Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 102


__ADS_3

Keesokan harinya, keadaan Radit sudah mulai membaik.


Kepala nya sudah tidak pusing lagi, demamnya juga sudah turun.


Laki-laki ini sedang duduk di balkon sambil menatap ke arah luar dengan pemandangan yang sangat bagus, udara pagi terasa dingin sampai menembus ke tulang.


"Ngapain duduk di sini, yuk sarapan! " terdengar suara seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi baginya. Siapa lagi kalau bukan sang kakak yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun.


"Kak, kenapa yah akhir-akhir ini kepala ku sering pusing. Terkadang aku merasakan pernah berada di satu peristiwa tapi aku tidak ingat kapan itu kejadian nya, apa sih yang sebenar nya terjadi terus kenapa juga setiap keluar kita harus menjadi orang lain dan melakukan penyamaran. Aku capek Kak terus seperti ini" kata Radit sambil menatap lekat wajah sang kakak yang duduk di samping nya pada saat ini.


"Aku juga lelah dengan keadaan seperti ini, tapi ini semua demi kebaikan kita bersama. Jika sudah waktunya tiba maka kamu akan terbebas dari ini semua, semoga setelah ini kita akan hidup aman dan tenang tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang sangat menyakitkan" kata Hadi dengan nada bicara perlahan.


"Hari ini boleh kah aku pulang ke rumah kontrakan? pasti mereka mencari ku" kata Radit, ia mengkhawatirkan mereka para pekerja nya pasti khawatir dengan tidak menemukan nya di rumah kontrakan.


" Nggak boleh! kabari saja Rahmat bilang sama dia kalau kamu lagi ada pekerjaan di luar kota atau apa, lagian selama ini yang mengurus semuanya dia kan? "


"Iya, tapi kan! "


"Belum boleh pulang ke sana sebelum dokter bilang bahwa kamu sudah sembuh"


"Aku ini bukan orang sakit kak! hanya saja kalau sudah pusing kepala seperti mau pecah" jawab Radit.


"Pokoknya tidak ada alasan apapun, ayok turun sarapan sudah siap jangan melamun di sini tidak baik juga! " Hadi mengajak Radit untuk segera turun dan sarapan bersama.


Akhirnya Radit pun mengikuti sang kakak untuk segera pergi ke ruang makan, mereka akan sarapan bersama. Meskipun Radit tidak ingin melakukan nya akan tetapi ia takut dengan sang kakak, kalau ia menolak sudah pasti Hadi akan melakukan pengancaman.


Setelah beberapa saat mereka sudah duduk bersama di ruang makan dengan menu sarapan pagi, seperti biasa Hadi selalu meminta pelayanan di rumah nya menyiapkan sarapan kesukaan Radit.


"Ngapain menyiapkan makanan sebanyak ini, nggak mungkin juga aku habiskan. Lain kali kalau masak nggak perlu banyak cukup satu piring saja cukup, toh selama ini aku bukan orang yang rakus" kata Radit sambil menatap wajah sang kakak.


"Kan tinggal pilih, makanan apa yang kamu suka. Soal menghabiskan masakan ini. Kan banyak orang di rumah ini jangan khawatir" jawab Hadi, sambil mengisi piring sang adik dengan menu sarapan yang ada di hadapan nya pada saat ini.


Akhirnya mereka berdua terdiam, Radit tetap nurut menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulutnya. Meskipun rasanya hambar, tetap ia lakukan.

__ADS_1


Mungkin yang di rasakan Radit pada saat ini bukan hanya fisik yang sakit tapi juga batin, entah apa yang di rasakan nya yang jelas ia tidak pernah ada di dalam ketenangan tapi dia juga bingung apa yang ada di pikiran nya.


Ia merasakan kenyamanan saat dekat dengan Farwa dan Afganistan, ia juga merasakan seperti ada ikatan bersama mereka tapi ia juga tidak mampu mengingat semua apa yang terjadi di masa lalunya.


Setelah cukup lama, akhirnya sarapan pun sudah sudah selesai.


Radit bangkit dari duduknya, ia ingin kembali lagi ke dalam kamar. Saat ini tidak ada semangat untuk melakukan apapun selain menyendiri di kamar, ia ingin pulang pun belum di perbolehkan oleh sang kakak namun apalah daya lebih baik mengurung diri di kamar.


Radit sudah sampai di dalam kamar, lalu ia menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang pandangan fokus ke langit-langit kamar.


Di luar kamar.


Hadi sudah siap akan pergi ke kantor, sebab banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Ia juga mempunyai janji terhadap Mayang akan mengungkapkan semua apa yang terjadi, sudah hampir dua hari. Orang yang di beri perintah belum juga ada kabar, apakah pekerjaan ini sangat sulit untuk mereka sehingga belum ada kabar sama sekali. Atau Marwan sudah merencanakan ini dengan matang untuk melakukan ini, dan yang membuat Hadi berfikir siapa yang berada di balik ini semua.


Jika hanya Marwan itu sangat tidak mungkin, sudah pasti ada campur tangan orang yang mempunyai pengaruh yang sangat besar di negara ini sehingga bisa melakukan ini.


Akan tetapi siapa orang itu, apakah orang-orang yang pernah ada di masa lalu datang kembali untuk mengusik kehidupan mereka lagi. Padahal Hadi sudah pergi jauh dan menutupi jati diri yang sebenarnya untuk terlepas dari bayang-bayang masa lalu.


Setelah beberapa saat ia sudah berada di dalam kendaraan, perlahan kendaraan itu melaju meninggalkan area pekarangan rumah. Jarak rumah ke kantor lumayan jauh tapi bisa di tempuh dengan cepat jika jalan tidak macet, di kota ini jarang sekali macet jika sudah tahu jadwal berangkat ke mana pun jadi bisa berangkat lebih awal atau akhir itu salah satu cara untuk menghindari kemacetan.


Sepanjang perjalanan Hadi terus berfikir bagaimana dengan janjinya terhadap Mayang untuk mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya, ia juga sudah mengecek ponsel nya beberapa kali tapi tidak ada kabar juga.


Tanpa di sadari, ternyata kendaraan sudah berhenti di area parkir kantor.


Hadi belum menyadari nya jika saat ini sudah sampai, hingga pak sopir yang mengingatkan nya.


Hadi pun turun dari kendaraan untuk segera masuk ke dalam gedung perkantoran yang tidak terlalu besar, ia berjalan dengan perlahan.


Setelah beberapa saat akhirnya ia sudah berada di depan ruangan nya, akan tetapi ia di kagetkan dengan seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu ruangan nya.


Orang itu adalah Mayang"ngapain kamu pagi-pagi sudah ada di sini? " tanya Hadi terhadap orang yang sedang berdiri di hadapan nya pada saat ini.


"Ada hal penting yang ini saya bicarakan dengan Bapak" jawab Mayang sambil menunduk.

__ADS_1


Akhirnya Hadi membuka pintu ruangan nya, lalu mereka berdua masuk ke dalam ruangan kebesaran Hadi. Di mana setiap harinya ia menghabiskan waktu di tempat ini, Hadi pun mempersilahkan Mayang untuk duduk di salah satu sofa yang ada di tempat tersebut.


Tidak membutuhkan waktu yang lama datang lah seorang perempuan dengan membawa dua cangkir teh, sebab Hadi sudah menghubungi nya agar membawa kan nya minuman.


Hadi tersenyum sambil menatap wajah Mayang yang terlihat sangat murung tidak seperti biasanya.


"Katakan apa yang membawa mu datang ke ruangan ku? " tanya Hadi dengan suara lembutnya.


"Anak palsu Mama sekarang sudah ada di rumah, pasti akan mempengaruhi Mama jadi aku mohon tolonglah. Buktikan pada Mama bahwa orang itu bukan anaknya, aku sangat yakin orang itu ada niat jahat terhadap aku dan Mama" kata Mayang dengan nada bicara penuh permohonan.


"Aku sudah melakukan nya tapi sampai sekarang belum ada kabar, kamu kan memberi waktu satu bulan untuk membuktikan ini semua bagaimana bisa mengungkapkan kasus lama dengan mudah. Setidaknya mereka juga butuh waktu untuk bekerja" jawab Hadi.


"Iya aku tahu, tapi dalam waktu dekat Mama akan menyerahkan perusahaan itu terhadap dia yang belum jelas anaknya atau bukan. Hal itu yang membuat aku sangat takut, aku tidak keberatan jika Mama menyerahkan perusahaan kalau memang benar itu anak nya. Lah ini anak dari mana coba, enak bener orang itu tiba-tiba datang dan menikmati hasil dari kerja keras Mama selama ini"


"Kamu cari cara untuk mengulur nya, pasti di dalam dokumen pengalihan perusahaan ada nama mu juga dan sudah pasti kamu harus tanda tangan akan tetapi sebisa mungkin kamu menghindar, aku juga akan berusaha untuk mendapatkan bukti secepatnya dan menghilangkan keraguan yang ada di dalam hatimu. Jika memang itu benar kakak mu apa yang akan di lakukan? " tanya Hadi.


"Aku yakin dia itu bukan kakak ku, mana bisa bisa dia menjadi kakak ku. Itu hanya orang jahat yang manfaat kan keadaan pada saat ini, Mama saja terlalu buta sehingga tidak bisa melihat yang sebenarnya terjadi" jawab Mayang.


"Kenapa kamu begitu yakin bahwa itu bukan kakak mu? "


"Alasan ku banyak untuk tidak percaya orang itu, lagian mengapa tiba-tiba ada orang menghubungi Mama bahwa sudah menemukan anaknya yang dulu. Menurut ku itu sangat janggal sekali"


"Iya, juga sih. Pokoknya kamu jangan terlalu khawatir aku akan berusaha untuk membantu mu dan membuktikan semua. Sekarang kamu kembali ke tempat kerja mu, aku akan menghubungi mu jika sudah mendapatkan kabar dari mereka" kata Hadi dengan nada bicara yang lembut.


"Bapak mengusir ku? "


"Bukan seperti itu, tapi sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagian kita ini laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa bagaimana pikiran orang tentang kita berada di dalam ruangan yang cukup lama hanya berdua, apa kamu tidak takut kalau saya tidak bisa menahan diri? "


"Aku nggak takut berada di ruangan ini bersama mu, karena yakin bahwa Bapak bukan mereka yang suka memperlakukan perempuan dengan hina" jawab Mayang sambil menatap lekat wajah Hadi.


Karena memang benar apa yang di katakan Mayang, selama ia bekerja bersama Hadi tidak pernah ia mendengar kabar miring soal bosnya, apalagi main perempuan. Hadi di kenal sebagai sosok laki-laki yang baik dan tanggung jawab dalam hal apapun.


Akhirnya Mayang pun keluar dari ruangan sang bos, dengan harapan Hadi bisa membantunya.

__ADS_1


__ADS_2