
Daisy sudah berdiri di depan pintu, akan tetapi ia sangat terkejut dengan orang yang datang dan ternyata itu bukan sang Ayah.
Hal ini membuat Daisy merasa kecewa dengan apa yang di lakukan nya.
Kalau saja ia tahu bahwa yang datang itu Marwan maka ia tidak akan pernah sudi untuk membuka pintu.
"Untuk apa kamu datang ke sini? " tanya Daisy dengan tatap mata tajam.
"Astaga adik ipar, kenapa kamu galak sekali. Bukan nya menyambut ku dengan senyuman, ini malah dengan tatapan sinis" jawab Marwan.
Tanpa menunggu persetujuan Daisy, Marwan langsung menerobos masuk begitu saja.
Akhirnya Daisy semakin kesal terhadap Marwan, sekarang sikap Marwan sudah semakin keterlaluan.
"Hallo calon istri ku, apakabar? " tanya Marwan sambil tersenyum lalu meletakkan beberapa paper bag yang di bawanya di atas meja.
"Untuk apa kamu membawa itu semua, saya tidak butuh apapun dari kamu. Sekarang cepat pulang kami akan pergi ke rumah orang tua Argani" jawab Farwa.
"Owh orang tua Argani, bukankah sudah di coret yah dari anggota keluarga malik. Untuk apa datang ke sana, paling juga di usir. Seperti Argani datang di saat Mamanya meninggal, nggak ada gunanya juga kalian pergi ke sana hanya bikin sakit hati saja nantinya. Mending pergi bersamaku kita berbelanja untuk keperluan calon anak kita" kata Marwan tanpa rasa malu sedikit pun dengan ibu nya Farwa.
"Sudah cukup! hentikan omong kosong mu, lebih baik pergi dari sini! " Farwa mual ketika melihat wajah Marwan yang menurut nya itu sangat menjengkelkan.
"Astaga, calon suami baru datang malah di suruh pergi lagi. Untuk kali ini aku memaklumi nya, karena sedang hamil mungkin itu pengaruh hormon juga. Pasti setelah melahirkan anak kita pasti kamu semakin sayang kan sama aku" kata Marwan sambil tersenyum menatap wajah Farwa yang terlihat kesal terhadap dirinya.
Akan tetapi Marwan tidak memiliki rasa malu sedikit pun, berbicara dengan bangga nya di hadapan keluarga Farwa bahwa ia calon suami Farwa.
"Santai sayang, baru juga sampai masa sudah di usir lagi. Aku haus boleh minta minum dulu nggak sih" kata Marwan sambil menyentuh lehernya.
"Ngakak ada minum atau apapun di rumah ini, pergi sekarang! " teriak Farwa.
Sungguh ia sangat kesal dengan Marwan, entah mengapa ia sangat membenci laki-laki ini. Padahal Farwa dulu cinta sama dia, sekarang rasa cinta yang Farwa miliki sudah berubah menjadi rasa benci.
Mungkin perasaan Farwa berubah itu di akibatkan dari kelakuan Marwan yang seperti itu, apalagi saat Argani masih hidup dan kerap sekali membuat Farwa kesal dengan sifat Marwan yang selalu menghina Argani.
"Jangan kan minum, untuk datang ke rumah ini saja aku tidak menginginkan nya apalagi memberi minum terhadap orang seperti kamu. Orang yang tidak memiliki rasa malu, dan hormat terhadap orang tua. Di sini ada Bibi sama Ibu, apa kamu menganggap mereka ada bahkan untuk masuk ke rumah ini saja kamu tanpa ijin. Masuk begitu saja, dan kami merasa terganggu dengan kehadiran mu di rumah ini. Aku mohon, cepat pergi dari sini! " kata Farwa dengan nada bicara penuh permohonan.
__ADS_1
"Sayang kita itu saling mencintai, kemarin sempat terpisah karena laki-laki jahanam itu. Sekarang dia sudah mendapatkan ganjarannya jadi sudah tidak ada penghalang lagi untuk melanjutkan kisah cinta kita yang sempat tertunda dan aku akan menjadikan mu perempuan paling bahagia di dunia ini yang menyayangi mu dengan penuh cinta" kata Marwan.
Farwa yang mendengar saat Argani di sebut lelaki jahanam ia tidak suka.
"Hentikan berbicara buruk tentang nya! nyatanya kamu tidak lebih baik darinya. Dia itu suamiku tidak ada seorang pun yang tahu betapa baik dan sangat mencintai ku, jika memang kamu benar mencintaiku. Maka pada saat itu kamu tidak akan pernah memberi tahu di mana aku bersembunyi, nyatanya kamu lebih sayang dengan nyawamu di banding dengan cinta yang kamu miliki untukku. Beda lagi dengan Argani, dia rela kehilangan segalanya bahkan nyawanya sendiri itu karena dia sangat mencintai ku. Jika berbicara soal cinta maka kamu tidak pernah mencintai ku dan akupun menyesal pernah mencintai manusia seperti kamu, jadi aku mohon sama kamu pergilah dan jangan pernah mengganggu hidup ku lagi. Aku ingin ketenangan tanpa ada orang yang menganggu ku, pergilah! " kata Farwa dengan nada bicara penuh penekanan.
"Pulang lah, saat ini keadaan Farwa sedang tidak baik-baik saja. Kami di sini berusaha membuat hatinya bahagia agar keadaan nya lebih baik, tolong hargai aku yang menginginkan anak nya hidup normal seperti semula. Berikan Farwa waktu untuk semua ini, jika memang kalian berjodoh pasti semesta punya cara untuk kalian. Jangan datang lagi ke rumah ini, karena kedatangan mu membuat mood Farwa jadi berantakan" kata Zulaikha dengan nada bicara penuh permohonan.
"Tapi, Ibu mertua bagaimana bisa aku tidak datang ke rumah ini"
"Aku mohon, pulang lah "
"Tunggu apalagi, pergi sekarang! kami juga akan menerima mu dengan baik jika kamu bisa menempatkan diri dan mempunyai sopan santun dalam berbicara dan tidak memaksakan kehendak orang lain, berhenti berbicara bahwa kamu itu calon suami kakak ku" Daisy pun ikut berbicara.
"Iya, aku pulang sekarang. Jaga diri baik-baik calon istriku, jangan lupa makan. Dan ini ada beberapa makanan yang di sukai ibu hamil jangan lupa di makan yah" kata Marwan sambil menunjuk paper bag yang ia bawa tadi.
Akhirnya Marwan pun bangkit dari duduknya lalu melangkah kan kakinya dengan perlahan untuk segera keluar dari rumah ini.
"Sayang, tahan emosi mu. Nggak baik buat kandungan juga jika sering marah dan stres, hadapi semuanya dengan teang. Orang seperti Marwan tidak bisa di perlakuan seperti tadi, bisa saja dia nekat dan mencelakai kamu. Dia itu hanya terobsesi bukan cinta jadi jangan seperti tadi yah" kata sang Bibi dengan nada bicara yang lembut.
"Iya, Bibi Faham. Sekarang bersiap untuk berangkat ke sana, Ayah mu sebentar lagi sampai. Tadi sudah mengabari Bibi lewat pesan singkat" kata sang Bibi dengan nada bicara yang lembut.
"Ayok, Kak! aku juga mau ganti baju terlebih dahulu" ajak Daisy terhadap sang Kakak.
Akhirnya Farwa dan Daisy pergi meninggalkan sang Ibu dan Bi Dewi yang sedang berada di ruang tengah.
"Wi, aku sangat khawatir dengan keadaan Farwa yang menjadi pemarah padahal dulu dia orang yang sangat penyabar" kata Zulaikha sambil menatap lekat wajah sang adik.
"Nggak perlu khawatir dia seperti itu hanya sama Marwan ko, di saat berbicara sama kita dia biasa saja"
"Iya juga sih, sekarang juga sudah terlihat lebih baik nggak seperti waktu itu. Semoga Farwa kembali seperti semula dan bisa berinteraksi dengan orang lain bukan hanya dengan kita dan mau pergi ke tempat umum nggak hanya di dalam kamar terus" Zulaikha berkata dengan penuh harapan bahwa sang anak akan kembali cerita seperti dulu.
Di saat dua wanita sedang berbicara serius datang lag Mahad, lalu laki-laki yang sudah tidak lagi muda duduk di samping sang istri.
"Kenapa wajah mu di tekuk seperti itu, ada apa? " tanya Mahad sambil menatap wajah sang istri.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kita berangkat sekarang? " tanya Zulaikha terhadap sang suami.
"Iya, Farwa sama Daisy mana? mereka juga akan ikut bersama kita kan! "
"Iya, mereka juga akan ikut. Tunggu sebentar aku panggil mereka dulu! " kata Dewi sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera pergi ke kamar keponakan nya.
Setelah beberapa saat Mahad menunggu kedua putrinya.
Akhirnya datang juga dan mereka sudah siap untuk segera pergi ke rumah Tuan Malik, Farwa sebetulnya tidak ingin datang ke rumah itu. Akan tetapi sang ibu yang memaksa nya untuk hadir di sana, walau bagaimana pun tetap orang tua Argani.
Mereka semua pergi ke luar rumah dan segera menuju kendaraan yang akan mereka tumpangi.
Kendaraan sudah siap untuk melaju, keluarga itu sudah berada di dalam dan Mahad yang mengemudikan nya.
Perlahan kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, Mahad tidak terbiasa dengan kecepatan tinggi.
Seperti biasa kendaraan melaju dengan perlahan, Farwa menatap ke arah luar jendela. Ternyata selama tiga bulan ia mwngurung diri di rumah, sudah banyak perubahan. Bahkan hanya untuk periksa ke dokter kandungan saja Farwa tidak mau, entah apa yang ada di pikiran Farwa pada saat ini.
Perjalanan yang mereka lalui sudah cukup lama, akhirnya sampai di kediaman keluarga Malik.
Mahad menghentikan kendaraan nya, lalu mengajak anggota keluarga nya untuk segera keluar dan menemui Adnan untuk mengucapkan.
Sudah terlihat banyak orang yang datang, mereka sudah berada di luar kendaraan dan berdiri sambil menatap rumah megah yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Terlintas di ingatan Farwa saat ia di tarik paksa oleh Argani dan di bawa masuk ke dalam rumah itu, kejadian demi kejadian yang pernah terlewati di rumah ini kembali di ingat oleh Farwa.
"Kenapa malah ngelamun, ayok masuk! " ajak Mahad sambil merangkul pinggang sang putri.
"Eh, Iya Ayah" jawab Farwa tersadar dari lamunan nya.
Mereka semua kan kaki untuk segera masuk ke dalam rumah mewah yang ada di hadapan nya, sekarang rumah mewah dan harta banyak tidak ada gunanya lagi bagi Malik. Karena itu semua tidak di bawa ke alam kubur, bahkan itu semua akan di hisab dan di minta pertanggungjawaban nya di akhirat.
Mereka sudah berada di dalam rumah, Mahad dengan dengan perlahan melangkah kan kakinya untuk mendekat ke arah Adnan yang sedang duduk sambil menghadapi jenazah Malik yang di tutup kain.
Tanpa mereka duga terdengar suara melengking menghentikan keluarga Farwa agar tidak melanjutkan langkah nya.
__ADS_1
Seketika tamu yang hadir menatap ke arah Farwa.