
"Untuk apa kamu datang kesini? " tanya Mahad terhadap orang yang sedang duduk di hadapan nya, tanpa permisi terlebih dahulu.
"Astaga Ayah mertua jangan galak-galak seperti itu dong, ingat nanti cepat tua" jawab Marwan sambil menyilang kan kakinya, lalu mengambil minum begitu saja dan menegurnya sampai tandas.
Memang sekarang Marwan sudah kehilangan akal sehatnya.
"Saya tidak mengundang kamu datang ke rumah ini, jadi silakan kamu pergi dari rumah kami"
"Tahan dulu emosinya Ayah mertua, aku hanya ingin memberikan informasi yang sangat penting bagi kalian. Akan tetapi saya sangat kecewa dengan kalian semua, mengapa di hari bahagia seperti ini kalian tidak mengundang ku. Tega sekali kalian ini, padahal aku juga ingin berbahagia bersama kalian dan calon istri ku" ucap Marwan sambil menatap lekat wajah Mahad, yang terlihat kesal dengan kehadiran Marwan di rumah ini.
"Kamu mau apa? " tanya Zulaikha.
"Oh iya, ibu mertua apakah sekarang sudah sehat? " tanya Marwan tanpa rasa malu sedikit pun berada di antara keluarga Farwa.
"Jangan banyak basa-basi, katakan saja apa yang ingin kamu sampai kan! " kata Zulaikha, ia juga sekarang tidak suka dengan sikap Marwan.
Padahal dulu ia sangat berharap bahwa Marwan akan menjadi bagian dari keluarga nya, akan tetapi rasa respek itu hilang dengan berjalan nya waktu. Sifat Marwan yang sesungguhnya sudah terlihat dan ternyata tidak lebih baik dari Argani.
Bahkan mereka sangat menyesal telah memperlakukan dengan baik Marwan pada saat itu.
"Tenang dulu, nanti juga aku akan ceritakan semuanya sama kalian. Oh iya ada paman sama Bibi juga, apa kabar dengan kalian? " Marwan memang benar sudah tidak memiliki rasa malu lagi, mungkin sudah kehilangan akal sehatnya.
"Sudah lah, kami muak sekali dengan melihat wajahmu. Cepat katakan! " kata Mahad, ia sudah geram dengan kelakuan Marwan, sungguh ia hampir kehilangan kesabaran nya.
"Baiklah karena kalian memaksa aku katakan sekarang, jadi asal kalian tahu bahwa Argani sekarang sudah miskin dan sudah di coret dari ahli waris keluarga Malik selain itu. Argani bukan laki-laki yang baik, bahkan sering gonta-ganti ganti perempuan dan dia juga sering tidur bersama mantan kekasihnya yaitu Alfi, dan ini semua bukti bahwa Argani tidak sebaik yang kalian pikir, atau bisa saja nanti dia akan mencampakkan Farwa setelah mendapatkan apa yang dia mau, yaitu kesucian Farwa" kata Argani sambil mengeluarkan amplop berwarna cokelat.
Mahad mengambil amplop tersebut lalu membuka nya, berapa terkejutnya saat melihat lembaran photo yang menunjukkan kebersamaan Argani saat bersama Alfi, terlihat dengan jelas bahwa Argani tidak menenangkan pakaian bahwa kan Alfi juga.
Mahad menarik nafas dengan perlahan lalu ia buang kembali, dan otak nya mulai berfikir dengan baik. Bahwa hanya dengan melihat lembaran kertas tidak membuktikan bahwa itu adalah sebuah kebenaran, sebab dunia sekarang semakin canggih dan itu semua bisa di rekayasa.
"Terimakasih informasi nya calon menantu yang tidak di inginkan, lebih baik kamu simpan semua ini dengan baik. Maaf kali ini usaha mu belum berhasil, bisa di coba lain kali" kata Mahad dengan nada bicara penuh penekanan.
"Kenapa reaksi mu seperti itu Ayah mertua, apa kalian rela jika anak gadis kalian tertular penyakit dari orang yang sering gonta-ganti pasangan" kata Marwan sambil menatap heran wajah Mahad, kenapa susah sekali untuk membuat mereka percaya dengan apa yang di katakan nya. Padahal sudah di sertai bukti akan tetapi sedikit pun Mahad tidak percaya.
"Kamu sudah menyampaikan apa yang ingin di sampai kan, lebih baik sekarang cepat pulang aku sudah malas melihat wajah kamu" kata Zulaikha, sambil menatap Marwan penuh dengan kebencian.
Zulaikha berlaku seperti ini bukan tanpa alasan, dengan sikap Marwan yang seperti ini Zulaikha sangat tidak suka.
__ADS_1
Bahkan selalu terang-terangan di hadapan umum bahwa Farwa menderita hidup bersama Argani dan yang bisa membahagiakan Farwa hanya dia.
Padahal kenyataan nya, Farwa selalu menjaga marwah suaminya di hadapan orang banyak.
"Kenapa kalian tidak mengucapkan terimakasih kepada ku, telah memberikan informasi yang sangat penting" kata Marwan sambil tersenyum.
Semua orang sungguh merasa heran dengan Marwan pada saat ini.
"Aku akan sangat berterima kasih terhadap kamu jika segera pergi dari rumah kami! " kata Mahad dengan nada bicara penuh penekanan.
"Astaga Ayah mertua kenapa galak sekali, baiklah aku pulang sekarang jika kalian menginginkan nya" jawab Marwan sambil bangkit dari duduknya. Lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah ini.
Setelah Marwan pergi, Dewi bertanya terhadap sang Kakak mengapa Marwan bisa berubah seperti itu. Padahal dulu di kenal sebagai orang baik akan tetapi mengapa sekarang jadi seperti ini, jika dari dulu seperti ini pasti Farwa juga tidak akan pernah mau jatuh cinta dengan laki-laki seperti Marwan.
"Bang, itu si Marwan kenapa seperti orang stress. Kelakuan semakin tidak bisa di biarkan, dan ini juga dia mendapatkan photo semacam itu dari mana? " tanya Dewi Sambi menunjuk photo yang tergeletak di atas meja.
"Astaga Dewi, kamu itu sekarang hidup di jaman modern... kenapa hal semacam itu saja tidak tahu. Sekarang IT semakin canggih bahwa hanya dengan hitungan detik mereka sudah bisa membuat photo palsu seperti itu" jawab Mahad.
"Dan sekarang juga Marwan sudah bergabung di perusahaan tempat aku dan Farwa bekerja, anehnya kenapa orang seperti Marwan di terima pasti ini semua ada yang tidak beres" kata Amir.
Betapa terkejutnya Mahad mendengar perkataan adik iparnya, bahwa Farwa dab Marwan satu perusahaan. Ini bisa saja membuat Farwa tidak nyaman dengan kehadiran Marwan setiap hari, sudah pasti Farwa merasakan kesal.
"Pasti ada yang tidak beres, semoga itu tidak ada niat untuk mencelakai Farwa. Sebab saya pernah memergoki mereka keluar bersama, dan setelah melihat saya mereka langsung menghindari nya" jawab Amir.
"Ya sudah, lah kita berfikir positif saja. Stop pembahasan ini, dan itu photo jangan sampai terlihat oleh Farwa. Nanti dia sedih melihat itu semua, meskipun sudah jelas bahwa itu editan tetap saja akan menciptakan suasana hati Farwa tidak enak.
Akhirnya mereka semua tidak membahas hal itu lagi, tanpa terasa juga waktu sudah hampir malam.
Sudah saatnya Dewi dan Amir juga pamit pulang, sebab mereka tidak memiliki banyak kerabat di kota ini.
Dewi hanya mempunyai anak dua, dan itu juga jarang mau di ajak pergi dan kumpul keluarga.
...****************...
Di rumah Argani dan Farwa.
Mereka berdua sedang bersantai menikmati acara televisi kesukaan nya, sebab kemarin juga Farwa membeli nya ia merasakan kesepian saat berada di rumah.
__ADS_1
Sekarang mereka mempunyai tontonan yang bisa menghibur mereka saat berada di rumah.
Dengan nyaman nya Farwa menikmati acara televisi sambil bersandar di bahu sang suami, rasanya sangat nyaman sekali berada di dekat sang suami.
Bahkan bau tubuh Argani sudah menjadi candu bagi Farwa.
"Apa kamu menginginkan sesuatu? " tanya Argani terhadap sang istri.
Farwa tidak menjawab apapun ia hanya menggelengkan kepala.
Setelah beberapa saat acara yang mereka tonton itu iklan.
"Yah iklan, lagi seru juga" kata Farwa sambil cemberut.
"Astaga sayang, namnya juga acara televisi pasti ada iklan nya" ucap Argani sambil mengeluh rambut sang istri dan sentuhan itu sudah berhasil membuat Farwa semakin yakin bahwa ini lah cinta yang sesungguhnya dari seorang laki-laki terhadap istrinya.
Di saat mereka merasakan kebahagiaan menikmati waktu luang saat di rumah terdengar suara bel berbunyi dengan suara orang yang terdengar bahwa ada paket untuk mereka.
"Sayang apa kamu belanja online? " tanya Argani terhadap sang istri.
"Tidak! mungkin salah rumah kali" jawab Farwa.
"Masa iya salah rumah, coba aku liat dulu. Ini berisik bel terus berbunyi" kata Argani sambil memegang bahu sang istri agar menjauh, sebab ia akan menemui orang yang ada di depan pagar.
Argani berdiri lalu hendak melangkah kan kakinya untuk pergi.
"Aku ikut! " kata Farwa, sambil bangkit dari duduknya lalu ia mengikuti langkah suaminya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah membuka pintu.
"Maaf mungkin salah orang, Mas... kita nggak ada pesan online ko" kata Argani.
"Benar Tuan ini alamat rumah anda dan ini paket atas nama Nyonya Farwa" kata kurir tersebut sambil menyerahkan paket tersebut ke tangan Argani.
Akhirnya kurir itu pun pergi meninggalkan sepasang suami-istri yang masih berdiri.
Farwa dan Argani masuk kembali ke dalam rumah lalu duduk kembali di tempat semula, Argani penasaran dengan isi paketnya.
__ADS_1
Setelah di buka berapa terkejut nya Argani melihat isi paketnya.