Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 91


__ADS_3

Radit dan Farwa sudah berada di pasar malam, Radit sengaja mengajak Farwa ke tempat ini. Selain murah banyak permainan yang menurut nya itu sangat cocok untuk Argani, ia juga tidak punya cukup uang untuk mengajak mereka ke tempat yang mewah atau mahal.


"Bu, Maaf Yah ku ajak ke tempat murah seperti ini. Yang penting Argani seneng kan! " kata Radit sambil menatap Argani yang sedang bermain di rumah balon.


"Kenapa bicara seperti itu, saya tidak masalah seperti apa tempat nya yang penting. Selama ini saya tidak pernah mengajak dia untuk main di luar, karena begitu besar rasa takut kehilangan nya. Sebab menutur saya terlalu bahaya kalau membiarkan nya bermain di luar" jawab Farwa dengan pandangan fokus ke anak kecil yang sedang loncat-loncat kegirangan.


"Memangnya kenapa sehingga ibu begitu takut jika Argani dalam bahaya, apakah pernah terjadi sesuatu di masa lalu? " tanya Radit, ia ingin tahu lebih banyak tentang hidup Farwa di masa lalu.


"Ayah nya Argani meninggal karena tertembak, pada saat kami mau pulang dari klinik setelah pemeriksaan kehamilan saya pada saat itu. Dari situ saya takut untuk pergi ke luar dan tidak membiarkan nya main di luar karena saya terus merasa bahwa bahaya selalu mengancam nya, untuk pertama kalinya kemarin itu Argani main di luar, dan ternyata dia terlihat bahagia. Makanya hari ini aku menerima ajakan mu untuk datang ke tempat ini, dan ternyata dunia luar itu sangat asik bagi Argani. Coba kamu lihat dia sangat bahagia, padahal hanya loncat-loncat seperti itu" kata Farwa sambil tersenyum, menatap sang putra yang sedang asik bermain.


"Ternyata kisah mu seperti itu, pantas saja tidak membiarkan nya main di luar. Semoga setelah ini tidak ada lagi bahaya yang menghampiri kalian, dan selalu bahagia walaupun Ayahnya Argani sudah tidak ada. Pastinya dia selalu mengawasi nya di atas, kalian harus tetap semangat" kata Radit. Setelah itu Radit bangkit dari duduknya lalu menghampiri Argani.


"Hai jagoan, suka ikan tidak? " tanya Radit terhadap anak kecil yang sedang asik bermain.


"Kenapa Om? "


"Kita pindah ke, sebelah sana yuk, mancing ikan pasti seru! " ajak Radit sambil merentang kan tangan nya untuk menggendong Argani.


Akhirnya dua laki berbeda usia itu bermain bersama, dan Farwa hanya memperhatikan nya. Padahal baru di kenalnya beberapa hari, mengapa mereka begitu dekat. Apakah Radit memang baik terhadap mereka, atau ada niat jahat.


Entah lah, Farwa sempat berfikir bahwa orang baru yang datang ke kehidupan mereka itu semuanya tidak ada yang baik kecuali dengan niat tertentu.


Akan tetapi hatinya berkata, bahwa Radit itu memang baik dan tulus terhadap mereka, tidak ada niat jahat.


Setelah cukup lama Farwa memperhatikan nya, dan akhirnya ia mendekati mereka.


"Ibu, mau ikut mancing ikan nggak. Nanti ibu dapet hadiah, itu banyak loh hadiah nya" kata Argani dengan raut wajah di penuhi kebahagiaan nya.


"Ibu nggak bisa Nak, kamu saja yah. Ibu ngeliatin saja" jawab Farwa sambil duduk di sebelah Radit.


"Aku juga nggak bisa tadinya, tapi diajarin sama om. Bisa sekarang mah nggak sulit ko, Ibu... Ayok om ajarin Ibu! " Argani menarik tangan Radit agar mengajari Farwa untuk memegang pancing.


Radit tersenyum kaku, dengan ragu ia menyerahkan pancing yang ada di tangan nya terhadap Farwa.


"Pasti kamu juga bisa, ini pancing mainan kok umpannya saja magnet nanti kamu arah kan saja ke kolam itu, itu ikannya juga mainan dan tidak berbahaya untuk anak kecil jika bermain seperti ini! " Farwa pun menggerakkan tangannya untuk mengambil nya.


Mereka bertiga pun bermain bersama, setelah cukup lama dari permainan satu pindah lagi ke permainan selanjutnya.


"Hai jagoan ini hari sudah gelap, waktunya kita pulang. Nanti kalau ada waktu kita bermain lagi di tempat ini, oh iya nanti kita lebih banyak mengunjungi tempat-tempat yang lebih banyak lagi permainan nya. Sekarang waktunya sudah habis, nggak baik udara malam dengan tubuhmu yang masih kecil ini" kata Radit sambil membawa anak kecil itu ke dalam dekapan nya.


"Yah, Om. aku masih belum mau pulang, selama ini ibu tidak pernah membawaku bermain. "jawab Argani dengan raut wajah yang sangat sedih.

__ADS_1


" Kenapa wajahmu seperti itu, nanti aku yang meminta ijin sama ibu mu untuk membawa kamu untuk bermain sepuasnya " kata Radit sambil menangkup kedua pipi anak kecil yang sangat menggemaskan.


"Ayok sayang, pulang. Nanti kita main lagi! " ajak Farwa.


"Jadi nanti ibu akan mengijinkan ku untuk bermain, lagi sama om? "


"Iya, boleh. Tapi sekarang kita harus pulang"


"Ayok, om pulang! " Argani pun menarik tangan dan tangan Farwa, mereka berjalan beriringan, layaknya keluarga kecil yang bahagia.


Akhirnya mereka pulang, dengan rasa bahagia di dalam hati anak kecil karena ia sudah di perbolehkan bermain duar dan melihat banyak hal yang sebelum nya belum pernah di liatnya. Argani anak yang cerdas, setiap apa yang di liatnya pasti bertanya ketika jawaban nya belum puas menurutnya ia terus bertanya lebih jauh sehingga ia merasa puas dengan jawaban yang di berikan nya.


Mereka sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka pulang.


"Maaf yah, kendaraan seperti ini. Semoga aku bisa membeli kendaraan yang lebih layak dan bisa mengajak kalian pergi dan nyaman saat di perjalanan! " kata Radit sambil menyalakan kendaraan nya, lalu menginjak gas dengan perlahan.


"Nggak perlu minta maaf, aku yang terimakasih sudah mengajak Argani main dia sangat senang hari ini. Dan semoga apa yang menjadi keinginan mu cepat terlaksana"


"Aamiin"


Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, lampu-lampu di pinggir jalan sudah mulai menyala sebab hari sudah gelap.


Waktu bergulir begitu cepat, akhirnya Radit sudah menghentikan kendaraan tepat di tempat yang mereka tuju.


Argani kecil pun tertidur dengan pulas, anak kecil itu mungkin meras lelah.


Farwa turun sambil menggendong nya, begitu juga dengan Radit.


"Aku langsung pulang saja, yah. Sampai jumpa di lain waktu" kata Radit.


"Hati-hati di jalan, terimakasih! "


Akhirnya Radit pun masuk kembali ke dalam kendaraan nya, lalu ia pergi meninggalkan area pekarangan itu.


Begitu juga dengan Farwa langsung masuk ke dalam, karena sudah tutup ia masuk lewat pintu belakang.


Radit mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di tempat yang di tuju nya.


Setelah cukup lama, akhirnya ia sudah sampai di toko sembako yang di tuju nya.


Baru saja sampai ia sudah di sambut dengan tatapan tajam Rahmat.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu, memangnya saya membuat kesalahan? " tanya Radit terhadap Rahmat.


"Bos, sadar nggak sih apa yang telah di lakukan? " tanya Rahmat kesal.


"Itu mobil kenapa di bawa pergi, kan saya mau mengambil sayuran dari pak Darmono. Hari ini dia panen, dari tadi menelepon terus. Lagian kenapa juga nggak bisa di hubungi, sudah ada kendaraan bagus juga kenapa harus pakai mobil sayuran. " Rahmat kesal dengan bos nya, gara-gara dia pekerjaan nya terhambat.


Padahal seharusnya di jam seperti ini, ia sudah bisa beristirahat.


"Itu bukan mobil saya, tapi meminjamnya. Dan saya nggak berani membawa itu, sudah kamu jangan cerewet ni kuncinya. Saya pulang sekarang, dan jangan lupa transfer uang hasil penjualan hari ini! " kata Radit sambil pergi berlalu begitu saja meninggalkan toko sembako miliknya.


Radit pun pergi dari toko itu sambil membawa mobil mewah yang tadi siang ia bawa, ini untuk pertama kalinya ia menunjukkan kendaraan itu terhadap karyawan toko nya.


Sebelum nya ia hanya, mengunakan motor butut dan mobil yang selalu di gunakan untuk mengangkut sayuran.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Radit sudah sampai di sebuah rumah yang letaknya nya di tengah kota ini.


Setelah sampai ia langsung turun dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah, setelah sampai di dalam ia langsung masuk ke dalam ruangan.


"Kak, aku tidak setuju jika pembangunan hotel bekerja sama dengan perusahaan itu" kata Radit dengan nada bicara yang kesal.


"Kamu maunya seperti apa? perusahaan itu terkenal di bidang kontruksi jadi nggak perlu di ragukan lagi" jawab seorang pria yang sudah tidak lagi muda, rambutnya juga sudah di penuhi dengan uban.


"Tapi orang yang meninjau lahannya itu dia, orang miskin sok kaya" kata Radit sambil menjatuhkan tubuh nya di kursi yang ada di hadapan orang tersebut.


"Kita akan membangun sebuah hotel bukan membangun rumah tangga, jadi nggak perlu mencampurkan urusan pribadi dengan perusahaan. Jadilah orang yang profesional, kalau tidak! perusahaan yang kita pimpinan tidak akan pernah berkembang. Sudah kamu nggak perlu ikut campur soal pembangunan hotel, kamu cukup mengetahui nya saja. Fokus saja sama kerajaan bisnis sayuran dan apa yang kamu kerjakan pada saat ini, oh iya kamu terlihat lebih ganteng saat menggunakan gigi palsu itu" sang kakak tertawa kecil dengan penampilan adiknya.


"Apa sih, kak. Aku lakukan ini demi kebaikan ku, biar tidak ada perempuan yang mau dekat dengan ku karena aku jelek dan miskin." jawab Radit ia tidak suka jika sang kakak meledek nya.


"Kalau ada yang mau dengan kamu yang seperti ini? oh iya bagaimana kabar pemilik rumah makan yang sering kamu ceritakan itu, apakah dia mau berteman dengan mu. Atau mengusir mu saat datang ke rumah nya"


"Nggak akan ada, lagipula di luar sana mereka tahunnya aku sudah menikah dan mempunyai anak " jawab Radit dengan raut wajah yang sedih.


"Lah memang kamu sudah menikah, terus masalah nya di mana? mau bilang sama mereka kalau kamu masih lajang? "


"Ih, Kakak bikin kesel saja. Sudahlah aku mau mandi dan setelah itu bermimpi bersama nya" kata Radit sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan sang Kakak.


"Aku tahu perasaan mu seperti apa? nanti juga waktunya tiba kita akan berbahagia bersama orang-orang yang kita sayang. Jadi kamu nggak perlu khawatir, semuanya pasti aman dan berjalan sesuai dengan yang kamu inginkan" batin orang tersebut sambil terus fokus dengan layar monitor yang ada di hadapan nya pada saat ini.


Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, karena untuk saat ini. Yang bertanggungjawab jawab sepenuhnya adalah dirinya sebagai seorang kakak, ia menginginkan yang terbaik untuk sang adik.


Meskipun sang adik sangat menjengkelkan akan tetapi baginya harta yang paling berharga adalah keluarga.

__ADS_1


__ADS_2