
Setelah kepergian Radit tinggal lah mereka bertiga, Faklan menatap lekat wajah kakak ipar nya lalu ia bertanya.
"Dia itu benar-benar melupakan nya atau hanya pura-pura? " tanya Faklan.
"Kalau soal itu saya juga kurang tahu, jika dia hanya pura-pura tujuan nya apa? bukan kah dulu ia yang terobsesi ingin menikah dengan ku, pasti kamu faham kan bahwa Radit tidak akan pernah mau jauh dariku. Bahkan orang tuanya saja di tentang, lalu untuk apa dia berpura-pura tidak mengenal ku? " jawab Farwa.
"Iya juga sih, tapi aku melihat itu seperti bukan dia tapi orang lain yang mengirim raganya. Bisa saja jiwa nya tertukar saat dia tidak sadarkan diri, jadi itu reinkarnasi dari orang lain" kata Faklan dengan tatapan mata lurus ke depan, ia masih berfikir apakah memang benar itu Radit yang di kenalnya atau hanya raganya saja yang terlihat tapi sebetulnya jiwa yang ada di dalam nya itu milik orang lain.
"Astaga! sayang... kenapa kamu sampai kepikiran akan hal itu, ini bukan cerita komik yang bisa bereinkarnasi dengan mudah. Aneh-aneh aja kamu itu sampai berfikir sejauh itu, mungkin saja Tuhan menghilangkan sebagian ingatan nya untuk menutupi semua rasa bersalah nya di waktu dulu dan soal sipat baik nya anggap saja itu sebuah anugrah atau hidayah" kata Daisy
"Iya juga sih, soal nya yang terjadi pada setiap manusia. Itu juga atas ijin-Nya, jadi nggak mungkin sesuatu terjadi tanpa campur tangan-Nya. Kan aku juga manusia biasa yang selalu berfikir berandai-andai, maklumi aja sayang" jawab Faklan sambil tersenyum melirik ke arah sang istri yang terlihat lelah karena perjalanan jauh.
__ADS_1
"Eh iya, ada apa kalian datang ke sini tanpa mengabari terlebih dahulu! ada masalah kah atau pekerjaan di sini sehingga membawa kalian datang lagi tanpa perencanaan? " tanya Farwa terhadap dua orang yang berada di hadapan nya pada saat ini.
"Jadi gini, si Marwan ngaku-ngaku anaknya bu Ratih yang mempunyai perusahaan tekstil di kota ini. Dia kan terpisah lama dari anaknya, nah si cecunguk itu entah tahu darimana bahwa Bu Ratih mencari keberadaan anaknya. Hari ini penyerahan perusahaan untuk anaknya, yaitu si Marwan akan tetapi anak perempuan Bu Ratih menemukan ada kejanggalan, bahwa Marwan itu sebenarnya bukan anak dari perempuan itu. Jadi Mayang dan Kak Adnan datang menemui ku dengan membawa bukti-bukti bahwa aku lah anak laki-laki yang mereka cari bukan si Marwan itu, aku pun nggak percaya begitu saja dengan apa yang mereka katakan termasuk juga bukti kan itu semua bisa di rekayasa. Dan Mayang meminta ku untuk datang ke kantor bu Ratih saat acara penandatanganan surat pengalihan perusahaan tersebut. Dan untung nya datang tepat waktu, sekarang Marwan sudah di bawa oleh pihak kepolisian. Untuk di selidiki lebih lanjut soal perkembangan kasus ini, bisa saja ini juga bagian dari rencana orang-orang yang pernah ada di masa lalu kita semua" kata Faklan dengan raut wajah yang serius.
"Kenapa orang itu tidak pernah sadar yah, untung aku nggak menikah sama laki-laki seperti dia. Dan Tuhan telah membuka mata ku, bahwa dia bukan orang yang tepat untuk ku. Tapi kasian juga yah, nasib nya jadi berakhir di balik jeruji. Terus si Alfi bagaimana keadaan nya sekarang? " Farwa ingin tahu lebih lanjut.
"Kalau tadi sih, Alfi mengikuti suami nya ke kantor polisi. Tapi aku juga nggak tahu, kan langsung pulang" jawab Faklan.
"Aku nggak ingat apapun, yang ku tahu menurut pernyataan dari mereka yitu. Aku di ambil dari sebuah panti asuhan kota A dan di bawa pindah ke kota B dan ketika kami pulang menuju kota B pada saat itu orang tua angkat ku menggunakan kendaraan darat yaitu nengemudi sendiri dan kami mengalami kecelakaan. Dan ibu angkat ku meningan pada saat kecelakaan itu, lalu ayah juga terluka parah pada saat itu aku yang masih kecil. Dan setelah kepergian ibu angkat ku, Ayah pun menikah lagi dengan perempuan pilihan dari orang tuanya. Setelah di bawa ke rumah itu, setiap hari aku selalu mendapatkan kekerasan dari Ayah angkat ku dan selalu berkata bahwa akulah pembawa sial dan selalu di pukul setiap harinya, terkadang aku juga di kurung di gudang tanpa di beri makan. Untung saja ibu tiri itu baik, ia selalu memberi aku makan di saat sedang di hukum Ayah walaupun itu secara sembunyi, terkadang ia juga kena amukan Ayah karena baik pada ku. Hari-hari ku di lalui begitu pahit, bahkan sekolah saja Ayah melarang akan tetapi Nenek membujuk Ayah agar tetap membiarkan aku sekolah dan akhirnya ia setuju akan hal itu, perjalanan hidup ku sangat sulit selama sekolah pun aku harus jalan kaki dan tanpa uang jajan, bagiku itu tidak masalah yang penting bisa tetap pergi ke sekolah. Terkadang ibu tiri selalu menangis memeluk ku di saat malam, watu itu memang masih kecil tapi mampu mengingat kejadian demi kejadian dan yang aku tidak ingat itu kejadian sebelum kecelakaan, andaikan aku tahu pasti sudah pulang ke tempat itu. Begitu menyakitkan nya pada masa itu, bahkan aku sempat berfikir bahwa tidak akan bisa mendapatkan kehidupan seperti ini. Tahun demi tahun ku lalu dengan keadaan seperti itu, sampai pada suatu hari aku bertemu dengan Radit dan dia menawarkan pekerjaan untuk ku yaitu menjadi asisten nya, usia ku di bawahnya. Dan pekerjaan ku hanya membawa tas dan menyelesaikan tugas-tugas nya, dan pada saat dia menyusun skripsi pun akulah yang mengerjakan nya. Padahal aku hanya tamatan SMA, tapi di paksa untuk mengerjakan semua itu dan akhirnya aku bisa menyelesaikan nya. Dia memberikan uang banyak padaku, lalu aku pulang dengan membawa uang banyak. Bahkan untuk pertama kalinya aku melihat uang sebanyak itu. Dan uang tersebut aku kasih sama ibu, tapi ibu malah menangis saat melihat uang itu dia sangat ketakutan ia mengira uang itu hasil curian. Hingga pada akhirnya Ayah tahu bahwa aku memberi ibu uang yang sangat banyak, dan di ambil paksa oleh nya dan uang tersebut di gunakan untuk berjudi. Dan pada akhirnya, Ayah meninggal karena overdosis. Setelah satu minggu Ayah meninggal kami di usir oleh adik dari Ayah dan terpaksa harus meninggalkan rumah itu. Itulah sepenggal kisah ku yang menyedihkan, tapi syukur banget aku bisa bertemu dengan kalian dan mempunyai istri sebaik kamu yang menerima ku apa adanya, tapi sayang Ibu tidak bisa merasakan kehidupan yang layak saat masih hidup" Faklan pun menceritakan semuanya terhadap sang Kakak ipar, karena Daisy sudah mengetahui semuanya.
"Maafkan aku, telah mengingatkan luka lama" kata Farwa dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Nggak masalah kak, kalian juga berhak tahu apa yang terjadi pada ku di masa lalu" jawab Faklan.
"Terus Bu Ratih itu, orang yang melahirkan kamu? dan dia menitipkan mu di panti asuhan? " tanya lagi Farwa.
"Menurut keterangan sih seperti itu, tapi entah lah. Aku juga tidak bisa percaya begitu saja, takut nya sudah berharap lebih hingga pada akhirnya kecewa" jawab Faklan.
"Tapi kan bisa tes DNA" kata Farwa.
"Hanya itu jalan satu-satunya untuk menghilangkan keraguan"
Tanpa terasa mereka berbagai cerita sudah menghabiskan waktu satu jam, bahkan Farwa sampai lupa kalau Argani kecil sedang merajuk. Dan Zulaikha pun datang ke ruang tersebut dengan membawa nampan yang berisi makanan. Hingga pada akhir nya mereka menikmati makan yang di bawa sang ibu dengan minuman teh hangat, memang rasa masakan yang di ciptakan sang ibu itu sangat luar biasa.
__ADS_1