
Sepasang suami-istri sudah siap untuk berangkat ke tempat kerja, sarapan pun sudah selesai.
Farwa akan mengambil tas nya ke dalam kamar, akan tetapi tiba-tiba kepala nya terasa pusing hingga ia terhuyug seperti akan terjatuh.
Argani langsung sigap menangkap sang istri.
"Apa yang terjadi dengan mu, kita kedokter saja! " kata Argani dengan nada bicara yang lembut.
"Nggak perlu, ini tidak apa-apa" jawab Farwa sambil membenarkan posisi berdiri nya.
"Yakin! "
"Iya, Ayok kita berangkat! " ajak Farwa terhadap sang suami.
"Aku ngerasa nggak tenang sebelum tahu keadaan mu yang sesungguhnya" kata Argani dengan raut wajah yang di selimuti khawatiran.
"Astaga, Mas...ayok cepetan! " kata Farwa sambil berjalan mendahului dang suami.
Akan tetapi setelah berada di pintu depan kepala nya kembali berputar dan pandangan nya buram.
Farwa berpegangan terhadap sisi pintu agar ia tidak terjatuh.
Argani yang melihat itu langsung merangkul sang istri.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, sekarang harus pergi ke dokter! " kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.
Akhirnya Argani memaksa Farwa untuk pergi ke rumah sakit, walau bagaimana pun kesehatan sang istri itu yang utama.
Setelah seperti ini Farwa juga hanya pasrah di bawa oleh suaminya ke rumah sakit, Argani takut ada penyakit yang serius makanya ia ingin memeriksakan Farwa ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi.
Argani sudah siap melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di tempat pasilitas kesehatan.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah berhasil menghentikan kendaraan nya di tempat pasilitas kesehatan.
Argani menggandeng sang istri untuk segera di bawa masuk ke unit gawat darurat, akan tetapi setelah berada di dalam malah di sarankan untuk ke bagian rawat jalan.
Akhirnya mereka bedua berjalan dengan perlahan untuk segera menuju tempat yang di sarankan oleh perawat yang berada di bagian unit gawat darurat.
Setelah beberapa saat Argani dan Farwa sudah berada di dalam, dan Argani langsung mengambil nomor antrin.
Argani dan Farwa duduk di ruang tunggu yang sudah tersedia di sana, dengan sabar Argani mendampingi sang istri.
Setelah cukup lama dan akhirnya Farwa di panggil oleh perawat, itu artinya giliran Farwa sudah tiba.
"Aku masuk yah" kata Farwa terhadap sang suami.
"Memangnya aku nggak boleh ikut? " tanya Argani terhadap sang istri.
"Tunggu di sini saja, aku juga hanya sebentar"
__ADS_1
"Yah... " jawab Argani dengan nada bicara sedikit kecewa.
Akhirnya Farwa masuk ke dalam ruangan.
Setelah berada di dalam, Farwa di persilakan untuk naik ke atas ranjang pemeriksaan pasien.
Farwa sudah siap untuk di periksa, dokter perempuan itu dengan telaten menggerakkan alat yang di gunakan untuk memeriksa kesehatan Farwa.
Setelah cukup lama sang dokter memberikan mangkuk kecil terhadap Farwa dan memintanya untuk mengeluarkan urine, sebab akan di periksa melalui itu.
Farwa tidak banyak bertanya, ia mengikuti apa di perintah kan sang dokter.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Farwa sudah kembali dan membawa apa yang di katakan oleh sang dokter.
Farwa di persilakan untuk duduk di kursi yang ada di hadapan dokter.
"Nyonya datang ke sini bersama siapa? " tanya dokter terhadap Farwa.
"Bersama suami, dok" jawab Farwa.
"Susu tolong panggil suami nya, sebab ada hal penting yang ingin saya sampai kan. Dan ini harus di saksikan oleh suaminya, karena dia berhak tahu" kata dokter tersebut.
"Memangnya begitu parah kah penyakit saya? tolong jangan beri tahu suami saya jika ini penyakit yang sangat parah! " kata Farwa dengan nada bicara yang di penuhi khawatiran.
"Nggak ko, saya hanya ingin ngobrol sebentar dengan suami mu" jawab dokter sambil tersenyum menatap wajah Farwa yang tegang.
Setelah beberapa saat Argani sudah berada di dalam ruangan dan duduk di samping sang istri.
"Selamat yah untuk kalian berdua sebentar lagi akan menjadi seorang ayah" kata dokter sambil menyerahkan benda yang di pegangnya kepada Farwa.
"Apa ini dok? " tanya Farwa.
"Itu alat tes kehamilan, dan hasil nya positif" jawab dokter sambil tersenyum.
"Itu artinya, istri saya hamil"kata Argani dengan raut wajah yang bahagia, ia tidak menyangka bahwa Farwa akan hamil secepat ini.
" Iya, Tuan istri Anda positif hamil dan usia kandungan nya baru menginjak tiga minggu. Tolong di jaga dengan baik dan jangan terlalu capek, karena di tri mester pertama itu sangat rawan sekali " pesan dokter terhadap Argani.
"Baik dok, terimakasih banyak"
"Sama-sama, sekali lagi Selamat yah" kata dokter itu sambil menatap mereka berdua secara bergantian.
"Baiklah dok, kalau begitu kami permisi" kata Argani sambil menggenggam tangan sang istri.
"Jangan lupa vitamin nya di tebus yah di apotik, tablet tambah darah nya juga di minum! " pesan dokter terhadap Farwa.
"Iya, dok"
Akhirnya Argani dan Farwa berjalan dengan perlahan untuk segera pergi ke apotik mengambil vitamin, setelah beberapa saat mereka sudah sampai di depan apotek dan Argani menyerahkan kertas kecil dari dokter.
__ADS_1
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama akhirnya vitamin sudah mereka terima.
Dengan langkah perlahan Argani mengandeng tangan sang istri.
"Sayang terimakasih banyak yah, sudah mau mengandung anak ku" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang istri.
"Kenapa berkata seperti itu, kan dia juga anak ku. Pan kita bikin nya bareng-bareng" kata Farwa, dengan malu-malu.
"Pokoknya harus secepatnya kamu buat surat pengunduran diri, aku tidak akan membiarkan istri ku yang sedang hamil bekerja. Kalau nanti kamu lelah bagaimana, itu pasti bisa membahayakan anak kita" ucap Argani sambil mengelus perut sang istri yang terlihat masih rata.
"Bukan hanya bekerja sih yang membuat mereka bahaya, jadi di tri mester pertama kita jangan sering-sering melakukan hubungan suami-istri, sebab itu semua bisa mengakibatkan janjinya stres" jawab Farwa.
"Kenapa begitu, kan aku ayahnya wajar lah kalau tiap malam ingin mengunjungi nya. Pasti ini akal-akalan kamu ya sayang" kata Argani, ia tidak bisa jika harus puasa lama.
Mungkin dirinya yang akan merasa stress.
"Ini bener loh, tanya saja sama dokter. Aku juga pernah baca di sebuah artikel, Mas harus bisa menahan nya demi kebaikan nya juga"
"Kenapa memyiksa Ayah seperti ini, apa kalian dendam karena Ayah menikahi ibu mu dengan paksa"
"Hai ini bukan salah dia, tapi memang di usia kandungan yang baru berumur tiga minggu itu sangat riskan sekali. Dari beberapa hari lalu setelah merasakan mual dan pusing aku baca-baca tentang gejala-gejala kehamilan dan apa saja yang tidak boleh di lakukan" kata Farwa sambil tersenyum menatap lekat wajah sang suami.
"Iya aku faham, pokoknya yang penting kalian berdua sehat. Itu yang utama bagiku" jawab Argani sambil merangkul pinggang sang istri lalu di kecup kepala nya.
Tanpa mereka sadari ternyata ada yang mengawasi nya, tidak jauh dari tempat mereka berdiri pada saat ini.
"Tunggu di sini, jangan bergerak. Aku ambil motor dulu! " kata Argani.
Setelah berkata seperti itu, Argani berjalan dengan perlahan untuk segera mengambil motornya.
Setelah berada di dekat motor lalu ia naik ke atas motor menyalahkan nya, akan tetapi ia melirik ke arah di mana sang istri sedang berdiri.
Seketika Argani berteriak langsung turun lagi dan berlari sekencang mungkin, agar Farwa tidak bahaya sebab dua orang yang mengintai mereka sudah membidik Farwa untuk segera menembaknya.
Argani langsung memeluk Farwa berusaha untuk melindungi nya, dan yang terkena peluru itu Argani.
Betapa terkejut nya Farwa saat mata Argani mulai sayup dan seperti tidak ada kekuatan untuk menopang tubuh nya.
Akhirnya Argani ambruk.
Orang yang menembak nya langsung pergi begitu saja.
"Mas.... buka matamu? "kata Farwa sambil menepuk pipi sang suami akan tetapi, tangan kirinya menyentuh dada sang suami dan ternyata sudah mengeluarkan banyak darah.
Farwa berteriak sambil menangis ia meminta tolong terhadap orang yang berada di sana, tanpa menunggu waktu yang lama Argani sudah di bantu oleh beberapa orang.
Argani langsung di bawa ke ruangan unit gawat darurat, akan tetapi karena ini hanya klinik kecil tidak bisa menangani Argani.
Sebab ini harus segera di operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Argani, akhirnya Argani di rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap pasilitas nya.
__ADS_1
Farwa terus menangis berada di dalam ambulan ia tidak mau melepaskan tangan suaminya ia genggam terus.
" Betahan lah, Mas.. demi anak kita" ucap Farwa dengan air mata yang tidak henti mengalir.