Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 80


__ADS_3

Di kediaman Malik.


Adnan baru saja datang, setelah mendapatkan kabar dari Faklan bahwa Argani tertembak.


Ia langsung bergegas pulang, ia ingin bertanya terhadap sang Papa mengapa ia sampai melakukan hal ini.


Adnan pikir sang Papa akan berubah setelah kepergian sang Mama akan tetapi kelakuan Malik Semakin menjadi, bahkan saat ini Argani yang menjadi korban atas keegoisannya.


Kalau sudah seperti ini dia sendiri yang akan merasa rugi sudah kehilangan istri kehilangan anak juga.


Kalau saja Argani masih bisa diselamatkan itu akan lebih baik, akan tetapi bagaimana kalau Argani tidak bisa tertolong.


Ini murni adalah akibat dari keegoisan sang Papa yang tidak bisa menerima kehadiran Farwa di keluarganya ini.


Adnan dengan terburu-buru langsung masuk ke dalam rumah, ia langsung menuju kamar sang Papa, di mana setiap hari laki-laki itu selalu mengurung diri dan menatap gambar sang istri.


Tanpa permisi terlebih dahulu Adnan langsung menerobos masuk ke dalam kamar setelah sampai di dalam kamar Adnan langsung bertanya kepada sang papa.


" Apa maksud Papa sampai melakukan ini terhadap Argani? Apakah Papa tahu akibat dari perbuatan yang telah Papa lakukan! sekarang Argani sedang berjuang melawan maut, apakah sekarang Papa sudah puas melakukan ini "kata Adnan dengan nada bicara dipenuhi dengan amarah.


" Maksud kamu apa? berkata seperti itu saya tidak melakukan apapun, mengapa kamu menuduh ku seperti itu" jawab Malik sambil bangkit dari duduk nya dan menatap tajam wajah Adnan yang sedang di kuasai emosi.


Malik belum menyadari bahwa saat ini putranya sedang meregang nyawa dan berjuang untuk hidup.


" Papa tidak bisa membohongiku, papa kan! yang telah menyuruh preman itu untuk menembak Farwa, akan tetapi tembakan itu mengenai Argani. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit dalam keadaan kritis entah dia bisa diselamatkan atau tidak! Sekarang Papa bahagia dengan keadaan ini, Mama sudah pergi gara-gara kelakuan Papa. Jangan sampai Argani pergi juga! jika sampai itu terjadi aku tidak akan pernah memaafkanmu! sampai kapanpun, bahkan aku saja akan pergi meninggalkanmu! " kata Adnan dengan nada bicara penuh penekanan.


" Apa kamu bilang!" tanya Malik sebetulnya dia juga belum menyadari apa yang di katakan sang Putera.


"Sekarang Argani sedang di operasi pengangkatan peluru akibat tertembak dan yang menembaknya itu adalah orang suruhan Papa, Papa kan! yang sudah menyuruh mereka untuk membunuh Farwa. dan Argani tidak akan pernah membiarkan istrinya tertembak, dan ia sendiri yang tertembak "jawab Adnan dengan tegas.


Sketika tubuh Malik merasa lemas, ia baru menyadari ternyata tujuan Adnan itu memberitahunya bahwa Argani sekarang tertembak.


Oleh orang suruhannya, dan itu sudah berhasil membuat Malik seperti kehilangan tenaga hanya untuk berdiri.


Akhirnya yang tadinya berdiri Malik seketika ambruk, Adnan yang melihat keadaan sang Papa seperti itu.


Ia langsung meninggalkannya begitu saja, kali ini ia tidak habis pikir kepada sang Papa.


Mengapa hatinya begitu keras, sehingga tidak bisa membiarkan Argani hidup bahagia bersama Farwa. Malik tidak bisa belajar dari apa yang telah terjadi, Ambar saja sudah meninggalkan dirinya itu semua akibat dari keegoisannya.


Andai saja pada saat itu ia bisa menerima kehadiran Farwa di keluarga ini, mungkin Ambar juga masih berada di dunia ini.


Ajan tetapi Malik Malah semakin gila, bahkan saat ini Argani yang menjadi korban dari keegoisan dirinya.


Sekarang Malik baru menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah akan tetapi semua itu tidak akan pernah bisa mengubah segalanya.


Segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup manusia, tidak akan pernah bisa diulang kembali.


Kita hanya bisa menyesalinya, sekarang Malik benar-benar merasa terpuruk.


Ia terus mengeluarkan cairan bening, ia tidak menyangka bahwa anak aki-lakinya itu yang menjadi korban dari keegoisan dirinya sendiri.


Ternyata ini balasan dari apa yang telah di lakukan nya terhadap orang lain, sekarang Malik benar-benar merasakan apa yang di rasakan oleh Ayah nya Farwa saat itu.


Malik masih belum bisa hanya untuk berdiri, kaki nya terasa lemas.

__ADS_1


Akan tetapi ia juga harus datang ke rumah sakit dan melihat keadaan sang putra pada saat ini.


Malik memegang ujung sofa, ia berusaha untuk berdiri.


Setelah berjuang untuk berdiri, akhirnya ia mampu untuk berdiri meskipun sambil berpegangan.


Dengan perlahan ia melangkah kan kakinya sambil berpegangan di dinding.


Setelah beberapa saat ia sudah berada di luar kamar, di sana ada seorang petugas keamanan yang berdiri di depan kamar nya.


"Antarkan aku ke rumah sakit kota! " kata Malik sambil terus berjalan.


"Baik, Tuan"


Lalu petugas keamanan menghubungi sopir agar segera menyiapkan mobil untuk mengantar Tuannya pergi ke rumah sakit.


...****************...


Waktu bergulir begitu cepat.


Di rumah sakit kota, terlihat beberapa dokter ahli sedang melakukan operasi pengangkatan peluru.


Dan sekarang peluru itu sudah berhasil di keluar kan, Argani terbilang sangat kuat ia mampu bertahan dengan keadaan saat mengeluarkan banyak darah.


Apakah ini yang di namakan kekuatan doa dari orang-orang yang tulus mencintai nya.


"Operasi nya sudah selesai, apakah pasien di pindah ke ruang rawat inap atau ke ruang ICU? " tanya salah satu petugas kesehatan yang berada di sana.


"Pindah ke ruang ICU saja, karena pasien masih harus dalam pengawasan yang ketat" jawab salah satu dokter yang ada di sana.


"Baiklah"


Di ruang tunggu, Farwa masih dengan posisi duduk sambil bersandar di bahu sang Ibu.


Saat ini Farwa tidak mampu untuk melakukan apapun, bahkan hanya untuk berdiri saja ia tidak mampu.


Adnan baru saja datang ke rumah sakit, ia langsung bergegas menuju tempat yang di beri tahukan oleh Faklan.


Setelah berada di dalam Adnan langsung mendekat ke arah Farwa, akan tetapi ia tidak mampu berkata apapun selain tubuhnya yang terasa lemas.


Adnan bersandar di dinding agar ia tidak terjatuh.


Setelah beberapa saat akhirnya Malik pun tiba di rumah sakit, dengan perlahan ia berjalan masuk dan menghampiri Farwa.


"Di mana dia sekarang? " tanya Malik sambil menatap Farwa.


Seketika Farwa mempunyai kekuatan untuk berdiri lalu ia mencengkram kuat kerah kemeja yang di kenakan oleh laki-laki yang sudah tidak lagi muda.


"Sekarang kamu puas, setelah melihat dia sekarat. Kamu ingin membunuhku kan! lakukan sekarang biar kamu merasakan ketenangan, awal sembuhkanlah dia, jika terjadi sesuatu pada nya, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu. Bukan hanya aku tapi anak nya juga tidak akan pernah memafkan orang yang telah menyakiti Ayahnya" kata Farwa sambil menangis berteriak.


"Apa, dia sedang hamil" batin Malik.


Bahkan saat ini ia tidak mampu hanya untuk mengeluarkan suara di hadapan Farwa, saat ini Malik benar-benar merasakan sedihan dengan apa yang telah di lakukan nya.


Zulaikha yang melihat Farwa seperti itu langsung berdiri dan merangkul pinggang sang putri.

__ADS_1


"Nggak baik memperlakukan orang tua seperti itu, tenanglah! " kata Zulaikha dengan suara lembut.


"Apa ibu bilang? orang tua, dia bahkan tidak pantas di sebut manusia. Dia hanyalah seorang monster yang tidak memiliki hati" kata Farwa dengan nada bicara di penuhi dengan emosi.


"Tenang, ayok duduk! Argani akan sedih melihat kamu seperti ini" Zulaikha menarik paksa sang putri agar duduk kembali.


Akhirnya Farwa pun duduk kembali setelah di paksa oleh sang Ibu, Zulaikha tidak mau melihat Farwa seperti itu.


Meskipun sangat marah dan kecewa terhadap orang tua, akan tetapi tidak Farwa tidak bisa di benarkan.


Zulaikha ngerti dengan apa yang di rasakan anaknya pada saat ini, akan tetapi ia juga merasa sedih dengan kelakuan Farwa yang sudah tidak menghargai orang tua.


Semarah dan sejengkal apapun terhadap orang tua lebih baik diam, itu harapan Zulaikha terhadap sang putri.


Zulaikha pun masih dalam keadaan tangan yang melingkar di pinggang sang putri.


Malik pun masih tetap berdiri sambil bersandar di dinding, sebab ia sudah tidak mampu berdiri dengan baik.


Kakinya sudah tidak mampu menopang bobot tubuh nya.


Di saat mereka semua diam, datanglah seorang perawat.


"Dengan keluarga Tuan Argani di persilakan untuk mengunjungi nya, tapi hanya satu orang" kata perawat tersebut.


Farwa langsung berdiri " Saya istrinya jadi yang berhak itu saya! " kata Farwa sambil mengikuti perawat yang memanggil tadi.


Setelah beberapa saat, akhirnya Farwa sudah berada di dalam ruangan.


Lalu ia mendekat ke arah sang suami yang sedang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat menempel di tubuh nya.


Farwa duduk sambil menatap lekat wajah sang suami.


"Mas... kenapa kamu lakukan ini untuk ku, aku tidak sanggup melihat mu dalam keadaan seperti ini. Jangan lama-lama tidurnya, aku takut hujan apalagi listrik padam siapa yang akan memeluk ku dan berkata, Tidurlah jangan takut ada aku yang bersama mu. Itu kan yang selalu kamu katakan saat aku ketakutan, dan aku merasakan kenyamanan saat berada di pelukan mu. Dengan mudah nya aku tidur, kamu selalu bilang setiap pagi bahwa mencintai ku, dan mulai hari ini aku kan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Setiap hari aku akan mengatakan nya asal kamu bangun" kata Farwa sambil menatap lekat wajah sang suami dengan mata tertutup.


Tanpa terasa cairan bening itu sudah mulai keluar dengan sendiri nya.


Di alam bawah sadar Argani, ia mendengar seorang perempuan sedang menangis lalu ia mencari keberadaan suara tersebut.


Semakin lama semakin dekat sura tersebut, lalu ia di kagetkan dengan wajah anak kecil yang sedang menatap ibunya yang sudah tidak bernyawa.


Seketika Argani membuka matanya, lalu melihat ke sekeliling.


"Kenapa aku berada di sini, bagaimana dengan Farwa" kata Argani dengan sura sayup.


Karena selang oksigen juga masih terpasang di lubang hidung nya.


"Mas... syukur lah, kamu udah sadar. Aku sangat mencintaimu jadi jangan pernah membuat ku khawatir lagi yah" kata Farwa sambil memegang erat tangan suaminya.


"Coba katakan sekali lagi" Argani meminta sang istri untuk mengulangi pernyataan nya.


"Aku sangat mencintaimu" kata Farwa sambil menangis.


Akan tetapi Farwa di kagetkan dengan keadaan Argani yang tiba-tiba menutup matanya kembali.


"Mas..." Farwa memanggil-manggil suaminya akan tetapi tidak ada jawaban.

__ADS_1


Alat pengukur detak jantung pun berhenti, hanya ada garis lurus yang terlihat.


Semua tenaga kesehatan yang sedang berjaga ikut panik dan memeriksa keadaan Argani pada saat ini.


__ADS_2