
Satu minggu telah berlalu, Argani kecil juga sudah pulang dari rumah sakit. Farwa dan Radit juga semakin dekat, akan tetapi Hadi belum berani untuk bicara yang sejujurnya.
Meskipun Pak Mahad sudah mengingatkan Hadi, agar jangan menunda terlalu lama.
Radit juga tetap melakukan aktivasi seperti biasa sebagai penjual sayur dan kali ini ia sendiri yang akan mengantarkan nya ke rumah Farwa, sekalian ia juga kangen terhadap anak kecil yang selalu membuat nya tersenyum.
Rahmat sudah menyiapkan belanjaan yang akan di antar ke rumah Farwa, sekarang pesanan nya juga semakin banyak sebab rumah makan yang di kelola oleh Farwa berkembang dengan baik.
Selain tempat nya yang strategis masakan nya juga sangat enak dan terjangkau oleh masyarakat kelas menengah, maka dari itu selalu ramai pengunjung.
"Bos, biar aku saja yang mengantar pesanan nya. Lagian aku kangen sama duo bebek! " kata Rahmat.
"Nggak bisa, biar saya saja yang mengantarkan nya. Kalau kamu kangen sama mereka nanti malam bisa datang ke rumah nya" jawab Radit yang sudah bersiap untuk segera berangkat.
"Tapi, Bos... itu kan masih lama, biarkan kali ini saja aku yang ke sana! " Rahmat berbicara dengan nada penuh permohonan.
"Nggak bisa, pokoknya kali ini saya yang pergi ke sana! kamu jaga toko dengan baik jangan sampai di tinggal tidur seperti waktu itu"
"Ya elah bos, masih saja di ungkit toh kejadian nya juga sudah lama. Masih saja di ingetin akan hal itu" jawab Rahmat dengan suara pelannya.
Radit pun sudah siap akan berangkat dengan mengendarai mobil bak terbuka dengan berisi sayuran yang akan di bawa ke rumah Farwa, ada juga beberapa pesanan orang lain sehingga harus mampir terlebih dahulu ke beberapa tempat sebelum ke rumah Farwa.
Di saat Radit ingin menginjak gas, akan tetapi ia di hentikan oleh seorang yang sudah tidak asing lagi baginya.
Siapa lagi kalau bukan hadi, yang menghentikan nya.
"Astaga, Kak. Ngapain berdiri di situ, mau bunuh diri? " kata Radit dengan nada bicara yang tinggi.
"Turun dulu kamu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu! " kata Hadi sambil mendekat ke arah Radit yang sudah siap untuk berangkat.
"Ada apalagi sih, aku mau mencari uang yang banyak biar bisa membawa mereka pulang. Minggir! jangan halangi jalan!" kata Radit.
"Biarkan Rahmat saja yang mengantarkan itu semua, aku butuh bicara penting dengan mu. Sebentar saja, tapi setelah itu kamu juga harus ikut dengan ku ke tempat pembangunan hotel yang kamu minta sekaligus bertemu dengan Arsitektur nya bagian mana yang kamu suka dan tidak, mumpung masih lima puluh persen jadi bisa di ubah sesuai dengan kemauan mu" kata Hadi menjelaskan terhadap Radit agar anak itu mau turun dari kendaraan tersebut.
"Astaga, bukan kah sudah di serahkan terhadap terhadap Arsitek masa iya harus aku lagi yang terjun ke sana. Nggak ah, Kakak saja yang pergi ke sana! aku percaya selera Kakak juga tidak kalah bagus dengan ku" jawab Radit sambil tersenyum, lalu menginjak gas dengan kencang. Hadi pun minggir karena terpaksa, ia hampir terjatuh karena Radit melajukan kendaraan nya dengan kencang tanpa permisi terlebih dahulu.
"Radit... " teriak Hadi, ia merasa kesal dengan adik satu-satunya tapi sangat di sayang.
Hadi merasa kesal di tinggal kan begitu saja oleh sang adik, akhirnya ia pun kembali dan segera menuju kendaraan nya di mana terparkir.
__ADS_1
Berencana ia akan menyusul Radit, setelah beberapa saat. Hadi pun sudah berada di dalam kendaraan dan sudah siap untuk menyusul sang adik.
Waktu bergulir begitu cepat, Hadi sudah sampai di halaman rumah Farwa yang sebagian tempat nya di gunakan sebagai rumah makan. Akan tetapi ia tidak keluar dari kendaraan tersebut, melainkan mengamati sang adik yang sedang membongkar sayuran di bantu oleh beberapa pekerja yang bekerja bersama Farwa.
Setelah cukup lama, pekerjaan mereka sudah selesai akan tetapi Radit tidak bertemu dengan Farwa. Hingga pada akhirnya ia bertanya terhibur Yeyen.
"Yen, ibu Farwa ke mana? " tanya Radit.
"Ibu sibuk memasak, lagian Ibu Zulaikha yang menjaga tuan kecil. Sejak kejadian itu, tidak membiarkan di jaga oleh bu Farwa, mungkin ibu Zulaikha masih trauma dengan kejadian itu" jawab Yeyen.
"Bisa minta tolong nggak? bilang sama ibu Zulaikha, bahwa saya ingin bertemu dengan jagoan kecil, beberapa hari tu dan bertemu dengan nya sungguh rasanya rindu sekali" kata Radit sambil menatap lekat wajah Yeyen.
"Baiklah bos, tunggu sebentar! silakan duduk dulu saya panggil ibu dulu! " jawab Yeyen.
Setelah berbicara seperti itu, Yeyen langsung pergi meninggalkan Radit yang sudah duduk di salah satu tempat yang tersedia di sana.
Radit menunggu beberapa saat, hingga pada akhirnya Zulaikha datang bersama Argani kecil.
"Bu, apakabar? "
"Baik, oh kenapa Yeyen tidak membuatkan minum untuk mu" kata Zulaikha.
Akhirnya Zulaikha pun meminta Yeyen untuk membuat minum.
"Aku kan jagoan, sudah sehat pastinya" jawab Argani kecil sambil mengacungkan tangan nya menunjukkan bahwa dia sudah sehat.
Padahal sebetulnya anak itu belum sembuh total, bekas jaitan nya saja masih terlihat dengan jelas dan hal itu sangat mengerikan. Untung saja Argani kecil anak yang sangat sangat kuat.
"Benarkah sudah sehat, hebat dong. Nanti main nya sama Om jangan ajakin Ibu yah" kata Radit sambil tersenyum menatap wajah anak kecil yang meneduhkan jiwa.
"Aku sudah bilang bahwa ingin memanggil mu Ayah, kenapa om lagi" jawab Argani dengan raut wajah kecewa.
"Eh iya, lupa. Maaf kan Ayah ya sayang nggak di ulangi lagi" kata Radit sambil memegang kedua telinga nya.
Di saat mereka sedang asik berbincang, datang lah seorang lelaki yang sudah tidak lagi muda.
"Hai jagoan kecil, apa kabar? mau kah kamu menjadi teman ku? liat aku bawa mainan untuk mu" tanya Hadi sambil duduk di samping Radit dan menatap lekat wajah anak kecil yang ada di hadapan nya pada saat ini.
"Kabar ku baik, tapi untuk menjadi teman mu aku belum bisa! karena baru bertemu hari ini terus kata ibu juga jangan menerima apapun dari orang asing" jawab Argani dengan suara cadel nya karena ia belum pasih mengucapkan hurup R.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu, bagaimana kalau kita kenalan dulu. Nama ku Hadi kakak dari Ayah mu ini, jadi bagaimana? masih menganggap ku orang asing? " tanya Hadi sambil tersenyum tipis.
"Ngapain sih, Kak. Datang ke sini! ganggu saja" gerutu Radit dengan raut wajah yang kesal, dengan kedatangan Hadi di tempat ini.
"Ayah bagaimana kalau aku menerima permintaan pertemanan nya? tapi kalau Ayah nggak setuju aku akan menolaknya" Argani kecil meminta pendapat Radit.
"Kalau menurut Ayah, lebih baik di tolak. Nanti kalau punya teman banyak bisa lupa sama Ayah" jawab Radit sambil melantunkan bibirnya, itu ekspresi bahwa ia tidak suka ada orang lain di antara Argani kecil dan Radit.
"Baik lah kalau itu yang Ayah mau, aku menolak permintaan pertemanan dengan mu paman. Kalau masih mau berteman. Bujuk saja Ayah ku agar dia mengijinkan nya" Argani kecil berkata dengan wajah serius.
Akhirnya pembicaraan mereka sudah semakin lama, dan saat nya Hadi pun membicarakan tujuan nya datang menemui Zulaikha. Ia mengundang keluarga besar Farwa untuk datang ke rumah Hadi di acara makan malam, dan Mahad pun menyetujui undangan dari Hadi.
Setelah cukup lama, dan akhirnya Hadi pun berpamitan untuk segera pergi. Ia juga harus melanjutkan pekerjaan nya, sebab Mayang minta di temani untuk meninjau pembangunan hotel tersebut.
"Om, Tante aku permisi dulu. Terimakasih banyak telah menerima undangan ku" kata Hadi.
"Sama-sama"
Setelah berpamitan, Hadi pun melangkahkan kakinya untuk segera pergi meninggalkan mereka semua.
Tinggal lah, Zulaikha, Mahad dan Radit beserta anak kecil yang selalu membuat mereka bahagia ada di antara nya.
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa satu jam telah berlalu. Akhirnya Radit pun berpamitan untuk segera pulang, meskipun hari ini ia tidak bertemu dengan Farwa baginya tidak masalah, asal bertemu dengan Argani kecil. Itu semua sudah membuat hati Radit merasakan ketenangan yang luar biasa.
Setelah kepergian Radit, Zulaikha pun bertanya terhadap sang suami.
"Tuan Hadi mengundang kita datang kerumah nya, ada apa? apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku. Dan sejak kapan kamu mengenal orang itu? " tanya Zulaikha sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Aku nggak tahu apapun, mungkin hanya ingin silaturahmi dengan kita. Nggak ada maksud lain" jawab Ma'had.
Ia berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan Zulaikha.
"Nggak mungkin kamu nggak tahu apapun, tiba-tiba dia datang ke sini dan mengajak makan malam di rumah nya, kalau Radit yang mengajak saya tidak heran karena hampir tiap hari bertemu ya kalau dia perlu duit pertanyakan ada apa ini? " Zulaikha heran dengan undangan Hadi.
"Sudahlah, Bu jangan banyak berfikir nanti cepat keriput. Lebih baik ibu jaga Argani dengan baik. Ayah mau pergi ke balai kota katanya ada pemilihan Rt" kata Mahad sambil bangkit dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke tempat pertemuan.
Zulaikha yang belum mendapatkan jawaban yang pas, ia sangat kesal terhadap sang suami.
Hingga pada Akhirnya, ia masuk ke dalam sambil membawa Argani kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Sebelum pergi ke atas, Zulaikha pun menyempatkan diri untuk pergi ke dapur dan mengambil bebrapa makan untuk bekal nya Argani kecil. Sebab Zulaikha suka merasa lelah jika harus naik turun tangga, tenaga nya juga sudah tidak kuat lagi. Sekarang ia sudah tua, jadi gampang capek.
Setelah mengambil nya, Zulaikha pun kembali ke atas di mana, mereka menghabiskan hari-harinya di sana.