Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 18


__ADS_3

Argani terus meronta ingin masuk ke dalam jurang dan mencari tahu keberadaan sang istri, namun polisi menghalanginya karena terlalu berbahaya untuk melakukannya.


"Mengapa kalian tidak membiarkan aku menyelamatkan calon istriku?" teriak Argani sambil meronta, laki-laki ini tubuhnya dipegang oleh beberapa orang polisi agar tidak nekat masuk ke dalam jurang tersebut.


"Terlalu berbahaya, Tuan. Bagaimana nanti jika terjadi sesuatu pada dirimu? Kami tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," kata salah satu dari anggota kepolisian.


"Bagaimana kalian bisa berkata seperti itu, sementara Farwa saya sedang dalam bahaya? Lepaskan aku untuk menyelamatkannya!" teriak Argani sambil meronta. Namun, ia tidak dapat terbebas dari mereka hingga akhirnya ia tidak bisa menyelamatkan Farwa.


Mahad menyaksikan kobaran api yang membakar kendaraan, di dalamnya ia merasa putrinya berada.


"Putriku, maafkan Ayahmu yang tidak mampu menyelamatkanmu," ujarnya sambil tertunduk di tanah dan menangis. Ia merasa tidak percaya dengan akhir hidup sang Putri dalam keadaan seperti itu.


Bayangan Farwa terlintas di kepala Mahad, senyum kebahagiaan pada saat sebelum mengenal Argani dan kesedihan selalu memenuhi wajah sang putri di beberapa bulan terakhir ini. Dan sekarang, nyawa Farwa harus berakhir dengan cara seperti itu.

__ADS_1


"Pak, tolong pastikan bahwa anak saya masih selamat," kata Mahad pada salah satu pihak kepolisian, dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Tim kami sudah pergi untuk mengecek ke bawah sana dan kemungkinan besar orang yang ada di dalamnya ikut terbakar."


Argani ambruk, ia sudah tidak kuasa lagi menghadapi keadaan seperti ini. Untuk pertama kalinya ia menangis untuk seorang perempuan, yaitu Farwa. Dengan segala perjuangan yang dilakukannya untuk memperjuangkan gadis pujaan hatinya, takdir berkata lain. Mengapa Tuhan tidak adil padanya, bahkan dengan kejam merenggut paksa Farwa darinya.


Mahad mendekati Argani dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya.


"Sekarang seharusnya kamu bahagia telah merenggut kebahagiaan bahkan nyawanya. Tertawalah, kamu sudah berhasil membuat hidupnya menderita," ujar Mahad sambil menatap wajah Argani penuh kebencian. Andai saja mereka tidak bertemu, Farwa tidak akan pernah mengalami segala ini.


"Lepaskan dan jangan pernah mendekati keluargaku lagi. Tidak ada gunanya saya membunuhmu. Itu semua tidak akan mengembalikan putrinya," jawab Mahad sambil menarik kakinya agar terlepas dari genggaman Argani.


Mahad meninggalkan tempat kejadian untuk segera memberitahu istrinya kejadian yang sebenarnya. Meskipun rasanya ia tidak mampu lagi untuk berjalan, Mahad berusaha untuk tetap kuat untuk menerima kenyataan. Siapa lagi yang akan menguatkan sang istri jika dirinya ikut terpuruk dengan kejadian ini.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat, kabar meninggalnya Farwa akibat kecelakaan sudah menyebar. Anggota keluarga Farwa sudah berada di rumah mereka, Zulaikha belum sadarkan diri. Ia merasa terlalu kaget dengan keadaan seperti ini dan Daisy terus menangis membayangkan kakaknya yang rela menderita demi kebahagiaan keluarga mereka.


Argani masih tertunduk di tanah sambil menatap api yang belum padam, membakar kendaraan yang berisi pujaan hatinya. Faklan, sahabatnya yang selalu setia berada di samping Argani, tidak tega melihat keadaannya. Ia mendekat dan berusaha membujuk Argani agar segera pulang dan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa Farwa tidak mungkin kembali lagi.


"Tunggu aku, Farwa. Aku akan menyusulmu," kata Argani dengan suara sayup-sayup, sambil menatap lurus ke depan dengan rasa sedih yang mendalam.


"Ayo pulang, sudah gelap dan tempat ini sudah sepi," ajak Faklan.


"Bagaimana aku bisa pergi dari sini, sedangkan dia kesakitan di sana. Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Mengapa Tuhan mengambilnya pada saat dia belum menjadi milikku? Apakah ini balasan dari segala dosamu? Menghilangkannya orang tanpa memikirkan keluarga yang akan kehilangan. Sekarang aku merasakan semua itu, kehilangan orang yang sangat dicintai," ujar Argani sambil menatap kejauhan dengan rasa sedih yang masih amat dalam.


"Ayo, jangan hukum dirimu dengan cara seperti ini. Ikhlaslah untuk Farwa agar tenang di alam sana," kata Faklan coba membujuk Argani.


"Apa yang kamu bilang? Ikhlas? Bagaimana aku bisa melakukannya dengan cepat? Yang ada hanya penyesalan saja yang selalu menghantui diriku, di setiap tarikan nafas," ucap Argani sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi mereka berdua. Faklan berusaha membiarkan Argani untuk merenung dan meminta waktunya, namun ia melihat ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Ketika ia berbalik, ia melihat Argani tergeletak di tanah dengan tidak sadarkan diri, dan darah mengalir di pelipisnya.


"Darah!" kata Faklan sambil menyentuh pelipis Argani dan melihat sekeliling tempat itu.


__ADS_2