
" Darah! "
Kata Faklan sambil menyentuh pelipis Argani dan melihat ke sekeliling tempat itu.
"Ga... kamu kenapa? apa yang terjadi? " tanya Faklan sambil menepuk pipi sahabatnya itu, yang hampir menutup mata.
Faklan terus langsung menggendong Argani, meskipun sedikit kesusahan. Ia berusaha untuk membuat sahabatnya itu agar tidak menutup mata.
Ia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, berharap segera sampai di pasilitas kesehatan sebab bisa fatal akibatnya jika sampai telat datang.
Sepanjang perjalanan tidak hentinya Faklan memanggil nama Argani, ia takut sahabatnya itu menghembuskan nafas terakhir.
"Ga... bertahan lah, kamu pasti kuat. Sebentar lagi kita akan segera sampai...! " kata Faklan dengan raut wajah yang sangat khawatir.
Argani yang masih mampu mendengar tapi sudah tidak kuasa untuk menjawab perkataan sahabatnya, hanya berkata dalam batin.
" Aku ikhlas jika harus meninggal pada saat ini, mungkin ini balasan dari Tuhan untuk semua dosa yang ku perbuat" kata Argani dalam batin, sambil menutup Mata. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit untuk saat ini.
__ADS_1
Seketika Faklan pun gemetaran, ia terus menambah kecepatan kendaraan nya. Agar segera sampai, khawatir sahabatnya itu sampai tidak tertolong.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, akhirnya kendaraan yang di kemudikan Faklan sudah berhenti di rumah sakit dan tepat di depan unit gawat darurat, dengan gerakan cepat dan di sambut baik oleh para perawat dari pihak rumah sakit. Sebab sebelum datang ke rumah sakit, Faklan sudah memberi tahu pihak rumah sakit agar mempersiapkan semuanya. Untuk segera mendapatkan penanganan.
Argani sudah di periksa oleh dokter, dan laki-laki itu hanya tidak sadarkan diri.
Ruang operasi sudah di siapkan untuk segera mengambil peluru yang bersarang di kepala Argani, Malik sang Ayah sudah mengerahkan seluruh anak buahnya agar segera mencari keberadaan orang yang telah membuat anaknya dalam keadaan kritis.
Argani sudah berada di ruang operasi, dan pengangkatan peluru akan segera di lakukan. Jika lambat, maka nyawa Argani tidak bisa di selamat kan.
Faklan terus mondar-mandiri di depan ruang operasi, ia belum bisa merasakan ketenangan di saat sahabatnya dalam keadaan seperti ini.
Waktu bergulir begitu cepat, keluarga Argani sudah hadir di rumah sakit. Ruang operasi masih tertutup rapat dan belum ada kabar soal apapun, hal itu membuat sang Mama tidak kuasa lagi menahan kesedihan.
Starla sang menantu tertua, mengambil kesempatan untuk membuat Mama mertua membenci keluarga Farwa. Bahwa semua yang terjadi terhadap keluarganya pada saat ini adalah sebuah kesialan yang Farwa bawa untuk keluarga mereka.
"Kalau saja, Papa tidak merestui pernikahan Argani dengan perempuan miskin itu pasti ini semua tidak akan terjadi. Lihat sekarang! gara-gara perempuan itu Argani harus menerima semua ini" Starla berkata sambil menatap wajah ibu mertua nya, yang terus menangis mengkhawatirkan keadaan putra nya.
__ADS_1
"Hentikan, jangan pernah bicara seperti ini lagi, Lebih baik kamu pulang! " kata Ambar terhadap menantunya itu.
Malik yang mendengar itu, hanya diam. Ia juga sedang menunggu kabar soal pencarian terhadap orang yang telah mencoba membunuh anaknya.
Mereka semua sudah lama menunggu dan pada akhirnya ruang operasi telah terbuka, dan salah satu perawat memanggil keluarga Argani. Memberi tahu mereka bahwa Argani sudah di pindahkan ke ruang ICU, meskipun peluru sudah berhasil di keluarkan dari kepalanya akan tetapi belum mengubah keadaannya pada saat ini.
Ambar pergi dengan langkah cepat untuk segera menemui anaknya, setelah beberapa saat ia sudah sampai dan yang di persilakan masuk hanya satu orang. Mereka juga tidak mau melanggar tata tertib yang ada di rumah sakit, akhirnya Ambar masuk terlebih dahulu untuk menemui sang Putra kesayangan nya.
Perempuan yang sudah tidak lagi muda, duduk di samping sang anak yang tubuhnya di penuhi alat medis. Dengan mata tertutup, ia tak kuasa menahan kesedihan itu.
...****************...
Di tempat lain.
Keluarga Farwa pun sedang berduka, mereka telah kehilangan putri mereka. Dan sekarang sudah tidak bisa lagi menatap wajah cantiknya.
Zulaikha terus memandang gambar anaknya sambil terus mengeluarkan air mata, ia tidak menyangka jika Farwa pergi secepat ini dengan cara yang mengerikan.
__ADS_1
"Bu, sudahkah ikhlas kan Farwa biar dia tenang di alam sana... tidak ada seorang manusia yang bisa mencegah kematian, bahkan sudah tertulis di Lauhul Mahfudz bahwa takdir kita akan seperti apa, mungkin itu juga yang terjadi dengan anak kita. Sudah tercatat di sanah bagaimana proses dia menjalani kehidupan termasuk juga dengan cara apa dia meninggalkan dunia, dia bukan pergi tetapi kembali terhadap sang pencipta" Mahad memberi pengertian terhadap sang istri agar tidak terus seperti ini, jika berkata kehilangan, kesedihan. Ia juga sama, merasakannya. Akan tetapi kita juga harus berfikir bahwa semua yang terjadi kepada manusia itu tidak lepas dari takdir yang sudah di gariskan oleh sang pemilik alam semesta.
Zulaikha tidak menjawab sang suami, bahkan melirik pun tidak. Ia terus menatap gambar Farwa dengan air mata yang terus mengalir.