
Keesokan harinya.
Pagi hari di rumah Radit seperti biasa, anak kecil itu selalu sibuk sebelum berangkat ke sekolah. Farwa pun sekarang sudah biasa bangun pagi, karena perkataan sang Ibu, bukan berarti ibu hamil itu harus mengikuti rasa malas, ngantuk, atau yang lainnya.
Ibu hamil juga harus ada aktivitas di pagi hari, Farwa anak yang penurut sehingga ia bisa mendengarkan nasehat dari sang Ibu. Meskipun terkadang ia harus mengeluarkan isi perutnya, akan tetapi perempuan itu berusaha untuk kuat dan mengurus sang anak.
Ia juga tidak mau Arganik kecio selalu berpikir bahwa ia tidak menyayanginya, ketika sudah memiliki adik, dan hal inilah yang membuat Farwa takutkan.
Seperti biasa keluarga ini selalu menyempatkan waktu untuk sarapan bersama dan bertukar cerita di meja makan, karena saat pagi lah mereka bersama. Mereka siap untuk menikmati sarapan yang sudah disediakan oleh pelayan yang bekerja di rumah ini.
Radit berencana akan mengantar jagoan kecilnya ke sekolah, lalu mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Ia ingin segera tahu, siapa orang-orang yang selalu mengintai keluarganya ia tidak mau Sesuatu terjadi kepada keluarganya .
"Sayang mungkin aku setelah mengantar Argani, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dahulu. Kalau misalkan kamu mau ke rumah Daisy terlebih dahulu, bisa diantar sopir, aku langsung nyusul ke sana, soalnya tadi bu Faklan bilang. Daisy sedang tidak enak badan atau mau Nunggu aku pulang saja? " tanya Radi terhadap sang istri.
"Aku sama ibu biar diantar sopir saja, kalaupun nanti kamu mau nyusul, langsung nyusul ke sana! lagi pula kita di sana juga tidak akan lama, paling hanya sebentar. Dan setelah itu akan mencari keperluan untuk anak kita, katanya butuh alat lukis" jawab Farwa, sebab tadi malam, sang jagoan kecil berkata, karena di sekolahnya ada kelas melukis. Diwajibkan untuk mempunyai alat-alat tersebut.
"Jagoan Ayah suka melukis ? "tanya Radit terhadap Sang putra
"Aku tidak suka melukis, hanya saja kata bu guru, harus mempunyai alat lukis. Terus aku bilang sama ibu untuk membelikanya"jawab Arga nih kecil sambil terus menyuapkan sarapan ke mulut nya.
"Oh, Ayah kira kamu suka melukis seperti tante Daisy, hebat loh. Dia bisa menuangkan ide dan membuat karya seni yang luar biasa" Ucap Radit sambil tersenyum menatap wajah sang Putera.
"Aku itu suka olahraga menembak, jika saja Ayah bisa membiarkan aku ke ikut ekskul menembak, aku sangat suka. Boleh kah Ayah, Ibu?" ucap Argani kecil.
Seketika Farwa terdiam teringat masa kelam yang pernah terjadi di masa lalu, Radit sangat suka sekali bermain senjata bahkan di setiap detik Radit tidak pernah lepas dari senjata api yang selalu ia bawa kemanamana. Apakah sang anak juga akan menuruni sifat seperti ayahnya? Farwa tidak bisa berkata apapun jika Argani kecil mempunyai sifat seperti ayahnya. Akan tetapi sekarang pun sudah terlihat, sifat keras kepalanya itu menurun dari sang ayah. Untuk kesamaan sifat, Farwa tidak ambil pusing akan tetapi jika urusan dengan senjata api atau senjata tajam lainnya. Maka, Farwa tidak akan pernah mengijinkan nya.
"Oh ,Tidak! ibu tidak akan pernah mengizinkan kamu mengikuti olahraga seperti itu, terlalu berbahaya bagi kamu, dan lingkungan? " jawab Farwa tidak mau Arganik kecil mempunyai keahlian di bidang menembak, karena takut disalahgunakan, seperti sang Ayah.
"Tapi, aku suka hal itu, laki-laki itu sangat gagah. Jika bisa menembak contohnya Pak polisi atau ABRI sangat gagah, bisa membela bangsa dan negara dengan senjata-senjata mereka, melawan negara-penjajah. "ucap Argani kecil
" Siapa bilang? membela bangsa itu harus dengan tembak-menembak? tidak! semuanya. Cukup jadi anak baik, patuh, dan taat terhadap aturan Negara, itu juga sama saja dengan membela bangsa dan negara, tidak harus bermain pistol, atau senjata api, tidak akan pernah akan pernah mengizinkannya, kamu mengikuti ekskul seperti itu" kata Farwa, Sampai kapan pun, tidak akan pernah mengizinkan hal itu, meskipun ia sangat tahu, bahwa menembak juga adalah salah satu cabang olahraga yang terkenal di negara ini, termasuk juga banyak turnamen-turnamen sering diadakan di berbagai negara akan tetapi ia sama sekali tidak tertarik bahwa Argani kecil akan masuk ke cabang olahraga seperti. Lebih baik Argani kecil masukkan ke cabang olahraga sepak bola, atau yang lainnya.
__ADS_1
"Tapi aku suka" jawab Argani kecil.
"Iya, kalau jagoan Ayah sudah besar nanti di ajarin" ucap Radit, agar sang putra tidak merajuk. Karena anak kecil itu selalu saja mau di turuti apa yang menjadi keinginan nya, persis sifat sang Ayah.
"Bener, Yah... jadi nanti Ayah yang mengajarkan aku soal menembak? " tanya Argani kecil dengan antusias.
"Bukan Ayah, tapi nanti ada ahlinya yang mengajari mu. Mana bisa Ayah pegang senjata seperti itu" jawab Radit.
"Padahal dulu kamu tidak bisa lepas dari senjata, karena semua itu semuanya lupa. Tapi ada hikmah nya di balik kamu tidak mengingat apapun, pasti kamu sudah mencari keberadaan Alfi dan Starla untuk menghancurkan hidup mereka. Sekarang kamu terlihat biasa saja karena tidak ingat apapun" Farwa berbicara dalam batin, dengan tatapan fokus ke sang suami yang sedang menikmati sarapan pagi.
"Kenapa diam, ayok habiskan itu rotinya! " ucap Radit terhadap sang istri, karena ia melihat Farwa tidak memakan makanan yang ada di hadapan nya.
"Iya"
Akhirnya mereka semua melanjutkan sarapan nya tanpa ada yang berbicara, pak Mahad tidak keluar dari kamar karena merasa tidak enak badan. Bu Zulaikha juga keluar hanya mengambil sarapan untuk suaminya dan belum kembali lagi, hanya ada Radit, Farwa, Adnan dan juga Argani kecil.
Waktu bergulir begitu cepat, suasana di meja makan sudah kembali hening. Semua nya sudah beranjak, begitu juga dengan Argani kecil ia sudah keluar rumah terlebih dahulu karena ia selalu bersemangat untuk segera berangkat ke sekolah.
Hingga pada akhirnya, kendaraan sudah lepas dari pandangan Farwa.
Ia kembali ke dalam rumah, dan segera menuju kamar orang tuanya. Ia ingin memastikan sang Ayah, apakah itu hanya tidak enak badan atau perlu di bawa ke rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Farwa sudah sampai di depan pintu kamar. Ia mengetuk pintu, lalu mendengar jawaban dari dalam yang mempersilakan nya untuk masuk. Farwa melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam kamar, terlihat dengan jelas tubuh seorang lelaki yang tidak lagi muda meringkuk di atas tempat tidur, lalu ia mendekat ke arah sang Ayah.
"Apa Ayah sakit? kita pergi ke dokter saja yuk! " ajak Farwa terhadap sang Ayah.
"Nggak, Ayah hanya sedikit pusing. Sebentar lagi akan sembuh, ibu mu sudah memberikan Ayah obat" jawab Pak Mahad dengan nada bicara yang lembut, ia buka matanya dengan perlahan.
"Daisy juga katanya lagi sakit, aku mau ke sana sama ibu, tapi mana mungkin ibu bisa pergi meninggalkan Ayah sendirian di sini" ucap Farwa, lalu menatap sang ibu yang duduk di sisi tempat tidur.
"Kamu saja, yang pergi. Bilang sama adik mu, ibu nggak bisa nengokin. Ayah mu lagi tidak enak badan" ucap sang ibu.
__ADS_1
"Kalau mau pergi, pergi saja! aku tidak masalah, lagian hanya sakit kepala doang. Kenapa kalian anggap serius" ucap pak Mahad.
"Kamu saja yang pergi! ibu di rumah saja nunggu Ayah mu, bilang saja, sama adik mu Ayah lagi tidak enak badan" ucap Bu Zulaikha.
"Iya sudah kalau begitu, aku juga berangkat nya sekitar jam sembilan"
"Iya"
"Ayah, kalau memang sakit kita ke dokter saja dulu atau aku panggil dokter keluarga untuk datang. Biar periksa Ayah, aku nggak tenang jika Ayah seperti ini"
"Nggak perlu, percaya deh nanti sore juga sembuh. Pergi saja, jangan khawatirkan Ayah, kan ada ibu mu yang menjaga nya"
"Ya, aku percayakan Ayah untuk di jaga sama ibu" ucap Farwa, sambil tersenyum tipis ke arah sang ibu.
Setelah berbicara seperti itu, Farwa pun keluar dari kamar kedua orang tua nya.
Meniggalkan sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda, akan tetapi dua orang itu selalu memberikan contoh ke harmonisan rumah tangga. Akan tetapi anak-anak belum ada yang bisa seperti mereka. Saling menyayangi dan melengkapi dalam keadaan apapun.
"Ada yang Ayah pikirkan? " tanya Zulaikha terhadap sang suami, karena ia melihat suami menatap kepergian sang putri dengan penuh Arti.
"Jika suatu saat aku pergi lebih dulu, apakah kedua putri ikita bisa menjaga mu dengan baik seperti aku menjaga mu. Begitu juga sebaliknya, aku khawatir nantinya mereka akan sibuk dengan kehidupan mereka sehingga lupa akan keberadaan kita" ucap Mahad dengan tatap kosong.
"Ayah, ngomong apa sih, mereka itu anak-anak kita sudah pasti mereka akan mengurus dan menyayangi kita sebagai orang tuanya. Jangan pernah berfikir yang aneh-aneh. Kita mesti berbaik sangka, bawa mereka akan memperlakukan kita dengan baik" jawab Zulaikha, sebetulnya di dalam hatinya yang paling dalam, ia juga mempunyai ketakutan yang sama dengan sang suami.
"Ayah hanya khawatir saja" kata Mahad
"Jangan mengkhawatirkan yang belum tentu terjadi, karena itu akan membuat hati mu tidak tenang. Kita serahkan saja terhadap sang kuasa yang bisa mengatur segala nya, semoga keluarga kita ada dalam lindungan-Nya" ucap Zulaikha.
Akhirnya sepasang suami istri saling diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Rasa ngantuk pun sudah menguasai Mahad, karena obat yang di minum nya.
Tanpa terasa mata hari pun sudah semakin tinggi, Zulaikha meninggalkan sang suami yang sudah tertidur pulas. Ia pergi ke luar kamar untuk pergi ke dapur, di sana ia bisa bertukar cerita dan berbagi resep masakan bersama mereka di dapur.
__ADS_1
Zulaikha suka berada di antara mereka, makanya selalu menyempatkan diri untuk hadir di antara mereka di pagi hari.