
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa mereka sudah sampai di rumah orang tua Farwa meskipun ia ingin pulang ke rumah di mana Farwa tinggal bersama Argani. Akan tetapi mereka tidak mengijinkan untuk itu.
Faklan membuka pintu dan mempersilakan kedua perempuan yang ada di dalam segera keluar, Daisy mengajak sang kakak untuk segera keluar.
"Ayok, Kak... ini sudah sampai! " kata Daisy sambil meraih tangan sang Kakak.
Akhirnya Farwa pun ikut turun.
Farwa teringat Argani saat pertama kali datang ke rumah ini yang memaksa untuk menikah.
"Aku tidak masalah dengan sifat kamu yang jahat dan kerasa kepala, asal aku masih bisa melihat mu setiap hari" batin Farwa sambil menatap rumah yang ada di hadapan nya.
"Ayolah Kak, kenapa malah berdiri di situ"
Daisy pun menggandeng sang Kakak untuk segera di bawa masuk ke dalam rumah, setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah berada di dalam dan kehadiran mereka di sambut oleh anggota keluarga yang lain.
Farwa masih seperti orang ling-lung bahkan saat orang lain mengajaknya untuk bicara ia tidak merspon apapun.
Zulaikha pun memberi isyarat agar membawa Farwa ke dalam kamar agar sang putri istirahat.
Setelah kepergian Farwa tingallah beberapa anggota keluarga yang masih berada di ruang tengah termasuk juga Bi Dewi.
"Aku sangat mengerti perasaan Farwa, pasti sangat hancur" kata Dewi sambil menatap punggung Farwa yang sudah naik untuk pergi ke kamarnya.
"Entah aku harus melakukan apa untuk membuat dia tersenyum kembali, rasanya aku seperti tidak berpijak di bumi ketika melihat keadaan Farwa seperti itu, sedih hatiku" jawab Zulaikha.
"Kita di sini keluarga maka akan selalu ada untuk kalian semua, berbagai suka dan duka. Jangan pernah sungkan untuk bercerita atau meminta bantuan sudah sepantasnya kita saling bergandengan tangan, dan membuat Farwa kembali seperti semula. Mungkin itu tidak mudah akan tetapi perlahan juga pasti Farwa akan menerima kenyataan ini melalui dukungan dan kasih sayang dari kita" kata Dewi sambil menatap lekat wajah sang kakak.
"Aku pernah merasakan hal yang di alami Farwa pada saat ini, dan itu rasanya sangat sulit bahkan terhadap Tuhan saja saya marah mengapa mengambil orang yang sangat ku cintai"
"Semoga kesedihan Farwa tidak berlangsung lama, untuk saat ini biarkan dia melupakan kesedihan nya sebab itu sangat penting. Setelah semuanya tuntas mungkin nanti hatinya akan merasakan ketenangan, akan tetapi jangan biarkan dia berada di kamar sendirian. Kita mesti terus memantau nya" kata Dewi.
"Terimakasih banyak yah, Wi kamu selalu ada untuk kita semua. Dan kamu juga yang sudah selalu siap kami repot kan, aku nggak tahu jika kamu nggak ada nasib kami akan seperti apa. Syukur nya sekarang kamu sudah pindah lagi ke kota ini" kata Zulaikha yang merasa tidak enak hati terhadap sang adik, semua masalah dan kesedihan yang menimpa keluarga Dewi lah yang selalu ada di antara mereka.
"Kak, aku senang bisa berada di dekat kalian. Dulu di saat aku belum seperti sekarang kalian lah yang mencurahkan kasih sayang untuk ku, sekarang sudah sepantasnya aku menyayangi kalian juga"
"Kamu nginap saja yah di sini, Farwa juga kan deket sama kamu mungkin dia akan merasakan ketenangan saat kita berada di dekat nya"
"Iya, Kak... aku nggak akan pulang ko, pasti akan menemani kalian di sini" jawab Dewi.
Akhirnya percakapan di antara Dewi dan Zulaikha telah berakhir, Dewi pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Meskipun dalam keadaan sedang berkabung tetap mereka jangan pernah melupakan makan.
Zulaikha pergi ke teras sebab di sana ada sang suami dan calon menantu nya, Faklan belum pulang ke rumah nya.
Sebab Mahad malah mengajaknya untuk mengobrol dan membahas uang Faklan yang di gunakan untuk membayar rumah sakit.
Mahad berjanji akan segera melunasi nya, karena sang Farwa tidak mau menerima apapun dari keluarga Malik.
"Nanti akan aku ganti secepatnya" kata Mahad sambil menatap lekat wajah Faklan.
"Nggak perlu terburu-buru juga, jika memang uangnya belum ada nggak perlu di ganti toh itu tidak seberapa dengan jasa Argani yang telah di berikan terhadap saya"
"Itu kan hutang ku sama kamu jadi sudah kewajiban ku membayarnya, nanti aku akan jual mobil atau aku juga ada lahan di kampung kelahiran ku, Argani juga sudah pernah membayar pengobatan ibu nya Farwa pada saat itu" jawab Mahad sambil menatap lekat wajah Faklan.
"Pokoknya jangan mikirin hal itu, sekarang kita fokus sama kakak ipar saja. Jangan biarkan dia sendirian dan harus membuat dia tidak sendiri bahwa kita akan selalu ada bersama nya, aku sangat khawatir dengan keadaan nya pada saat ini. Bolehkah aku bertemu dengan nya sebelum pulang? " kata Faklan sambil menatap dua orang yang berada di hadapan nya pada saat ini.
__ADS_1
"Iya, sekarang dia lagi di temani Daisy. Ayok tante antar kalau mau bertemu dengan nya" jawab Zulaikha sambil bangkit dari duduknya lalu mengajak Faklan untuk segera menemui Farwa.
Mahad pun mengikuti mereka untuk segera masuk ke dalam rumah, setelah berada di dalam Mahad masuk ke dalam kamarnya sedangkan Zulaikha dan Faklan segera pergi ke kamar Farwan.
Mereka sudah berada di depan pintu kamar Farwa, Zulaikha memutar gagang pintu dengan perlahan.
Pintu sudah terbuka, terlihat dengan jelas bahwa Farwa sedang berdiri di depan jendela dan pandangan lurus ke depan tatapan nya kosong.
Daisy pun duduk di atas tempat tidur sambil terus memperhatikan sang kakak, ia takut jika Farwa nekat dan loncat dari lantai atas.
"Pergilah, biarkan ibu yang menemani nya di sini dan Faklan juga ingin berbicara dengan kakakmu sebelum pulang! " kata Zulaikha, mempersilakan Daisy untuk meninggalkan Farwa.
"Baik, Bu" jawab Daisy sambil bangkit dari duduknya lalu pergi keluar kamar untuk segera menuju kamarnya.
Daisy juga sudah tidak sabar ingin membersihkan tubuh nya terlebih dahulu setelah seharian berada di luar rumah dan dalam keadaan seperti ini, rasanya sudah lengket.
Setelah kepergian Daisy, dan Zulaikha memberikan isyarat terhadap Faklan untuk segera mendekat ke arah Farwa dan ia duduk di atas tempat tidur.
Faklan pun berjalan dengan perlahan mendekat ke arah Farwa.
"Kakak ipar, apakah Kakak sayang sama Argani? jika itu memang betul maka, jangan siksa dirimu seperti ini atas kepergian nya. Dia tidak ingin kakak merasakan kesakitan atau celaka, makanya dia korbankan nyawanya untuk mu. Kakak harus sehat dan bisa menjaga janin yang kakak kandung, karena itu kakak bisa melihat Argani junior nantinya" kata Faklan dengan nada bicara yang lembut. Ia berbicara sambil berdiri di samping Farwa.
"Aku sayang sama dia, tapi dia nggak menyayangi ku makanya dia lakukan ini untuk membuat ku sedih dan merasa bersalah. Andaikan dia tidak menyelamatkan nyawaku maka ia saat ini pasti masih ada, kenapa dia tidak membiarkan aku yang tertembak"
"Karena dia sayang sama kakak dan janin yang di kandung, Argani merelakan nyawanya demi kalian. Jangan lakukan ini, ayok kakak istirahat sayangi dirimu demi kita semua" kata Faklan, ia berbicara dengan perlahan agar Farwa bisa mengerti apa yang di katakan nya.
"Aku juga akan istirahat jika sudah mau" jawab Farwa tanpa melirik sekalipun ke arah Faklan.
"Sehat-sehat yah, kakak ipar kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Sekarang aku pamit pulang dulu, besok aku akan kesini lagi. Atau kakak ipar menginginkan sesuatu, atau ada benda yang akan di bawa dari rumah sana? " tanya Faklan terhadap Farwa.
"Tolong bawa photo-photo dia yang ada di rumah itu, tapi aku nggak tahu kunci rumah nya ada di mana" jawab Farwa.
Akhirnya Faklan pun berpamitan terhadap calon ibu mertua nya, dan setelah itu ia langsung pergi meninggalkan kamar Farwa.
Setelah Faklan pergi, Zulaikha mendekat ke arah Farwa dan mengajak sang putri untuk duduk.
Awalnya Farwa nolak akan tetapi setelah melihat sang ibu mengeluarkan airmata akhirnya ia ikut dan duduk di atas tempat tidur.
Setelah beberapa saat datang lah Dewi dengan membawa nampan yang berisi makan, sebab dari siang Farwa belum makan apapun.
Dewi mendekat ke arah keponakan nya itu, lalu duduk di samping nya.
"sayang, Bibi sudah masak makanan kesukaan mu. Makan yah di dalam sini ada janin yang harus kamu jaga" kata sang Bibi sambil mengelus perut Farwa yang masih rata.
Farwa tidak menjawab apapun ia hanya melirik sedikit, bahkan Zulaikha juga masih ada di dalam kamar.
"Ayolah nak, makan apa ibu yang suapin" kata Zulaikha.
"Kakak juga harus makan, ingat kesehatan kakak juga perlu di perhatikan biar Farwa aku yang mengurus nya" kata Dewi.
"Baiklah kalau begitu aku titip dia, pastikan makan walaupun itu hanya sedikit"
"Iya"
Setelah Zulaikha pergi, tinggal lah Dewi dan Farwa yang masih saling diam.
__ADS_1
"Saya, kamu ingat nggak waktu dulu kamu sering tidur bersama bibi. Dan pada saat itu usia kamu baru tujuh tahun dan saat itu aku sangat sedih saat nenek mu pergi meninggalkan kita untuk selama nya, pada saat itu kamu bilang pada ku bahwa ada kamu yang akan terus menemani Bibi dan itu terus kamu lakukan, bahkan setiap hari kamu membawa makan ke kamar ku dan selalu tidur menemani ku pada saat itu, aku sangat sedih bahkan tidak punya semangat lagi untuk hidup rasanya aku ingin bunuh diri dan menyusul ibu, aku bisa bertahan dan bangkit dari keterpurukan itu berkat anak kecil yang selalu memberiku semangat dan anak kecil itu kamu. Sekarang aku akan melakukan apa yang pernah kamu lakukan dulu, sekarang makan lah dan setelah itu istirahat aku akan tidur bersama mu" Dewi berkata sambil meneteskan air mata, sungguh ia juga pernah merasakan kesedihan seperti yang du alami Farwa pada saat ini.
"Aku akan makan nanti" jawab Farwa, sekarang ia sudah berhenti mengeluarkan air mata tinggal lah mata yang sembab setelah seharian menangis.
"Aku mau nya kamu makan sekarang, ayok buka mulutnya! " kata Dewi sambil mendekat kan sendok ke bibir Farwa.
Akhirnya Farwa membuka mulut nya dan mengunyah makanan itu yang menurutnya tidak ada rasa sama sekali.
"Sudah Bi, cukup" Farwa menghentikan Dewi saat hendak menyuapi nya lagi.
"Satu lagi yah"
Akhirnya Farwa pun parah menerima suapan dari sang Bibi, ia sangat bersyukur mempunyai orang-orang yang sangat menyayangi nya.
Setelah cukup lama, Farwa makan meskipun hanya sedikit.
Dewi mengajak Farwa untuk mengistirahatkan tubuh nya, lalu Farwa berbaring dan Dewi berada di samping Farwa di peluk lah dari belakang tubuh Farwa.
"Tidur lah, tenangkan hati dan pikiran mu. Baha semua ini akan cepat berlalu dan kita ambil hikmah atas apa yang terjadi ke dalam hidup kita" kata Dewi sambil mengelus rambut Farwa.
Rasa nyaman mulai di rasakan oleh Farwa, akan tetapi rasanya tidak sama saat ia berada di dalam pelukan sang suami.
Setelah beberapa saat, akhirnya Farwa memejamkan matanya di dalam pelukan Dewi.
"Sungguh malang sekali nasib mu, nak. Bahkan belum lahir ke dunia sudah di tinggal oleh Ayah mu, jaga ibumu yah pasti kelak kamu akan menjadi pahlawan seperti ayah mu yang rela kehilangan nyawa demi keselamatan kalian berdua" batin Dewi sambil terus mengeluh perut Farwa.
Waktu bergulir begitu cepat, Dewi dan Farwa sudah tertidur.
Entah itu Farwa tidur beneran atau hanya mata yang terpejam tapi hati dan pikiran nya tidak.
...****************...
Di kediaman Faklan.
Ia baru saja sampai di rumah nya, dan kendaraan berhenti dengan sempurna di halaman rumah milik nya.
Akan tetapi Faklan heran dengan kendaraan yang terparkir di hadapan rumah Faklan dan itu adalah milik Adnan.
"Ada apa dia di rumahku" batin Faklan.
Faklan pun berjalan dengan perlahan untuk segera masuk ke dalam rumah dan ternyata Adnan sedang duduk di teras menunggu kedatangan dirinya.
"Kak Adnan, untuk apa malam-malam ada di sini? " tanya Faklan terhadap Adnan.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan mu, ini penting" kata Adnan.
"Ada apa yah ? " tanya Faklan terhadap laki-laki yang sedang duduk di hadapan nya pada saat ini.
"Aku hanya ingin tanya berapa uang yang kamu keluarkan untuk biaya rumah sakit Argani, ini aku akan menggantinya. Mungkin Farwa tidak mau menerima apapun dari kami, akan tetapi aku juga tidak ingin beban ini di tanggung oleh Farwa dan keluarga nya" kata Adnan sambil menyerahkan koper yang berisi uang tersebut.
"Maaf, kak. Ini semua tidak perlu, lagian jasa Argani lebih banyak di bandingkan dengan uang yang aku keluarkan untuk nya" jawab Faklan yang merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan Adnan pada saat ini.
"Tolong terimalah ini, akan tetapi jangan pernah bilang sama Farwa bahwa uang nya telah aku ganti dan aku juga akan membiayai semua keperluan Farwa akan tetapi semua itu butuh kerjasama dengan mu, ku harap kamu tidak keberatan" kata Adnan sambil menatap lekat wajahnya Faklan dengan penuh permohonan.
"Tapi Kak, ini terlalu banyak" jawab Faklan.
__ADS_1
"Kamu simpan saja semua itu, aku pulang sekarang! " kata Adnan sambil bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Faklan.
Akhirnya Faklan pun masuk ke dalam rumah dan membawa koper yang yang berisi uang tersebut.