Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
BAB 156


__ADS_3

keesokan harinya, seperti biasa, anggota keluarga Radit, lalu menyematkan untuk sarapan bersama, termasuk juga dengan Farwa, kali ini ia ikut keluar kamar, meskipun keadaan tubuhnya lemas, karena Radit memaksakan istrinya untuk sarapan, meskipun itu hanya sepotong roti dan segelas susu, mau tidak mau, Farwa ikut keluar kamar, dan ikut nimbrung bersama anggota keluarga yang lain.


Argani kecil sudah siap dengan seragam sekolahnya, kali ini ia lebih semangat untuk datang ke sekolah karena bertemu dengan sahabat yang dulu pernah bertemu di taman yaitu Zian dan Zain.


Argani kecil merasa sangat nyaman berteman dengan Si Kembar, meskipun umur mereka berbeda, akan tetapi kedua anak kembar itu suka bermain di jam istirahat bersama dengan Arganik kecil.


" Ayah, selama di sekolah, aku nggak harus ditungguin sama bibi, Karena sekarang sudah punya teman untuk bermain, jadi jemput aku setelah jam pulang sekolah, ayah, paham kan?" anak kecil itu, sambil terus memasukkan sarapannya ke dalam mulut, meskipun perkataannya belepotan, karena kebanyakan makanan di dalam mulutnya.


"Nana bisa seperti itu, kamu itu anak kecil, harus dijaga oleh orang dewasa, sesama anak kecil itu, masih berbahaya. Bagaimana kalau ada orang jahat menghampiri kalian, dan menculik kalian bertiga. lalu kalian tidak bisa bertemu dengan ayah dan ibu lagi, apalagi nanti dibawa ke ruang rahasia, dan dijadikan pengemis" Radit menakut nakuti putranya, agar mau ditungguin sama pengasuhnya, saat berada di sekolah.


"Aku kan laki-laki, pasti bisa menghajar penjahat itu, jadi nggak kan ada yang berani mendekatiku. Pokoknya aku tidak mau ditungguin biarkan aku di sekolah sendiri, ada bu guru, dan yang lainnya juga, masa iya penjahat masuk ke sekolah. Ayah ini nggak nyambung, terlalu banyak nonton drama, jadilah parno seperti ini" jawab anak kecil itu dengan lantang, karena Ia berpikir logis, mana mungkin Sekolah terkenal Seperti tempat ia mengenyam pendidikan, bisa masuk seorang penjahat itu tidak mungkin. Karena untuk masuk ke tempat ini harus mempunyai karung akses untuk bisa membuka pintu gerbang.


Argani kecil itu, anak yang sangat cerdas bahkan pemikirannya bisa mengimbangi orang dewasa jadi Ia tidak mampu untuk dibohongi oleh orang Dewasa, akan tetapi ia tetap anak kecil yang tidak berfikir panjang dan tahu sebab akibat dari apa yang di lakukan nya.


"Sayang, kamu itu bicara apa sih? sekarang, penjahat bisa berada di mana-mana, pokoknya kamu harus ditungguin sama bibi, jangan bandel!" ucap Farwa sambil menatap lekat wajah jagoan kecilnya, yang semakin hari tubuhnya semakin tinggi, dan perkembangan kecerdasannya pun sangat luar biasa, bahkan di atas ratarata anak seusianya.


"Ayah dan ibu sama saja, enggak ada yang mau diajak kerjasama, Ya sudah kalau begitu aku menyerah" jawab Argani kecil, sambil mengelap mulutnya dengan tisue.


"Nah begitu dong, anak ayah dan ibu kan memang pintar. Menggerti apa yang Ibu katakan ya "kata Radit sambil mengusap kepala jagoan kecilnya.


"Ayah, jangan pegang pegang kepalaku, nanti rambutnya rusak lagi! ini, udah rapi, pakai minyak rambut, udah disisir " kata Argani kecil, sambil menyingkirkan tangan sang Ayah yang berada di kepalanya, Karena ia merasa perlakuan sang ayah sudah merusak rambutnya yang rapih.


"Oh iya Memangnya Zain dan Zian itu siapa? hingga kamu bisa nyaman bermain dengan mereka. Coba kapan kapan mereka ajak mampir ke rumah ini, Ibu pengen kenalan sama teman barumu. Siapa tahu nanti jadi sahabat " Farwa berkata sambil menatap lekat wajah jagoan kecilnya.

__ADS_1


"Itu loh ibu, pas aku main ke taman sama Ayah, bertemu dengan mereka di sana. Dia juga bersama ayahnya, katanya, ayahnya itu seorang dokter. " jawab Argani kecil.


"Itu loh, sayang...yang waktu itu bertemu di rumah sakit itu, dokter Riyan Ayahnya si kembar, dia juga kan yang merekomendasikan sekolah itu untuk anak kita. " Radit menjawab pertanyaan sang istri, yang ditunjukkan oleh Argani kecil, padahal Farwa juga sudah tahu, bahwa Zian dan Zian itu anaknya dokter Ryan. Karena pernah bertemu di rumah sakit, dan menceritakan hal itu. Hanya saja di sini, Radit tidak tahu apa yang dikatakan oleh istrinya, bahwa pertanyaan itu adalah untuk sang Putra.


"Aku tahu kok, hanya saja ingin bertanya sama jagoan kecilmu".


"Oh, aku pikir kamu sudah lupa, pernah bertemu dengan dokter Ryan, ternyata ingatanmu bagus juga, pantas saja Argani kecil itu cerdas, ternyata menurun dari kamu ya kecerdasannya? "


Radit tersenyum tipis, menatap ke arah sang istri yang wajahnya terlihat sangat pucat sekali, karena hamil.


Kali ini Farwa kurang asupan gizi, karena semua jenis makanan ia merasa bau, bahkan hanya susu saja yang ia minum, apalagi air putih. Ia sama sekali tidak bisa mengkonsumsinya, setelah minum air putih, sudah bisa dipastikan akan muntah-muntah jadi, untuk menghindari itu Farwa lebih baik tidak ada makanan yang masuk ke perutnya.


Percakapan diantara mereka pun sudah melebar ke mana-mana bahkan orang tua Farwa pun sudah kembali dan meninggalkan ruang makan.


Begitu juga dengan Adnan, laki-laki itu sudah berangkat ke kantor terlebih dahulu.


Seperti biasa Radit akan mengantarkan jagoan kecilnya, dan ditunggu oleh sang Bibi pengasuh. Lalu Radit akan menjemput kembali setelah jam pulang sekolah, begitu kegiatan Radit sehari-harinya.


Karena laki-laki ini belum bisa memegang kendali perusahaan, jadi semuanya diserahkan terhadap Adnan bahkan toko sembako miliknya saja sudah tidak mengurusi semuanya diserahkan terhadap orang kepercayaannya yaitu Rahmat


Setelah cukup lama menunggu sang Bibi menyiapkan keperluan Argani kecil untuk ke sekolah, seperti bekal untuk makan siang dan yang lainnya. Akhirnya mereka segera pergi keluar rumah, dan menuju kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke sekolah.


Sedangkan Farwa mengikuti dari belakang dan berdiri di teras sambil menatap kepergian anak dan suaminya, hingga beberapa saat.

__ADS_1


Kendaraan pun sudah lepas dari pandangan Farwa, sehingga perempuan itu balik badan dan melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar kembali.


Akan tetapi setelah sampai di ruang keluarga, ia melihat sang Ibu sedang duduk sambil merajut, karena itu kebiasaan Zulaika saat ini. Karena di rumah ini tidak ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan, jadi waktu luangnya untuk membuat pakaian dari bahan rajut, mungkin ini juga bisa bermanfaat nantinya.


" Ibu lagi membuat apa? " tanya Farwa terhadap sang Ibu, sambil duduk di samping ibunya.


"Ini, hanya membuat pakaian bayi, Semoga nanti bisa digunakan oleh cucu kedua Ibu, apakah masih mual seperti biasa? kurus sekali loh, usahakan kan makan meskipun itu hanya sedikit. Bagaimana nanti kalau bayimu tidak berkembang, karena kamu tidak memaksakan makan apapun. Ibu lihat, tadi juga kamu hanya minum susu, Bagaimana? Anakmu sehat? ibunya saja seperti itu." Zulaikha memberi nasehat kepada putrinya, tidak sepantasnya juga Farwa seperti itu, meskipun dalam keadaan hamil.


"Tapi, nggak bisa di paksa bu.. "


"Dulu waktu hamil Argani, kamu tetap seperti ini. Ibu pikir waktu itu karena kehilangan Radit, nyatanya sekarang pun masih sama"


"Aku juga pengen seperti biasanya, tapi mau bagaimana lagi"


"Cari makan yang memang kamu merasa nggak mual, pasti tidak semua makan juga bau. Atau bisa makan ubi atau kentang bahkan jagung, itu juga sama saja makanan pokok pengganti nasi. Besok ibu siapkan, ibu nggak mau cucu ibu lahir nggak sehat" kata Zulaikha sambil terus menggerakkan jarinya, jaringannya dengan lincah membuat rajutan.


"Tapi Aku nggak mau" jawab Farwa sambil cemberut.


"Sekarang kamu sudah dewasa, pasti mengerti apa yang penting untuk pertumbuhan janin yang ada dalam rahim mu. Biasakan kalau pagi itu bangun lalu jalan ringan di sekitar rumah, dulu juga ibu lakukan itu tiap pagi meskipun malas untuk bangun, akhirnya terbiasa dan untuk ngidam mau ini itu atau malas gerak itu hanya sebuah sugesti"


Waktu bergulir begitu cepat, hari sudah siang.


Farwa terus mendengarkan ceramah dari sang ibu, mungkin yang di katakan Zulaikha memang benar.

__ADS_1


Setelah cukup lama, dan Farwa pun kembali ke kamarnya.


Sebab ada kebiasaan yang tidak bisa di tinggal kan meskipun sedang hamil muda, jika saatnya baca novel pasti Farwa akan masuk ke kamar dan melakukan kegiatan rutinnya.


__ADS_2