
Farwa dan kedua orang tuanya, menyambut gembira kedatangan sang paman.
Tanpa mereka duga akan kehadiran pamannya di rumah ini, padahal baru beberapa hari sang paman baru saja pulang.
"Paman mengapa nggak ngabarin kalau mau datang ke sini" kata Daisy sambil menyanyi sang paman beserta Bibinya, yang selalu memahami keadaan keluarga mereka.
Farwa lebih dekat dengan sang Bibi.
"Biar menjadi kejutan untuk kalian semua" jawab sang Bibi, ia langsung mendekat ke arah Farwa.
"Aku baik, Bi... lebih baik kita duduk dulu! " ajak Farwa terhadap sang Bibi, begitu juga dengan Paman nya.
Mereka semua sudah duduk di sofa yang ada di ruangan ini, terlihat bahagia di antara mereka.
Meskipun Zulaikha baru pulang beberapa hari dari rumah sakit, akan tetapi kali ini merasakan bahagia di kelilingi orang-orang yang menyayangi nya.
Obrolan ringan pun tercipta di antara mereka dan sang Paman pun menceritakan tujuan dengan kedatangan mereka ke kota ini.
"Mulai minggu depan aku sudah pindah lagi ke kota ini" kata sang Paman di akhir kalimat yang mereka bicarakan.
"Mengapa dadakan seperti ini? " tanya Mahad.
"Sebetulnya ini tidak dadakan, aku sudah mengajukan nya dari jauh-jauh hari. Agar bisa pindah lagi ke kantor utama. Syukur lah sekarang di acc permintaan ku, Sebab aku kasian sama Dewi jauh dari kalian semua" kata Amir.
"Iya, Kak. Sekarang kita sudah kumpul lagi di kota ini, jadi susah dan senang kita akan selalu bersama" ucap Dewi sambil menatap wajah sang Kakak.
"Syukur lah, kita masih di beri kesempatan untuk bersama lagi" jawab Farwa.
"Oh Iya, di kantor Paman lagi membutuhkan sekretaris. Soalnya yang lama cuti melahirkan, bos minta di carikan sama Paman, apakah Daisy tertarik untuk bekerja di kantor bersama Paman? " tanya Amir terhadap keponakan nya itu.
"Tapi, Paman... aku sudah bekerja" jawab Daisy, mamang sekarang dia sudah bekerja meskipun itu hanya menunggu sebuah galeri dan selalu melukis du waktu senggang sebab itu keahlian nya.
"Paman kalau bisa, boleh aku yang ikut bekerja dengan mu" kata Farwa sambil menatap lekat wajah sang Paman dengan penuh permohonan.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan suami mu. Apa dia akan mengijinkan, Paman takut jika nantinya kamu yang mendapatkan masalah" jawab sang Paman. Ia sangat takut jika keponakan nya, memiliki masalah baru.
"Aku akan coba bicara terlebih dahulu, semoga menginjakkan" jawab Farwa sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Paman tunggu kabar selanjutnya. Sebab ini posisi yang lumayan banyak di cari orang" jawab sang Faman.
Akhirnya perbincangan di antara mereka sudah selesai, sang Paman juga sudah kembali ke rumah mereka. Walaupun Zulaikha meminta mereka untuk menginap di rumah ini, akan tetapi mereka lebih memilih pulang ke rumah mereka. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, mungkin itu alasan Dewi nggak mau menginap.
Setelah Paman, dan Bibir pergi.
Tinggal lah mereka yang masih berada di ruang tengah, hanya Daisy lah yang tidak ada. Sebab dirinya harus pergi ke tempat kerja.
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa waktu sudah semakin sore. Akan tetapi Argani belum juga datang untuk menjemputnya, Farwa sudah tidak karuan. Ia terus mondar-mandir seperti setrikaan yang belum panas. Sehingga sang ibu merasa pusing dengan kelakuan anak sulung nya.
"Kamu kenapa mondar-mandir terus, bisa duduk tidak? " kata sang ibu terhadap Farwa.
"Mengapa dia belum datang menjemput ku ya, apa terjadi sesuatu padanya" kata Farwa sambil menatap ke arah luar, kebetulan pintu sedang terbuka.
"Tapi, Bu... "
Setelah beberapa saat akhirnya terdengar suar motor berhenti di halaman rumah, sudah bisa di pastikan bahwa itu adalah Argani.
"Itu dia pulang" kata Farwa, baru lah ia merasakan ketenangan setelah suaminya pulang.
Argani sudah masuk ke dalam rumah dan mengajak Farwa untuk segera kembali ke rumah mereka, akhirnya mereka berdua berpamitan untuk segera pulang.
Farwa membawa tas besar yang berisikan barang miliknya yang ia bawa dari rumah ini.
Mereka sudah berada di halaman rumah, baru akan naik ke atas motor. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang menghentikan Farwa.
"Apa kamu masih mau tinggal bersama laki-laki seperti dia, lebih baik tinggal kan dia dan kita menikah" kata orang tersebut sambil berjalan perlahan dan mendekat ke arah Farwa.
"Maksud nya apa? dia itu suami saya, tidak ada hak bagimu untuk menghina nya, di antara kita sudah selesai" jawab Farwa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu, bahkan kita saja belum mengakhiri nya. Karena da telah merebut paksa dari ku, dan aku sangat yakin bahwa kamu juga sangat mencintai saya. Jadi lebih baik kamu tinggal kan dia, lalu pergi bersamaku"
"Hentikan omong kosong mu! " Farwa kesal dengan apa yang di katakan laki-laki itu, walaupun Argani seperti itu. Akan tetapi Farwa tidak suka jika ada orang yang memperlakukan Argani dengan cara seperti itu.
Argani hanya diam saja, tidak berkomentar apapun. Sebab ia sangat sadar bahwa ia lah yang sudah merebut Farwa dari orang tersebut.
Marah jengkel itu yang di rasakan Argani pada saat ini, akan tetapi ia sudah berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Sebisa mungkin ia menahan emosi.
"Apa yang kamu harapkan darinya, dia bukanlah apa-apa tanpa nama Malik di belakang nya"
"Tidak perlu repot-repot ngurusin hidup ku, lebih baik urus. Urusan mu sendiri" kata Farwa.
"Bukan ngurusin hidup orang, akan tetapi hidup kita berdua"
Akhirnya Farwa pun mengajak Argani untuk segera pulang, sebab tidak ada gunanya juga berbicara dengan orang seperti dia.
Argani dan Farwa sudah pergi meninggalkan Marwan yang masih berdiri di halaman rumah Farwa.
Setelah di perjalanan Argani bertanya terhadap Farwa.
"Kenapa kamu mau pulang bersama ku? " tanya Argani terhadap sang istri.
"Karena kamu adalah suamiku, seperti apapun suaminya tetap bagi seorang isrtri akan merasa nyaman saat bersama nya" jawab Farwa.
"Dia mau apa datang ke rumah mu, apa mencari keberadaan mu? " tanya Argani, ia merasa cemburu saat ada laki-laki lain mendekati sang istri.
Kalau saja saat ini Argani tidak sedang berusaha untuk memperbaiki diri, maka ia sudah mencongkel mata Marwan saat menatap Farwa seperti tadi.
Ia sudah berjanji terhadap ayah mertua nya, bahwa ia akan menjadi pribadi yang lebih baik.
"Mana saya tahu" jawab Farwa.
Akhirnya setelah itu tidak ada yang berbicara lagi di antara kedua nya, sepanjang perjalanan hening.
__ADS_1