Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 92


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Hari-hari mereka lalui seperti biasa.


Rumah makan yang di kelola Farwa semakin berkembang, berkat dukungan dari orang-orang sekitar.


Awalnya ia cuma punya dua pegawai yang membantunya, akan tetapi sekarang ada sepuluh orang yang bekerja bersama Farwa.


Ruko yang mereka sewa juga sudah nambah satu lokal ke samping akhirnya semakin luas, akan tetapi ia belum bisa untuk mengambil perumahan yang di rekomendasi kan oleh Radit.


Karena Farwa takut tidak bisa membayar cicilan tiap bulan, sebab usaha nya juga baru merintis.


Bagi mereka tidak masalah harus tinggal di ruko sempit seperti itu, yang penting keuangan tetap lancar.


Mereka juga sangat berharap suatu saat nanti bisa memiliki rumah idaman tanpa harus kredit.


Hari ini seperti biasa, Farwa akan sibuk memasak di dapur.


Sekarang jam buka rumah makan mereka di mulai dari jam satu siang sampai jam satu malam, itu juga berkat saran dari Radit dan hasil nya sangat memuaskan.


Banyak pelanggan yang datang di malam hari, mungkin juga mereka setelah pulang bekerja malas masak dan solusinya makan di luar.


Sudah satu minggu Radit tidak datang untuk mengantarkan sayuran, yang biasanya hampir tiap hari datang. Entah mengapa dengan Radit seminggu tidak ada kabar, bahkan setiap kali Farwa bertanya terhadap Rahmat dan jawaban nya selalu bilang nggak tahu Bos nya nggak ngasih kabar.


"Bu, Radit kenapa yah ko sudah satu minggu ini nggak datang ke sini. Apa dia sakit atau kenapa? Argani juga seperti nya kangen main bersama dia" kata Farwa sambil terus memasak dan sang ibu memotong sayuran.


"Kenapa nggak kamu hubungi saja, jika ingin tahu kabarnya mungkin itu akan rasa khawatir di hati kamu? "


"Aku nggak tahu nomor ponsel nya, kan setiap kali kita telepon ke toko bukan ponsel nya. Terus ada juga punya Rahmat" jawab Farwa.


"Owhh begitu ya, do'akan saja. Semoga Radit dalam keadaan baik, apa kamu merasa nyaman saat bersama nya? "


"Ya biasa saja sih, Bu. Mungkin kalau Argani iya, soalnya selain Ayah yang dekat dengan nya ya hanya Radit" jawab Farwa.


Tidak terasa mereka memasak hampir selesai sambil mengobrol, tema pembicaraan mereka yaitu Radit.


Entah mengapa Farwa selalu kepikiran dengan orang yang penampilan nya bisa di bilang kurang terurus akan tetapi memiliki hati yang baik dan tulus.


Farwa juga merasa ada teman di saat berada di kota baru dan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.


Ternyata Tuhan maha baik yang selalu memberi jalan untuk orang-orang yang selalu yakin bahwa pertolongan nya itu nyata.


"Bu ini semua sudah siap, aku pergi untuk bersih-bersih dulu. Mau cek panti asuhan yang akan kita kunjungi untuk acara berbagi jumat berkah" kata Farwa terhadap sang Ibu.


"Oh iya, ibu hampir lupa. Tapi perginya jangan bawa Argani, takut rewel lagian dia juga sedang filek nggak baik di bawa-bawa ke tempat umum"


"Baik bu, aku mandi dulu"


Akhirnya Farwa pun pergi meninggalkan sang ibu yang masih berada di dapur, dan beberapa pelayan yang bekerja di tempat ini.


Waktu bergulir begitu cepat, Farwa sudah siap dengan semuanya. Ia sudah berganti pakaian, dan segera berangkat. Akan tetapi ia bingung harus berangkat menggunakan apa, sedangkan ia tidak mempunyai kendaraan di sini.


Sang Ayah saja kalau pergi ke mana-mana pasti menggunakan jasa angkutan umum.

__ADS_1


"Ah, aku ini sudah tua masa iya mau pergi saja mesti mikir mau naik apa" batin Farwa.


Akhirnya ia pun turun lalu berpamitan terhadap sang ibu untuk segera pergi, ia melangkah kan kaki untuk segera pergi ke depan dan mencari angkutan umum.


Farwa sudah berada di pinggir jalan ia berdiri sambil menunggu kendaraan yang lewat, setelah beberapa saat akhirnya ia sudah berada di dalam angkutan umum yang akan mengantarkan nya ke tempat yang di tuju.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Farwa sampai di tempat yang di tuju.


Ia langsung melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke area pekarangan panti asuhan yang di tuju, tanpa di sengaja ia melihat seseorang yang tidak asing lagi.


"Kenapa ada di sini, apakah selama ini mereka selalu ada di sekitar ku. Hanya saja aku yang tidak menyadari akan kehadiran nya" batin Farwa sambil memperhatikan orang yang baru saja masuk ke dalam kendaraan mewah.


Farwa mempercepat langkahnya, ingin memastikan bahwa yang di liatnya benar atau tidak orang yang sama atau hanya mirip saja.


Akan tetapi kendaraan itu keluar, seketika Farwa menatap kendaraan itu yang sudah keluar.


"Ahh mungkin itu hanya mirip" batin Farwa .


Setelah berperang dengan pikiran nya, akhirnya ia melanjutkan langkah nya untuk segera menemui pengurus panti.


Farwa sudah berada di dalam ruangan yang tidak terlalu luas, ia sudah duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang sudah tidak lagi muda. Akan tetapi masih terlihat sangat cantik.


Setelah basa-basi dan bertanya banyak hal.


Farwa pun menjelaskan tujuan nya datang ke tempat ini yaitu ingin berbagai jumat berkah bersama anak-anak yang kurang beruntung yang tinggal di tempat ini.


"Kalau boleh tahu jumlah anak yang tinggal di sini berapa ya bu? " tanya Farwa terhadap perempuan yang duduk di hadapan nya.


"Owhh jadi ada juga yang masih punya orang tua lengkap tapi tinggal di sini? "


"Ada, karena tempat ini terbuka untuk orang yang tidak mampu. Bukan hanya anak yang tidak memiliki orang tua"


"Apakah anak di sini bisa di adopsi atau tidak? "


"Tidak, jika ada anak yang mau di adopsi kami tidak mengijinkan nya kecuali di jemput oleh keluarga nya"


"Kenapa seperti itu bu? "


"Pernah kejadian tempo dulu, saya menemukan bayi di depan gerbang setelah usia anak tersebut tiga tahun ada yang mengadopsi saya berikan terhadap pasangan muda yang menikah sudah lima tahun tidak memiliki anak, dan di bawa ke kota b. Setelah selang beberapa tahun ada yang mencari anak tersebut dan ternyata itu ibu kandung nya. Saya tidak mau kejadian itu terulang lagi, dan membiarkan mereka tetap tinggal di sini. Lagian kalau mereka sudah dewasa juga akan pergi dari tempat ini dan mempunyai keluarga sendiri"


"Owh jadi seperti itu, oh iya bu nanti hari jumat saya akan berbagai jumat berkah di sini. Kalau boleh tahu, Anak-anak di sini suka nya makanan seperti apa? biar saya memasak sesuai dengan keinginan mereka? " tanya Farwa terhadap bu Fatimah.


"Mereka nggk pilih-pilih makanan, yang meting mateng udah syukur. Tapi ada satu anak yang nggak suka ikan jenis apapun termasuk daging"


"Iya kalau begitu, kalau boleh tahu yang tadi baru keluar dari sini itu siapa? " tanya Farwa.


Ia masih penasaran dengan orang yang baru saja di lihatnya.


"Itu tuan Jadi, dia donatur tetap di sini. Suka berbagi juga bersama anak-anak, kemarin pas tanggal dua puluh baru saja sedekahan katanya tanggal itu pas ibu nya meninggal"


"Astaga siapa dia, kemarin Radit pesan nasi kotak untuk acara tanggal dua puluh dan dia juga ada di sini. Dengan acara yang sana juga, siapa mereka" batin Farwa.

__ADS_1


Fatimah yang melihat Farwa terdiam akhirnya menyadarkan nya.


"Ada yang salah bu? "


"Oh iya, Maaf. Kalau begitu saya permisi dan kembali lagi di hari jumat" kata Farwa.


Setelah berbicara seperti itu, Farwa pun berpamitan untuk segera pulang ke rumah.


Akan tetapi banyak pertanyaan yang ada di hatinya, ada apa yang terjadi sehingga yang ia lihat seperti orang-orang yang pernah ada di masa lalu nya tetapi dengan nama yang berbeda.


"Apakah karena aku terlalu rindu sama mereka sehingga di setiap orang yang ku temui seperti mirip dengan nya, bahkan melihat Radit saja seperti melihat Argani. Padahal sudah jelas dia meninggal, apa iya dia reinkarnasi di tubuh Radit. Ah kenapa aku jadi berfikir ngaur seperti ini, semoga kamu tenang di alam sana. Meskipun kita sudah berbeda alam akan tetapi cinta ku hanya untuk mu" Farwa terus membatin, ia masih bingung dengan keadaan pada saat ini.


Apakah ini hanya kebetulan atau memang kenyataan nya seperti ini.


Sepanjang perjalanan, Farwa terus berfikir sebenarnya ini ada apa.


Akan tetapi ia tidak menemukan jawaban nya, malah kepala nya semakin pusing. Semakin ia berfikir maka semakin sakit.


...****************...


Di tempat lain.


"Bos, kenapa sekarang nggak mau mengantarkan sayuran lagi ke tempat bu Farwa? kemarin dia nanyain " kata Rahmat sambil menghitung pendapatan hari ini.


"Untuk apa saya pergi ke sana? kan ada kamu yang bertugas untuk itu semua" jawab Radit sambil terus memainkan ponsel nya.


"Bos, terkadang saya heran kenapa jarang ada di rumah kontrakan suka pergi ke mana? kemarin saya ke rumah itu tapi nggak ada. Terus akhir-akhir ini jarang ke toko, sebetulnya ada pekerjaan apa sih? sehingga saya nggak boleh tahu" kata Rahmat.


Ia juga sempat berfikir bos nya ini siapa, sedangkan yang mereka tahu Radit itu pengusaha muda di bidang perdagangan.


Akan tetapi mereka juga tidak pernah tahu asal usul keluarga nya, yang mereka tahu hanya Radit sudah menikah dan punya anak.


Radit terus memperhatikan ponsel nya, tanpa menanggapi apa yang di tanyakan oleh Rahmat. Menurut nya itu hanya pertanyaan receh yang tidak perlu di jawab.


Melihat Radit yang tidak merespon ucapan nya, Rahmat kesal.


"Bos, boleh nggak cari sopir untuk mengantar barang. Saya sekarang nggak bisa jika harus mengerjakan semua nya, lagian bos jarang datang ke sini. Saya jadi semakin sibuk "


"Cari saja jika menurut mu itu di butuhkan" jawab Radit, yang masih sibuk dengan ponsel nya.


Di saat seperti itu terdengar dering dari ponsel yang lain, dengan reflek Radit langsung mengambil nya dan menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, iya Kak ada apa? " tanya Radit terhadap orang yang menghubungi nya.


Betapa terkejut nya Radit saat orang tersebut mengatakan apa yang terjadi di hari ini.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang sekarang! "


Setelah berkata seperti itu, Radit langsung memutuskan panggilan nya secara sepihak, lalu pergi meninggalkan Rahmat begitu saja tanpa berpamitan.


"Bos, punya handphone terbaru dengan harga yang sangat mahal. Terus waktu lalu membawa mobil mewah, rasanya tidak mungkin kalau bisnis dia hanya toko sembako dan sayuran. Aku tahu penghasilan nya perbulan itu berapa, sungguh membandingkan sekali dengan apa yang terlihat" batin Rahmat.

__ADS_1


Akhirnya ia pun sudah selesai dengan semua nya dengan pikiran yang sangat rumit.


__ADS_2