
Pagi hari
Di kediaman Radit, semua orang sudah berada di ruang makan. Mereka selalu meluangkan waktu untuk sarapan bersama, karena saat pagi itu waktu untuk bersama keluarga. Karena jika malam, sangat sulit untuk duduk bersama. Kesibukan yang memaksa mereka untuk pulang larut, apalagi banyak nya pekerjaan sehingga sangat sedikit waktu untuk duduk bersama saat malam.
Mereka ngobrol ringan saat makan, dan Argani kecil pun sangat menikmati nya. Ia sekarang merasakan kehangatan dari kasih sayang kedua orang tuanya, dan orang-orang yang ada di sekitar nya pada saat ini.
Bagi Radit dan Hadi, sekarang mereka merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Saling menyayangi satu sama lain, kedua orang tua Farwa sudah mampu membuat Hadi merasa kembali kasih sayang kedua orang tuanya bahkan sebelum nya tidak ia dapatkan dari seorang ayah, sekarang ia mendapatkan nya dari Ayah Farwa. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia dan sempurna, canda tawa pun tercipta di antara mereka.
Waktu bergulir begitu cepat, Radit dan Farwa juga akan segera pergi.
Sedangkan Hadi sudah pergi terlebih dahulu, karena ada pekerjaan di luar kota dan harus berangkat pagi.
Setelah sarapan selesai, ia langsung bergegas berangkat.
Sesuai dengan yang pernah di bicarakan bersama, Radit dan Farwa akan bertemu dengan orang yang akan mengerjakan proyek pembangunan rehab rumah makan milik Farwa.
Rencana akan di bangun dan di desain modern, agar meningkatkan minat para pengunjung dan kenyamanan pengunjung juga. Arsitektur yang mereka pakai juga yaitu jasanya Mayang, dia yang akan mengubah gedung tersebut menjadi bagus.
Berkat rekomendasi dari sang kakak, akhirnya Radit mau menerima saran dan menjalin kerjasama dengan perusahaan di mana Farwa pernah bekerja di sana.
Kedua nya sudah rapi, karena hari juga sudah semakin siang.
"Bu, kami pergi dulu... mungkin pulang nya telat, karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesai kan" Radit berpamitan terhadap ibu mertua nya, yang sedang bermain dengan Argani kecil. Sebelum anak kecil ini selalu ingin pergi bersama kedua orang tuanya, setelah di berikan pengertian dan anak kecil itu mau di tinggal dengan satu perjanjian yaitu harus pulang membawa mainan kedukaan nya.
"Iya, Hati-hati di jalan! " pesan ibu mertua nya.
__ADS_1
Akhirnya Radit dan Farwa melangkahkan kakinya, untuk segera keluar dari rumah dan menuju tempat yang sudah di janjikan.
Kedua nya, sudah berada di dalam kendaraan. Radit sudah siap melajukan kendaraan nya, dengan perlahan ia menginjak gas. Kendaraan pun perlahan pergi meninggalkan rumah yang sangat megah, sekarang Radit sudah mulai terbiasa memulai hari bersama Farwa. Meskipun belum mampu mengingat nya, akan tetapi rasanya nyaman itu di rasakan oleh Radit saat bersama Farwa.
Sedangkan Farwa juga tidak memaksakan Radit untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu, bagi Farwa saat ini masih bisa bersama dengan Radit itu sudah lebih dari cukup. Bisa bersama kembali dengan orang yang di cintai nya, dan Argani kecil mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah yang sangat menyayangi nya.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, suasana jalan sudah semakin ramai di padati oleh kendaraan. Hal ini membuat jalanan sangat indah, karena di penuhi oleh kendaraan dari berbagai jenis.
Farwa sangat menikmati perjalanan, sedangkan Radit tetap fokus ke jalan.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Kendaraan sudah terparkir dengan sempurna, Farwa dan Argani sudah turun lalu mereka melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke sebuah gedung yang berdiri kokoh di hadapan nya.
Setelah sampai di dalam, dan langsung menuju tempat yang sudah mereka pesan sebelum nya. Tempat yang sangat privasi untuk membicarakan soal bisnis, semua ini tidak lepas dari campur tangan sang kakak.
Mereka sudah duduk di tempat, dan beberapa orang yang sudah menunggu kedatangan nya.
Radit langsung mengulurkan tangannya, lalu Erick menyambut nya.
Setelah mereka berkenalan dan mereka duduk kembali dan mulai membicarakan soal pembangunan gedung yang sudah di bicarakan melalui sambungan telepon sebelum nya.
"Setelah hampir satu tahun, baru bertemu lagi dengan mu. Ternyata tidak banyak yang berubah dari mu" kata Erick sambil menatap wajah Farwa, yang tetap seperti dulu.
"Ya, aku kan bukan ultraman yang bisa berubah" jawab Farwa dengan nada bicara yang santai.
__ADS_1
"Bukan seperti itu juga, aku pikir setelah sukses kamu tidak akan mengenal ku lagi dan mau bekerja sama dengan perusahaan receh seperti perusahaan ku" kata Erick.
"Ini semua rekomendasi dari kak Hadi, lagian mana mungkin juga perusahaan besar seperti milik mu mengambil proyek kecil seperti ini" Radit pun menimpali nya.
Dulu Erick sempat tertarik terhadap Farwa, akan tetapi setelah mengetahui bahwa Farwa sudah menikah. Dan ia langsung melupakan niatnya untuk mendekati Farwa, dan setelah kepergian Radit pada saat itu. Ia berusaha kembali untuk mendekati Farwa, dan mengajaknya untuk bergabung di perusahaan nya kembali. Akan tetapi usahanya sia-sia, pada saat itu Farwa masih tenggelam dalam rasa kehilangannya.
Baru beberapa bulan ini ia belajar untuk bangkit dan menerima kenyataan, dan sekarang ia harus di pertemukan kembali dengan orang-orang yang pernah hadir di masa lalunya. Farwa sangat berterimakasih atas apa yang terjadi pada saat ini.
Pembicaraan soal kerjasama di antara mereka sudah mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak, dan Mayang juga sudah menunjukkan gambar nya terhadap Erick. Dan itu di sepakati oleh semuanya karena gedung yang di rancang oleh Mayang memang sangat bagus, ada unsur modern nya.
Akhirnya semuanya memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kali ini, dan mereka akan kembali ke rumah mereka masing-masing. Erick akan melanjutkan pekerjaan nya kembali, sedangkan Mayang harus kembali ke kantor di mana ia bekerja.
Radit dan Farwa pun kembali ke rumah akan tetapi sebelum itu, harus mampir terlebih dahulu ke tempat yang menjual permainan yang di minta oleh Argani kecil.
Setelah beberapa saat Radit menghentikan kendaraan nya, dan mereka berdua langsung masuk dan memilih mainan yang akan mereka beli yang sesuai dengan permintaan sang putra.
Di saat Farwa hendak mengambil salah satu mainan, tiba-tiba matanya tertuju pada mainan anak perempuan yang menurut nya itu sangat menarik.
"Andaikan kita punya anak perempuan, mainan itu sangat lucu. Ya, Mas... " kata Farwa sambil menunjuk ke arah mainan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Hamn"
Hanya kata itu yang keluar dari bibir Radit, sedangkan Farwa setelah mendengar jawaban dari sang suami langsung berubah murung. Walaupun mereka sekarang sudah terlihat semakin dekat, dan seperti sepasang suami istri akan tetapi Radit belum berani untuk menyentuh Farwa.
Setelah beberapa saat, mereka sudah memilih mainan yang sesuai dengan pesanan Argani kecil. Akhirnya langsung pulang ke rumah, selama di perjalanan Farwa tidak bicara sepatah kata pun.
__ADS_1