
"Kak, Starla! " Farwa kaget dengan orang yang menabrak nya dan terburu-buru keluar dari pusat perbelanjaan.
"Siapa dia sayang? " tanya Radit terhadap sang istri karena ia tidak tahu siapa perempuan yang ada di hadapan nya, akan tetapi ia merasakan sudah tidak asing lagi dengan wajah perempuan yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Starla tidak menjawab Farwa, ia pergi begitu saja meninggalkan Radit dan Farwa yang masih berdiri di pintu masuk.
"Dia mantan istri kak Adnan dan pernah berencana juga untuk membunuh ku, karena dia sama Alfi bekerja sama untuk memisahkan aku dari mu. Untung saja Tuhan maha baik dan masih memberikan aku kesempatan untuk tetap hidup" jawab Farwa.
"Kenapa mereka begitu jahat padamu, andai kan aku ingat apa yang terjadi di masa lalu" kata Radit dengan raut wajah yang sendu.
"Sudah lah, nggak perlu di ingat juga. Terlalu sakit jika mengingat ke waktu itu, yang penting sekarang hidup kita sudah bahagia" jawab Farwa sambil mengajak sang suami untuk segera masuk.
Mereka berdua melanjutkan langkah nya, dan menuju tempat di mana Farwa ingin membeli keperluan nya.
Mereka pun mampir ke beberapa toko pakaian dan membelikan Argani kecil pakaian ketika Farwa menyukai nya dan itu sangat lucu pastinya ia akan membeli untuk jagoan kecil mereka.
Di saat mereka masih muter-muter dari satu toko ke toko yang lain, mata Radit tertuju pada toko yang menjual aneka permainan anak.
"Masuk sini yuk! " Radit menarik tangan sang istri dan membawa nya ke dalam toko mainan, karena ia sangat suka membelikan Argani kecil berbagai jenis mainan.
"Untuk apa ke tempat ini? "
"Beli mainan untuk jagoan kecil, tunggu sebentar aku cari yang belum ada di rumah"
__ADS_1
"Pastinya semua sudah ada, untuk apa juga terlalu banyak main itu semua jadi sampah"
"Shtt, jangan berisik nggak akan ngerti juga" ucap Radit sambil terus mencari mainan yang di sukainya.
Setelah cukup lama dan Farwa terus mengikuti nya dari belakang, dan Radit sudah mendapatkan apa yang di inginkan nya. Ia lanjut membayarnya, dan melanjutkan kembali pencarian sesuatu yang memang belum di dapatkan oleh Farwa.
Waktu bergulir begitu cepat, tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan.
Radit mengajak sang istri untuk makan siang di salah satu restoran yang masih berada di gedung yang sama, kedua nya juga menikmati makan siang.
Canda tawa tercipta di antara kedua nya, hingga pada akhirnya makan siang sudah selesai.
Restoran yang sudah di padati oleh para pengunjung dan saat nya sepasang suami-istri untuk segera meninggalkan tempat ini karena semua keperluan nya sudah selesai.
"Iya, tapi seru loh kira bisa mlihat apapun di tempat ini termasuk cowok ganteng seperti itu" ucap Farwa sambil menujuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan keluar dari restoran.
"Astaga, sudah mulai nakal ya. Ngateng juga suamimu, dia mah tidak ada apa-apa nya di bandingkan aku" jawab Radit.
Farwa pun tertawa, melihat suaminya berkata seperti itu. Sejujurnya ia juga hanya bercanda karena hidup itu tidak harus selalu serius ada saat nya juga di bawa bercanda agar tidak membosankan.
Kedua nya berjalan ke luar dari pusat perbelanjaan.
...****************...
__ADS_1
Di tempat lain.
Daisy menceritakan semuanya terhadap sang ibu, mengapa ia bisa nekat pergi dari rumah dalam keadaan marah.
Padahal tidak seharusnya ia melakukan itu, dan Zulaikha menasehati sang putri bungsu agar bisa mengendalikan amarah. Karena sekarang ia bukan lagi anak kecil dan sudah menjadi seorang istri. Seharusnya lebih bijak dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di dalam rumah tangga nya.
Memang benar meskipun anak nya sama-sama perempuan akan tetapi antara Farwa dan Daisy memiliki watak yang bertolak belakang. Farwa orangnya lebih bisa menyikapi sebuah masalah dengan tenang dan tidak pernah terlihat punya masalah di hadapan kedua orang tua nya karena ia tidak mau menjadikan orang tua nya ikut kepikiran dengan apa yang terjadi pada diri nya.
Daisy orang yang tidak bisa menyembunyikan masalah dan ia selalu berbicara apapun terhadap sang ibu, karena bagi Daisy. Ibu adalah tempat ternyaman untuk berbagi keluh kesah ya.
"Tidak seharusnya pergi dari rumah dalam keadaan marah, karena itu semua tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yang ada malah menambah masalah baru, tidak seharusnya juga bagi seorang istri melangkahkan kakinya keluar dari rumah tanpa ijin dari suaminya. Itu adalah sebuah dosa besar" Zulaikha berkata dengan nada bicara yang lembut, ia memberikan pengertian terjadi sang putri agar bersikap lebih dewasa.
"Dia itu nggak mengerti perasaan ku, susah sekali di ajak kerja sama nya. Aku juga ingin punya anak bu... nggak mungkin juga terus seperti ini, sepi di rumah tanpa kehadiran nya" jawab Daisy.
"Iya, ibu ngerti tapi tidak seharusnya seperti ini. Ajak dia ngobrol dari hati ke hati dan perlahan, mungkin dengan cara seperti itu suamimu akan mengerti apa yang kamu inginkan. Kalau ibu harus bicara anak juga bukan patokan sebuah keluarga akan bahagia dengan kehadiran anak, mungkin tidak akan ada yang bercerai atau sepasang suami istri berantem karena anak. Jadi bukan berarti belum hamil lantas mengurangi kebahagiaan rumah tangga mu, jadi seharusnya kamu belajar untuk ikhlas dan selalu sabar menerima setiap kehendak yang sudah di takdir kan oleh sang Pencipta. Kalau kamu terus seperti ini, itu artinya kamu tidak menerima yang sudah di gariskan oleh-Nya. "
"Iya, aku tahu soal itu akan tetapi kita juga sebagai manusia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun hasilnya tidak sesuai" jawab nya.
"Kamu harus lebih sabar, pasti ada hikmah di balik semua ini" Zulaikha selalu berkata dengan nada bicara yang lembut.
"Iya, bu. Aku juga sudah lega kalau sudah berbicara dengan mu, entah mengapa aku nggak bisa seperti kakak. Yang selalu menyimpan masalah nya sendiri, aku tidak sekuat dia. Makanya aku selalu menceritakan apapun ke ibu, dan itu tujuan nya agar hatiku lebih tenang karena hanya ucapan ibu yang selalu membuat ku damai" jawab Daisy sambil memeluk sang ibu. Sungguh ia dekat sekali dengan sang ibu, kalau Farwa lebih dekat dengan sang Ayah.
"Ibu senang kamu mau berbagi keluh kesah, dan pastinya kamu itu selalu menjadi putri kecil ibu yang selalu di rindukan kehadiran nya dan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah mu itulah bahagia nya seorang ibu" ucap Zulaikha sambil mengelus rambut putri bungsu nya.
__ADS_1
Sentuhan dari tangan sang ibu sungguh membuat Daisy sangat nyaman, akan tetapi kenyamanan itu hanya sementara ketika ada suara yang berteriak dan menghancurkan semuanya. Hingga akhir Daisy harus mengalah demi kedamaian bersama.