit berkata sambil melirik sang istri.
"Meskipun ada jodoh di kota ini, tetap nggak bisa stay di sini. Karena kantor pusat tetep di kota A, susah jika di tinggal kan"
"Iya, juga sih... semoga secepatnya nyusul kak Adnan" Farwa menimpali nya.
"Semoga saja, ada perempuan seperti kamu"
"Maksudnya? " Radit ingin tahu lebih jelas maksud dari perkataan Erick.
"Seperti bu Farwa, yang sangat cinta dengan suaminya. Bahkan selama dua tahun hanya dia yang tidak percaya bahwa Pak Radit telah meninggal, dan ternyata benar. Kekuatan cinta yang meyakinkan nya bahwa suaminya masih hidup" jawab Erick dengan grogi, ia juga takit Radit curiga bahwa ia pernah menyukai Farwa dulu dan sampai sekarang pun rasa itu tetap ada.
"Benarkah seperti itu? kenapa aku baru tahu kalau cinta mu sebesar itu" Radit berkata sambil menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.
"Astaga, pertanyaan macam apa itu"
"Tidak masalah bu, nggak perlu malu. Memang kalian pasangan yang serasi, semoga terhindar dari mata jahat. Aku titip kalian terus lah waspada, karena bahaya sedang mengancam keluarga kalian. Kalau bisa jangan biarkan bu Farwa pergi sendiri, kita tidak tahu orang-orang di luar sana yang iri dengan kehidupan kalian" Erick berpasan terhadap sepanjang suami-istri yang berada di hadapan nya.
Walau bagaimana pun, Erick tidak mau sesuatu terjadi dengan keluarga ini akibat dari perbuatan Alfi yaitu sepupu nya. Tetap saja nantinya ia merasa malu, jika hal itu sampai terjadi.
"Maksudnya, bahaya apa? "
"Pastinya banyak orang yang menginginkan kehancuran keluarga kalian, karena iri. Oh iya Maafkan aku sudah keluar dari tema pembicaraan kita"
"Tidak masalah, terimakasih sudah menginginkan kami untuk waspada" jawab Farwa, karena ia tahu betul maksud dari perkataan Erick ada hubungan nya dengan Alfi ataupun Starla. Karena hanya mereka yang bisa melakukan apapun demi tercapai nya sebuah keinginan. Radit bingung dengan yang di katakan oleh Erick karena ia tak mampu mengingat apapun yang terjadi di masa lalu, mungkin saja kalau ingat akan lebih mudah.
Waktu bergulir begitu cepat, pembicaraan di antara mereka sudah selesai. Akhirnya mereka keluar dari kafe itu dan masuk ke dalam kendaraan masing-masing.
__ADS_1