
Waktu bergulir begitu cepat, semua orang sudah di sibukkan dengan aktifitas masing-masing. Begitu juga dengan Mayang, setelah sampai di bandara dan ia langsung menuju rumah sakit. Karena hari ini akan melakukan tes DNA antara bu Ratih dan Faklan, sepanjang perjalanan ia terus berpikir bagaimana jika hasil nya negatif pasti inj akan mempengaruhi kesehatan dan juga mental sang Mama.
Ia sangat khawatir akan hal buruk yang akan terjadi, di sepanjang perjalanan pun ia terus berdoa agar hasil nya sesuai dengan apa yang di inginkan. Mungkin jika hasil nya positif, Mayang akan merasa lega karena pencarian sang Mama terhadap anak lelakinya akan berakhir.
Perjalanan yang di tempuh lumayan jauh, sehingga membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah sakit yang di tuju.
Mayang terus menatap ke arah luar sambil memikirkan apa yang akan terjadi nantinya, hingga akhirnya ia di sadarkan oleh sang sopir untuk segera turun karena sudah sampai di rumah sakit.
Mayang langsung turun dari kendaraan dan melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk segera menemui sang Mama, sebetulnya tidak harus ikut ke rumah sakit. Cukup memberikan sample dari kedua belah pihak.
Hanya saja Ratih yang menginginkan itu semua jadi Faklan pun mengikuti apa yang menjadi keinginan Ratih. Faklan berpikir membuat hati orang tua bahagia itu bagian dari pahala juga, sejak Daisy memberikan pengertian untuk nya, ia sedikit mengerti dan memahami bahwa tidak mudah juga menjadi Ratih dan memperjuangkan semuanya sendiri.
Faklan pun diam-diam memperhatikan wajah perempuan yang baru beberapa bulan hadir di hidupnya dan mengatakan bahwa itu ibunya, sulit bagi Faklan untuk menerima semua itu. Akan tetapi hatinya juga tidak bisa berbohong bahwa ia sangat merindukan pelukan dan kehangatan dari seorang ibu.
Terlihat dari kejauhan, dua perempuan dan satu laki-laki yang sedang duduk di depan ruangan.
Mayang dengan perlahan segera mendekati mereka hingga pada akhirnya ia sudah berada di dekat nya. Lalu bersalaman terhadap sang Mama dan juga terhadap Faklan dan Daisy.
Mayang pun duduk di samping sang Mama.
"Lagi menunggu apa? " tanya Mayang terhadap sang Mama sambil menatap lekat wajah perempuan yang sudah tidak lagi muda.
"Nunggu dokter yang membuat janji dengan kakak mu, katanya sebentar lagi akan segera sampai" jawab Ratih sambil tersenyum menatap wajah sang putri. Mayang sosok perempuan mandiri akan tetapi cengeng juga.
__ADS_1
Akhirnya Mayang pun bertanya bagaimana kesehatan kakak ipar dan sedikit bercerita soal perjalanan nya tadi pagi, sehingga sampai dengan selamat sampai di kota yang di tuju.
Setelah cukup lama mereka menunggu, hingga pada akhirnya di persilakan untuk segera memasuki ruangan yang sudah di sediakan.
Semua orang masuk ke dalam ruangan, dan di persilakan untuk duduk di tempat yang sudah tersedia.
Kebetulan ruangannya tidak seperti rumah sakit, lebih mirip ke kamar hotel hanya saja terdapat beberapa peralatan kesehatan dengan lengkap dan tertata rapih. Mungkin karena Ratih meminta pelayanan yang bagus dan membuat mereka nyaman saat berbincang dengan dokter.
Setelah bebrapa saat sample yang di butuhkan untuk keperluan tes DNA sudah di ambil, dan hasilnya akan keluar tiga hari lagi. Ratih meminta agar hasil nya hari ini juga, akan tetapi rumah sakit juga mempunyai prosedur yang harus di jalankan dan tiga hari sudah termasuk waktu yang cepat.
Mereka semua keluar dari ruangan tersebut dengan pikiran masing-masing, dan Ratih terus berdoa di dalam hatinya bahaw hasilnya akan positif.
Mereka berjalan beriringan untuk segera keluar dari klinik kesehatan, setelah sampai di tempat parkir.
Daisy tidak menjawab perkataan sang suami, ia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Pertanda ia setuju dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
"Hati-hati! " pesan Ratih terhadap Faklan, dan laki-laki itu hanya tersenyum tipis lalu setelah itu melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kendaraan yang akan membawa nya ke tempat bekerja.
Sedangkan Ratih dan yang lainnya akan di antar oleh jasa angkutan yang di pesan lewat aplikasi, kebetulan kendaraan tersebut sudah menunggu dan siap mengantarkan nya ke tempat yang di tuju dengan selamat.
Mereka semua sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka pulang, dan kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang.
Mayang dan Daisy sudah terlihat semakin dekat, karena mereka juga sudah beberapa kali bertemu. Dan Daisy juga orang yang gampang akrab dengan orang lain, dan Ratih yang melihat anak dan menantunya terlihat semakin dekat ia merasa sangat bahagia.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, akhirnya kendaraan yang mengantarkan mereka akhirnya sudah berhenti dengan sempurna di halam rumah sederhana.
Meskipun terlihat sederhana, akan tetapi tidak mengurangi kebahagiaan mereka untuk tinggal di tempat tersebut.
Ketiga perempuan itu melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk segera masuk.
*****
Di tempat lain.
Siapa lagi kalau bukan Starla, Alfi dan juga Bara. Akhirnya Marwan pun berhasil keluar dari penjara dengan bantuan Bara dan jaminan uang dari Ayah nya Starla, karena tujuan mereka sama.
Yaitu untuk menghancurkan keluarga Malik, mereka sudah merencanakan apa yang akan di lakukan selanjutnya untuk membuat keluarga Malik terpecah belah bahkan Marwa ingin sekali melenyapkan Adnan dan Faklan, karena mereka lah yang sudah menghancurkan impian nya untuk menjadi pemilik perusahaan terkenal di kota B.
"Sekarang kita harus lebih hati-hati untuk bertindak, pastinya mereka juga tidak akan pernah tinggal diam. Apalagi kamu! " kata Starla sambil menunjuk wajah Marwan.
"Iya, aku janji akan bermain rapi agar tidak meninggalkan jejak apapun dan pastinya kali ini akan berhasil. Oh iya, beberapa bukti sudah ada di tangan kita tinggal melengkapi saja, dan menunggu waktu yang tepat untuk meledakkan bom waktu" kata Marwan sambil tertawa kecil.
Mereka pun merencanakan untuk menghancurkan keluarga Malik, bahkan mereka juga mengincar anaknya Farwa karena itu adalah kelemahan terbesar di keluarga Malik.
Mereka sangat kesal, padahal Malik sudah tidak ada lagi di dunia ini tapi mengapa Adnan dan Radit sulit untuk di hancurkan padahal sebagian ingatan Radit hilang. Tapi soal bisnis ia tetap berhasil, karena memang Radit mempunyai darah dan basic nya bisnis jadi murah bagi Radit untuk berkembang.
Dan hal itu juga yang membuat Marwan iri akan keberhasilan Radit, sedangkan dirinya selalu jadi budak bahkan untuk saat ini ia tidak memiliki pekerjaan yang tetap.
__ADS_1
Sedangkan gaya hidup Alfi tidak sesuai dengan penghasilan nya, rumah tangga nya juga tidak harmonis.