
Radit pun melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, ia segera mengejar sang putra untuk masuk ke dalam kamar.
Karena ia ingin tahu apa alasan Argani, sehingga berubah Murung seperti itu. Apakah ada sesuatu ketika di sekolah atau yang mengganggu pikirannya.
Setelah beberapa saat Radit sudah berada di dalam kamar argani kecil, terlihat dengan jelas anak laki-laki itu duduk di salah satu sofa yang ada di kamar miliknya. Akan tetapi dengan wajah yang semula masih murung, dengan perlahan kaki Radit melangkah masuk ke dalam kamar Sang putra. Lalu Radit duduk di samping argani kecil sambil mengikuti apa yang dilakukan Argani kecil, yaitu duduk sambil menundukkan wajah tanpa melihat ke arah sang Putra.
"Kalau boleh, Ayah mau cerita sama jagoan kecil! dulu pas Ayah sekolah punya teman, Ayah selalu balas mereka yang membuat Ayah sedih dan marah, apalagi dulu, Ayah punya temen yang suka jahil, suka mengambil mainan ayah, ayah hajar orang itu. Apakah di sekolahmu ada yang seperti itu ? " Radit berbicara pada sang anak, mau mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, ia bertanya secara tidak langsung, seperti itu. Siapa tahu jagoan kecilnya mau terbuka dan memberitahu sang ayah apa yang terjadi di sana.
"Teman-temanku semuanya baik, bu guru juga baik apalagi Zian dan Zain aku sangat menyukai bermain dengan mereka, hanya saja aku bepikir bagaimana nanti ayah sama ibu kalau dedek bayi sudah lahir pasti ayah tidak akan menyayangiku lagi, waktunya dihabiskan oleh si dede bayi, terus yang mengantar aku ke sekolah, yang bacain dongeng sebelum tidur, nanti, siapa? aku kepikiran itu. " akhirnya, Argani kecil pun mengutarakan apa yang mengganjal di pikirannya, karena memang anak kecil itu tidak bisa berlamalama memendam sesuatu, ia ingin membicarakannya. Sang ayah walaupun pada akhirnya jawaban sang Ayah mengecewakannya mungkin itu lebih baik bagi Argani kecil .
"Kamu itu bicara apa sih, Aayang udah pernah bilang, bahwa kasih sayang Ibu sama Ayah tidak akan pernah berkurang sedikitpun, meskipun kamu sudah mempunyai adik, karena kamu adalah kekuatan bagi kami, nggak ada ceritanya, punya anak dua, yang pertama itu diabaikan, kamu itu sama-sama anak Ayah sama Ibu, dan sampai kapanpun, kami akan menyayangimu." jawab Radit, sambil membawa anak kecil itu ke dalam pelukannya.
Argani kecil, terlalu takut untuk tidak disayangi oleh kedua orang tuanya, apalagi mendengar provokasi dari orang yang baru saja menemuinya, dan ia juga sempat berpikir, bahwa yang dikatakan orang itu adalah benar, ketika ada saingan di rumah, sudah pasti kasih sayangnya terbagi, itulah yang ada di benak anak kecil, yang belum bisa membedakan antara yang memprovokasi, sama yang berkata Sejujurnya.
"Apakah semua yang dikatakan Tante itu bohong bahwa ayah tidak akan menyayangiku? bahkan nanti, ayah sama ibu akan membuangku, dan mengucilkanku? " tanya Argani lagi terhadap sang Ayah. Hal ia sudah diwanti-wanti sama orang yang menemuinya jangan berbicara kepada siapapun akan tetapi Argani tidak mampu menahan diri untuk tidak memberitahu orang tuanya.
"Tante siapa? Memangnya kamu di sekolah bertemu dengan siapa? Coba kasih tahu Ayah, Tante yang mana atau orang tua dari temen kamu juga?" tanya Radit lagi terhadap sang putra, ia ingin tahu, Sang putra itu bertemu dengan siapa, dan membicarakan apa saja, karena sifatnya berubah seperti ini.
"Tadi ada tante-tante yang menemuiku, ketika di sekolah, dia bilang Kalau adik sudah lahir, Ayah dan ibu akan membuangku, tidak akan menyayangiku lagi, Makanya aku sedih. Jika ayah dan ibu tidak menyayangiku lagi gara-gara Aku punya adik " jawab sambil menundukkan kepalanya, sungguh ia tidak bisa membayangkan jika dirinya diabaikan oleh ayah dan ibu.
"Astaga sayang, tidak seperti itu juga, dia hanya berusaha untuk memecah belah keluarga kita, kamu ngerti kan! Apakah sebelumnya pernah bertemu dengan orang itu? " tanya Radit lagi terhadap Sang putra
"Aku nggak pernah melihatnya di manapun, tapi dia bilang, itu temennya Ayah sama Ibu, maaf katanya, dia belum bisa datang ke rumah ini, karena lagi sibuk dan banyak pekerjaan " jawab Argani kecil
"Sayang, Ayah dan Ibu tidak punya teman perempuan di kota ini, satu-satunya teman ibu di sini adalah tante Daisy, sama tante Mayang, Selain itu Ibu tidak kenal siapapun, Ibu pergi ke manamana pun, selalu sama ayah. Bisa saja itu orang jahat. Lain kali kalau ada orang asing yang menemuimu segera minta tolong sama bu guru. Memangnya, Bibi yang mengasuhmu ke mana tadi, Saat orang itu datang menemuimu? " Radit, ingin tahu lebih jelas, kronologi kejadian yang ada di sekolah tadi.
__ADS_1
"Saat itu Bibi sedang ke toilet, lalu Tante itu datang duduk di sampingku, dia bilang, Ayah itu temennya sama Ibu makanya aku mau berbicara dengannya terus setelah itu Tante itu langsung pulang dan Ayah datang. Di perjalanan aku selalu memikirkan apa yang ada di katakan oleh Tante itu, sedih jadi nya" Argani terus menceritakan semuanya, yang terjadi saat di sekolah.
"Ya sudah, nanti kalau ada Tante itu menemui kamu lagi, bilang sama tante, Ayah mau ketemu, atau tungguin Ayah, Ayah ingin sekali bertemu dengan Tante itu, siapa tahu memang benar, dia itu adalah teman Ayah sama Ibu waktu dulu." ucap Radit sambil mengelus kepala jagoan kecilnya.
"Baik, Ayah"
"Ya sudah, ganti baju dulu dan setelah itu langsung makan pasti Bibi sudah menunggu di dapur! " kata Radit.
Setelah berbicara seperti itu, ia pergi ke luar kamar dan langsung menuju kamar untuk berbicara dengan sang istri.
Setelah beberapa saat, Radit sudah sampai di kamar lalu ia duduk di sidi tempat tidur dimana sang istri sedang membaca novel online.
"Sayang, apa yang kamu tahu tentang masa lalu kita? bisa kah kamu ceritakan sedikit saja, karena sampai saat ini aku belum mampu mengingat nya" Radit berkata sambil menatap lekat wajah sang istri.
Seketika Farwa meletakkan ponsel nya, lalu menatap wajah suaminya dengan seksama.
"Sekarang aku ingin tahu, ku mohon cerita kan sedikit saja" ucap Radit dengan nada bicara penuh permohonan.
"Baiklah, aku ceritakan apa yang terjadi di beberapa tahun lalu" jawab Farwa.
Farwa menarik nafas panjang, sesungguhnya ia juga berat ketika harus mengingat kembali kejadian demi kejadian yang pernah terjadi di masa lalu, dengan bercerita terhadap suami secara tidak langsung ia mengingat nya kembali, masa lalu yang pahit dan begitu menyakitkan jika di ingat sekarang. Ia mulai menceritakan apa yang pernah terjadi di masa lalu, termasuk juga saat mereka menikah yaitu karena Radit memaksa nya untuk menikah. Termasuk juga orang-orang yang pernah ada di kehidupan mereka, Farwa tidak lupa untuk menceritakan nya.
Waktu bergulir begitu cepat, Farwa sudah selesai menceritakan apa yang di ketahui nya Bahkan ketika sang mertua ingin membunuh nya, ia ceritakan terhadap Radit.
"Jadi hanya itu yang aku tahu, selebihnya bisa tanya kak Adnan atau Faklan. Mereka lah yang lebih tahu, karena mereka lebih dulu mengenal mu jauh sebelum aku" ucap Farwa.
__ADS_1
"Jadi bisa di simpulkan, dari cerita yang aku dengar sama kejadian hari ini di sekolah Argani. Pasti orang itu yang pernah hadir di masa lalu kita" Radit berkata sambil terus berpikir keras.
"Maksudnya apa? " seketika raut wajah Farwa berubah.
"Argani bilang, tadi ada seorang perempuan yang datang menemuinya dan berkata bahwa teman kita, dan ada perkataan orang itu yang membuat anak kita murung" jawab Radit.
"Perempuan! " Farwa kaget.
"Iya, apa mungkin orang itu Alfi, seperti yang tadi kamu bilang"
"Dasar perempuan ular, ini tidak bisa di biarkan. Kita harus benar-benar menjaga Argani agar tidak bertemu lagi dengan orang seperti dia, pasti tujuan nya untuk menghancurkan keluarga kita. Memang dari dulu nggak pernah suka melihat kita bahagia" Farwa berkata sambil mengepalkan tangannya. Andaikan saat ini Alfi ada di hadapan nya, sudah pasti tamparan melayang di wajah perempuan yang sudah tidak memiliki kewarasan.
"Ya sudah aku sedikit paham sekarang apa yang terjadi dengan keluarga kita untuk saat ini, kamu jangan memikirkan hal ini. Biar aku yang mencari solusi agar keluarga kita jauh dari orang-orang seperti mereka. Ingat sekarang kamu sedang hamil jangan banyak pikiran" ucap Radit, sambil mengelus perut sang istri.
"Bagaimana nggak kepikiran, hari ini dia sudah berani mencuci otak anak ku. Bagaimana nanti pasti perempuan itu lebih nekat lagi" jawab Farwa.
"Tentang lah, biar aku yang urus! " ucap Radit sambil mengusap usap punggung sang istri, agar lebih terang karena terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa sang istri sedang emosi.
Farwa hanya diam, ia juga sedang berfikir bagaimana melindungi keluarga nya dari orang-orang jahat. Sedangkan dirinya saat ini sedang dalam keadaan tidak baik, kehamilan kedua nya sungguh membuat ia lelah.
Setelah itu Radit mengambil ponsel nya, lalu menghubungi sang kakak dan Faklan. Radit ingin bertemu dengan mereka, dan ternyata permintaan nya di setujui oleh mereka. Setelah menentukan di mana mereka akan bertemu, lalu Radit meminta ijin sang istri untuk pergi ke luar.
Setelah mendapatkan ijin dari sang istri, Radit pun langsung melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk segera ke luar dari kamar.
Sedangkan Farwa masih tetap duduk di tempat semua, ia terus berfikir bagaimana ia mampu melindungi anggota keluarga nya dari Alfi dan yang lainnya.
__ADS_1
Terlalu berbahaya jika di biarkan, orang seperti mereka tidak akan pernah tobat sebelum datang malaikat maut menjemputnya.
Keterpurukan pada saat itu, tidak bisa membawa Alfi ke jalan yang lebih baik. Nyata nya perempuan itu semakin menjadi-jadi.